• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengadilan Hak Asasi Manusia

Dalam dokumen Konsep dan Perkembangan HAM dan Kewargan (Halaman 38-45)

BAB II LANDASAN TEOR

2.1.6 Pengadilan Hak Asasi Manusia

Menurut hukum HAM Internasional, Pengadilan Tribunal Militer Internasional di Nuremberg, Jerman 1946, adalah pengadilan internasional pertama di dunia. Pengadilan tersebut mengadili kejahatan terhadap perdamaian dan kemanusiaan. Pengadilan dilaksanakan dengan dasar legitimasi moral dan legal. Pengadilan Nuremberg menjadi topik diskusi dan tema perdebatan dalam bidang akademis. Penuntutan sebagai proses hukum adalah salah satu cara jalan keluar bagi kejahatan HAM. Nilai-nilai pengadilan HAM adalah keadilan, peradaban, dan kemanusiaan. Keadilan adalah bahasa universal bagi umat manusia, salah satu institusi yang paling popular yang nantinya akan terus menggunakan keadilan dalam perannya di pengadilan, baik itu lokal, nasional, regional ataupun internasional. Terdapat hubungan yang erat antara keadilan dan masyarakat yang beradab. Peran terpenting dari pengadilan adalah penegakan hukum. Ini berarti bahwa hasil dari proses hukum harus menghasilkan pengadilan yang adil dan bersifat imparsial. Lebih jauh,

35 keberadaan pengadilan harus diterima secara legitimasi oleh entitas politik internasional.79

Dalam konteks nasional, secara hukum, Indonesia memiliki rencana aksi nasional tentang HAM, yang dikeluarkan oleh Presiden Habibie. Rencana Aksi Nasional Indonesia tentang HAM 1998-2003 merupakan dasar politik bagi pemerintah Indonesia untuk menjalankan pengadilan HAM. Rencana Nasional dikeluarkan pada bulan Juni 1998, untuk setiap rencana HAM, Pemerintah Indonesia harus sadar dan eksplisit menghadapi korupsi, xenophobia, dominasi militer yang berkuasa di Indonesia selama rezim Suharto dan mendorong sesuai bidangnya semua etos mengenai pengakuan HAM, kohesifitas sosial, toleransi rasial, tanggung-jawab nasional baik secara nasional maupun internasional. Secara substansial, Indonesia memburuhkan revolusi ide-ide yang berkaitan dengan kemanusiaan secara umum. Pada tanggal 23 September 1999, Presiden Habibie juga menandatangani UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Undang-Undang ini berisi pasal yang mengatur visi baru dari Pemerintah Indonesia tentang HAM. Visi HAM ini adalah bergerak bagi rakyat Indonesia yang harus terus mengalir dalam rangka membimbing perkembangan demokrasinya. Pengakuan terhadap HAM adalah komponen penting dari penegakan hukum dan peradaban.80

Bahwa dalam rangka turut serta memelihara perdamaian dunia dan menjamin pelaksanaan Hak Asasi Manusia serta memberi perlindungan, kepastian keadilan, dan perasaan aman kepada perorangan ataupun masyarakat, perlu segera dibentuk suatu pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat sesuai dengan Pasal 104 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM).81

Pada tanggal 23 November 2000 telah diundangkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak-Hak Asasi Manusia, yang mana konsekuensinya pemerintah wajib untuk membentuk pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya terbentuklah Peradilan Hak Asasi Manusia (HAM) ad hoc. Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) ad hoc bertempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (sesuai Keppres No.

79 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., hlm. 254. Lihat juga dalam Artidjo Alkostar, 2004, Pengadilan HAM, Indonesia dan Peradaban, Yogyakarta: Pusham UII, hlm. 81.

80Ibid., hlm. 255. Lihat juga dalam Ibid., hlm. 120.

36 96 Tahun 2001). Hakim Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) tingkat pertama dilantik pada tanggal 31 Januari 2002,82 kemudian menyusul pengangkatan Jaksa ad hoc sebanyak 24 orang pada tanggal 7 Februari 2002. Selanjutnya, penyerahan perkara oleh Jaksa kepada Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) tanggal 21 Februari 2002, dan pada tanggal 14 Maret 2002 Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) ad hoc memulai persidangannya.83

Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum yang mana bersifat ad hoc atau Kasuistis artinya pengadilan HAM ini dibentuk untuk mengadili pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Hukum acara yang digunakan dalam pengadilan HAM ini berdasarkan pada ketentuan hukum acara pidana yang berlaku. Berdasarkan pasal 4 undang-undang Nomor 26 tahun 2000 pengadilan HAM bertugas dan berwenang untuk memeriksa dan memutus pelanggaran Hak Asasi Manusia berat.

