• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONCLUTIO N DRAWING

5) Penetapan Jadwal Kegiatan

Penetapan jadwal kegiatan ini dilakukan pada awal tahun. Forum pariwisata melakukan musyawarah perencanaan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu satu tahun beserta waktu pelaksanaannya. Dengan demikian penetapan jadwal kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun dan diawal tahun. Belum adanya standar yang jelas juga menyebabkan pelaksanaan kegiatan bersifat insidental, sehingga tidak terlalu terpaku pada jadwal kegiatan.

c. Tahap Aplikasi (Application)

Tahap aplikasi merupakan pelaksanaan dari kebijakan kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata tersebut. Pelaksanaan kegiatan promosi bersama ini di awali dengan pembuatan rancangan kegiatan selama satu tahun. Pembuatan rancangan kegiatan ini dimulai dengan diskusi dan brainstorming rencana kegiatan selama satu tahun kedepan yang dilaksanakan pada awal tahun. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar:

“Pembuatan program diawali dengan diskusi, contohnya pameran, nyusun paket wisata, studi banding, memberi korting kepada wisatawan dari masing-masing daerah “ (Wawancara, 7 Februari 2011).

Begitupula yang disampaikan oleh Kepala bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, yang menyatakan bahwa:

”Jadi kerjasamanya khususnya dipemasaran wisata dengan diskusi, brainstorming rencana kegiatan satu tahun kedepan, sehingga kegiatan

commit to user

perencanaan ini dilaksanakan setiap tahun. Kemudian di koordinasikan terus setiap satu bulan sekali, dan juga evaluasi, pelaksananya juga di tetapkan dalam kegiatan ini, misalnya waktu kita mau pameran ke Kediri, kita serahkan ke Sragen sebagai koordinator, ada pameran di Semarang kita serahkan Boyolali sebagai koordinator, jadi bukan selalu Solo. “(Wawancara, 31 Januari 2011).

Dalam diskusi tersebut setiap pemerintah daerah memberikan usulan program atau kegiatan yang dibutuhkan oleh masing-masing daerah. Diskusi ini juga melibatkan stakeholder wisata yang merupakan upaya melibatkan kalangan profesional dalam perencanaan pengembangan pariwisata. Namun, seringkali keterlibatan tersebut merupakan inisiatif mereka sendiri untuk memberikan usulan atau tawaran kegiatan dalam pengembangan pariwisata. Dengan demikian keterlibatan pelaku wisata ini tidak hanya dalam pelaksanaan kegiatan tetapi juga dalam perencanaannya.

Kegiatan yang direncanakan tersebut kemudian disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dan disesuaikan dengan prioritas. Setelah itu di breakdown dalam anggaran, ditentukan penanggung jawab kegiatan dan dilaksanakan.

Pelaksanaan kegiatan yang telah dirancang selama satu tahun tersebut menjadi tanggungjawab daerah yang sudah ditunjuk sebagai penanggungjawab. Selain itu, pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan pelaku wisata khususnya ASITA dan PHRI. Kemudian monitoring dan evaluasi dilaksanakan setiap bulan dalam pertemuan rutin forum pariwisata.

Alur proses pembuatan rancangan kegiatan dalam kerjasama ini dapat digambarkan sebagai berikut:

commit to user

Gambar 4.4. Siklus Proses Pembuatan Rancangan Kegiatan

Dengan demikian pengubahan input menjadi output ini diawali dengan pembuatan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun. Tahapan pada proses ini dapat dirinci sebagai berikut:

a) Pembuatan rancangan kegiatan yang diawali dengan diskusi dan brainstorming dari masing-masing pemerintah daerah dan stakeholder pariwisata.

b) Masing-masing daerah dan stakeholder memberikan usulan program atau kegiatan.

c) Program atau kegiatan yang disepakati di breakdown dan disesuaikan dengan anggaran sesuai dengan prioritas.

commit to user

e) Monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan setiap bulan.

Proses pelaksanaan kerjasama antar daerah

SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata adalah pelaksanaan kegiatan melalui tahapan yang sudah disampaikan diatas.

