PENGENAAN BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO
3.4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2011
3.4.1 Penerimaan Dalam Negeri
3.4.1.1 Penerimaan Perpajakan
Kebijakan Umum Perpajakan Tahun 2011
Sebagaimana tahun 2010, kebijakan umum perpajakan dilakukan melalui upaya perbaikan administrasi perpajakan. Salah satu upaya perbaikan administrasi perpajakan tersebut adalah pengalihan BPHTB serta PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang semula merupakan pajak pusat menjadi pajak daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Selain itu, perbaikan administrasi perpajakan juga dilakukan dengan melanjutkan penghapusan fiskal luar negeri bagi WP
APBN-P % thd
PDB RAPBN % thd PDB
Pendapatan Negara dan Hibah 992,4 15,9 1.086,4 15,5
I. Penerimaan Dalam Negeri 990,5 15,8 1.082,6 15,5
1. Penerimaan Perpajakan 743,3 11,9 839,5 12,0
a. Pajak Dalam Negeri 720,8 11,5 816,4 11,7
i. Pajak penghasilan 362,2 5,8 414,5 5,9
Migas 55,4 0,9 54,2 0,8
Nonmigas 306,8 4,9 360,3 5,1
ii. Pajak pertambahan nilai 263,0 4,2 309,3 4,4
iii. Pajak Bumi dan Bangunan 25,3 0,4 27,7 0,4
iv. BPHTB 7,2 0,1 0,0 0,0
v. Cukai 59,3 0,9 60,7 0,9
vi. Pajak lainnya 3,8 0,1 4,2 0,1
b. Pajak Perdagangan Internasional 22,6 0,4 23,1 0,3
i. Bea masuk 17,1 0,3 18,0 0,3
ii. Bea keluar 5,5 0,1 5,1 0,1
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 247,2 4,0 243,1 3,5
a. Penerimaan SDA 164,7 2,6 158,2 2,3
i. Migas 151,7 2,4 145,3 2,1
ii. Nonmigas 13,0 0,2 12,9 0,2
b. Bagian Laba BUMN 29,5 0,5 26,6 0,4
c. PNBP Lainnya 43,5 0,7 43,4 0,6
d. Pendapatan BLU 9,5 0,2 14,9 0,2
II. Hibah 1,9 0,0 3,7 0,1
Sumber: Kementerian Keuangan
TABEL III.16
PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH, 2010 − 2011 (triliun rupiah)
Uraian
2011 2010
orang pribadi yang mempunyai NPWP sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. Selanjutnya, Pemerintah juga akan melanjutkan program reformasi perpajakan dalam bentuk reformasi perpajakan jilid II, antara lain dilakukan melalui program Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR), yang penyelesaiannya membutuhkan waktu dalam jangka menengah (2009–2013).
Dalam rangka menggali potensi penerimaan pajak dalam tahun 2011, beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah, antara lain (1) program ekstensifikasi perpajakan dalam menambah WP baru; (2) program intensifikasi penggalian potensi perpajakan berbasis profile WP; (3) penggalian potensi sektor-sektor tertentu; (4) aplikasi optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP); dan (5) pemberian pendidikan perpajakan (tax education) dalam rangka meningkatkan kepatuhan WP (tax payer compliance).
Selain kelima upaya tersebut, optimalisasi penerimaan pajak tahun 2011 juga didukung oleh upaya peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. Dalam hal ini, beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah adalah (1) menyusun kebijakan teknis pemeriksaan atas hasil pemeriksaan WP yang tergabung dalam satu grup; (2) melakukan kajian atas perlakuan PPN untuk barang hasil tambang; (3) meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan pencairan piutang pajak dan prioritas pencairan kepada penunggak pajak terbesar; dan (4) harmonisasi Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-undang Kepailitan, serta Undang-undang terkait tentang hak mendahulukan negara atas piutang pajak terhadap WP yang dinyatakan pailit.
Selanjutnya, Pemerintah akan menyempurnakan mekanisme atas keberatan dan banding sebagai upaya untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak. Hal ini antara lain dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan informasi dari putusan pengadilan pajak serta keputusan keberatan dan nonkeberatan sebagai bahan untuk penggalian potensi perpajakan.
