• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman dan Perbandingan dengan Negara Lain

Dalam dokumen Dampak Privatisasi di Indonesia. Studi K (Halaman 34-46)

2. Privatisasi: Definisi, Konsep dan Pengalaman Negara Lain

2.6 Pengalaman dan Perbandingan dengan Negara Lain

Peran BUMN terutama dapat dilihat dari sumbangan BUMN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kontribusi BUMN terhadap PDB beragam mulai dari 2-3 persen di Nepal dan Pilipina sampai 50 persen di Arab Saudi. Berdasar pengelompokan negara, maka peran BUMN terhadap PDB relatif lebih besar pada negara berpendapatan rendah dibanding negara maju dan negara berpendapatan

menengah. Negara-negara di Afrika relatif lebih besar peran BUMN terhadap PDB dibanding negara Asia dan Amerika Latin. Selengkapnya Tabel 4.

Negara berpendapatan rendah relatif lebih besar kontribusinya terhadap jumlah tenaga kerja nasional dibanding negara berpendapatan menengah. Sementara negara Afrika terlihat perannya jauh lebih besar dibanding negara Amerika Latin dan Asia. Selengkapnya Tabel 4.

Tabel 4 Peran BUMN terhadap PDB dan Tenaga Kerja berdasar Kelompok Negara tahun 1978-1991

No Kelompok Negara Proporsi rata-rata Periode 1978-1991 (%) A. Proporsi terhadap PDB ! Negara Berkembang Negara Maju 10.7 4.9

2 Negara Berpendapatan rendah

Negara Berpendapatan Menengah

12.9 9.7

3 Negara Amerika Latin

Negara Afrika Negara Asia

9.1 18.4 10.5

B. Proporsi terhadap Jumlah Tenaga Kerja

1 Negara Berkembang

Negara Maju

4.8 tad

2 Negara Berpendapatan rendah

Negara Berpendapatan Menengah

8.7 2.9

3 Negara Amerika Latin

Negara Afrika Negara Asia

4.1 16.4 4.8 Sumber: World Bank (1995).

2.6.2 Perkembangan Privatisasi Dunia

Berdasar data Bank Dunia, privatisasi berkembang dramatis. Pada tahun 1988 baru 12 negara melakukan privatisasi, tetapi tahun 1995 berkembang menjadi 45 negara.

Periode 1988-1995, sekitar 46 persen dari nilai keseluruhan privatisasi dunia terjadi di wilayah Amerika Latin, menyusul Asia Timur (25 persen), kawasan Eropa dan Asia Tengah (17 persen), serta wilayah lainnya (12 persen).

Privatisasi yang dominan di sektor primer dan infrastruktur. Metode privatisasi dominan adalah penawaran umum (40 persen). Metode lainnya yang diminati adalah

‘strategic sale’ (Pranoto, 2000)

2.6.3 Inggris

Pada akhir tahun 1970 BUMN di Inggris menyumbang sekitar 10 persen dari PDB dan mempekerjakan sekitar 10 persen dari total pekerja. BUMN mendominasi trasnportasi (bus, KA, penerbangan), komunikasi (pos dan telekomunikasi), dan sektor energi. Pada akhir 1980, gambaran di atas telah berubah banyak. Sektor komunikasi, transportasi, dan energi sebagian besar telah dikelola swasta (Bishop, 1993).

Tujuan privatisasi di Inggris adalah (i) peningkatan efisiensi; (ii) mengurangi

‘the public sector borrowing requirement’ (PSBR) yaitu kebutuhan pendanaan yang

tidak dapat ditutup dari tabungan BUMN; (iii) mengurangi keterlibatan pemerintah dalam pengambilan keputusan BUMN; (iv) memperluas struktur pemilikan saham; (v) mendorong pemilikan saham oleh karyawan; (vi) meningkatkan kemampuan pendanaan BUMN; (vii) mendapat keuntungan politis (Vickers, 1997)

Privatisasi berdampak tekanan pada anggaran negara berkurang drastis. Hal lainnya bahwa populasi pemilikan saham perorangan meningkat tajam. Sebelum privatisasi, jumlah penduduk yang mempunyai saham hanya 3 juta orang, meningkat menjadi 9 juta orang dalam waktu 8 tahun setelah privatisasi. Berarti privatisasi berhasil mempercepat proses pemerataan pendapatan (Swa, Juli 1990).

