5. Lembaga Swadaya Masyarakat
5.2. Dugaan Parameter Persamaan Stuktural
5.2.12. Penerimaan Pemerintah
Hasil pendugaan parameter pada Penerimaan Pemerintah dapat dilihat pada Tabel 18 dibawah ini.
Tabel 18. Hasil Pendugaan Parameter Penerimaan Pemerintah
Elastisitas Peubah Penjelas Parameter
Dugaan
Nilai
Peluang SR LR
Intersep -63583.1 0.0038
Stok Hutang Pemerintah 0.965320 0.0118 0.178376 0.79321 Pajak Total 0.333305 0.3222
Harga Minyak Dunia 0.970292 0.0015 7.78E-05 0.000346 Lag Penerimaan Pemerintah 0.775121 <.0001
R2 = 0.99028 F Hitung = 356.76 DW = 2.572584
Dari Tabel 18 bisa dilihat bahwa secara keseluruhan peubah penjelas memberikan respon yang positif terhadap penerimaan pemerintah, hal ini sesuai dengan teori dan kondisi aktual yang ada. Namun hampir secara keseluruhan pula semua peubah memiliki respon inelastis terhadap penerimaan pemerintah .
Untuk peubah penjelas stok hutang pemerintah memiliki respon yang positif terhadap penerimaan pemerintah dengan angka parameter dugaan sebesar 0.965320, artinya dengan adanya penambahan hutang pemerintah satu milyar rupiah maka akan menambah penerimaan pemerintah sebesar 0.97 milyar rupiah. Sementara itu untuk respon harga minyak dunia memberikan nilai dugaan parameter sebesar 0.970292, artinya dengan peningkatan harga minyak dunia sebesar 1 dollar per barrel, maka akan menambah penerimaan pemerintah sebesar 0.97 milyar rupiah. Kedua peubah penjelas ini yaitu, stok hutang pemerin tah dan harga minyak dunia masing -masing memiliki pengaruh yang nyata terhadap penerimaan pemerintah, dengan masing-masing memiliki nilai peluang sebesar 0.0118 dan 0.0015 jauh dibawah 0.25 sebagai angka toleransi.
Jika dilihat dari besaran nilai statistik R2 = 0.99, artinya semua peubah penjelas mampu menjelaskan peubah endogennya sebesar 99 persen sedangkan satu persen lagi dijelaskan oleh faktor lain di luar persamaan, dengan nilai statistik F Hitung = 356.76. Dengan kata lain, bahwa persamaan tersebut mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik.
5.2.13.Pajak Total
Hasil pendugaan parameter pada pajak total dapat dilihat pada Tabel 19 dibawah ini.
Tabel 19. Hasil Pendugaan Parameter Pajak Total
Elastisitas Peubah Penjelas Parameter
Dugaan Nilai Peluang SR LR Intersep -12172.5 0.2481 GDP Total -0.02700 0.5854 Investasi Total 0.174107 0.1260 0.0898 0.120962 Trend Waktu 3850.828 0.0415 0.338736 0.456281 Lag Total Pajak 0.257616 0.3730
R2 = 0.93395 F Hitung = 49.49 DW = 1.346751
Persamaan perilaku respon pajak total tersebut dapat dikatakan cukup baik, dimana nilai koefisien determinasinya R² = 0.93 dan uji statistik FHitung = 49.49, artinya bahwa peubah penjelas yang ada dalam persamaan mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik dengan tingkat hubungan sebesar 93 persen. Secara keseluruhan peubah penjelas yang ada pada persamaan pajak total memberikan respon inelastis baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
Dari Tabel 19 dapat diketahui bahwa respon perilaku pajak total dipengaruhi secara positif oleh investasi total dan tren waktu, kedua peubah
penjelas ini memiliki memiliki nilai peluang 0.13 dan 0.04, artinya kedua peubah tersebut memberikan pengaruh nyata. Hal tesebut bisa dimaklumi karena memang tingkat investasi total yang ada di Indonesia didorong untuk menumbuhkan sektor-sektor formal. Sementara untuk tren waktu diduga akibat semakin meningkatnya tingkat kesadaran masyarakat dalam membayar pajak.
