• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penetrasi Sosial

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 30-36)

Teori penetrasi sosial berupaya mengidentifikasi proses peningkatan keterbukaan dan keintiman seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain.54 Teori penetrasi sosial berperan penting dalam memusatkan perhatian kita pada perkembangan hubungan. Gagasan yang menyatakan bahwa interaksi bergerak meningkat mulai dari tahap umum hingga tahap pribadi dalam suatu garis lurus (liner fashion) saat ini sudah menjadi terlalu sederhana.

Penetrasi sosial merujuk pada sebuah proses ikatan hubungan dimana individu- individu bergerak dari komunikasi superficial ataupun komunikasi yang tidak akrab menjadi komunikasi yang lebih intim. Penetrasi sosial memiliki tahapan proses penetrasi sosial. Orientasi membuka sedikit demi sedikit, Menuju pertukaran penjajakan afektif: Munculnya diri, Pertukaran penjajakan afektif:

Komitmen dan Kenyamanan dan Pertukaran Stabil.55

Sikap seseorang untuk terbuka atau tertutup merupakan suatu siklus dan siklus keterbukaan dan ketertutupan suatu pasangan memiliki pola perubahan regular, atau perubahan yang dapat diperkirakan. Pada hubungan yang sydag

53 Ibid Hal 73

54 lrwin Altman dan Dalmas Taylor, Social Penetration:The Devlopment of Interpersonal Relationship, Rinehart & Wintson, 1973 OpCit 87

55 Disa Nurdania. Path dan Pengungkapan Diri. Op CIt hal 4

sangat berkembang, siklus berlangsung dalam periode waktu yang lebih panjang daripada hubungan tahap awal (kurang berkembang).56

2.3 Fenomenologi

Kata fenomenologi berasal dari kata phenomenom, yang berarti kemunculan suatu objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seorang individu.

Fenomenologi (phenomenology) menggunakan pengalaman langsung sebagai cara untuk memahami dunia. Fenomenologi menjadikan pengalaman sebenarnya sebagai data utama dalam memahami realitas.57

Setiap orang mempunyai sudut pandang tersendiri terhadap sesuatu.

Pandangan tersebut bersifat subyektif. Peneliti fenomenologis meneliti reaksi subjektif dari masyarakat terhadap suatu subjek atau fenomena. Peneliti tidak membuat kesimpulan yang benar atau salah, tetapi berupaya memahami apa yang dipikirkan oleh masyarakat terhadap suatu objek atau fenomena.

Fenomenologi merupakan studi tentang bagaimana peneliti memahami pengalaman orang lain, bagaimana mempelajari struktur pengalaman yang sadar dari orang lain, baik individu maupun kelompok dalam masyarakat. Fokus fenomenologi terletak pada bagaimana peneliti memberikan makna terhadap pengalaman.

Menurut James A. Anderson, teori-teori dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasi

56 Morissan, Teori Komunikasi. Komunikator, Pesan, Percakapan, dan hubungan (Interpersonal).

Ghalia Indonesia. 2013. Hal:188

57 Ibid Hal: 31

pengalamannya dan coba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya.

Tradisi ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang.58

Perkembangan fenomenologi adalah studi yang mempelajari fenomena, seperti penampakan, segala yang muncul dalam pengalaman seseorang, cara seseorang mengalami sesuatu, serta makna yang seseorang miliki dalam pengalamannya.

Pada dasarnya fenomenologi mempelajari struktur-struktur tipe-tipe kesadaran, yang terentang dari persepsi, gagasan, memori, imajinasi, emosi, hasrat, kemauan, sampai tindakan, baik itu tindakan sosial maupun dalam bentuk bahasa. Struktur bentuk kesadaran inilah yang oleh Edmund Husserl (1859-1938) dinamakan “kesengajaan”, banyak dipengaruhi oleh Franz Brentano (1889). Franz Brentano juga berpendapat bahwa subjek dan objek menjadi satu secara dialektis.

Manusia menampakkan dirinya sebagai hal yang transcendental, sintesis dari objek dan subjek. Sehingga manusia menjadi satu dengan alamnya.59

Berikut adalah bentuk-bentuk laporan yang dapat dibangun melalui pendekatan fenomenologi60:

1. Kesadaran temporal 2. Ruang kesadaran

3. Perhatian (misalnya kegiatan memfokuskan sesuatu dari hal kecil atau umum yang ada disekelilingnya)

58 W.Littkejohn dan Karen A.Foss, Teori Komunikasi, Terj. Mohammad Yusuf Hamdan, Salemba Humanika, Jakarta, 2009, hal 57

59 Ali Mgwan, Pengantar Filsafat-Dari Makna Klasik Hingga Postmodernisme. Ar-Ruz Media, Yogyakarta. 2009. Hal:368

60 Engkus Kuswanto, Metodologi Penelitian Komunikasi. Widya Padjajaran, Bandung. 2009 Hal 22-23

4. Kesadaran dari seseorang 5. Pengalaman sadar seseorang

6. “diri” dalam peranan yang berbeda-beda (ketika berfikir atau bertindak) 7. Kesadaran akan gerakan dan kehadiran orang lain

8. Tujuan dan kesengajaan dari tindakan

9. Kesadaran akan orang lain (dalam bentuk empati, intersubjektif, dan kolektifitas)

10. Aktivitas berbahasa (memahami makna orang lain dalam komunikasi) 11. Interaksi sosial dan aktivitas sehari-hari dalam lingkungan budaya

tertentu.