Dari 13 perusahaan skala besar yang diprivatisasi selama periode 1981-1987, maka terlihat bahwa 10 perusahaan (75 persen) menunjukkan kinerja yang membaik secara signifikan. Dari 3 perusahaan lainnya, British Airways dan Rolls-Royce tidak tersedia data, sementara Britoil cenderung menurun kinerjanya. Selengkapnya Tabel 5

Tingkat penjualan (turnover) dan output BUMN yang diprivatisasi di Inggris, sebagian besar menunjukkan peningkatan yang signifikan. Walaupun demikian terdapat 3 (tiga) BUMN yang menunjukkan penurunan tingkat penjualan setelah privatisasi, dan 3 (tiga) BUMN menunjukkan penurunan pertumbuhan output. Selengkapnya tabel 6.

Tabel 5

Kinerja BUMN Inggris (Sebelum dan Setelah Privatisasi)

Laba Sebelum Pajak Setelah Privatisasi

Perusahaan 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987

British Aerospace (1981) 70.6 84.7 82.3 120 151 182 Tad

Cable and Wireless (1982) 64.1 89.2 157 190 245 287 331

Amersham International (1982) 4.1 8.5 11.2 13.7 17 17.5 22

National Freight Consortium (1982) 4.3 10.1 5.3 14.5 23 35 48

Britoil (1982) 437 259.1 587 686 758 155 Tad

Associated British Port (1983) (10) 5.5 14.5 (6.4) 20.8 17 Tad

Enterprise Oil (1984) - - 83.2 - 1389 111 Tad

Jaguar (1984) (32) 9.6 50 91.5 121 121 Tad

British Telecom (1984) 570 936 1031 990 1480 1810 2067

British Gas (1986) - 430 803 909 712 782 1062

British Airways (1987) (141) (108) 74 185 191 195 Tad

Rolls-Royce (1987) - (93) (115) 26 81 120 Tad

BAA (1987) - 40 29 46 64 76 84

Tad  tidak ada data; dalam Juta Poundsterling Laba Sebelum Pajak Sebelum Privatisasi Sumber: Veljanovsky, 1990

Tabel 6. Tingkat Penjualan dan Output BUMN di Inggris (Sebelum dan Setelah Privatisasi)

Tingkat Penjualan (harga Berlaku 1987)

Pertumbuhan Output (%)

1979 Privatisasi 1990 1979-priv Priv-1990

BUMN yang diprivatisasi

Amersham 71 79 170 11 115 ABP 243 185 174 -24 -6 BAA 301 439 610 46 39 BA 3046 3278 3948 8 20 B. Gas 5519 7610 6514 38 -14 B. Steel 6106 3993 4172 -35 4 B T 6024 7853 10049 30 28 C and W 499 519 1890 4 264

Ent Oil tad 288 275 tad -5

NFC 774 614 1328 -21 116

R-Royce 1575 1802 2417 14 34

BUMN yang tidak diprivatisasi

B. Coal 5551 3373 -39

B. Rail 4280 2594 -39

P Office 2721 3639 34

Sumber: Bishop (1995)

Berdasar tingkat pengembalian, digunakan dua metode yaitu Return on Capital Employed (RoCE) dan Return on Sales (RoS). Menggunakan metode RoCE, terlihat bahwa 4 (empat) BUMN menunjukkan penurunan RoCE, walaupun demikian dibandingkan BUMN yang tidak mengalami privatisasi maka BUMN yang telah diprivatisasi secara rata-rata menunjukkan proporsi RoCE yang lebih besar. Menggunakan metode RoS, BUMN yang telah diprivatisasi menunjukkan proporsi RoS yang jauh lebih besar dibanding BUMN yang tidak diprivatisasi, namun demikian terdapat 4 (empat) BUMN yang menunjukkan proporsi RoS yang menurun setelah diprivatisasi. Selengkapnya lihat Tabel 7.

Tabel 7.

