Fakta lain yang mendukung pernyataan bahwa pengadilan tersebut merupakan konspirasi yang didukung secara resmi melawan Nursi dan pergerakan Risalah Nur adalah bahwa segala macam hak hukumnya di pengadilan tersebut ditiadakan. Selain aksesnya untuk mendapatkan do-kumen-dokumen yang sedemikian penting seperti laporan tersebut di-tutup, haknya untuk berbicara di pengadilan itu sendiri pun sering kali ditiadakan. Nursi yang diisolasi total selama sebelas bulan pertama da-lam pemenjaraannya, seda-lama pengadilan tersebut, jelas bertujuan untuk meng halanginya agar tidak menerima informasi dan membantu murid-muridnya. Oleh karena itu, dia juga sering kali dilarang dibantu oleh orang lain dalam menyalin pembelaan-pembelaannya. Tentu saja, Nursi
tidak pernah menggunakan huruf Latin, maka dia bergantung pada mu-rid-muridnya atau orang lain untuk pembacaan semua dokumen resmi, dan juga penulisan segala dokumen atau surat yang harus disampaikan ke pengadilan atau para penguasa. Mengenai pakaiannya, dia tidak mau berkompromi. Karena tulisan Usmani sekarang dianggap ilegal dan tidak berlaku, ketika tanda tangannya diperlukan dalam dokumen-dokumen resmi, mereka menggunakan sidik jarinya atau stempel karet dengan tu-lisan namanya menurut aksara baru.
Namun demikian, Nursi dan murid-muridnya bagaimanapun juga tidak takut dengan tindakan kejahatan dan ketidakadilan yang mereka derita. Seorang jandarma (polisi militer) yang bertugas di Pengadilan Emirdag dan Afyon, Ibrahim Menguwerli, menggambarkan bagaimana pada satu kesempatan Nursi berbicara di pengadilan dengan berdiri terus selama dua jam. Kemudian ketika hakim berkata kepadanya bahwa itu su-dah cukup, “Nursi menjadi marah luar biasa, menggambar lingkaran di udara dengan tangannya dan menudingkan jari telunjuknya kepada ha-kim sembari berkata, “Saya punya hak untuk berbicara selama delapan jam. Saya akan berbicara selama yang saya inginkan.”42
Ada tiga pengacara yang bertindak sebagai pembela Nursi dan mu-rid-muridnya di Afyon. Salah satu pengacara ini, Ahmet Hikmet Gonen, juga seorang murid Nursi, menggambarkan pidato-pidato pembelaan murid-murid Risalah Nur. Mereka semua menyampaikan pidato pembe-laan ma sing-masing di pengadilan, dan juga menulis petisi-petisi. Ter-dapat dua pidato pembelaan yang benar-benar patut dicatat, yaitu pidato pembelaan Zubeir Gunduzalp dan Ahmet Fauzi Kul. Pidato pembelaan Ahmet Fauzi Kul, yang disampaikan selama delapan setengah jam penuh, membuat Ahmet Fauzi Kul memperoleh gelar “Pengacara Risalah Nur”
dari Nursi.43
Nursi juga bersikeras dengan haknya untuk menunaikan shalat pada saat yang tepat ketika persidangan sedang berlangsung. Beberapa saksi menggambarkan kejadian-kejadian seperti itu dalam kisah-kisah mereka.
