BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Pengalaman Ibu Primipara Post Seksio Sesarea
meliputi 5 kategori yaitu: persepsi tentang preeklampsia berat, persepsi tentang seksio sesarea, berbagai perubahan yang dialami setelah seksio sesarea atas indikasi preeklampsia berat, berbagai dukungan sosial yang diterima, kebutuhan setelah seksio sesarea.
1. Persepsi tentang preeklampsia berat
Dari hasil wawancara seluruh partisipan yang di dasarkan atas pengalaman mengalami preeklampsia berat, maka seluruh partisipan mengungkapkan persepsi
berat, penyebab preeklampsia berat, tanda yang dialami partisipan, maupun gejala yang dialami partisipan pada saat mengalami preeklampsia berat.
a. Pengertian
Dari hasil wawancara seluruh partisipan mengungkapkan persepsi mereka mengenai pengertian preeklampsia berat bahwa preeklampsia berat adalah peningkatan tekanan darah waktu hamil dan dapat di sebut juga keracunan kehamilan.
1) Peningkatan tekanan darah pada waktu hamil
Dari ke enam partisipan, empat orang mengungkapkan persepsi mereka tentang pengertian preeklampsia berat yaitu peningkatan tekanan darah pada waktu hamil. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“Pas check up masuk bulan ke-6 tiba-tiba tensi aku naik jadi 160/120, karena naiknya tensi itu makanya di bilang preeklampsia berat…”
(Partisipan 2 )
“Yang saya tau sih preeklampsia ini terjadi karena adanya peningkatan tekanan darah di sebabkan oleh kehamilan”
(Partisipan 4 )
“kata dokter nya sih tensi saya tinggi jadi saya di bilang dokter nya untuk segera operasi hari itu juga, karena ada gejala preeklampsia gitu lah.. ya preeklamplasia berat karena sampek 180 tensi nya ”
(Partisipan 5 )
“preeklampsia ya kenaikan tensi pada waktu hamil dek…waktu itu tensi nya 170/120.. udah masuk berat itu kan dek, itulah kata dokter nya kemaren..”
2) Keracunan kehamilan.
Selain mengatakan bahwa, preeklampsia berat adalah peningkatan tekanan darah pada waktu hamil. Beberapa partisipan juga mengungkapkan persepsi mereka tentang pengertian preeklampsia berat adalah keracunan kehamilan. Dari ke enam orang partisipan hanya tiga orang yang menyatakan preeklampsia berat adalah keracunan kehamilan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“Preeklampsia ya ? keracunan kehamilan kan... Karena ini merupakan kehamilan pertama, nggak mengerti sama sekali apa itu keracunan kehamilan, apa/ kenapa/ harus gimana? Yang ada di benak saya waktu itu hanya kenapa’ kehamilan kok meracuni, siapa yang diracuni dan siapa yang meracuni??”
(Partisipan 1 )
“Yah…..preeklampsia itu adalah keracunan pada kehamilan..”
(Partisipan 3) “preeklampsia itu ya keracunan kehamilan karena tensi tadi itu lahh, dek..”
(Partisipan 4 ) b. Penyebab
Dari hasil wawancara seluruh partisipan mengungkapkan persepsi mereka mengenai penyebab preeklampsia berat, didapatkan bahwa empat orang partisipan tidak mengetahui apa penyebab partisipan mengalami preeklampsia berat, namun satu orang partisipan menyatakan bahwa penyebab partisipan mengalami preeklampsia berat adalah karena adanya riwayat hipertensi dalam keluarga.
1) Belum diketahui
Dari ke enam partisipan, lima orang mengungkapkan persepsi mereka tentang penyebab preeklampsia berat yaitu belum diketahui. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“tekanan darah waktu pertama normal-normal aja, ntah lah koq bisa jadi preeklampsia..”
(Partisipan 1 )
“Ya, aku gak tau kenapa bisa begini, padahal sebelum hamil dan pada awal-awal kehamilan dulu, aku mempunyai tekanan darah rendah loh…”
(Partisipan 2 )
“penyebab nya belum tahu dek, saya langsung lemas waktu di bilang dokter,’ibu terkena preeklampsia’…”
(Partisipan 3 )
“Belom taulah apa penyebab nya bisa jadi preeklampsia…”
(Partisipan 5 )
“biasanya aja darah saya cuma 80/60, nah ini jadi naik, berdoa ajalah biar gak gitu lagi, karena preeklampsia inipun belom tau juga apa penyebabnya kan…”
(Partisipan 6 ) 2) Riwayat Keluarga dengan Hipertensi
Dari ke enam partisipan, satu orang mengungkapkan persepsi nya tentang penyebab preeklampsia berat yaitu karena adanya riwayat hipertensi dalam keluarga. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“saya adalah orang dengan potensi hipertensi bawaan genetis dari ayah. Selama ini saya tidak pernah punya tekanan lebih dari 120/80, tapi pas hamil di trimester ketiga ini, duweeeew… tekanan darah saya naik jadi 160/110, saya pun divonis mengalami gejala pre-eklampsia.