Tingkat Pengembalian BUMN di Inggris (Sebelum dan Setelah Privatisasi)

Return on Capital Employed (%) Return on Sales (%)

1979 Privatisasi 1990 1979 priv 1990

BUMN yang diprivatisasi

Amersham 16.1 22.5 22.3 22.3 13.6 12.6 ABP 2.1 8.9 18.8 18.8 11.0 25.4 BAA 13.7 6.9 9.8 9.8 20.7 34.3 BA 20.3 25.3 16.6 16.6 7.4 8.9 B. Gas Tad 16.9 17.3 17.3 16.4 13.8 B. Steel 10.7 13 20.0 20.0 11.5 15.3 B T 24.1 16.7 21.0 21.0 22.3 26.3 C and W Tad 16.6 17.9 17.9 14.7 22.8 Ent Oil 1.1 80.6 9.1 9.1 48.6 24.3 NFC Tad 15.7 21.2 21.2 4.6 6.7 R-Royce 27 16.8 16.8 7.8 7.5

BUMN yang tidak diprivatisasi

B. Coal Tad 6.6 6.6 3.2

B. Rail 7.6 5.9 5.9 4.4

P Office 7.6 4.0 2.6

Sumber: Bishop (1995)

Catatan: tad  tidak ada data; angka miring dan tebal menunjukkan penurunan

Kajian Bishop (1993) terhadap kinerja 9 (sembilan) BUMN di Inggris berdasar produktifitas tenaga kerja menunjukkan bahwa 6 (enam) dari 9 (sembilan) BUMN menunjukkan peningkatan produktifitas tenaga kerja. Sementara selebihnya menunjukkan penurunan kinerja. Secara keseluruhan kualitas pelayanan tidak menunjukkan penurunan.

Tabel 8 Pertumbuhan Produktifitas Tenaga Kerja di Inggris Perusahaan Pertumbuhan/tahun (%) 1979-1980 1980-1990 British Airways 7.4 6.0 BAA 0.6 2.7 British Coal -2.4 8.1 British Gas 4.9 4.9 British rail -2.0 3.2 British Steel -1.7 13.7 British Telecom 4.3 7.1 Electricity Supply 3.7 2.5 Post Office -0.1 3.4 Sumber: Bishop (1993) 2.6.4 Perancis

Privatisasi perusahaan air minum di Perancis menggunakan metode kontrak manajemen (swa kelola). Pihak swasta melakukan penawaran dan negosiasi secara individual dengan 36 ribu walikota. Pemerintah Perancis tidak perlu mengeluarkan dana untuk membangun jaringan pipa, dan tetap memperoleh pemasukan. Pemerintah bertindak sebagai badan regulasi. Pemerintah menjadi lebih obyektif. Sementara pelayanan menjadi lebih baik karena pengelola swasta terikat kontrak (Swa, Juli 1990)

2.6.5 Italia

Salah satu metode privatisasi yang dilakukan di Italia dan sangat berhasil adalah sistem kontrak manajer. Seorang manajer swasta diangkat menjadi pengelola konglomerat BUMN. Keberhasilan metode ini karena kewenangan yang diberikan untuk menjalankan bisnis seperti perusahaan swasta (Swa, Juli 1990)

2.6.6 Korea Selatan

Salah satu metode privatisasi yang cukup berhasil di Korea Selatan adalah dalam bentuk penjualan saham khusus untuk masyarakat golongan ekonomi lemah. Melalui National Stock Plan (lembaga yang didirikan untuk pemerataan saham BUMN) pada tahun 1988, 34,1 persen saham Pohang Iron Steel Co (POSCO) dijual pada masyarakat miskin. Jumlah pemilikan saham melesat dari 7,5 persen menjadi 20,3 persen dari populasi. Hal ini mengakibatkan tidak timbulnya keresahan atau penolakan di kalangan bawah.