Selain itu, Pemerintah akan menyusun kembali grand strategy untuk meningkatkan pengawasan, guna menghindari dan mengurangi penyalahgunaan wewenang, serta meningkatkan fungsi litigasi agar Pemerintah dapat memenangkan sengketa dalam sidang banding dan gugatan di Pengadilan Pajak.
Sejalan dengan upaya perbaikan administrasi dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan, Pemerintah juga melakukan optimalisasi penerimaan kepabeanan dan cukai melalui peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) melanjutkan reformasi birokrasi, melalui pembentukan KPPBC madya dan penyempurnaan birokrasi di lingkungan internal; (2) penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Window (INSW) di 5 kantor pabean (Tanjung Priok, Tanjung Perak, Tanjung Emas, Bandara Soekarno Hatta, dan Belawan); (3) otomatisasi pelayanan; (4) implementasi kawasan pelayanan pabean terpadu; dan (5) konsistensi pelayanan kepabeanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makasar dan Belawan).
Khusus di bidang kepabeanan, optimalisasi penerimaan dalam tahun 2011 dilakukan antara lain melalui (1) peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor;
(2) peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang; (3) peningkatan kolektibilitas piutang kepabeanan dan cukai; (4) peningkatan pengawasan di daerah perbatasan, terutama jalur rawan penyelundupan; dan (5) optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut. Terkait dengan upaya peningkatan pengawasan di bidang kepabeanan,
beberapa kebijakan yang diambil adalah dengan melakukan penataan hubungan kerja antarunit pengawasan, penerapan pola profiling secara sistematis dalam rangka risk management, melakukan pendeteksian dini terhadap pelanggaran, otomatisasi proses pengawasan secara vertikal dan horisontal, serta perbaikan bisnis proses audit dan revitalisasi fungsi audit.
Khusus di bidang cukai, kebijakan pada tahun 2011 tetap diarahkan pada konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Selain itu, optimalisasi penerimaan cukai juga dilakukan melalui kajian tentang ekstensifikasi barang kena cukai, pelekatan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya untuk MMEA golongan A, pemanfaatan informasi teknologi di bidang pelayanan cukai dan peningkatan pengawasan di bidang cukai, serta optimalisasi sosialisasi di bidang cukai.
Sementara itu, dalam rangka mendukung sasaran pertumbuhan investasi sesuai dengan RKP 2011, di sisi kebijakan kepabeanan dan cukai, akan terus diupayakan perbaikan sistem informasi. Upaya tersebut akan dilaksanakan melalui (1) pengoperasian secara penuh INSW untuk impor (sebelum tahun 2010) dan untuk ekspor; (2) percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang; dan (3) pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dilakukan melalui pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum tahun 2014.
Target Penerimaan Perpajakan Tahun 2011
Pada tahun 2011, penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp839,5 triliun, atau meningkat 12,9 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2010. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam peningkatan penerimaan perpajakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, baik secara global maupun domestik; (2) perbaikan administrasi pajak, kepabeanan dan cukai yang dilakukan secara terus menerus; (3) upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan; dan (4) tingginya tax compliance masyarakat.
PPh ditargetkan mencapai Rp414,5 triliun pada tahun 2011, atau meningkat 14,4 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. Termasuk dalam target penerimaan PPh adalah fasilitas pajak ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp3,5 triliun, yang terdiri atas PPh DTP untuk panas bumi sebesar Rp1,0 triliun, PPh DTP untuk bunga obligasi internasional sebesar Rp1,5 triliun, dan PPh DTP untuk hibah dan kerjasama keuangan internasional sebesar Rp1,0 triliun.
Dari keseluruhan penerimaan PPh pada tahun 2011, PPh migas ditargetkan mencapai Rp54,2 triliun, atau 13,1 persen kontribusi terhadap penerimaan PPh. Bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010, target PPh migas tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2,2 persen. Sasaran penerimaan PPh migas tahun 2011 didasarkan antara lain pada:
(1) asumsi ICP USD80,0 per barel; (2) nilai tukar rupiah rata-rata Rp9.300 per USD, dan (3) lifting minyak sebesar 970 ribu bph.
Pada tahun 2011, PPh nonmigas ditargetkan mengalami kenaikan 17,4 persen, hingga mencapai Rp360,3 triliun, dari target APBN-P tahun 2010. Secara umum, faktor utama yang berpengaruh adalah penerapan kebijakan perpajakan yang berperan dalam meningkatkan penerimaan PPh nonmigas antara lain: (1) kegiatan pasca sunset policy yang
menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak; (2) perluasan basis pajak; (3) kegiatan intensifikasi melalui mapping, profiling, dan benchmarking; dan (4) upaya extra effort melalui pemeriksaan dan penagihan.
