• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi

BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN TINGKAT REGIONAL

3.2. PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT PROVINSI

3.2.1. Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi

a. Penerimaan Perpajakan

Penerimaan pajak Pemerintah Pusat di Kepri menurun sebesar Rp5,86 miliar dibandingkan tahun 2019 yang sangat dipengaruhi oleh pandemi. Berdasarkan jenis pendapatan, Pajak Dalam Negeri (PDN) masih tetap berkontribusi paling dominan yaitu sebesar 95,9 persen dari total penerimaan dan meningkat sebesar 3,36 persen atau sebesar Rp214,93 miliar (y-o-y). Pajak Penghasilan (PPh) masih berkontribusi paling besar dalam komposisi Pajak Dalam Negeri yaitu sebesar 78,83 persen dengan PPh Nonmigas sebagai penyumbang terbesar. Hal ini sejalan dengan meningkatnya total ekspor nonmigas Kepri tahun 2020 sebesar 19,70 persen (y-o-y) dan sebaliknya penerimaan PPh Migas yang tidak terlalu baik disebabkan oleh menurunnya ekspor migas sebesar 28,86 persen (y-o-y). Kontributor terbesar kedua adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 15,35 persen, hal ini didorong dengan peningkatan produksi alat kesehatan di Kepri sehubungan dengan Covid-19 ditambah dengan penerimaan pajak dari asing. Sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) menjadi satu-satunya yang berkontribusi negatif terhadap PDN yaitu sebesar -33,40 persen dibanding tahun 2019. Pajak berkontribusi sebesar

75,61%

pada penerimaan pendapatan, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri pada Triwulan IV Tahun 2020 PPh masih menjadi kontributor paling besar dalam penerimaan Pajak Dalam Negeri

29

Pajak Perdagangan Internasional (PPI) berkontribusi sebesar 4,14 persen dari total pajak Pemerintah Pusat. Berdasarkan komposisi PPI, Bea Masuk dan Bea Keluar berkontribusi negatif masing-masing sebesar 45,94 persen dan 7,01 persen dibandingkan tahun 2019. Penurunan penerimaan terhadap PPI dipengaruhi oleh aktivitas perekonomian yang bergerak sangat lambat disebabkan oleh pandemi

Covid-19. Hal ini juga terlihat pada perekonomian Kepri yang berkontraksi cukup dalam pada

tahun 2020 yang dipengaruhi oleh aktivitas ekspor yang menurun sebesar 6,13 persen atau sebesar USD783,57 sementara impor meningkat sebesar 4,63% atau sebesar USD498,42. Aktivitas pada sektor industri dan pertambangan yang memegang andil terbesar pada perekonomian di Kepri menunjukkan perlambatan sehingga impor nonmigas meningkat terutama pada hasil industri dan tambang tahun 2020.

Tabel 10 Perkembangan Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat di Provinsi Kepulauan Riau (dalam miliar rupiah)

Jenis Pendapatan Target Realisasi 2018 % Target Realisasi 2019 % Target Realisa2020

si %

A. Pendapatan Pajak Dalam Negeri 6.865,56 5.472,30 79,71 6.887,39 6.404,61 92,99 6.341,30 6.619,54 104,39 Pajak Penghasilan (PPh) 5.799,57 4.594,57 79,22 5.754,74 5.366,98 93,26 5.283,40 5.443,54 103,03 Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 938,00 781,98 83,37 1.024,67 916,59 89,45 948,65 1.059,82 111,72 Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 35,79 34,33 95,92 35,78 34,11 95,34 21,69 22,72 104,76 Cukai 3,37 6,85 203,26 7,66 13,18 172,12 13,19 15,75 119,42 Pajak Lainnya 88,83 54,57 61,43 64,54 73,75 114,27 74,37 77,71 104,50 Pendapatan Pajak Perdagangan

Internasional 313,91 538,84 171,65 497,45 506,52 101,82 251,93 285,73 113,42 Bea Masuk 313,91 523,96 166,91 482,58 475,94 98,63 241,24 257,29 106,66 Bea Keluar 0,00 14,88 0,00 14,87 30,58 205,56 10,69 28,43 266,07

Total Penerimaan Perpajakan 7.179,47 6.011,14 83,73 7.384,84 6.911,13 93,59 6.593,23 6.905,27 104,73 Sumber: OM SPAN DJPBN, DJP, dan DJBC Kemenkeu (diolah), 01 Februari 2021

Kinerja perpajakan di Kepri dapat ditinjau berdasarkan tax ratio yang membandingkan penerimaan perpajakan pemerintah pusat terhadap PDRB di Kepri. Berdasarkan tiga tahun terakhir, tax ratio tertinggi ialah pada tahun 2020 yang meningkat sebesar 15 basis poin dibandingkan tahun 2019. Dilihat berdasarkan jenis pajaknya, PPh dan PPN secara konsisten mengalami peningkatan penerimaan selama tiga tahun terakhir. Sebaliknya PPI mengalami penurunan sejak tahun 2018.