Sedangkan GDP total memberikan dampak negatif terhadap pajak total. Seharusnya peubah penjelas ini memberikan pengaruh yang positif terhadap total penerimaan pajak, hal ini diduga akibat pertumbuhan ekonomi yang terjadi justru banyak di sektor-sektor informal yang hak wajib pajaknya sulit untuk dideteksi.
5.2.14.Konsumsi Sektor Pertanian
Hasil pendugaan parameter pada konsumsi di sektor pertanian dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.
Tabel 20. Hasil Pendugaan Parameter Konsumsi Sektor Pertanian
Elastisitas Peubah Penjelas Parameter
Dugaan Nilai Peluang SR LR Intersep -7916.61 0.2537 Produksi Pertanian 0.805522 <.0001 0.872962 0.91566 Pendapatan Disposibel 0.016068 0.0829 0.280248 0.293956 Lag Konsumsi untuk Pertanian 0.046631 0.7108
R2 = 0.95222 F Hitung = 99.65 DW = 1.985057
Dari Tabel 20 dapat dik etahui bahwa respon perilaku pada konsumsi sektor pertanian dipengaruhi secara positif oleh produksi pertanian dan pendapatan disposibel (pendapatan yang langsung dibelanjakan), hal tesebut berarti sejalan antara teori dan kondisi aktual yanga ada. Meskipun kedua peubah penjelas tersebut memberikan respon inelastis terhadap konsumsi sektor pertanian, namun kedua peubah penjelas tersebut memiliki pengaruh yang nyata.
Dari hasil perhitungan elastisitas didapatkan hasil bahwa dalam jangka pendek produksi pertanian memberikan respon inelastis sebesar (0.87) dan (0.91) untuk jangka panjang. Hal ini berarti bahwa dengan peningkatan produksi pertanian satu persen, maka akan meningkatkan konsumsi sektor pertanian sebesar 0.87 persen dalam jangka pendek dan 0.91 untuk jangka panjang. Untuk peubah pendapatan disposibel meskipun memberikan pengaruh yang nyata namun peubah ini memiliki nilai elastisitas yang cukup kecil, hal ini diduga karena pendapatan disposibel banyak dialokasikan ke sektor lain.
Jika dilihat dari besaran nilai statistik R2 = 0.95, artinya semua peubah penjelas mampu menjelaskan peubah endogennya sebesar 95 persen sedangkan lima persen lagi dijelaskan oleh faktor lain di luar persamaan, dengan nilai statistik F Hitung = 99.65. Dengan kata lain, bahwa persamaan tersebut mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik.
5.2.15.Penawaran Uang
Hasil pendugaan parameter pada penawaran uang dapat dilihat pada Tabel 21 dibawah ini.
Tabel 21. Hasil Pendugaan Parameter Penawaran Uang
Peubah Penjelas Parameter Dugaan Nilai Peluang Elastisitas
Intersep -3228.80 0.2108
Suku Bunga Domestik -461.775 <.0001 -0.02989 Nilai Tukar 2.047949 <.0001 0.097986 GDP Total 0.133135 <.0001 0.321729 R2 = 0.98106 F Hitung = 258.95 DW = 1.638961
Dari Tabel 21 dapat diketahui bahwa respon perilaku penawaran uang dipengaruhi secara negatif oleh suku bunga domesatik. Sementara itu peubah penjelas nilai tukar rupiah terhadap dolar dan GDP total memberikan pengaruh
yang positif terhadap respon perilaku penawaran uang. Ketiga peubah penjelas yang digunakan dalam persamaan penawaran uang ini memberikan pengaruh yang nyata dengan nilai peluang yang sangat kecil. Selain itu ketiga peubah tersebut juga memberikan respon inelastis secara keseluruhan.
Suku bunga domestik memberikan pengaruh negatif terhadap penawaran uang dengan nilai parameter dugaan sebesar -461.775. Hal tersebut berarti dengan adanya peningkatan suku bunga domestik akan mengurangi penawaran uang sebesar 461.775 milyar. Perilaku ini sesuai antara teori dengan kondisi aktual, yaitu apabila terjadi peningkatan suku bunga maka pelaku ekonomi akan enggan melakukan investasi dan lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank, karena akan lebih menguntungkan.