(Partisipan 4 ) c. Tanda
Dari hasil wawancara seluruh partisipan mengungkapkan persepsi mereka mengenai tanda preeklampsia berat yang dialami partisipan, yaitu tekanan darah tinggi, kaki bengkak, dan hasil laboratorium yang mengarah ke preeklampsia berat.
1) Tekanan Darah Tinggi
Seluruh partisipan mengungkapkan persepsi nya tentang tanda preeklampsia berat yaitu tekanan darah tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“Tekanan darah saya saat itu hampir menembus angka 180/120”
(Partisipan 1)
“Pas check up masuk bulan ke-6 tiba-tiba tensi aku naik jadi 160/120”
(Partisipan 2)
“karena saat itu tekanan darah aku tinggi sekali, mencapai 225/142 pada saat masuk UGD”
(Partisipan 3)
“duweeeew… tekanan darah saya naik jadi 160/110”
“memasuki trimester tiga, oo…oo.. tekanan darah kenapa naik jadi 167/119 ya,…”
(Partisipan 5)
“karena tekanan darahku tiba-tiba tinggi… 190/120 dan gak merasakan apa-apa.”
(Partisipan 6)
2) Kaki Bengkak
Seluruh partisipan mengungkapkan persepsi nya tentang tanda preeklampsia berat yaitu kaki bengkak. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“ditambah dengan kaki bengkak dan kenaikan berat badan secara drastis…”
(Partisipan 1)
“pada usia kehamilan menjelang bulan ke-8, barulah saya mengalami keluhan yang tidak wajar, pada kaki mengalami pembengkakan yang agak besar, selain itu saat kaki atau tangan ditekan/ tertekan untuk kembali ke kondisi semula itu lamaa lah..”
(Partisipan 2)
“ditambah dengan tangan dan kaki mulai bengkak…”
(Partisipan 3)
“Memasuki bulan keenam, bengkak di kaki mulai Nampak, tapi kukira waktu itu kakiku bertambah gemuk sampai tulang mata kaki tidak terlihat lagi…”
“… tuh kan kakinya bengkak lagi…”
(Partisipan 5)
“… bengkak kaki tangan makin parah...”
(Partisipan 6)
3) Hasil Dari Laboratorium
Dari ke enam partisipan, tiga orang mengungkapkan persepsi mereka tentang tanda preeklampsia berat yaitu hasil laboratorium yang mengarah ke
preeklampsia berat . Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“di check protein urin hasilnya positive..”
(Partisipan 1)
“pas di rumah sakit, periksa protein pun positive tiga..”
(Partisipan 3)
“langsung check lab gitu trus di periksa kencing katanya protein urine nya positive..”
(Partisipan 5)
d. Gejala
Dari hasil wawancara seluruh partisipan mengungkapkan persepsi mereka mengenai gejala preeklampsia berat yang dialami partisipan, yaitu pandangan kabur, sakit kepala, sakit perut, dan muntah.
1) Pandangan Kabur
Dari ke enam partisipan, dua orang mengungkapkan persepsi mereka tanda preeklampsia berat yaitu pandangan kabur. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“di bulan ke tujuh, pandangan saya kabur gitu…”
(Partisipan 2 )
“kayak rabun gitu dek, tiba-tiba pandangan nya kabur..”
(Partisipan 3 ) 2) Sakit kepala
Dari ke enam partisipan, tiga orang mengungkapkan persepsi mereka tentang gejala preeklampsia berat yaitu sakit kepala. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
kalo udah muntah kepala rasanya kayak di palu..”
(Partisipan 1 )
“Memasuki bulan kelima sakit kepala mulai mengganggu…”
(Partisipan 4 )
“mulai lah sakit kali tuh kepalanyaa.. tersiknya lah..huhh “
(Partisipan 6 ) 3) Sakit perut
Dari ke enam partisipan, tiga orang mengungkapkan persepsi mereka tentang gejala preeklampsia berat yaitu sakit perut. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“Perut pun juga sakit…”
(Partisipan 1)
“Di bagian bawah perut ini sakit kali rasanya..”