Penerimaan PPh nonmigas sektoral pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 308,4 triliun.
Target tersebut merupakan target bruto yang belum memperhitungkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing serta kemungkinan restitusi yang terjadi. Bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010, target tersebut meningkat sebesar 19,1 persen atau Rp49,5 triliun, terutama didukung oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp95,1 triliun (30,8 persen) dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 22,3 persen.
Selanjutnya, sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan memberikan kontribusi sebesar Rp66,8 triliun (21,7 persen) dengan pertumbuhan 8,6 persen. Sementara itu, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebagai kontributor terbesar ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp39,0 triliun (12,6 persen) atau mengalami pertumbuhan sebesar 23,6 persen.
Perkiraan penerimaan PPh nonmigas sektoral dapat dilihat pada Tabel III.17.
Pada tahun 2011, target PPN dan PPnBM adalah sebesar Rp309,3 triliun, atau meningkat 17,6 persen dari perkiraannya dalam APBN-P tahun 2010. Peningkatan ini sejalan dengan lebih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 yang mencapai 6,3 persen, dari perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 5,9 persen.
Konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang masing-masing diperkirakan tumbuh di atas 5 persen dan 6 persen diharapkan dapat mendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri. Demikian juga dengan aktivitas perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh di atas 6 persen akan menjadi salah satu pendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM impor.
Dalam target PPN dan PPnBM tersebut, di dalamnya terdapat target penerimaan perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah sebesar Rp9,3 triliun. Rincian dari PPN DTP adalah (1) PPN DTP untuk bahan bakar minyak, bahan bakar nabati, dan LPG 3 kg bersubsidi sebesar Rp6,0 triliun; (2) PPN DTP untuk pajak dalam rangka impor (PDRI) terkait
Perk.
Real.
% thd
Total y-o-y RAPBN % thd
Total y-o-y
Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan 9,3 3,6 (8,7) 12,5 4,1 34,7
Pertambangan Migas 8,2 3,2 (19,5) 8,3 2,7 0,8
Pertambangan Bukan Migas 14,0 5,4 (20,7) 17,2 5,6 22,5
Penggalian 0,3 0,1 24,7 0,4 0,1 29,8
Industri Pengolahan 77,8 30,0 29,7 95,1 30,8 22,3
Listrik, Gas, dan Air Bersih 8,3 3,2 49,3 9,1 2,9 9,7
Konstruksi 7,7 3,0 19,1 9,7 3,2 25,8
Perdagangan, Hotel, dan Restoran 31,5 12,2 18,5 39,0 12,6 23,6
Pengangkutan dan Komunikasi 17,4 6,7 1,2 18,1 5,9 4,2
Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan 61,6 23,8 (12,2) 66,8 21,7 8,6
Jasa Lainnya 20,3 7,8 32,5 26,0 8,4 28,0
Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya 2,4 0,9 7,5 6,1 2,0 150,7
Total 258,9 100,0 7,0 308,4 100,0 19,1
* Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN, transaksi yang offline serta restitusi Sumber : Kementerian Keuangan
2011 TABEL III.17
PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL, 2010 −2011 (triliun rupiah)
Uraian
2010
kebutuhan eksplorasi hulu minyak, gas bumi serta panas bumi sebesar Rp2,8 triliun; dan (3) PPN DTP untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar Rp0,5 triliun.
Penerimaan PPN dalam negeri (PPN DN) sektoral pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp181,5 triliun atau meningkat sebesar 19,1 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010. Secara lebih rinci, penerimaan PPN DN terutama disumbangkan oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp85,2 triliun (46,9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 26,6 persen dan sektor perdagangan, hotel, serta restoran dengan kontribusi sebesar Rp32,4 triliun (17,8 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15,7 persen.
Sedangkan sebagai kontributor ketiga terbesar, sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar Rp14,3 triliun (7,9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15,2 persen. Perkiraan penerimaan PPN DN sektoral dapat dilihat pada Tabel III.18.