Kondisi di atas ditunjang oleh adanya sistem pemisahan pasar modal. Pasar I terbuka untuk asing dan orang kaya sementara Pasar II hanya untuk lokal dan

penduduk miskin. Privatisasi hanya dilakukan pada pasar II. Inipun masih dilakukan pembatasan, misalnya dalam satu bulan seorang maksimal cuma boleh membeli 10 saham.Selain itu, saham yang boleh dibeli oleh satu perusahaan atau keluarga paling maksimal 8 persen dari total saham. Saham yang dianggap penting oleh pemerintah tetap dipertahankan sebesar 8 persen, tetapi saham Korea Airlines, Korea Elecricity dan POSCO sudah dimiliki masyarakat 100 persen (Swa, Juli 1990)

2.6.7 Chili

Pembahasan privatisasi di Chili menjadi menarik karena penguasa negara tersebut adalah rezim militer yang identik dengan penolakan terhadap privatisasi. Ditambah lagi bahwa privatisasi Chili ternyata sukses yang ditandai dengan penyebaran kepemilikan saham meningkat, perusahaan swasta menjadi lebih efisien, membuka kesempatan investasi, berkurangnya ketergantungan pada sektor publik.

Privatisasi di Chili dilakukan dalam 2 (dua) gelombang, yaitu gelombang I (1974-1979) dan gelombang II (1984-1989). Selama periode tersebut telah berhasil diprivatisasi sebanyak 550 BUMN, dan sumbangan BUMN terhadap PDB turun dari 39 persen menjadi 16 persen. Pada gelombang I, privatisasi dijual terbatas dalam bentuk paket untuk mendapatkan harga yang tinggi. Kurangnya modal swasta, maka pemerintah memberi kredit. Ternyata di kemudian hari pemilik yang baru mengalami kebankrutan sehingga BUMN yang telah diprivatisasi kemudian dibeli kembali oleh pemerintah. Kemudian pada gelombang II dilakukan penjualan kembali BUMN secara lelang, dan sebagian besar dibeli secara patungan oleh perusahaan lokal dan asing.

Selebihnya dijual secara ‘popular capitalism’, berupa penawaran saham pada

masyarakat dengan memberikan kredit tanpa bunga. Sementara BUMN yang baru pertama kali diprivatisasi, diitawarkan dengan cara ‘labor capitalism’ berupa penawaran pada karyawan, ‘institutional capitalism’ berupa penawaran pada institusi

seperti yayasan dana pensiun (Siahaan, 2000).

Hachette dan Luders (1993) menganalisis proses privatisasi di Chili dan menyimpulkan: (i) keberhasilan privatisasi Chili menunjukkan bahwa privatisasi di negara berkembang dapat berjalan dengan baik. Meskipun pasar tidak sempurna di negara berkembang tetapi tetap dapat berfungsi baik untuk menghasilkan harga penjualan saham yang memadai dan mendorong perusahaan privatisasi bekerja efisien. Sumber daya finansial selalu ada walaupun di negara berkembang. BUMN dapat dijual

pada masyarakat atau pihak asing; (ii) Beragam BUMN dan aktifitasnya dapat diprivatisasi. Pada kasus utilitas publik (monopoli alamiah) dan pelayanan sosial, maka regulasi dan pengendalian yang memadai, kebijakan ekonomi yang tepat adalah hal mendasar untuk mencapai efisiensi; (iii) beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, melengkapi persyaratan sebelumnya, untuk mensukseskan privatisasi yang terkait dengan aspek politis dan intitusi adalah (a) kepemimpinan; (b) dukungan politis; (c) transparan, pelibatan karyawan dan masyarakat akan meningkatkan dukungan; (d) pengembangan pasar modal; (iv) privatisasi butuh waktu. Dibutuhkan pembenahan sistem, kebijakan, penyiapan dana dan personil.

Salah satu kritik terhadap proses privatisasi di Chili adalah kurangnya transparansi dalam prosesnya. Hal ini mungkin dikondisikan oleh bentuk pemerintahan yang dikendalikan oleh militer, dan bentuk privatisasi yang dilakukan secara massal. Walaupun demikian tujuan privatisasi tersebut berupa penyebaran pemilikan saham, dan peningkatan penerimaan pemerintah dapat dicapai.

2.6.8 Negara Transisi14

Satu dekade lalu, dengan pecahnya Uni Sovyet, dan dimulainya reformasi orientasi pasar di banyak negara Eropa Timur dan Tengah, maka privatisasi menjadi suatu jalan keluar dari ketidakefisienan perencanaan terpusat. Ternyata terdapat dua pelajaran penting yang didapatkan yaitu (i) perusahaan swasta selalu lebih baik kinerjanya dibanding BUMN. Dengan kata lain, setiap langkah privatisasi lebih baik dari pada tidak sama sekali, tanpa mempedulikan apakah telah tercipta kestabilan pasar dan lingkungan yang kompetitif; (ii) perusahaan swasta yang mulai dari bawah menunjukkan kinerja terbaik, disusul BUMN yang diprivatisasi dan dikendalikan orang luar (non birokrat), baru kemudian BUMN.