(Partisipan 4)
“ganggu kali lah dek pas muntah itu sakit perutnyaaa…”
(Partisipan 5) 4) Muntah
Dari ke enam partisipan, lima orang mengungkapkan persepsi mereka tentang gejala preeklampsia berat yaitu muntah. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“Aku lebih terganggu dengan mual-muntah di tiap harinya…”
(Partisipan 1)
“mual muntah terus-terusan..
(Partisipan 2)
“gak ada masuk makanan, tiap makan muntah ajja …”
(Partisipan 4)
“Ampun lah rasanya mual muntah setiap hari…”
(Partisipan 5)
“terus ditambah lagi muntah-muntah..”
2. Persepsi tentang Seksio sesarea
Dari hasil wawancara seluruh partisipan yang di dasarkan atas pengalaman bersalin secara seksio sesarea, maka seluruh partisipan mengungkapkan persepsi masing-masing mengenai seksio sesarea, baik itu pengertian seksio sesarea, dan penyebab seksio sesarea yang dialami oleh masing-masing partisipan.
a. Pengertian
Dari hasil wawancara seluruh partisipan mengungkapkan persepsi mereka mengenai pengertian seksio sesarea bahwa seksio sesarea adalah tindakan pembedahan di perut untuk mengeluarkan bayi pada saat melahirkan.
1) Pembedahan di Perut
Seluruh partisipan mengungkapkan persepsi mereka tentang pengertian seksio sesarea yaitu pembedahan di perut untuk mengeluarkan bayi pada saat melahirkan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“SC itu ya pembedahan diperut untuk mengeluarkan bayi yang gak bisa secara normal ”
(Partisipan 1 )
“di operasi, dibelah perutnya, terus dikeluarkan bayinya, kemudian dijahit lagi..”
(Partisipan 2 )
“kekmanalah harus operasi, namanya juga dibelah perutnya ya pasti lama kan sembuhnya..”
“proses melahirkan dengan cara pembedahan dari perut apabila terdapat kelainan pada saat hamil..”
(Partisipan 4 )
“aku ya taunya operasi itu sereem lah, di potong perutnyaa demi ngeluarin bayi yang gak bisa keluar dari bawah.. hehe..”
(Partisipan 5 )
“operasi itu ya suatu pengeluaran bayi dengan cara membedah perut ibu dikamar operasi karena adanya suatu kelainan sehingga ibu tidak bisa melahirkan normal...”
(Partisipan 6)
b. Penyebab
Dari hasil wawancara seluruh partisipan mengungkapkan persepsi mereka mengenai penyebab partisipan harus bersalin secara seksio sesarea yaitu, karena adanya peningkatan tekanan darah, bayi besar, dan persalinan belum waktunya. 1) Adanya peningkatan tekanan darah
Seluruh partisipan mengatakan bahwa partisipan harus di operasi karena adanya peningkatan darah. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“Pada hari itu kita pulang kerja dan rencana langsung ke dokter untuk check up, hasil pemeriksaan cukup mengagetkan karena waktu itu tensi sekitar 170, maka diputuskan hari itu detik itu juga harus masuk rumah sakit bersalin, Karena besok harus operasi sesarea untuk persalinan.”
(Partisipan 1 )
“tensiku mencapai 200/160, sehingga dokter menyarankan aku untuk segera dioperasi Caesar…”
“Pada malam hari saat kembali berkonsultasi dengan dokter kami, tekanan darah saya meningkat lebih tinggi menjadi 150. Dokter menyarankan bahwa sebaiknya bayi segera dilahirkan malam itu juga dengan operasi…”
(Partisipan 3 )
“Tekanan darah saat itu 180/120. No choice, demi keselamatan kami berdua, si boy harus segera dilahirkan. Sampai disini aku masih mikir kalo segera dilahirkan itu artinya besok atau lusa, ternyata maksudnya segera adalah saat itu juga. Ini juga masih belum terlalu ngeh bakalan dilahirkan itu dengan cara sesarea.. ”
(Partisipan 4 )
“waktu diperiksa tensi mendadak naik 160, ya terpaksalah harus operasi dek, mau gimana lagi, yang penting selamat..”
(Partisipan 5 )
“…ternyata pas kandunganku 9 bulan lebih aku mengandung tensiku naik 190/130 terpaksa lahir paksa di RS Alhamdulillah selamat”
(Partisipan 6 ) 2) Bayi besar
“di usg bayinya sampek 4 kilo, jadi ya harus operasi jugak..”
(Partisipan 1 )
“orang makan aja kerjanya, ya gedek adeknya jadi harus operasi karena tensinya juga tadi..”