Jika dibandingkan dengan tax

ratio nasional yaitu sebesar 11,6

persen tahun 2020, tax ratio Kepri masih terbilang jauh. Selain disebabkan oleh adanya kebijakan berupa pembebasan pajak sebagai fasilitas area Free Trade Zone (FTZ), hal ini juga dibatasi oleh terjadinya

perlambatan kinerja perekonomian di Kepri selama pandemi. Pandemi Covid-19

Penurunan aktivitas ekspor di Kepri mempengaruhi penerimaan PPI yang menurun pada tahun 2020 0% 20% 40% 60% 80% 100% 2018 2019 2020 2,65% 2,95% 3,11% 0,45% 0,50% 0,60% 0,31% 0,28% 0,16% 3,46% 3,73% 3,88% PPh PPN PPI Total Sumber: BPS dan OMSPAN (diolah)

Tax Ratio Kepri tahun 2020 sebesar

3,88%

, masih terpaut jauh dari tax ratio nasional

30

mengharuskan pemerintah memberikan kebijakan terkait perpajakan berupa pemberian insentif pajak bagi wajib pajak yang terdampak wabah Covid-19, fasilitas pajak terhadap barang dan jasa yang diimpor dalam rangka penanganan pandemi Covid-19.

b. Kebijakan Insentif Fiskal (Perpajakan)

Pemerintah mengeluarkan PMK Nomor 23 Tahun 2020 tentang Insentif Pajak Untuk Wajib Pajak Terdampak Wabah Virus Covid-19. Pemberian insentif ini sebagai respon pemerintah atas menurunnya produktivitas para pelaku usaha. Adapun jenis pajak yang diberikan insentif adalah PPh Pasal 21 (DTP), pembebasan PPh Pasal 22 Impor, keringanan angsuran Pajak PPh Pasal 25, restitusi PPN, pemberian insentif PPh Final Jasa Konstruksi atas Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi.

Adapun fasilitas insentif perpajakan pada Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut:

Tabel 11 Insentif Fiskal (Perpajakan) Provinsi Kepri Tahun 2020 No Jenis Insentif Fiskal (Perpajakan) Kelompok Sektor Usaha Penerima Insentif dan Manfaat

1 Insentif Perpajakan Total keseluruhan penerima manfaat: 13.491 WP

- PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah;

- Membantu meringankan beban operasional perusahaan agar terhindar dari kebangkrutan serta meningkatkan daya beli masyarakat sehingga mampu

menggerakkan roda

perekonomian. a. Keringanan PPh 21 (DTP)

b. Pembebasan PPh 22 Impor - Pembebasan pemungutan PPh

22 Impor;

- Membantu meringankan beban pokok perusahaan.

c. Keringanan Angsuran Pajak PPh 25 - Pengurangan Angsuran PPh

Pasal 25 sebesar 50%; - Bentuk upaya penyesuaian

distribusi beban pajak sehingga lebih menggambarkan keadaan yang sebenarnya serta memungkinkan perusahaan melakukan realokasi beban pajak ke beban lainnya.

2. Insentif PPh Final UMKM (DTP) Pajak Penghasilan Final berdasarkan

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 ditanggung oleh pemerintah, sehingga UMKM tidak perlu membayar lagi besaran pajaknya sehingga diharapkan dapat membantu wajib pajak UMKM dalam mengurangi beban operasionalnya sehingga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan UMKM dari kebangkrutan selama pandemi

3. Percepatan Restitusi PPN PKP dapat diberikan pengembalian

pendahuluan kelebihan pembayaran pajak sebagai PKP berisiko rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4c) Undang-Undang PPN

31 No Jenis Insentif Fiskal (Perpajakan) Kelompok Sektor Usaha Penerima Insentif dan Manfaat

4. Insentif PPh Final Jasa Konstruksi (DTP) atas Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI)

PPh Final yang berasal dari usaha jasa konstruksi ditanggung pemerintah

Sumber: Kanwil DJP Provinsi Kepri

Dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan insentif perpajakan tersebut di atas, menemui beberapa kendala seperti hal berikut:

1. Wajib Pajak sebagian besar berpendapat bahwa masih terlalu rendahnya besaran insentif PPh Pasal 21 yang ditawarkan oleh pemerintah;

2. Kurangnya Sosialisasi oleh otoritas perpajakan sehingga masih banyak Wajib Pajak yang belum mengetahui program insentif pajak;

3. Tingkat kepercayaan Wajib Pajak terhadap kebenaran atau manfaat yang yang dapat diterima dari insentif pajak PPh Pasal 21 tersebut bagi perusahaan mereka masih rendah;

4. Masih banyak Wajib pajak yang tidak paham cara dan prosedur pelaporan setelah mengikuti insentif pajak;

5. Adanya keterbatasan Pemerintah Pusat dalam penerapan insentif yang ada bila dihubungkan dengan kewenangan mereka dalam permasalahan Pajak Bumi dan Bangunan yang di hadapi oleh Wajib Pajak di daerah.

