Tanggapan masyarakat terhadap kawin lari
1. Penerimaan Masyarakat terhadap Kawin Lari
a. Bangaimana proses Penerimaan Masyarakat terhadap Kawin Lari Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan
untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat, terkadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku pada masyarakat, misalnya perilaku kawin lari yang marak terjadi kalangan masyarakat.
Kawin lari tidak hanya dikenal suku atau adat makassar, bugis, mandar dan torja saja tetapi juga suku lainya yang ada di indonesia hanya saja yang membedakan adalah sanksi adat yang di terapkan pada kedua pelaku kawin lari.
Kawin lari adalah apabila gadis atau perempuan dengan pemuda laki-laki setelah lari bersama-sama atas kehendak bersama . kawin lari perkawinan yang dilakukan antara sepasang laki-laki dan perempuan setelah sepakat lari bersama., perkawinan mana yang menimbulkan siri’ bagi keluarganya khususnya bagi keluarga perempuan, dan padanya dikenakan sanksi adat.
Silariang itu unsur-unsurnya sebagai berikut, dilakukan dengan perempuan, sepakat lari bersama untuk menikah, menimbulkan siri’ dan dikenakan sanksi. Dan dapat disimpulkan bahwa kawin lari adalah suatu bentuk perkawinan yang dilakukan tanpa didahului peminangan atau pertunangan secara
49
resmi. Walaupun kedua pasangan kawin lari ini menyadari bahwa tindakan kawin lari ini penuh dengan resiko, tetapi itulah jalan terbaik baginya untuk membina rumah tangga dengan kekasihnya kelak.
“masyarakat di kelurahan malakaji menganggap pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral dan perbuatan yang baik entah itu dalam hukum islam atau dalam hukum adat yang berlaku karena pernikahan merupakan hal yang sangat di sukai oleh Allah dan termasuk sunnatullah hal yang paling tidak disukai oleh masyarakat yaitu kawin lari karena itu termasuk hal bernyawa, adanya pernikahan bertuan untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin menuju kebahgiaan dan dunia akhirat. Perkawinan merupakan hal yang sangat sakral dan agung dalam perjalanan hukum manusia yang dalam islam disebut dengan mitsaqan qhalidan, yaitu akad yang sangat kuat untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakanya merubakan ibadah. Dan hal yang paling tidak disukai oleh masyarakat kelurahan malakaji adalah kawin lari karena kawin lari merupakan hal yang sangat memalukan.
“Proses penerimaan perilaku kawin lari di masyarakat kelurahan malakaji ini memang masih kental dengan sanksi adatnya berbeda dengan daerah lain yang mungkin menganggap perbuatan tersebut sepele akan tetapi di daerah makassar khususnya di kelurahan malakaji masih menganggap bahwa perilaku kawin lari haru melalui tahap melakukan sanksi adat agar bisa dapat di terima di masyarakat karena makassar terkenal dengan siri’
na pacce”(observasi/15/08/2019)
Berdasarkan observasi diatas bahwa sanksi adat yang ada di kelurahan malakaji masih sangat kental karena menyangkut masalah harga diri dan nama baik dalam masyarakat dan keluarga penerimaan tersebut melalui proses agar bisa di terima oleh masyrakat salah satunya harus mendapatkan sanksi adat yang sudah diatur. Dikelurahan malakaji masih terasa adat istiadatanya yang kental yang mungkin tidak bisa di tinggalkan begitu saja oleh msyarakat setempat karena memang ini adalah adat istiadat di kelurahan ini.
Masyarakat dikelurahan malakaji merupakan masyarakat yang sangat mematuhi hukum adat adat dan msyarakat kelurahan malakaji sanagat patuh terhadap aturan yang ada yang sudah diatur oleh masyarakat yang dianggap percaya seperti halnya kawin lari yang yang harus mematuhi hukum adat yang berlaku.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak yang berinisial Baharuddin 40 tahun sebagai lurah mengatakan bahwa;
“Proses penerimaan masyarakat terhadap perilaku kawin lari dikelurahan ini memang miris kenapa saya bilang begitu karena memang itu perbuatan yang memalukan dan mencoreng nama baik keluarga, untuk diterima dimasyarakat disini biasanya dikenakan sanksi adat” (D.1.Wawancara,16, agustus).
Menurut informan diatas proses penerimaan masyarakat terhadap perilaku kawin lari harus dikenakan sanksi adat yang berlaku di masyarakat kawin lari termasuk hal yang tercela dan memalukan yang mencoreng nama baik keluarga.
Sanksi adat yang dikenakan dimalasyarakat malakji ini merupakan hal yang harus dipatuhi oleh orang yang melakukan kawin lari di kelurahan ini dan harus
betul-betul mematuhi juga syarat-syarat yang diajukan oleh oleh ketua adat atau pemerintah yang ada dikelurahan malakaji dan penerimaan di kelurahan malakji juga harus diikuti dengan cara yang benar dan harus sesuai dengan syarat dan ketentuan, penerimaan masyarakat dalam perilaku kawin lari juga harus adanya restu orang tua dan adanya ketentuan-ketentuan oleh pihak keluarga misalkan tentang uang panai’ yang akan di bawah ke pihak perempuan setelah itu beru di tentukan bagaimana baiknya.