Pada tahun 2011, penerimaan PPN impor sektoral diperkirakan mencapai Rp117,7 triliun atau meningkat sebesar 23,9 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010. Kontributor utama adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp72,0 triliun (61,2 persen) dengan pertumbuhan mencapai 21,7 persen. Selanjutnya, sebagai kontributor terbesar kedua, sektor industri perdagangan, hotel dan restoran memberikan kontribusi sebesar Rp36,2 triliun (30,7 persen) dengan pertumbuhan sebesar 28,4 persen. Secara umum, peningkatan PPN impor sektoral terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya transaksi perdagangan internasional seiring dengan membaiknya perekonomian dunia. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PPN impor sektoral tahun 2010–2011 dapat dilihat dalam Tabel III.19.
Penerimaan dari PBB ditargetkan mencapai Rp27,7 triliun pada tahun 2011, atau meningkat 9,3 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010. Target penerimaan PBB tersebut sudah mengantisipasi kebijakan pengalihan administrasi PBB sektor perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah yang sudah siap untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Sementara itu, sebagai komponen terbesar, PBB pertambangan ditargetkan mencapai Rp20,8 triliun, atau naik 21,7 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.
Perk.
Real.
% thd
Total y-o-y RAPBN % thd
Total y-o-y
Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan 3,3 2,2 9,4 3,9 2,2 18,0
Pertambangan Migas 2,8 1,9 (83,9) 1,6 0,9 (42,1)
Pertambangan Bukan Migas 2,1 1,4 55,5 2,3 1,3 6,2
Penggalian 0,2 0,1 37,3 0,2 0,1 28,8
Industri Pengolahan 67,3 44,2 78,7 85,2 46,9 26,6
Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,9 0,6 50,8 1,1 0,6 21,3
Konstruksi 12,1 7,9 15,4 12,1 6,7 0,0
Perdagangan, Hotel, dan Restoran 28,0 18,4 43,4 32,4 17,8 15,7
Pengangkutan dan Komunikasi 12,4 8,2 43,4 14,3 7,9 15,2
Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan 12,1 7,9 31,0 12,5 6,9 3,1
Jasa Lainnya 3,8 2,5 58,4 4,4 2,4 18,1
Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya 7,3 4,8 24,1 11,4 6,3 56,1
Total 152,3 100,0 30,7 181,5 100,0 19,1
* Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L, transaksi yang offline dan restitusi Sumber : Kementerian Keuangan
2011 TABEL III.18
PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL, 2010 –2011 (triliun rupiah)
Uraian
2010
Sehubungan dengan kebijakan pengalihan administrasi BPHTB dari Pemerintah pusat ke pemerintah daerah, maka tidak ada penerimaan BPHTB pada RAPBN tahun 2011.
Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60,7 triliun, terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58,1 triliun, dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2,7 triliun. Bila dibandingkan dengan APBN-P tahun 2010, target cukai 2011 mengalami peningkatan 2,4 persen, didukung oleh peningkatan cukai hasil tembakau sebesar 3,9 persen. Beberapa faktor yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau; (2) peningkatan tarif cukai MMEA dan EA; (3) perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai; dan (4) extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal.
Pada tahun 2011, pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4,2 triliun, atau 9,4 persen bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan benda materai.
Penerimaan bea masuk pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp18,0 triliun. Bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010, terjadi peningkatan sebesar 5,2 persen.
Target penerimaan bea masuk pada tahun 2011 tersebut termasuk bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp2,0 triliun. Asumsi-asumsi yang dijadikan pertimbangan dalam penetapan target bea masuk adalah (1) pertumbuhan ekonomi 6,3 persen; (2) nilai tukar rupiah yang rata-rata Rp9.300 per USD; dan (3) meningkatnya volume impor sebagai dampak dari meningkatnya volume perdagangan internasional.
Kebijakan bea keluar tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara.
Namun terdapat tujuan lain seperti ketersediaan komoditi dalam negeri, stabilitas harga nasional, dan kelestarian sumber daya alam. Dalam tahun 2011, bea keluar ditargetkan mencapai Rp5,1 triliun atau 5,9 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan target
Perk.
Real.
