• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerimaan modal salam dari pembeli/pemesan

Dalam dokumen Produk dan Transaksi Akuntansi Bank Syariah (Halaman 173-178)

IV AKUNTANSI SALAM

G. Akuntansi Penjual (Produsen/Pembuat)

1) Penerimaan modal salam dari pembeli/pemesan

Karakteristik salam penyerahan barang dilakukan kemudian dan harga barang dilakukan segera pada saat akad ditanda tangani. Jadi pada prinsipnya modal salam harus diserahkan segera secara keseluruhan setelah akan ditandatangani. Modal salam yang diterima dapat berupa kas dan aset non kas (barang) sperti misalnya bibit, pupuk, alat-alat pertanian dan sebagainya. Penerimaan modal salam oleh penjual (LKS Amanah Gusti) dari pembeli (Pabrik Tepung Rasapati)dicatat sebagai ”Kewajiban Salam” atau ”Hutang Salam”. Kewajiban salam ini merupakan kewajiban pembuat untuk menyerahkan barang bukan kewajiban atas uang yang diterima. Kewajiban salam akan berakhir setelah penyerahan atau dipindahkan sebagai kewajiban lain pada penjual tidak dapat menyerahkan barang PSAK 103 tentang Akuntansi Salam paragraf 17 sampaidengan 18 mengatur tentang pengakuan dan pengukuran modal salam yang diterim oleh penjual sebagai berikut:

17. Kewajiban salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha salam sebesar modal usaha salam yang diterima.

18. Modal usaha salam yang diterima dapat berupa kas dan aset nonkas. Modal usaha salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang diterima, sedangkan modal usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai wajar.

19. Kewajiban salam dihentikan-pengakuannya (derecognation) pada saat penyerahan barang kepada pembeli. Jika penjual melakukan transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang dibayar oleh pembeli akhir dan biaya perolehan barang pesanan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan barang pesanan oleh penjual ke pembeli akhir.

Sesuai karakteristik harga barang salam harus dibayar lunas saat akad ditanda tangani. Dengan dibayar harga barang salam terlebih dahulu oleh pembeli kepada produsen sebagai penjual, maka hal tersebut merupakan modal bagi produsen untuk memproduksi barang salam tersebut.

Pemberian modal dari pembeli kepada produsen dapat diberikan dalam bentuk uang tunai (kas) dan /atau dalam bentuk barang (non kas).

a) Penerimaan modal salam dalam bentuk kas/tunai Jika penjual menerima modal salam dalam bentuk kas,diakui sebagai kewajiban salam sebesar jumlah yang diterima. Kewajiban salam ini merupakankewajiban untuk menyerahkan barang salam kepada pembeli, sehingga kewajiban salam ini akan berakhir setelah penyerahan barang.

Contoh :

Pada tanggal 12 Maret 2015 LKS Amanah Gusti penerimaan dana dari Pabrik Tepung “Rasapati” sebesar Rp 500.000.000,00 atas pesanan tepung patioka (tepung ketela pohon) sebanyak 100 ton.

Atas pelunasan pembayaran harga barang, dijurnal sebagai berikut:

Dr. Kas/Rekening Pabrik Tepung Rp 500.000.000,00

Cr. Hutang salam Rp 500.000.000,00

(100 ton Patioka, ketela pohon kualitas A)

Dalam transaksi salam ini, kewajiban salam atau Hutang Salam adalah “jumlah barang dengan specifikasi yang telah disepakati” yang dalam pembukukan diadministrasikan nilai rupiahnya. Dari jurnal tersebut perubahan dalam buku besar dan peruabahan laporan posisi keuangan (neraca) LKS adalah :

HUTANG SALAM

Debet Kredit

Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah 12/03 10.000 ton

Patioka

500.000.000 Saldo 500.000.000

500.000.000 500.000.000

NERACA Per 12 Agustus 2015

Aktiva Pasiva

Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Hutang salam 500.000.000

b) Penerimaan modal salam dalam bentuk non kas (barang)

Dalam transaksi salam, penyerahan modal salam oleh pembeli kepada penjual (pembuat) tidak hanya dalam bentuk kas, tetapi diperkenankan juga untuk menyerahkan modal salam dalam bentuk barang (non kas). Disinilah perbedaan yang mendasar denganLembaga Keuangan Konvensional (khususnya bank syariah) karena dalam Lembaga keuangan Perbankan (Bank) hanya diperkenankan untuk menyerahkan uang, karena Lembaga Keuangan Perbankan hanya diperkenankan menjalankan kegiatan usahanya di bidang keuangan.