Kendala ‘soft budget’, yang ditandai masih diberikannya subsidi, bunga pinjaman

lunak, penghapusan hutang, menghalangi restrukturisasi perusahaan. Pihak manjemen akan lebih banyak melakukan lobby dibanding melaksanakan strukturisasi. Terdapat kecenderungan menyimpulkan bahwa pasar bebas dan lingkungan kompetitif lebih penting dari pada metode privatisasi (Gardner, 1999)

14

Negara transisi adalah negara yang sedang dalam proses perubahan dari ekonomi terpusat menuju ekonomi pasar.

2.6.9 Perbandingan AntarNegara

Berdasar beberapa hasil survei perbandingan kinerja perusahaan swasta dan BUMN serta dampak privatisasi BUMN pada berbagai negara, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa (i) kinerja perusahaan swasta bisa lebih efisien dari BUMN dan sebaliknya; (ii) perubahan pemerintahan tidak berdampak pada kinerja perusahaan (swasta dan BUMN); (iii) privatisasi dapat meningkatkan pertumbuhan produktifitas tenaga kerja dan total faktor, dan sebaliknya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan; (iv) perubahan kepemilikan berdampak kecil; (v) BUMN dengan pasar kompetitif lebih baik kinerjanya (Pollitt, 1999)

Tabel 9. Beberapa Hasil Penelitian Perbandingan BUMN Antarnegara

Penelitian Sasaran Metode Data Hasil

Hutchinson (1991)

Membandingkan efisiensi perusahaan swasta dan BUMN dan dampak perubahan rezim terhadap kinerja perusahaan

Statistik deskriptif dan analisis OLS dari produktifitas tenaga kerja, keuntungan, dan paduan teknologi. 17 perusahaan termasuk 6 BUMN yang diprivatisasi, periode 1970-1986

Perusahaan swasta lebih efisien dari BUMN Perubahan pemerintahan tidak mempunyai dampak terhadap kinerja perusahaan dan BUMN Bishop dan Thompson (1992) Meneliti pengaruh privatisasi terhadap perubahan tingkat efisiensi Tingkat output, produktifitas tenaga kerja, dan produktifitas total faktor 9 BUMN, 1970-1990 Peningkatan pertumbuhan rata-rata produktifitas tenaga kerja dan total factor

Haskel dan Szymanski (1992) Menguji 4 hipotesis tentang dampak kepemilikan dan kompetisi terhadap efisiensi Regresi Produktifitas total factor 12 BUMN yang diprivatisasi, 1972-1988 Kompetisi meningkatkan produktifitas Perubahan kepemilikan mempunyai dampak kecil. Bishop dan Green (1995) Meneliti kinerja BUMN yang diprivatisasi Keuntungan, penjualan, gaji dan data tenaga kerja

9 BUMN, 1979-1994

BUMN dengan pasar kompetitif lebih baik kinerjanya. Perbandingan produktifitas total factor menunjukkan kinerja swasta dan BUMN sama saja

Koedijk dan Kremers

Menghitung dampak regulasi pasar tenaga kerja dan produk terhadap

pertumbuhan output

Regresi

pertumbuhan output per kapita terhadap ukuran tingkat regulasi 11 negara masyarakat ekonomi Eropa, 1981-1993 Perubahan regulasi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Parker dan Martin (1997) Meneliti pengaruh privatisasi terhadap kinerja perusahaan Produktifitas tenaga kerja, produktifitas factor total, pertumbuhan nilai tambah/tenaga kerja dan keuntungan 11 BUMN yang diprivatisasi, 1973-1995

Tidak ada perbaikan produktifitas. Tingkat kompetisi berpengaruh terhadap kinerja Sumber:Pollitt, 1999

2.6.10 Dampak Privatisasi per Bidang Usaha

Dari beberapa studi terhadap perbandingan kinerja perusahaan negara dan swasta pada berbagai bidang usaha yang dikumpulkan oleh Hanke (1987) pada berbagai negara, maka efisiensi perusahaan swasta relatif lebih baik. Adapun hasil studi tersebut adalah:

A. Administrasi

Di AS, fungsi administrasi lebih murah, lebih cepat dengan kesalahan lebih sedikit jika dilaksanakan oleh sektor swasta.