Pengadilan HAM ad hoc yang dibentuk berada pada lingkungan Peradilan Umum, yang mana memiliki kewenangan untuk memeriksa perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 UU No. 26 Tahun 2000. Sesuai dengan ketentuan pada pasal 27 ayat (2) pemeriksaan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dilakukan oleh majelis hakim Pengadilan HAM yang berjumlah 5 (lima) orang, terdiri atas 2 (dua) orang hakim pada Pengadilan HAM yang bersangkutan dan 3 (tiga) orang hakim ad hoc.84 Majelis hakim sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (2) diketuai oleh hakim dari Pengadilan HAM yang bersangkutan.

Hakim ad hoc yang bertugas dalam pengadilan HAM ad hoc diangkat oleh Presiden selaku Kepala Negara atas ususl Ketua Mahkamah Agung. Dengan masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. Hakim ad hoc yang diangkat oleh Presiden tersebut sekurang-kurangnya berjumlah 12 (dua belas) orang.85

Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dibentuk berdasarkan UU Pengadilan HAM diharapkan dapat melindungi Hak Asasi Manusia (HAM), baik perseorangan maupun masyarakat, dan menjadi dasar dalam penegakan kepastian

82Ibid., Lihat juga dalam Ibid., hlm. 5. 83Ibid., Lihat juga dalam Ibid., hlm. 34.

84 Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (Bandung,

2001), Pasal 27 hlm. 95.

37 hukum, dan perasaan aman bagi perseorangan maupun masyarakat, terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat. Adapun pembentukan Undang- Undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut:

1. Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat merupakan “extra ordinary crime” dan berdampak secara luas, baik pada tingkat nasional maupun internasional dan bukan merupakan tindak pidana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta menimbulkan kerugian, baik materiil maupun inmateriil yang mengakibatkan perasaan tidak aman, baik terhadap perseorangan maupun masyarakat, sehingga perlu segera dipulihkan dalam mewujudkan supremasi hukum untuk mencapai kedamaian, ketertiban, ketentraman, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.86

2. Terhadap perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat diperlukan langkah-langkah penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan yang bersifat khusus. Kekhususan dalam penanganan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat adalah:

a. Diperlukan penyidik dengan membentuk tim ad hoc, penyidik ad hoc, penuntut umum ad hoc dan hakim ad hoc;

b. Diperlukan penegasan bahwa penyelidikan hanya dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM). Sedangkan penyidik tidak berwenang menerima laporan atau pengaduan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;

c. Diperlukan ketentuan mengenai tenggat waktu tertentu untuk melakukan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan;

d. Diperlukan ketentuan mengenai perlindungan korban dan sanksi;

e. Diperlukan ketentuan yang menegaskan tidak ada kadaluwarsa bagi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat.

Mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat seperti kejahatan genoside dan kejahatan terhadap kemanusiaan, berdasarkan hukum internasional dapat digunakan asas retroaktif, diberlakukan pasal mengenai kewajiban untuk tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan undang-undang87 sebagaimana

86 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., hlm. 257. Lihat juga dalam Siswono Dirdjosisworo, op.cit., hlm. 17. 87Ibid.

38 tercantum dalam Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen yang berbunyi:88

Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata- mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis

Dengan kata lain asas retroaktif dapat diberlakukan dalam rangka melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) itu sendiri berdasarkan pada ketentuan diatas.

1. Struktur dan Juridiksi Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM)

Berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Pasal 2-6 yang menjelaskan mengenai struktur dan juridiksi dari Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM), yakni sebagai berikut:

 Pada pasal 2 dijelaskan mengenai:

“Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan pengadilan khusus yang

berada di lingkungan peradilan umum”.89

 Pasal 3 berbunyi sebagai berikut:

1) Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan;

2) Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) berkedudukan di setiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan.90

“Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum”.

 Pasal 4 adalah sebagai berikut:

“Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat”.91

88 UUD 1945 Hasil Amandemen (Jakarta, 2002), Pasal 28J ayat (2) hlm. 57. 89 UU RI No. 26 Tahun 2000, op.cit., Pasal 2-6, hlm. 78-79.