Contoh :

Pada tanggal 12 Maret 2015 LKS sebagai penjual menerima pembayaran harga salam sebesar Rp 500.000.000,- yang terdiri dari :

a. Uang tunai (kas) Rp 100.000.000,00 b. Modal non kas (barang berupa):

Nama barang harga wajar

Alat pertanian Rp 200.000.000,00

5 ton Pupuk Rp 100.000.000,00

100 lt obat-obatan Rp 100.000.000,00

Jumlah modal non kas (barang) Rp 400.000.000,00 Jumlah modal salam (kas dan non kas) Rp 500.000.000,00

Dengan penerimaan harga barang salam yang merupakan modal LKS dalam memproduksi barang maka dilakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Persediaan /Aset Salam Rp 400.000.000,00

Dr. Kas Rp 100.000.000,00

Cr. Kewajiban salam Rp 500.000.000,00 2) Penyerahan barang salam kepada pembeli/pemesan

Penyerahan barang berkaitan dengan “Kewajiban Salam’

karena dalam transaksi salam yang terhutang atau yang menjadi kewajiban dari pembuat adalah penyerahkan barang sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati dalam akad.

DalamPSAK 103 tentang Akuntansi Salam menjelaskan : 19. Kewajiban salam dihentikan-pengakuannya

(derecognation) pada saat penyerahan barang kepada pembeli. Jika penjual melakukan transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang dibayar oleh pembeli akhir dan biaya perolehan barang pesanan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan barang pesanan oleh penjual ke pembeli akhir.

Jadi bagi penjual atau produsen kewajibannya selesai dengan penyerahan barang sesuai spesifikasi yang telah disepakati diawal, tanpa memperhatikan harga barang saat penyerahan.

a) Penyerahan barang dengan kualitas yang sama dalam akad

Dengan diserahkan barang (walaupun dengan kualitas yang berbeda), maka kewajiban penjual kepada pembeli sudah selesai.

Contoh :

Pada tanggal 10 Juni 2015 diserahkan barang salam berupa 100 ton patioka, kualitas A (sesuai kualitas dalam akad) seharga Rp 500.000.000 Pada saat penyerahan barang pesanan kepada Pabrik Tepung

“Rasapati” pada tanggal 12 Juni 2015 jurnal yang dilakukan oleh Entitas Syariah adalah sebagai berikut:

Dr. Hutang salam Rp 500.000.000,00 (100 ton Patioka, ketela pohon kualitas A)

Cr. Persediaan Rp 500.000.000,00 Dari jurnal tersebut perubahan posisi buku besar, dan perubahan laporan posisi keuangan (neraca) bank syariah adalah sebagai berikut:

HUTANG SALAM

Debet Kredit

Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah 12/0

500.000.000 500.000.000

NERACA Per 15 September 2015

Aktiva Pasiva

Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Hutang salam 00

b) Penyerahan barang dengan kualitas yang berbeda Kewajiban penjual sebagai produsen adalah kewajibanuntuk menyerahkan barang (bukan kewajiban uang). Oleh karena itu kewajiban tersebut selesai jika telah dilakukan penyerahan barangnya, baik dengan kualiatas yang sama dengan akad atau dengan kualitas yang berbeda dengan akad (jika pembeli menyetujui dan berkenan untuk menerimanya).

Pengakuan akuntansi dengan kualitas berbeda ini sangat berbeda dengan akuntansi pada pembeli yang mengakuimana yang lebih rendah antara nilai akad dengan nilai wajarnya.

Contoh : (kualitas berbeda dengan nilai wajar lebih rendah)

Diserahkan pembeli barang salam berupa 100 ton patoka ketela pohon kualitas B (tidak sesuai dengan kualitas dalam akad) sebanyak 100 ton denganharga wajar Rp 475.000.000,00 (nilai akad sebesar Rp500.000.000,00)

Dengan diserahkan barang salam tersebut oleh penjual kepada pembeli, maka kewajiban penjual telah selesai, oleh karena itu dilakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Hutang salam Rp 500.000.000,00

Cr. Persediaan Rp 500.000.000,00

Dalam penyerahan barang dengan kualitas berbeda, baik dengan nilai wajar lebih rendah maupun nilai wajarnya lebih tinggi, dan pembeli menyetujui, maka kewajiban pembeli telah selesai. Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai akad maka pembeli tidak diperkenankan untuk meminta tambahan jumlah barang, sebaliknya jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai akadnya maka pembeli juga tidak diperkenankan untuk minta tambahan harga. Sekali lagi kewajiban penjual adalah kewajiban penyerahan barang bukan kewajiban atas uang. Oleh karena itu jurnal yang dilakukan oleh pembeli, baik dengan kualitas sama dengan akad maupun dengan kualitas yang berbeda dengan akad dengan nilai wajar lebih rendah maupun lebih tinggi, maka jurnal yang dilakukan adalah sama di atas.

Dalam dokumen Produk dan Transaksi Akuntansi Bank Syariah (Halaman 173-178)