B. Penerbangan

Bukti di Australia menunjukkan perusahaan swasta lebih efisien. Mereka beroperasi dengan peralatan, tarif, rute yang sama. Perusahaan swasta mengangkut dua kali lebih banyak. Pendapatan per pekerja perusahaan swasta lebih tinggi 12 persen.

C. Perbankan

Studi di Australia menunjukkan bank BUMN mempunyai tingkat keuntungan terhadap aset, dan keuntungan terhadap modal lebih rendah.

D. Pekerjaan Pemeliharaan dan Pengelolaan Gedung

Pekerjaan pemeliharaan gedung Departemen Pertahanan AS diswastakan dan menghasilkan penghematan sekitar 5-25 persen. Beberapa sekolah umum di New York juga melakukan hal yang sama dan menghasilkan penghematan rata-rata 14 persen. Di Jerman juga menunjukkan hasil yang relatif sama, bahkan dengan penghematan yang lebih besar.

E. Listrik

Perbandingan 95 perusahaan listrik negara dan 47 perusahaan swasta di AS menunjukkan biaya per kilowatt-jam lebih tinggi rata-rata 21 persen pada perusahaan negara.

F. Rumah Sakit

Sistem pelayanan kesehatan terbesar di AS yang dikelola oleh pemerintah melalui Veterans Administration (V.A.) menunjukkan biayanya lebih mahal dibanding sistem swasta.

G. Pelayanan Pos

Pelayanan pos di AS ditangani baik oleh perusahaan negara maupun swasta. Perusahaan swasta menangani dua kali lebih banyak pengiriman, dengan tarif lebih

rendah, pengiriman lebih cepat, dan mempunyai tingkat kerusakan yang lebih rendah. Lebih jauh, perusahaan menghasilkan untung sementara perusahaan negara merugi.

H. Kereta Api

Produktifitas pegawai Amtrak, perusahaan KA milik pemerintah AS, kurang dibanding produktifitas empat perusahaan swasta lainnya.

I. Jalan Raya

Pemeliharaan jalan raya merupakan salah satu usaha yang dapat diperbandingkan di negara berkembang. Evaluasi rinci dari biaya pemeliharaan jalan di Brasil memperlihatkan penanganan oleh swasta melalui sistem kontrak lebih murah dibanding yang dilakukan oleh Departemen Jalan Raya Nasional Brasil.

J. Transportasi Kota

Di Australia, biaya sistem transportasi perkotaan per kilometer yang ditangani swasta hampir 42 persen lebih murah dari pada sistem yang ditangani negara. DI Jerman Barat, biaya rata-rata nasional per kilometer 160 persen lebih mahal jika ditangani negara. Di New York, biaya lebih murah 10 persen jika ditangani swasta. Di Istanbul dan Calcutta juga menunjukkan kondisi yang sama,

K. Telekomunikasi

Perusahaan telekomunikasi dimiliki oleh pemerintah di sebagian besar negara kecuali Amerika Serikat. Tetapi antara tahun 1981 sampai 1998, sebanyak 31 BUMN di 25 negara diprivatisasi baik total maupun sebagian melalui penawaran saham umum. Pada sebagian besar kasus, saham yang ditawarkan merupakan penawaran terbesar di masing-masing negara, bahkan tercatat ada yang mencapai lebih dari 30% dari keseluruhan kapitalisasi pasar modal di negara yang bersangkutan.

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa keuntungan, output, efisiensi operasional dan investasi modal meningkat signifikan setelah privatisasi, semenrtara jumlah tenaga kerja dan jumlah hutang berkurang tajam. Hampir seluruh BUMN telekomunikasi menghadapi regulasi baru pada saat diprivatisasi, dan banyak pemerintahan mempertahankan sahamnya yang signifikan. Kedua faktor ini mempengaruhi kinerja keuangan. Beberapa kondisi setelah privatisasi adalah:

 Kompetisi mengurangi keuntungan, dan jumlah tenaga kerja dan efisiensi monopoli pemerintah setelah privatisasi. Sementara pembentukan instansi pengatur (regulator) independen meningkatkan output.