Atas kendala dari implementasi kebijakan tersebut, perlu banyak upaya dari pihak pemerintah untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat dan sosialisasi mengenai manfaat insentif pajak yang dapat diterima demi manfaat maksimal yang dapat membantu masyarakat selaku Wajib Pajak maupun pelaku usaha di Provinsi Kepri.

c. Kebijakan Insentif Fiskal (Kepabeanan dan Cukai)

Selain kebijakan insentif fiskal di bidang perpajakan, pemerintah juga turut menggontorkan insentif fiskal di bidang kepabeanan dan cukai yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun para pelaku usaha untuk membantu keberlangsungan usaha selama pandemi Covid-19 terjadi. Fasilitas dan kemudahan ini juga mendorong ketersediaan alat pelindung diri, alat kesehatan, dan obat-obatan untuk masyarakat.

Terdapat berbagai fasilitas relaksasi di sektor kepabeanan, diantaranya yaitu relaksasi impor barang untuk penanggulangan Covid-19 sesuai dengan PMK Nomor 171 Tahun 2019, percepatan pelayanan impor barang untuk keperluan penanggulangan

Covid-19, integrasi antara DJBC, BNPB, LNSW, Kementerian Kesehatan, BPOM

melalui sistem online INSW untuk mempercepat proses pengajuan rekomendasi BNPB, pembebasan bea masuk atas impor barang oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah untuk kepentingan umum, pembebasan bea masuk dan/atau cukai atas impor

32

barang kiriman hadiah/hibah untuk keperluan sosial, relaksasi pelayanan kawasan berikat agar dapat memproduksi masker, hand sanitizer untuk kebutuhan dalam negeri, insentif pajak untuk perusahaan pengguna fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan relaksasi penyerahan Surat Keterangan Asal (SKA) untuk membantu kelancaran proses importasi.

Sedangkan fasilitas yang diberikan untuk sektor cukai yaitu, pembebasan cukai etil alkohol bagi tujuan sosial dan produksi hand sanitizer, antiseptic, perpanjangan masa pembayaran pita cukai rokok dari sebelumnya dua bulan menjadi tiga bulan, dan kegiatan produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) dapat dilakukan di bangunan/tempat lain atas ijin Kepala Kantor Bea Cukai dalam rangka phisycal distancing. Fasilitas dalam bidang kepabeanan dan cukai ini mulai diberlakukan sejak Maret 2020 sebagai respon cepat pemerintah untuk membantu penanganan Covid-19.

Pada Provinsi Kepulauan Riau, fasilitas kepabeanan dan cukai yang diberikan adalah sebagai berikut:

Tabel 12 Insentif Fiskal (Kepabeanan dan Cukai) Provinsi Kepri Tahun 2020 No (Kepabeanan dan Cukai) Jenis Insentif Fiskal Penerima Insentif dan Kelompok Sektor Usaha Manfaat

1. Pemanfaatan Fasilitas Kawasan Berikat (KB)

1) PT Karwikarya Wisman Graha Jenis Industri sesuai dengan IUI Garmen/Pakaian Jadi

2) PT Pulau Bintan Djaya Jenis Industri sesuai dengan IUI Crumb Rubber Factory

3) PT Swakarya Indah Busana Jenis Industri sesuai dengan IUI Tekstil/Pakaian/Benang

Barang yang dimasukkan dari luar daerah pabean ke Kawasan Berikat diberikan fasilitas berupa:

a. Penangguhan Bea Masuk; b. Pembebasan Cukai; dan/ atau c. Tidak dipungut Pajak Dalam

Rangka Impor (PDRI);

Barang yang berasal dari luar daerah pabean yang dimasukkan dari Tempat Penimbunan Berikat, Kawasan Bebas, Kawasan Ekonomi Khusus, atau kawasan ekonomi lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah ke Kawasan Berikat diberikan fasilitas berupa:

a. Penangguhan Bea Masuk; b. Pembebasan Cukai

c. Tidak dipungut PDRI; dan/ atau d. Tidak dipungut PPN atau PPN

dan PPnBM. 2. Pengembangan Kawasan

Ekonomi Khusus (KEK) PT Bintan Alumina Indonesia Jenis Industri sesuai dengan IUI (yang sedang diajukan) yaitu Industri Pembuatan Logam Dasar Bukan Besi

Terhadap Badan Usaha serta Pelaku

Usaha di KEK dapat

diberikan fasilitas dan kemudahan berupa:

a. Pajak Penghasilan;

b. Pembebasan Pajak

Pertambahan Nilai (PPN) atau

Pajak Pertambahan

Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM); c. Kepabeanan; dan/ atau d. Cukai.