3) Persalinan belum waktunya
Dari ke enam partisipan, dua orang partisipan mengatakan bahwa partisipan harus di operasi karena kehamilannya belum cukup bulan sehingga harus bersalin sebelum waktunya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“masih 8 bulanan, tapi ya harus dikeluarin, operasilah jadinya..”
(Partisipan 2 )
“janin nya gawat kata dokternya, jadi mau gak mau harus operasi walaupun belom cukup bulan”
(Partisipan 3 )
3. Berbagai Perubahan Yang Dialami
Dari hasil wawancara diperoleh adanya berbagai perubahan yang dialami ibu pasca melahirkan secara seksio sesarea atas indikasi preeklampsia berat adalah kedinginan, pandangan kabur, pusing, sakit untuk mobilisasi, dada sering terasa sesak.
a. Kedinginan
Tiga dari enam partisipan merasa kedinginan setelah melahirkan secara seksio sesarea atas indikasi preeklampsia berat. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“Siap operasi dinginnya mintak ampun..”
(Partisipan 1)
“mungkin karena AC ya, yang kakaki rasain dingin di seluruh tubuh..”
“Gak sadar lagi karena kedinginan juga waktu itu..”
(Partisipan 3) b. Pusing
Tiga dari enam partisipan merasa pusing setelah melahirkan secara seksio sesarea atas indikasi preeklampsia berat. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“Kepala pusing, pas siap operasi itu..”
(Partisipan 2)
“Baru kali ini operasi kan, siap operasi masih pusing kepalanya..”
(Partisipan 5 )
“Alhamdulillah selamat walaupun siap itu kepala terasa pening..”
(Partisipan 6) c. Sakit Untuk Mobilisasi
empat dari enam partisipan merasa sakit untuk mobilisasi setelah melahirkan secara seksio sesarea atas indikasi preeklampsia berat. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“gak berani gerak-gerak karena masih sakit juga..”
(Partisipan 2)
“telentang ajja gitu, soalnya sakit gitu kalo mau gerak-gerak..
(Partisipan 4)
“Cuma bisa tiduran ginilah, gak bisa mereng-mereng karena masih sakit ..
“sakit dek semua bandannya, sampek gerak- gerak pun tak bisa dah..”
(Partisipan 6) d. Dada Sering Terasa Sesak
Dua dari enam partisipan merasa sudah pasrah ketika melahirkan di atas usia 35 tahun. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“selesai operasi dadanya terasa sesak gitu,,”
(Partisipan 3)
“banyak lah rasanya campur aduk, bernapas juga sesak..”
(Partisipan 5)
4. Dukungan Sosial
Dari hasil wawancara seluruh partisipan yang di dasarkan atas pengalaman mengalami preeklampsia berat, maka seluruh partisipan mengungkapkan tentang dukungan sosial yang partisipan terima saat mengalami preeklampsia berat, baik itu dari sumber dukungan dan bentuk dukungan.
a. Sumber Dukungan
Dari hasil wawancara seluruh partisipan mendapatkan dukungan positif dari suami, keluarga, tenaga kesehatan.
1) Suami
Dari keenam partisipan, empat orang partisipan mengatakan bahwa partisipan banyak mendapatkan dukungan dari suami. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“agak kurang sedihnya karena mendapat dukungan penuh dari suami..
“suami lah yang selalu ada di samping kakak..
(Partisipan 2 )
“untungnya abang terus mendukung kakak, kalo gak gak taulah mau kayakmana lagi..”
(Partisipan 4 )
“iyalah dek, tapi yang jelas abang lah yang mendukung semuanya-semuanya.. ”
(Partisipan 5 )
2) Keluarga
Dari keenam partisipan, dua orang partisipan mengatakan bahwa partisipan banyak mendapatkan dukungan dari keluarga. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“keluarga juga selalu menemani dek, tiap hari pasti penuh ni kamar ditungguin semua keluarga, tengoklah remenya gini dek”
(Partisipan 3 )
“semua keluarga ngedukung lah, supaya kalok bisa gak usah operasi, tapi ya mau gimana lagi,, semuanya pada mendoakan yang terbaik lah..”
(Partisipan 6 )
3) Tenaga Kesehatan
Dari keenam partisipan, dua orang partisipan mengatakan bahwa partisipan banyak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan . Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“perawat-perawatnya pada ramah, pada perhatian semua, mendukung lah supaya kakak gak down atas penyakit ini..”
(Partisipan 3 )
“ini suster-suster ini juga nyemangatin terus..”