Peubah penjelas nilai tukar yang seharusnya memberikan nilai negatif terhadap penawaran uang ternyata memberikan pengaruh yang positif. Hal ini diduga oleh tren karakteristik masyarakat yang semakin konsumtif, sehingga antara peubah penjelas nilai tukar dan penawaran uang memiliki arah yang sama.
Jika dilihat dari besaran nilai statistik R2 = 0.98, artinya semua peubah penjelas mampu menjelaskan peubah endogennya sebesar 98 persen sedangkan dua persen lagi dijelaskan oleh faktor lain di luar persamaan, dengan nilai statistik F Hitung = 258.95. Dengan kata lain, bahwa persamaan tersebut mampu menjelaskan peubah endogennya dengan baik.
5.2.16.Inflasi
Hasil pendugaan parameter pada peubah endogen inflasi dapat dilihat pada Tabel 22 berikut ini.
Tabel 22. Hasil Pendugaan Parameter Inflasi
Peubah Penjelas Parameter Dugaan Nilai Peluang Elastisitas
Intersep -6.41485 0.5253
GDP Total 0.000349 0.0002 16.84375 Penawaran Uang -0.00284 <.0001 -56.7197 Nilai Tukar 0.005792 0.0025 5.534643 Dummy Krisis Ekonomi 5.857520 0.6116 0.594672 R2 = 0.74327 F Hitung = 10.13 DW = 2.898171
Dari Tabel 22 dapat diketahui bahwa respon positif tingkat inflasi dipengaruhi oleh GDP total, nilai tukar dan krisis ekonomi. Sementara itu untuk peubah penawaran uang justru memberikan pengaruh yang negatif terhadap inflasi. Secara umum semua peubah penjelas yang ada memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah endogennya kecuali krisis ekonomi, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai peluang yang sangat kecil. Sementara itu hampir secara keseluruhan peubah penjelas memberikan respon elastis pada peubah endogen inflasi, kecuali krisis ekonomi.
GDP total memberikan respon positif terhadap inflasi dengan nilai elastisitas sebesar (16.84), artinya dengan peningkatan GDP total sebesar satu persen maka akan mengakibatkan inflasi meningkat 16.84 persen. Begitu pula dengan nilai tukar, peubah penjelas ini memberikan respon elastis sebesar (5.53), artinya dengan peningkatan kemapuan nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar satu persen, maka akan mengakibatkan peningkatan inflasi sebesar 5.53 persen. Hal tersebut sejalan dengan teori, bahwa dengan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, secara proporsional akan meningkatkan harga, sehingga secara otomatis akan mendorong meningkatnya inflasi.
Sementara itu untuk peubah penjelas penawaran uang justru memberikan respon yang negatif terhadap inflasi. Hal ini diakibatkan karena kebijakan penawaran uang tidak melihat tingkat inflasi yang terjadi pada tahun sebelumnya, karena dari data yang ada tingkat inflasi bersifat fluktuatif, namun pen awaran uang secara terus-menerus mengalami peningkatan. Selain itu diduga pula disebabkan adanya goncangan ekonomi pada tujuh tahun terakhir yang menyebabkan keseimbangan moneter menjadi goyah serta bersamaan dengan lonjakan tingkat inflasi yang cukup tinggi. Hal tersebutlah yang membuat Bank Indonesia menarik infestasi dengan meningkatkan suku bunga yang sangat tinggi.
5.2.17.Kemiskinan Total
Kemiskinan total dalam penelitian ini diduga dengan persamaan identitas, dimana kemiskinan total ini merupakan penjumlahan dari kemiskinan di perkotaan dan di pedesaan. Jadi apabila terjadi goncangan pada salah satunya dan atau pada keduanya maka secara otomatis akan mempengaruhi tingkat kemiskinan total. Secara matematis persamaan identitas dari kemiskinan total sudah ditulis pada persamaan 9 yaitu sebagai berikut :
TPOVt = UPOVt + RPOVt
5.2.18.GDP Total
GDP total merupakan persamaan identitas dari penjumlahan GDP dari sektor pertanian ditambah dengan GDP dari sektor yang lainnya. Sektor yang lain disini yang dimaksud adalah sektor jasa, industri, pertambangan dan lain -lain.