90Ibid. 91Ibid.

39 Yang dimaksud dengan “memeriksa dan memutus” dalam ketentuan ini adalah rehabilitasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.92  Pasal 5 berbunyi sebagai berikut:

“Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) bewenang juga memeriksa dan memutus perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat yang dilakukan di luar batas teritorial wilayah negara Republik Indonesia oleh Warga Negara Indonesia”.93

Ketentuan ini dimaksud untuk melindungi Warga Negara Indonesia yang melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat, yang dilakukan diluar batas teritorial, dalam arti dihukum sesuai dengan undang-undang ini.94

 Pasal 6 menerangkan bahwa:

“Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) tidak berwenang memeriksa dan

memutus perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat yang dilakukan oleh seorang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun pada

saat kejahatan dilakukan”.95

Seseorang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun yang melakukan Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Negeri.96 2. Kategori Pelanggaran HAM Berat dan Wewenang dari Pengadilan HAM

Kategori pelanggaran HAM berat yang merupakan lingkup wewenang dari pengadilan HAM meliputi:97 kejahatan genoside dan kejahatan kemanusiaan.

a. Kejahatan genoside

Adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok, etnis, kelompok agama, dengan cara:

1) Membunuh anggota kelompok;

2) Yang dimaksud dengan anggota kelompok adalah seseorang atau lebih anggota kelompok.

92 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., hlm. 258. Lihat juga dalam Siswono Dirdjosisworo, op.cit., hlm. 37. 93 UU RI No. 26/2000, op.cit., Pasal 5, hlm. 79.

94 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., Lihat juga dalam Siswono Dirdjosisworo, op.cit., hlm. 37-38. 95 UU RI No. 26/2000, loc.cit., hlm. 38.

96 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., hlm. 259. Lihat juga dalam Siswono Dirdjosisworo, loc.cit., hlm. 38. 97 UU RI No. 26/2000, op.cit., Pasal 7-9, hlm. 79-81.

40 3) Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota

kelompok;

4) Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;

5) Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok, atau

6) Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.

b. Kejahatan terhadap kemanusiaan

Adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa:

1) Pembunuhan adalah sebagaimana tercantum dalam pasal 340 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana.98

2) Pemusnahan, yaitu dengan sengaja membuat kondisi kehidupan suatu kelompok penduduk terhenti antara lain dengan memutus akses pangan dan obat-obatan yang merupakan kebutuhan vital yang dapat membawa kehancuran kehidupan kelompok tersebut.99

3) Perbudakan adalah tindakan menguasai seseorang sedemikian rupa sehingga orang-orang tersebut yang khususnya terdiri dari wanita dan anak-anak menjadi tidak berarti dan diperdagangkan sebagai budak.100

4) Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa adalah pemindahan orang-orang secara paksa dengan cara pengusiran atau tindakan pemaksaan yang lain dari daerah dimana mereka bertempat tinggal secara sah, tanpa didasari oleh alasan yang diijinkan oleh hukum internasional.101

5) Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional.

6) Penyiksaan, yaitu tindakan dengan sengaja menyakiti dan menimbulkan penderitaan yang berat, baik fisik maupun mental terhadap seseorang yang

98Ibid., hlm. 116.

99 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., hlm. 260. Lihat juga dalam Siswono Dirdjosisworo, op.cit., hlm. 158 100Ibid.

41 ditahan di bawah penguasaan si pelaku. Dikecualikan terhadap mereka yang melaksanakan pidana secara sah serta tidak melakukan penyiksaan yang dapat menimbulkan penderitaan.102

7) Pemerkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan lain yang setara.

8) Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional;

9) Penghilangan orang secara paksa yaitu tindakan penangkapan, penahanan, atau penyekapan orang-orang oleh pelaku dengan kewenangan dukungan, atau persetujuan diam-diam dari suatu negara atau suatu organisasi politik, yang diikuti penolakan untuk mengakui perampasan kebebasan tersebut dengan maksud memindahkan mereka dari perlindungan hukum untuk jangka waktu tertentu.103

10)Kejahatan apartheid yaitu perbuatan tindak manusiawi yang dilakukan dalam hubungan degan suatu rezim kelembagaan berupa penindasan dan dominasi secara sistematik terhadap suatu kelompok ras oleh ras lain dengan maksud mempertahankan rezim.

Dalam dokumen Konsep dan Perkembangan HAM dan Kewargan (Halaman 38-45)

Dokumen terkait