Pelaksanaan tersebut harus sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Beberapa perencanaan yang dibuat berdasarkan perjanjian kerjasama operasional pariwisata Bab II Pasal 2, antara lain:

1) Pengembangan obyek wisata dan daya tarik wisata (ODTW) seni dan budaya

a)Penyelenggaraan gelar/festival pariwisata seni dan budaya secara bergilir b) Pengembangan seni dan budaya terpadu

c)Partisipasi pengisian atraksi seni dan budaya di ODTW se- SUBOSUKAWONOSRATEN

d) Pengiriman tim seni dan budaya ke daerah 2) Pengembangan sarana pariwisata

a)Standarisasi mekanisme dan prosedur perijinan bidang sarana pariwisata b) Standarisasi klasifikasi sarana pariwisata

3) Pengembangan pemasaran pariwisata

a)Penjajakan dan penyusunan paket wisata terpadu

b) Pameran bersama didalam dan diluar SUBOSUKAWONOSRATEN

c)Pengisian Tourist Information Centre (TIC) bersama didalam dan diluar SUBOSUKAWONOSRATEN

d) Pembuatan materi promosi terpadu melalui media cetak dan elektronik 4) Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), meliputi:

commit to user

a)Penyelenggaraan penyuluhan dan pelatihan bidang pariwisata, seni dan budaya

b) Studi banding ke daerah lain

Perencanaan tersebut harus menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kerjasama antar daerah dalam bidang pariwisata. Realiasi Berdasarkan program bersama Forum Pariwisata Solo Raya (Joko Suyanto, 2009) dan Laporan pelaksanaan kegiatan forum pariwisata Solo Raya tahun 2007-2011, Kegiatan dan program yang telah dilaksanakan melalui forum pariwisata Solo Raya adalah:

1) Pengembangan obyek wisata dan daya tarik wisata (ODTW) seni dan budaya.

a)Penyelenggaraan gelar/festival pariwisata seni dan budaya secara bergilir.

Selama ini belum ada kegiatan yang diprakarsai dan dilaksanakan dalam penyelenggaraan gelar/festival pariwisata seni dan budaya secara bergilir. Penyelenggaraan gelar/festival pariwisata seni dan budaya lebih banyak dilakukan di daerah Surakarta. Forum pariwisata Solo Raya sendiri lebih banyak mengikuti even daripada membuat kegiatan.

b) Pengembangan seni dan budaya terpadu.

Pengembangan seni dan budaya terpadu dilakukan dengan menampilkan kesenian atau budaya yang ada dari masing-masing daerah dalam setiap even yang diikuti oleh pariwisata Solo Raya. Kegiatan yang dilakukan adalah pesta kesenian, kagiatan ini dilaksanakan pada tahun 2007 dalam rangka mengikuti pesta kesenian

commit to user

di Bali. Dalam pesta kesenian ini masing-masing kabupaten/kota menampilkan kesenian unggulan. Selain itu juga mengikuti kegiatan Pameran Bersama pada Pekan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Semarang pada tahun 2008, mengikuti Pameran dan Parade Budaya di Kabupaten Kediri pada 29 Juni – 3 Juli 2010, mengikuti Pameran Gebyar Destinasi Jawa Tengah pada tanggal 16– 8 Oktober 2010 di Patra Convention Semarang.

c)Partisipasi pengisian atraksi seni dan budaya di ODTW se- SUBOSUKAWONOSRATEN.

Partisipasi atraksi seni dan budaya di ODTW masih belum terlaksana. Kebanyakan pengisian atraksi seni dan budaya dilakukan saat ada mengikuti even .

d) Pengiriman tim seni dan budaya ke daerah.

Kegiatan ini dilakukan ketika berkunjung ke daerah lain seperi saat ke berkunjung ke Bali, Kabupaten Semarang , Kabupaten Kediri, dan Jawa Timur dengan mengirimkan tim seni dan budaya dari masing-masing daerah. Masing-masing-masing daerah menampilkan kesenian dan kebudayaannya. Pengeiriman tim seni ini juga dilakukan di wiayah

SUBOSUKAWONOSRATEN. misalnya keikutsertaan pada

Bengawan Travel Mart di Hotel Sahid Jaya pada tanggal 29 April 2010, Seluruh Kabupaten/Kota se-Solo Raya mengirimkan wakilnya untuk menampilkan potensi pariwisata kepada para buyer atau peserta BTM 2010.

2) Pengembangan sarana pariwisata.

commit to user

Selama ini belum ada standarisasi mekanisme dan prosedur perijinan bidang sarana pariwisata. Perijinan bidang pariwisata dilaksanakan sesuai dengan mekanisme dan prosedur di masing-masing daerah. b) Standarisasi klasifikasi sarana pariwisata.