(Partisipan 4 )
“dokternya juga selalu menanyakan keadaan, ngasi motivasi tiap hari..”
(Partisipan 5)
b. Bentuk Dukungan
Dari hasil wawancara seluruh partisipan menyatakan bahwa partisipan mendapatkan dukungan dalam bentuk, memberikan rasa nyaman, merasa lebih diperhatikan, member kekuatan pertisipan selama operasi sesarea dilakukan. 1) Memberikan Rasa Nyaman
Dari keenam partisipan, dua orang partisipan mengatakan bahwa bentuk dukungan social yang diterima yaitu adanya rasa nyaman. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“iya dibuatnya lah supaya kakak bisa nyaman tu gimana..”
(Partisipan 1 )
“nyaman kalo tiap hari ditemenin terus..”
(Partisipan 2 ) 2) Merasa Lebih Diperhatikan
Dari keenam partisipan, dua orang partisipan mengatakan bahwa bentuk dukungan social yang diterima yaitu merasa lebih diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“rasanya juga lebih diperhatikan, tiap hari ditungguin, di temenin, di penuhin semua kebutuhannya..”
(Partisipan 3 )
“yang gak pernah-pernah nya abang masak, bisanya dibuatinnya kakak bubur kemaren, jadi rasanya lebih diperhatikan gitulah..”
(Partisipa 5 )
3) Memberi Kekuatan Partisipan Selama Operasi Dilakukan
Dari keenam partisipan, tiga orang partisipan mengatakan bahwa bentuk dukungan social yang diterima yaitu memberi kekuatan partisipan selama operasi dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut ini:
“di motivasi-motivasi terus supaya gak takut operasinya..”
(Partisipan 2 )
“ditemenin terus, disemangatin, jadi nya kakak pun berusaha biar gak takut, walaupun wajar ya namanya juga anak pertama, tapi setidaknya sedikit kuat lah untuk menghadapinya..”
(Partisipan 4 )
“waktu operasi berdoa dulu semua keluarga jadi ada kekuatan tersensirilah untuk menghadapi operasi yang baru pertama kali ini..
5. Kebutuhan Setelah Seksio sesarea
Dari hasil wawancara seluruh partisipan yang di dasarkan atas pengalaman bersalin secara seksio sesarea, maka seluruh partisipan mengungkapkan tentang kebutuhan partisipan setelah seksio sesarea atas indikasi preeeklampsia berat yaitu, perawatan postpartum, perawatan bayi baru lahir normal, informasi akan jenis obat yang diberikan, dan informasi tentang kehamilan berikutnya.
a. Perawatan Post Partum
Dua dari enam partisipan mengatakan membutuhkan perawatan post partum. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“belom tau cara ngerawat siap operasi melahirkan, karena ini juga kan baru pertama kali, kalo disini kan ada yang ngerawat, nah kalo dirumah ya palingan mamak lah sama suami..”
(Partisipan 5)
“merawat perut ini lah yang macemana, tapi katanya suruh kemari 3 hari lagi.. kalo udah pulang buat ganti perban, karena kan gak ngerti juga merawat ini lukanya.. ”
(Partisipan 6) b. Perawatan Bayi Baru Lahir
Tiga dari enam partisipan mengatakan membutuhkan perawatan bayi baru lahir. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“masih pertama, megangnya ajja pun masih takut, masih kecil jadi masih perlu dirawat dulu sama suster-susternya..”
“gantiin bajunya macemana, mandikannya macemana, ya butuh perawatan buat si dedek ajja lah gimana..”
(Partisipan 2)
“berat nya kurang jadi harus diinkubator “
(Partisipan 4)
c. Informasi Akan Jenis Obat Yang Di berikan
Dua dari enam partisipan mengatakan membutuhkan informasi akan jenis obat yang diberikan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“banyak obatnya, tapi gak tau buat apa aja, apa harus sebanyak itu yaaa..”
(Partisipan 3)
“disuntik bokongnya kanan kiri, sakit banget, katanya sih buat nurunkan tensi, tapi kan operasi bukan normal, kenapa mesti diturunkan tensinya, ”
(Partisipan 5)
d. Informasi Tentang Kehamilan Berikutnya
Tiga dari enam partisipan mengatakan butuh informasi tentang kehamilan berikutnya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“kira-kira kehamilan berikutnya bisa kenak juga gak ya, kalo bisa jangan lah..”
(Partisipan 4)
“masih takut hamil, trauma kali lah..”
“udah cukup lah segini aja, sakit kali, ampun lah, gak tau giman kalo hamil lagi kayak gini lagi..”
(Partisipan 6)