Secara matematis persamaan identitas dari GDP total telah disamapaikan pada persamaan 13 yaitu sebagai berikut :
GDPTt = GDPAt + GDPNt
Dari persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap perubahan pada GDP di sektor pertanian ataupun di sektor yang lain, maka akan mempengaruhi GDP total. Selanjutnya perubahan GDP total akan memberikan pengaruh dan efek balik kepada peubah endogen yang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.
6.1. Validasi Model
Simulasi kebijakan bertujuan untuk menganalisis dampak berbagai alternatif kebijakan dengan cara mengubah nilai peubah kebijakannya. Akan tetapi sebelum melakukan alternatif simulasi kebijakan terlebih perlu dilakukan validasi model untuk melihat apakah nilai dugaan sesuai dengan nilai aktual masing-masing peubah endogen (Pindyck dan Rubinfield, 1991).
Model kebijakan pertanian dan kemiskinan dalam penelitian ini telah diuji dengan suatu simulasi dasar untuk periode sampel pengamatan 1984-2003. Indikator validasi statisik yang digunakan adalah Root Mean Squares Percent Error
(RMSPE) untuk mengukur seberapa dekat nilai masing-masing peubah endogen hasil pendugaan mengikuti nilai data aktualnya selama periode pengamatan atau dengan kata lain seberapa jauh penyimpangannya dalam ukuran persen. Selain itu digunakan statistik proporsi bias (UM), dan juga statistik Theil’s inequality
coefficient (U) untuk mengevaluasi kemampuan model bagi analisis simulasi
historis maupun peramalan (historical and ex-ante simulation). Pada dasarnya jika makin kecil nilai RMSPE dan U-Theil’s maka pendugaan model semakin baik. Nilai koefisien Theil (U) berkisar antara 1 dan 0. Jika U = 0 maka pendugaan model sempurna, jika U =1, maka pendugaan model naif. Berikut ini disajikan hasil validasi model dampak kebijakan pembangunan pertanian terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia seperti yang tertera pada Tabel 23.
Tabel 23. Hasil Pengujian Validasi Model Dampak Kebijakan Pembangunan Pertanian Terhadap Pengentasan Kemiskinan
Nama Peubah RMSPE Bias
(UM) U PROAR 8.3342 0.00 0.0246 INVAR 13.6387 0.01 0.0366 LABA 5.0448 0.25 0.0234 P A 3.9731 0.51 0.0181 EXAR 17.1694 0.00 0.0560 IMAR 25.9386 0.05 0.0978 UPOV 11.7530 0.00 0.0504 RPOV 4.8423 0.03 0.0257 SPN 8.1211 0.00 0.0360 GEAR 28.2129 0.01 0.1509 GR 27.7041 0.14 0.0714 TTAXR 12.6745 0.00 0.0486 FCONR 12.5419 0.00 0.0468 MSR 8.2903 0.00 0.0320 INF 280.6 0.00 0.2442 TPOV 3.4042 0.03 0.0185 GDPT 4.0751 0.00 0.0168 GDPA 13.3404 0.00 0.0562
Dari table 23 dapat diketahui, 17 persamaan dalam model mempunyai nilai RMSPE lebih kecil dari 30 persen, sementara itu ada satu persamaan yang mempunyai RMSPE lebih besar dari 100 persen. Sedangkan berdasarkan kriteria nilai U-Theil’s terdapat 17 persamaan dari 18 persamaan mempunyai nilai U lebih kecil dari 0.20, dan 1 persamaan lagi mempunyai nilai U antara 0.21 sampai 0.25.
Nilai U-Theil’s tertinggi adalah 0.2442 yaitu pada persamaan inflasi dan RMPSE nya 280.6, akan tetapi tidak terjadi bias sistematik, sebab nilai bias UM adalah 0.00 jauh di bawah dari 0.20. Meskipun demikian jika dilihat secara keseluruhan, model ini cukup baik digunakan sebagai model pendugaan, oleh karena itu model struktural yang telah dirumuskan juga dapat digunakan untuk simulasi alternatif kebijakan, pada simulasi historis untuk periode 1984-2003.
6.2. Evaluasi Alternatif Kebijakan Tunggal Pembangunan Pertanian dan