Standarisais klasifikasi sarana pariwisata juga belum ada. Hal ini disebabkan karena belum semua daerah memiliki sarana pariwisata yang memadai. Sarana pariwisata ini sebagian besar terpusat di Surakarta.

3) Pengembangan pemasaran pariwisata.

a)Penjajakan dan penyusunan paket wisata terpadu.

Penjajakan dan penyusunan paket wisata terpadu sudah dilakukan. Dalam rangka penjajakan dan penyusunan paket wisata ini juga dilakukan pemetaan wisata yang sudah dilakukan di Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali. Penjajakan dan penyusunan ini sebagian besar dilakukan oleh dilakukan oleh agen/travel wisata. Namun kegiatan ini juga dilakukan oleh forum pariwisata Solo Raya misalnya melalui penyusunan paket wisata dalam rangka menyambut World Heritage Cities pada tahun 2008 dan pembuatan paket wisata yang di tempatkan di TIC. Penyusunan paket wisata ini belum didasarkan atas klasifikasi trentu.

b) Pameran bersama didalam dan diluar SUBOSUKAWONOSRATEN.

Kegiatan pameran bersama ini sudah banyak dilakukan. Kebanyakan

pameran bersama yang dilakukan adalah diluar wilayah

SUBOSUKAWONOSRATEN. Misalnya Pameran Bersama pada Pekan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Semarang pada tahun 2008,

commit to user

Keikutsertaan dalam Borobudur Travel Mart (BTM) pada tanggal 24-26 April 2009, Promosi Solo Raya melalui kegiatan 5th Indonesia Performing Art Mart (IPM) pada tanggal 3-7 Juni 2009, Keikutsertaan pada pameran BSF “ Pesona Solo Raya Expo 2009” pada tanggal 18-22 November 2009, Keikutsertaan pada Bengawan Travel Mart di Hotel Sahid Jaya pada tanggal 29 April 2010, Mengikuti pameran dan Parade Budaya di Kabupaten Kediri pada tanggal 29 Juni – 3 Juli 2010, Keikutsertaan pada Pameran Gebyar Destinasi Jawa Tengah pada tanggal 16 – 18 Oktober 2010 di Patra Convention Semarang.

c)Pengisian Tourist Information Centre (TIC) bersama didalam dan diluar SUBOSUKAWONOSRATEN.

Pengisian TIC selama ini masih di wilayah

SUBOSUKAWONOSRATEN. TIC ada di ditempatkan di bandara Internasional Adi Sumarmo dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta.

d) Pembuatan materi promosi terpadu melalui media cetak dan elektronik. Pembuatan materi terpadu melalui media cetak adalah dengan leaflet, majalah Beyond, brosur paket wisata. Sedangkan dengan media elektronik melalui siaran di radio dan TV lokal maupun internet. Kegiatan yang dilakukan adalah dialog interaktif di RRI Denpasar pada tahun 2007, siaran langsung Jagongan Pasar Gede Promosi Pariwisata Solo Raya pada tanggal 29 Desember 2007, promosi bersama di media televisi lokal (TATV) dan pelaksanaan Solo Raya Expo tahun 2008, promosi pariwisata Solo Raya melalui RRI Surakarta dalam program

commit to user

Loe Jie Toe pada tahun 2008, siaran langsung di media TV lokal pada tanggal 7 Maret 2009.

4) Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

a)Penyelenggaraan penyuluhan dan pelatihan bidang pariwisata, seni dan budaya.

Penyuluhan dan pelatihan bidang pariwisata, seni dan budaya ini sangat penting untuk pengembangan pengelolaan dan pengelola pariwisata. Namun, belum banyak penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan dalam upaya pengembangan SDM. Kegiatan yang pernah dilakukan adalah Workshop peningkatan SDM yang merupakan pembekalan kebijakan di bidang Kebudayaan bagi pemerintah, swasta dan masyarakat dengan mengundang perwakilan masing-masing daerah. Workshop ini dilakukan pada tahun 2008. Ada pula seminar Solo Raya pada tahun 2008, untuk merencanakan inovasi baru bidang pariwisata khususnya sebagai tempat wisata MICE. Selain itu ada pelatihan pembekalan kepariwisataan bagi pengelola Desa Wisata yang berlangsung pada tanggal 19 – 20 November 2010 di Roemahkoe Heritage Hotel Solo.