 Mempertahankan kepemilikan pemerintah berhubungan dengan peningkatan hutang dan pengurangan tenaga kerja, sementara pengaturan harga meningkatkan keuntungan..

Dapat disimpulkan bahwa dampak finansial privatisasi terhadap BUMN telekomunikasi tergantung sebagian besar pada struktur pasar kompetisi yang baru, pasar yang setara, pengaturan harga dan instansi pengatur independen. Dampak tersebut dapat negatip tetapi konsumen dan kondisi ekonomi mendapatkan keuntungan dari proses ini (Bortolotti, 2001)

Privatisasi di Inggris memperlihatkan bahwa privatisasi British Telecom menunjukkan kesuksesan dalam banyak hal, harga menjadi murah, sementara produktifitas dan keuntungan meningkat. British Telecom setelah privatisasi ternyata mampu meningkatkan jumlah saluran telepon sebesar 30 persen. Pertumbuhan produktifitasnya naik dari 1,9 persen per tahun (1979-1983) menjadi 3,2 persen per tahun (1983-1987), yang menunjukkan kenaikan hampir 70 persen. British Gas berhasil menawarkan harga jual pada pelanggan industri dengan 30 persen lebih murah dibandingkan tarif sebelumnya (Wibisono, 1996).

Vogelsang dkk, (1994) menyelenggarakan analisis untung-rugi sosial terhadap privatisasi BT yang menunjukkan dampak positip. Keseluruhan masyarakat memperoleh keuntungan 10 Miliar Poundsterling, yang sebagian terbesar mengalir ke konsumen (Pollitt, 1999).

Vogelsang dkk. mencatat bahwa perbaikan produktiftas dihasilkan dari perbaikan teknik dan bukan hanya privatisasi, meskipun privatisasi mendorong pembentukan modal. Regulasi mempengaruhi harga. Privatisasi mendorong investasi dan regulasi menguntungkan konsumen. Privatisasi tidak menunjukkan pengaruh pada perbaikan efisiensi operasi sampai pada saat dilakukan PHK karena ketatnya

kompetisi. Sebelumnya pertumbuhan produktifitas merupakan fungsi dari

pertumbuhan output, yang merupakan bagian dari pengaruh menurunnya tarif. Kompetisi merupakan media utama meningkatkan pelayanan dan menurunkan tarif di sektor telekomunikasi (Pollitt, 1999).

2.6.11 Beberapa Fakta Penting

Dari beberapa pengalaman pelaksanaan privatisasi di manca negara, maka dapat dikemukakan beberapa fakta yang penting yaitu: (i) Pertama. Privatisasi berjalan

lebih lancar jika pemimpin pemerintahan mempunyai komitmen politis yang kuat terhadap reformasi ekonomi; (ii) Kedua. Privatisasi tidak mudah. Tantangan dari

berbagai pihak yang mempunyai ‘vested interest’, BUMN yang tidak layak jual dan

tidak menarik bagi investor; ketakutan investor asing terhaadap keamanan negara merupakan beberapa penghambat privatisasi; (iii) Ketiga. Model privatisasi tidak hanya satu, tetapi beragam dengan kemungkinan sukses/gagal yang sama. Walaupun tidak ada model yang berlaku untuk semua situasi, tetapi dapat dikatakan bahwa prospek privatisasi terbaik pada negara yang mempunyai mekanisme finansial yang mendukung privatisasi; (iv) Keempat. Bahkan negara maju tetap berekprimen dengan privatisasi. Contohnya Inggris yang telah melakukan privatisasi 40 persen dari BUMN-nya, namun debat tentang privatisasi tetap hangat.; (v) Kelima. Privatisasi tidak hanya sekedar menjual aset ke sektor swasta. Tetapi juga berarti meningkatkan kebebasan pasar, dan mengurangi regulasi pemerintah, dan kebijakan makro lainnya.

Dalam dokumen Dampak Privatisasi di Indonesia. Studi K (Halaman 34-46)

Dokumen terkait