Menurut Moleong (1999) menjelaskan bahwa : Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiri fenomenologis memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti.

Mereka berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa. Sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.61

Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis ialah aspek subjektif dari perilaku budaya. Mereka berusaha masuk ke dalam dunia subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga peneliti mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

61 Ibid Hal 127

Subyek penelitian dipercaya mengembangkan kemampuan untuk menafsirkan pengalamannya melalui interaksi. Peneliti fenomenologis tidak menggarap data secara mentah. Peneliti cukup arif dengan cara memberikan

“tekanan” pada subyek untuk memaknai tindak budayanya, tanpa mengabaikan realitas. Fenomenologi pada dasarnya berpandangan bahwa apa yang tampak dipermukaan, termasuk pola perilaku manusia sehari-hari hanyalah sesuatu fenomena dari apa yang tersembunyi di “kepala” sang pelaku. Perilaku apapun yang tampak ditingkat permukaan baru bisa dipahami atau dijelaskan manakala bisa mengungkap atau membongkar apa yang tersembunyi dalam dunia kesadaran atau dunia pengetahuan manusia. Karenanya, proses penghayatan menjadi sangat diperlukan untuk bisa memahami berbagai fenomena sosial sehari-hari.62

Fenomenologi diartikan sebagai:

1. Pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenological

2. Suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang (Husserl). Istilah fenomenologi sering digunakan sebagai anggapan umum untuk menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui.63

Alfred Schutz dikenal sebagai ahli fenomenologi yang paling menonjol dan membawa fenomenologi ke dalam ilmu sosial. Bagi Schutz tugas fenomenologi adalah menggabungkan antara pengaturan ilmiah dengan

62 Burham Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2003.

Hal 9-10

63 Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). PT. Remaja RosdaKarya.

Bandung, 2005. Hal 14-15

pengalaman sehari-hari, dan kegiatan dimana pengalaman dan pengetahuan itu berasal. Dengan kata lain mendasar tindakan sosial, pada pengalaman, makna dan kesadaran. Menurut Edmund Husserl (1859-1938) tokoh yang penting dalam fenomenologi menegaskan bahwa hubungan antara persepsi dengan objeknya tidak bersifat pasif. Alasan yang dia kemukakan bahwa watak kesadaran manusia itu aktif setelah menerima kehadiran obyek masuk dalam kesadarannya.64

Dari pandangan Husserl itu, Schutz mengembangkan bahwa para anggota masyarakat yang hidup di dalam realitas sosial secara terus menerus membentuk dunia kehidupan mereka sehari-hari. Mereka ikut turut serta memberi warna didalam kehidupan sosial sebagai realitas intersubjektif. Untuk dapat mengetahui hakikat dibalik suatu objek itu dari pandangan-pandangan lain dan mencermati gejala-gejalanya, maka objek itu dapat berbicara sendiri tentang hakikatnya. Dan peneliti memahami hal tersebut dari intuisi.

Pada intinya, dalam pemikiran Schutz adalah bagaimana memahami tindakan sosial melalui penafsiran, dan menggunakan proses tersebut untuk memperjelas atau memeriksa makna yang sesungguhnya, agar dapat memberikan konsep kepekaan yang implicit. Menurut Schutz fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan yang datang dari kesadaran atau cara kita memahami sebuah objek atau peristiwa tersebut. Sebuah fenomena adalah penampilan sebuah objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seseorang, jadi persifat subjektif. Bagi Schutz dan pemahaman kaum fenomenologis adalah merekontruksi dunia kehidupan manusia sebenarnya dalam bentuk yang mereka sendiri alami. Realitas

64 Drs.Alex Sobur. Filsafat Komunikasi. Tradisi dan Metode Fenomenologi.Op.Cit Hal:49

dunia tersebut bersifat intersubjektif dalam arti bahwa setiap anggota masyarakat berbagai persepsi dasar mengenai dunia yang mereka internalisasikan melalui sosialisasi dan memungkinkan mereka melakukan interaksi atau komunikasi.65

65 Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif Suatu Pendekatan Lintas Budaya, PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2008. Hal 63

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 30-36)

Dokumen terkait