b) Studi banding ke daerah lain

Studi banding ke daerah lain sudah cukup banyak dilakukan. Beberapa daerah yang pernah dikunjungi adalah Provinsi Bali pada tahin 2007 dan 2010, Kabupaten Kediri pada tahun 2008 dan 2010, Kabupaten Semarang pada tahun 2008 dan 2010 dan Jawa Timur (Gresik, Surabaya dan Sidoarjo) pada tahun 2010.

commit to user

Dari beberapa perencanaan kerjasama antar daerah

SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata terebut ada beberapa perencanaan yang belum terlaksana diantaranya penyelenggaraan gelar/festival pariwisata seni dan budaya secara bergilir, partisipasi pengisian atraksi seni dan budaya di ODTW se- SUBOSUKAWONOSRATEN, standarisasi mekanisme dan prosedur perijinan bidang sarana pariwisata serta standarisasi klasifikasi sarana pariwisata. Beberapa yang lainnya sudah terlaksana meskipun ada yang masih kurang optimal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata ini belum sesuai perencanaan. Padahal kerjasama antar daerah daerah SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata ini telah berjalan kurang lebih 7 tahun.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerjasama Antar Daerah

SUBOSUKAWONOSRATEN Bidang Pariwisata

Berdasarkan pendeskripsian tahap implementasi kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata diatas, maka dapat disimpulkan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kerjasasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata. Faktor-faktor yang berpengaruh tersebut adalah:

a. Kecenderungan-kecenderungan (Political will)

Faktor kecenderungan yang berpengaruh adalah Political will. Political will

ini berpengaruh terhadap interpretasi kerjasama antar daerah

SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata. Pada tataran

commit to user

SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata ini sangat dipengaruhi oleh political will baik dari lembaga eksekutif maupun lembaga legislatif.

1) Lembaga Eksekutif

Lembaga eksekutif ini adalah kepala daerah dan pemerintah daerah. Komitmen kepala daerah sangat mempengaruhi interpretasi kerjasama ini. Komitmen pengembangan daerah melalui pariwisata oleh kepala daerah akan membuat kebijakan yang ada di pemerintah daerah mengarah pada upaya pengembangan parwisata. Begitupula sebaliknya, ketika komitmen kepala daerah terhadap pengembangan daerah melalui pengembangan pariwisata rendah maka upaya untuk pengembangan pariwisata juga kurang. Komitmen kepala daerah (visi dan misi) inilah yang kemudian menjadi kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Dengan demikian komitmen pemerintah daerah sangat dipengaruhi oleh komitmen kepala daerah. Seperti disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar yang menyatakan bahwa Komitmen masing-masing daerah terhadap kerjasama pengembangan pariwisata ini tergantung dari kepala daerahnya (Wawancara, 7 Februari 2011)

Koordinator PHRI menyampaikan bahwa:

“Komitmen masing-masing daerah berbeda-beda, kalau Surakarta masih mending, kalau yang lainnya masih amburadul, kadang kita juga capek ngajarin lagi-ngajarin lagi. Birokrasi ini baik sebenarnya kalau bisa mendukung, tapi kita tidak berharap banyak, karena faktornya banyak, orang baru, orang dari bidang lain. Komitmen kepala daerah juga mendukung, ada yang komitmen ada yang sak-sake.” (Wawancara, 9 Februari 2011)

commit to user

Begitu pula yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta yang menyatakan bahwa:

“Permasalahan promosi wisata ini juga merupakan komitmen dari kepala masing-masing daerah, kebetulan pak Joko Wi komitmen yang luar biasa untuk membranding kota Surakarta, tetapi itdak diikuti oleh daerah lain, sehingga mereka terkendala permasalahan biaya” (Wawancara, 31 Januari 2011)

Komitmen kepala daerah yang berbeda-beda ini menyebabkan komitmen masing-masing daerah terhadap pengembangan pariwisata yang berbeda pula. Perbedaan komitmen ini menyebabkan perbedaan interpretasi. Selain itu, tanggapan pihak yang ada dalam satu pemerintahan daerahpun bisa jadi berlainan. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar yang menyatakan bahwa:

“Salah satu kelemahannya adalah tanggapan masing-masing Kabupaten lain-lain, dari bupati lain, DPRD lain, sehingga mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda tentang pariwisata. Ada yang merasa tidak memiliki potensi pariwisata misalnya Sukoharjo, Boyolali, Wonogiri, sehingga pariwisata tidak dijadikan prioritas. Padahal industri pariwisata bersifat multiplier effect, pariwisata saya kasih sekian juta harus kembali sekian juta, ini tidak mungkin karena ini adalah investasi.” (Wawancara, 7 Februari 2011)

Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta menyatakan bahwa:

“Solo, Karanganyar, Sragen merupakan daerah yang sadar betul (komitmen) akan potensi yang dimiliki, Karanganyar dengan potensi alam yang sangat disukai oleh pengunjung/wisatawan, kebanyakan turis yang bertanya ke TIC selalu menanyakan Sukuh dan Cetho, karena sadar akan potensi ini maka anggarannya juga lumayan, dalam setiap promosi

commit to user

juga lebih agresif dibandingkan dengan daerah yang lainnya. Sragen juga demikian, punya komitmen memajukan wilayahnya melalui pariwisata, kebetulan juga mereka punya sangiran, ini destinasi wisata yang langka dan banyak dicari. Sadar akan potensi ini maka promosi wisata daerah ini gencar juga. Sedangkan yang kurang seperti daerah Wonogiri, sebenarnya potensinya luar biasa, tetapi belum diolah. Boyolali lumayan antusias dengan adanya kepala dinas yang baru.” ( Wawancara, 31 Januari 2011)

Dengan demikian komitmen kepala daerah, komitmen pemerintah daerah dan SKPDnya berpengaruh terhadap interpretasi kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN bidang parwisata. Komitmen kepala daerah akan mempengaruhi komitmen pemerintahan daerah serta berdampak pada kebijakan yang dibuat beserta pelaksanaan kebijakan tersebut.

2) Lembaga Legislatif

Political will yang ada di lembaga legislatif juga sangat mempengaruhi interpretasi kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata. Lembaga legislatif ini berpengaruh sebab memiliki kekuasaan terhadap alokasi angggran. Secara politis lembaga legislatif di daerah yaitu DPRD, yang ”mengetok palu” untuk alokasi anggaran ini.

Dengan demikian, komisi yang berkaitan dengan pariwisata juga harus memiliki interpretasi yang sama mengenai kebutuhan pengembangan pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar menyatakan bahwa :

” Kalau dari kondisi politik yang mempengaruhi adalah dewan (DPRD) komisi D. Ini sangat berpengaruh, bagaimana penguasaan

commit to user

seorang pejabat terhadap potensi pariwisata di daerahnya.” (Wawancara, 7 Februari 2011)

Dari lembaga legislatif, faktor yang berpengaruh adalah pemahaman serta dinamisasi di DPRD. Anggota legislatif harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang pengembangan pariwisata.

Political will ini banyak berpengaruh terhadap tahap awal perencanaan kegiatan. Namun, political will ini tidak banyak berpengaruh ketika program atau kegiatan sudah diusulkan, disepakai dan direncanakan untuk dilaksanakan. Hal ini berarti kegiatan tersebut sudah diinterpretasikan sama oleh pihak-pihak yang terlibat. Seperti disampaikan Kepala Bagian Pengembangan dan Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, yang menyampaikan bahwa:

” Karena ini program yang telah tersusun satu tahun sebelumnya, jadi begitu kalau sudah masuk di anggaran ya nggak papa, bisa jalan terus, tidak terpengaruh oleh kondisi politik atau apa,jadi bisa dilaksanakan. Kalau sudah jadi kesepakatan bersama dan masuk ke anggaran ya tetap dilaksanakan, tidak dipengaruhi oleh kondisi politik, misalnya karanganyar yang sekarang sedang bergejolak, tidak mempengaruhi. ”(Wawancara, 31 Januari 2011)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kecenderungan yang berupa political will ini berpengaruh terhadap interpretasi kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata. Kondisi ini berpengaruh saat dalam tahap perencanaan kegiatan kerjasama antar daerah. Sedangkan ketika kegiatan yang diusulkan sudah disepakati dalam anggaran maka kondisi politik tidak terlalu berpengaruh dalam pelaksanannya.

commit to user

b. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksanaan

Komunikasi dalam kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang Pariwisata ini dilakukan antar pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan parwisata tersebut. Komunikasi ini berpengaruh terhadap interpretasi maupun pelaksanaan kerjasama antar daerah dalam bidang pariwisata. Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta menyatakan bahwa:

“Semakin intens (komunikasi) semakin kita mampu memahami semua kebutuhan dimasing-masing daerah, tapi kalau jarang ya tidak baik. Selama ini kita sudah seperti keluarga Solo Raya, tidak harus komunikasi secara formal.” (Wawancara, 31 Januari 2011) Komunikasi yang baik dan intens telah dilakukan dalam pelaksanaan promosi bersama ini. Kepala Bidang Seni Budaya Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta menyampaikan bahwa:

“Ada MICE working group, ada komunikasi rutin sebab kita ruhnya adalah Satu” (Wawancara, 22 Februari 2011)

Dengan demikian komunikasi dalam kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata ini dilakukan antar pemerintah daerah, antar stakeholder pariwisata maupun antara pemerintah daerah dengan stakeholder pariwisata baik dengan mekanisme formal melalui pertemuan rutin maupun informal melalui dunia maya dan telefon. Alur komunikasi dua arah antara pemerintah daerah dalam forum pariwisata Solo Raya dengan stakeholder pariwisata memudahkan koordinasi pelaksanaan kegiatan. Komunikasi yang intensif memudahkan upaya pelaksanaan kersajasama antar daerah tersebut.

commit to user

Kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN dalam bidang pariwisata ini belum memiliki petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis maupun standart operasi pelaksanaan. Sehingga belum ada standar yang dapat digunakan sebagai pedoman jangka pendek maupun jangka panjang dan indikator keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Standar yang digunakan dalam pelaksanaan teknis kerjasama antar daerah dalam bidang pariwisata adalah kesepakatan dan perencanaan kegiatan pada awal tahun. Kegiatan yang dilaksanakan adalah kegiatan yang disepakati dalam perencanaan bersama dan dipantau melalui koordinasi rutin.

Belum adanya standar yang baku ini menyebabkan pelaksanaan kegiatan dalam rangka pengembangan pariwisata Solo Raya hanya berorientasi pada tujuan dan kurang terarah. Jadi kegiatan yang dilaksanakan lebih bersifat insidental.

d. Sumber-sumber Kebijakan

Sumber-sumber kebijakan ini merupakan input dalam pelaksanaan kebijakan kerjasama antar daerah ini. Input yang berpengaruh dalam pelaksanaan kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata ini adalah sumber daya manusia dan sumber daya finansial.

1) Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia ini merupakan unsur penting bagi pelaksanaan kerjasama antar daerah SUBOSUKAWONOSRATEN bidang pariwisata. Banyak pihak yang dapat disinergikan dalam pengembangan pariwisata yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan berbagai sumber daya manusia penyokong pengembangan Pariwisata. Sumber daya manusia ini mampu

commit to user

menjadi motor penggerak pelaksanaan kerjasama. Secara kualitas ada kalangan swasta yang paham mengenai seluk beluk pariwisata.

Sedangkan beberapa hal yang menjadi faktor penghambat adalah kualitas yaitu kepakaran atau profesionalitas di pemerintah daerah dan masyarakat Koordinator ASITA menyampaikan bahwa:

“SDM pemerintah bidang pariwisata tidak menganut profesionalisme, karena hanya comotan saja, padahal pengembangan pariwisata berdampak pada ekonomi makro, sehingga harus dipilih orang-orang terpilih/pilihan, namun kenyataannya tidak, Kalau swasta isinya orang-orang profesional.” (Wawancara, 8 Februari 2011)

Seperti disampaikan oleh Koordinator PHRI yang menyatakan bahwa:

”Kalau saya melihat faktor utama penggerak pariwisata adalah kemauan yang kuat dari stakeholder, kalau dari mereka (pemerintah) masih kurang, Solo bagus tetapi arahnya ke even, karena mereka (pejabat) kerjanya hanya apa yang digariskan oleh pemerintah, bukan merupakan suatu kebutuhan, beda dengan stakeholder, dimana yang kita lakukan memang merupakan suatu kebutuhan” (Wawancara, 9 Februari 2011)

Profesionalisme ini dipengaruhi oleh masih kurangnya pembekalan kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Disadari pula bahwa peran masing-masing unsur SDM belum begitu optimal. Hal ini disebabkan karena kurangnya kemauan, kepahaman dan komitmen terhadap pengembangan