% thd
Total y-o-y RAPBN % thd
Total y-o-y
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 0,4 0,5 366,4 0,6 0,6 47,2
Pertambangan Migas 0,6 0,6 (85,3) 0,3 0,3 (45,4)
Pertambangan Bukan Migas 1,9 2,0 318,2 3,0 2,5 54,5
Penggalian 0,0 0,0 (70,9) 0,0 0,0 (40,3)
Industri Pengolahan 59,2 62,3 62,3 72,0 61,2 21,7
Listrik, Gas dan Air Bersih 0,2 0,3 4,9 0,3 0,2 10,2
Konstruksi 0,9 1,0 (0,4) 1,0 0,9 11,9
Perdagangan, Hotel dan Restoran 28,2 29,7 45,8 36,2 30,7 28,4
Pengangkutan dan Komunikasi 1,2 1,3 (9,4) 1,1 0,9 (8,5)
Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 2,2 2,3 124,7 3,1 2,6 38,0
Jasa Lainnya 0,1 0,1 (13,0) 0,1 0,1 (2,8)
Kegiatan yang belum jelas batasannya 0,0 0,0 14,5 0,0 0,0 51,7
Total 95,0 100,0 49,0 117,7 100,0 23,9
* Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L, transaksi yang offline dan restitusi Sumber : Kementerian Keuangan
2011 TABEL III.19
PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL, 2010-2011 (triliun rupiah)
Uraian
2010
sebesar Rp50,0 miliar atau 33,3 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010.
Sumber utama penerimaan perikanan berasal dari pungutan pengusahaan perikanan (PPP), termasuk di dalamnya pungutan perikanan asing (PPA) dan pungutan hasil perikanan (PHP).
Penerimaan perikanan ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya dalam SDA nonmigas. Namun, peranan sektor perikanan tersebut juga dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan ekonomi di sentra-sentra kegiatan nelayan di pelabuhan perikanan dan pasar ikan, kegiatan perikanan di sentra-sentra budidaya, dan kegiatan pengolahan ikan serta penerimaan daerah melalui retribusi bidang kelautan dan perikanan.
Guna mengoptimalkan penerimaan perikanan, upaya yang akan ditempuh dalam tahun 2011 antara lain: (1) optimalisasi pelayanan dan penertiban perijinan usaha;
(2) penanggulangan illegal fishing; (3) revisi PP Nomor 19/2006 tentang Pungutan Tarif PNBP KKP; (4) revisi Harga Patokan Ikan (HPI); (5) pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu; (6) dorongan pengusahaan perikanan asing yang semula beroperasi dengan scheme lisensi untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan domestik dan mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia sebagai pasokan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan; (7) dorongan dibentuknya perusahaan PMA untuk meningkatkan investasi di bidang pengolahan hasil perikanan; (8) peningkatan kemampuan armada perikanan dalam negeri untuk mengganti kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan laut lepas; (9) peningkatan pelayanan; dan (10) percepatan perizinan dan administrasi penagihan.
Penerimaan pertambangan panas bumi dalam RAPBN 2011 direncanakan mencapai Rp356,1 miliar, meningkat sebesar Rp111,7 miliar atau 45,7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain.
Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN
Kondisi makroekonomi yang masih rentan terhadap efek dari defisit anggaran negara-negara Organization for Economic Cooperation Development (OECD) terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat di tahun 2010, akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN agar tidak mengurangi penerimaan dividen di tahun 2011.
Di samping itu, sesuai Peraturan Bank Indonesia dan Bapepam-LK, BUMN Sektor Perbankan, Jasa Keuangan dan Asuransi perlu memupuk dana untuk memenuhi persyaratan kecukupan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk perbankan BUMN yang melakukan IPO dengan prospektus dengan menjanjikan pay-out ratio tertentu. Untuk BUMN sektor perbankan, antisipasi peningkatan non performing loan (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy Ratio atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga mengurangi laba BUMN perbankan. Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan anggaran investasi untuk kegiatan investasi.
Kebijakan penyesuaian pay-out ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui
upaya penyaluran kredit dengan tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian.
Rencana kebijakan Pemerintah untuk PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN di tahun 2011 adalah dengan menerapkan kebijakan pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian, yaitu (a) penetapan pay-out ratio (POR) 0-25 persen untuk BUMN sektor asuransi, khusus PT Jamsostek, PT Taspen, PT Askes, dan PT Asabri diterapkan POR nol persen, terkait dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menjelaskan bahwa BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba;
(b) penetapan POR nol persen untuk BUMN kehutanan, terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia, dan untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi; (c) penetapan POR 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi; (d) rencana POR BUMN Sektor Perkebunan 0-25 persen; (e) penetapan POR BUMN Sektor Farmasi 0-20 persen; (f) rencana POR BUMN Perbankan 35-45 persen untuk antisipasi Implementasi BASEL II dan PSAK 50/55 agar CAR Bank BUMN pada tahun 2014 tetap di atas 10 persen dan dapat tetap memajukan sektor riil dengan pertumbuhan ekspansi kredit 18-27 persen; (g) rencana POR BUMN Pertambangan 30-45 persen; dan (h) rencana POR PT Pertamina 45-50 persen.