Adapun wawancara dengan masyarakat berinisial SR 40 tahun selaku masyarakat malakaji mengatakan bahwa:
“Pihak laki-laki pergi kerumah perempuan berbicara baik-baik kalau disetujui maka akan di carikan waktu dan meminta uang panai’ sesudah itu di tentukan pestanya baru setelah itu di panggilah yang bersangkutan dan di tanya bahwa pihak kawin lari telah di terima di masyarakat dan memang harus di terima karena sesuai dengan aturan yang ada”(D.2.Wawancara 16, agustus)
Menurut informan diatas mengatakan bahwa Sebelum diterimanya pelaku kawin lari ini harus meminta izin kepada pihak keluarga menyediakan uang panai’ dan melalui aturan yang telah di terapkan dari kelurahan malakaji sehingga bisa diterima di pihak keluarga dan masyarakat setempat dan kalau ada pelaku kawin lari yang tidak bisa memenuhi maka pihak dari dari laki-laki harus berbicara dengan baik lagi dengan pelaku kawin lari agar bisa diterima oleh masyarakat atau pihak dari keluarga perempuan dan orangtua siperempuan.
Sedangkan menurut bapak yang berinisial Abdul Rajab 35 tahun selaku ketua RT di kelurahan malakaji mengatakan bahwa:
“Penerimaan kawin lari disini diboyanggi baji’na mae ri tau toana dan jaman sekarang itu tidak adami lagi sistem tampar atau di buang karena kita merasa kasihan apalagi orang tuanya toh kalau masalah masyarakat itu sudah mereka menerima karena pihak pelaku kawin lari sudah bercerita baik-baik pada pihak masyarakat dan menuruti peraturan yang berlaku masyarakat juga merasa kasihanki kalau anak orang dibiarkan begitu saja tanpa kedua orang tuanya.(D.3.Wawancara, 16 agustus)
Menurut informan diatas salah satu syarat untuk menerima pelaku kawin lari yaitu tercapainya kesepakatan baik dari pihak orangtua masing-masing maupun masyarakat. Dan jika sebelumnya syarat untuk menerima pelaku kawin lari yaitu dengan melakukan kekerasan fisik maka saat ini tidak diberlakukan lagi syarat tersebut dikarenakan terlalu berlebihan. Dizaman dulu kekerasan yang berlaku di tentang kawin lari memamng sangat miris karena banyak yang dibunuh gara-gara melakukan hal yang memalukan dan tidak menghargai keluarganya dan sanksi adat dulu ini biasanya mengeluarkan mereaka dari kartu keluarga agar tidak mencoreng lagi nama baik keluarganya dan membersihkan namanya dari keluarga mau tidak mau pihak dari pelaku kawin lari harus menerima itu semua karena ini konsekuensi dari masyrakat dan pihak keluarga yang telah memalukan dan sanksi adat juga harus siterima.
Kemudian data dokumen yang di dapatkan oleh peneliti berupa yang Silaring:
“Sanksi adat yang ditujukan pada pelaku silariang memang kejam, yakni bisa saja terjadi pembunuhan atau luka berat, tetapi bagi orang yang tahu aturan adat istiadat, mereka harus mengetahui aturan main yang berlaku”
(D1/Dokumen/Zainuddin Tika, Siri’ dan Silariang).
Sanksi adat pada pelaku kawin lari memang sangat miris dan sanksi adat juga ini tidak bisa berupa pembunuhan atau luka yang berat bagi pelaku kawin lari harus tau aturan yang berlaku. Walaupun sudah mendapat restu dari kedua orangtuanya serta sudah dinikahkan oleh penghulu, tetapi bukan berarti persoalan sudah selesai. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku kawin lari itu, belum bisa terlepas juga yang namnya sanksi adat sebelum acara Abbaji.
Dan perlu kita sadri yaitu proses penerimaan di kelurahan malakaji ini merupakan proses yang sangat panjang karena harus ada sanksi adat dan pelaku kawin lari meminta maaf pada pihak keluarga terlebih dahulu dan mengurus persyaratan yang sudah diatur oleh masyarakat setempat.
Memang konsekuensi kawin lari ini cukup berat dihadapi karena nyawa taruhanya selama mereka tidak datang meminta maaf atai baik, terkadang orang yang melakukan kawin lari biasa ada yang tidak pulang meminta maaf walaupun telah menikah secara resmi di tempat dimana mereka melakukan kawin lari bersama. Proses permintaan maaf ini tidak boleh dilakukan sendiri-sendiri karena harus melalui tokoh masyarakat yang disegani.