Seorang saksi adalah pengacara di atas. Saksi yang lain adalah Mustafa Ajet dari Emirdag. Dia menggambarkan bagaimana, selama satu pemerik-saan, waktu untuk shalat lewat, maka dia kemungkinan besar karena tidak diizinkan meninggalkan persidangan lebih awal selama lima menit, Nursi berkata dengan marah kepada jaksa penuntut umum, “Kami berada di
sini untuk melindungi hak shalat. Kami tidak mempunyai kesalahan yang lainnya lagi!” Dan dia segera bangkit lalu berjalan keluar. Penjaga pintu pengadilan buru-buru keluar mengejar dia, dan dia melaksanakan shalat di kantor sekretaris.44
Pengadilan itu menimbulkan perhatian yang besar sekali dari selu-ruh negeri, dan banyak orang berbondong-bondong menuju Afyon dari segala penjuru.45 Salah seorang murid Nursi mengatakan bagaimana, pada sebuah kesempatan, Nursi muncul dari pengadilan dan sekelompok mas-sa yang banyak sekali menyerbu untuk mencium tangannya. “Kemudian mereka secara bergiliran mulai mencium tangannya. Pada saat itu jaksa penuntut umum keluar dan tidak mampu menerima begitu saja situasi seperti itu. Dia lalu berteriak kepada polisi dan para jandarma (polisi mi-liter), “Mengapa kalian mengizinkan hal ini?” Nursi marah sekali dengan hal ini, dan berkata dengan suara keras, “Apa ini? Apa ini? Saya akan mene-mui saudara-saudara saya kalau saya mau!” Dan dia menjadi begitu gusar sehingga sorbannya terlepas jatuh. Kami memungutnya dari tanah dan mengenakannya lagi di kepalanya. Karena takut dengan kegusarannya, jaksa penuntut itu cepat-cepat pergi tanpa melihat ke belakang. Tetapi untuk memancing insiden, dia menendang kaki seseorang. Saudara ini ti-dak merasa sakit. Namun ketika kami kemudian melihat kakinya, ternyata kakinya membiru dan memar.”46
Pada saat yang sama, Nursi tidak senang membiarkan ketidakadilan lewat begitu saja tanpa diperhatikan. Seperti di Denizli, dia mengatur me-lalui murid-muridnya agar salinan-salinan pidato-pidato pembelaannya dan juga pidato-pidato pembelaan murid-muridnya serta salinan-salinan dari daftar sembilan puluh kesalahan dalam pendakwaan dan jawaban-jawabannya, dikirim ke departemen-departemen pemerintahan di Anka-ra, untuk mengumumkan kenyataan dari kasus tersebut. Tetapi di Afyon dia berusaha keras untuk mengatur respons tersebut dengan skala yang lebih luas, juga dengan mengirimkan salinan-salinan ke Isparta untuk digandakan oleh murid-muridnya di sana dan untuk ditunjukkan kepada jaksa penuntut umum, dan juga ke Denizli dan Istanbul. Salinan-salinan ini juga dibuat dalam bentuk buku dan diedarkan. Dia menginstruksikan mereka untuk mengirim salinan-salinan itu ke Diyanet Isleri Bakanligi (Di-rektorat Urusan Agama) di Ankara.47
Operasi ini harus dikelola secara rahasia dan di bawah
kondisi-kon-disi penjara yang sulit. Salinan-salinan yang diinginkan Nursi agar di-produksi dalam huruf baru harus disalin dengan mesin tik, tetapi di sini, tidak seperti di Denizli, dilarang membawa mesin tik. Pengacara mereka, Ahmet Bey, membantu mereka dalam hal ini. Nursi menekankan dalam surat-suratnya perlunya akurasi. Seorang prajurit yang ditempatkan di Afyon yang bernama Nihad Bozkurt, yang biasa mengunjungi Nursi seba-gai seorang teman di penjara dua kali seminggu, juga menyalin dengan mesin tik pidato-pidato pembelaan untuk mereka.48
Pada satu saat, pengadilan mereproduksi bagian-bagian pendakwaan
“yang mereka bayangkan melawan” Nursi dan murid-muridnya. Sebagai tanggapan atas kampanye propaganda ini, yang tidak disangsikan lagi merupakan penyalahgunaan wewenang pengadilan dan ditujukan untuk mengubah opini publik terhadap Nursi, Nursi menggandakan salinan-salinan daftar kesalahan pendakwaan, yang sedikit lebih merupakan fit-nah, untuk diedarkan, dan juga meningkatkan salinan-salinan pembelaan mereka untuk memberi informasi kepada masyarakat tentang perkara tersebut.49