Adapun rencana strategi yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN dalam tahun 2011 adalah: (a) optimalisasi dividen pay-out ratio dengan mempertimbangkan antara lain kondisi keuangan dan penugasan oleh Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku (misalnya: UU SJSN, Prospektus IPO); (b) audit keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) dapat selesai lebih awal dari jadwal agar angka definitif atas laba/rugi bersih BUMN secara dini dapat diketahui, untuk dapat ditetapkan langkah-langkah dalam mencapai target yang diharapkan; dan (c) opsi untuk mengambil dividen interim terhadap BUMN yang sudah menyelenggarakan RUPS, dengan tetap memperhatikan arus kas untuk operasi BUMN tersebut.
Terkait dengan rencana peningkatan kinerja BUMN di tahun 2011, Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN.
Langkah-langkah tersebut juga dipersiapkan dalam rangka antisipasi pemberlakuan ACFTA agar BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Langkah taktis yang disiapkan untuk tahun 2011 antara lain adalah: (a) peningkatan cadangan modal kerja untuk BUMN yang sehat dan perlu modal kerja dan sekaligus belanja investasi (capital expenditure) agar BUMN dapat lebih berkembang menuju ke tingkat economic of scale dan sekaligus mampu meningkatkan pendapatan serta lebih efisien; dan (b) BUMN yang sedang direstrukturisasi dan meraih laba namun masih mengalami akumulasi rugi agar lebih sehat, tidak diambil dividennya. Dengan memperhatikan kondisi dan tantangan dan asumsi dasar ekonomi makro 2011 serta rencana kebijakan yang akan ditempuh sebagaimana disebutkan sebelumnya, besaran PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN termasuk dividen interim tahun 2011 direncanakan sebesar Rp26,6 triliun.
PNBP Lainnya
Dalam tahun 2011, target PNBP lainnya direncanakan sebesar Rp43,4 triliun, sedikit mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp43,5 triliun. Target PNBP lainnya tahun 2010—2011 dapat dilihat dalam Grafik III.36.
(4) melakukan pengkajian secara komprehensif mengenai formula dan besaran variabel dalam pengenaan BHP frekuensi; serta (5) melakukan otomatisasi/modernisasi proses perizinan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik.
Dalam tahun 2011, PNBP Kemendiknas direncanakan mencapai Rp10,7 triliun.
Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp4,0 triliun atau 59,8 persen apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp6,7 triliun.
Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya penerimaan jasa pendidikan, terutama bersumber dari tambahan PTN eks-BHMN yang berubah menjadi satuan kerja BLU dan penerimaan dari hasil penjualan produk pendidikan. Perkembangan PNBP Kemendiknas tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.38.
Pokok-pokok kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut antara lain:
(a) penguatan kapasitas pendidikan tinggi melalui pengembangan mekanisme untuk mewujudkan kesehatan organisasi dan otonomi masing-masing perguruan tinggi; (b) pada masa transisi dari sentralisasi menuju masa otonomi, akan dilakukan pengembangan kapasitas guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki keleluasaan dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang sehat dan memiliki kapasitas untuk merespon lingkungan yang berubah; dan (c) meningkatkan akuntabilitas publik melalui penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang ditata melalui mekanisme pelaporan kinerja perguruan tinggi.
Dalam tahun 2011, target PNBP Polri direncanakan sebesar Rp2,8 triliun, meningkat Rp0,8 triliun atau 39,8 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp2,0 triliun. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari pengadministrasian SIM, STNK, dan BPKB sebagai dampak bertambahnya jumlah kendaraan bermotor, serta pemberlakuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang menambah keluasan fungsi dan peran Ditlantas Polri dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas. Perkembangan PNBP Polri tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.39.
Secara garis besar, kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah
Secara garis besar, kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah