HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pengamatan Hifa Perangkap Jamur Asal Danau Toba
Pengamatan hifa perangkap jamur dilakukan pada isolat jamur yang memiliki jumlah nematoda terendah pada uji in vitro yaitu isolat ke 29 dan isolat ke 30. Kedua isolat jamur lalu disubkultur pada media CHF-WA dan diberi nematoda M. hapla sebagai umpan. Pengamatan pada tahap ini dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x untuk melihat apakah kedua isolat jamur tersebut menghasilkan hifa perangkap dalam membunuh M. hapla. Pengamatan dilakukan setiap hari setelah nematoda di tuang pada masing-masing isolat jamur. Pada hari ke lima pengamatan ditemukan bahwa terdapat nematoda yang terjebak pada hifa jamur isolat 29 maupun 30. Namun, saat diamati lebih lanjut, hifa pada isolat jamur 29 memiliki bentuk khusus yang mengikat tumbuh nematoda sedangkan hifa jamur isolat 30 tidak memiliki hifa berbentuk khusus yang mengikat nematoda. Nematoda M. hapla yang terjebak pada hifa jamur isolat 29 dan 30 dapat diamati pada Gambar 4.2 di bawah ini.
Gambar 4.2. Nematoda terperangkap pada hifa jamur jamur asal danau Toba.
(A). Isolat jamur 29; (B). Isolat jamur 30
Pada Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa isolat jamur 29 memiliki bentuk hifa yang menonjol yang memerangkap nematoda sedangkan isolat 30 tidak memilik bentuk yang khusus. Tubuh nematoda yang terperangkap pada jamur 29 terlihat seperti diikat oleh hifa jamur sedangkan nematoda yang terperangkap pada jamur 30 hanya menempel pada hifa tanpa ada hifa khusus yang melilit untuk mengikat nematoda tersebut. Setelah dilakukan pengamatan lebih lanjut terhadap nematoda yang terjebak pada isolat 29, maka ditemukan bahwa bentuk hifa yang memerangkap nematoda tersebut melingkar dan membentuk cincin. Perangkap pada jamur isolat 29 dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Hifa perangkap jamur isolat 29
Pada Gambar 4.3 dapat dilihat bahwa perangkap yang berbentuk cincin tersebut berhasil mengikat tubuh nematoda dan nematoda yang terperangkap tidak bisa melepaskan diri hingga akhirnya mati. bentuk cincin tersebut sama seperti bentuk cincin kontraksi yang telah disebutkan oleh Yulianti (2014). Perangkap cincin ini memerangkap nematoda dengan cara berkontraksi saat nematoda memasuki cincin tersebut. Kontraksi ini akan membuat cincin tersebut menyempit sehingga nematoda akan terikat pada hifa tersebut dan terperangkap. Perangkap hifa yang dihasilkan oleh jamur tersebut merupakan respon jamur terhadap kehadiran nematoda. Ulzurrun dan Yen (2018) menyebutkan bahwa senyawa yang diekskresikan nematoda dapat merangsang pembentukan hifa perangkap. Selain itu, sentuhan langsung nematoda pada hifa juga dapat merangsang pertumbuhan hifa perangkap. Saat jamur menyadari kehadiran nematoda, maka hifa jamur akan mengeluarkan senyawa feromon untuk menarik nematoda mendekat ke hifa. Berbeda dengan hifa jamur nematophagus, hifa perangkap yang dihasilkan jamur JPN mengeluarkan senyawa feromon yang dapat menarik lebih banyak nematoda untuk mendekat ke hifa. Pada jamur isolat 30, tidak terlihat adanya perangkap khusus yang dihasilkan melainkan nematoda yang terperangkap hanya menempel pada hifa jamur. Oleh karena itu, dapat di simpulkan bahwa jamur isolat 30 adalah jamur kelompok nematophagus tanpa perangkap khusus.
Perangkap jamur isolat 30 dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4 Hifa perangkap pada jamur isolat 30
Pada isolat jamur 30 tidak terlihat perangkap khusus yang terbentuk saat nematoda terperangkap. Hal ini menunjukkan bahwa isolat 30 bukan merupakan jamur pemerangkap yang dapat menciptakan perangkap khusus dalam menangkap dan membunuh nematoda melainkan tergolong jamur nematofagus yang dapat menjebak nematoda dengan hifa perekat tanpa menggunakan perangkap khusus.
Isolat jamur 29 dan 30 memiliki kemampuan yang sama yaitu dapat membunuh nematoda namun keduanya juga memiliki perbedaan yaitu dalam masa tumbuh dan kecepatan dalam membunuh nematoda. Untuk jamur isolat 29, pertumbuhan jamur lebih lambat dari jamur 30. Jamur isolat 29 membutuhkan waktu dua minggu untuk tumbuh memenuhi seluruh media PDA sedangkan isolat jamur 30 hanya membutuhkan waktu 3- 7 hari untuk tumbuh memenuhi seluruh media PDA. Namun saat pengujian in vitro, jamur isolat 29 lebih cepat dalam membunuh nematoda yang dituang pada media CHF-WA yang membutuhkan waktu dua minggu untuk membunuh semua populasi nematoda pada media CHF-WA sedangkan J2 membutuhkan waktu hampir satu bulan untuk membunuh seluruh populasi nematoda pada media CHF-WA.
Adanya penurunan jumlah nematoda yang lebih tinggi pada petri J1 menunjukkan bahwa hifa jamur JPN memiliki kemampuan dalam menarik nematoda lebih banyak dibandingkan dengan jamur nematophagus dan hal tersebut sejalan dengan pernyataan Hsueh et al, (2017) yang menyatakan bahwa hifa perangkap pada jamur JPN dapat menangkap nematoda lebih banyak karena hifa perangkap dapat menghasilkan senyawa volatil yang memberikan isyarat makanan bagi nematoda dan 3 metil 2 butanon yang ditangkap sebagai feromon untuk perkawinan sehingga nematoda tertarik untuk mendekati hifa perangkap. Selanjutnya, kedua jamur tersebut disubkultur ke media PDA untuk uji bioassay terhadap tanaman tomat untuk melihat apakah kemampuan kedua jamur tersebut dalam mengurangi populasi nematoda secara in vitro juga efektif pada infeksi M. hapla pada tanaman tomat.
Sebelumnya diketahui bahwa pertumbuhan jamur isolat J1 cenderung lambat.
Pertumbuhan yang lambat ini akan mempengaruhi kinerja jamur saat perlakuan bioassay. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan dedak padi sebagai inokulan setelah jamur disubkultur pada media PDA karena dedak padi mengandung karbohidrat,
protein, lemak, mineral dan vitamin seperti tiamin yang dapat berfungsi sebagai ko-enzim yang dapat mempercepat penyebaran miselium (Setiadi et al., 2015). Menurut Gusnawati et al, (2017) penggunaan dedak padi sebagai inokulan jamur dapat meningkatkan pertumbuhan jamur hingga 100% dalam empat hari. Penambahan pupuk kompos juga memberikan pengaruh yang besar untuk pertumbuhan jamur sebagai sumber makanan. Hasari et al, (2018) menyebutkan penambahan kompos dengan dedak padi dapat meningkatkan pertumbuhan jamur karena keduanya merupakan sumber Nitrogen dan Karbon yang dibutuhkan untk pertumbuhan dan perbanyakan jamur.
Penggunaan kompos dengan dedak padi sebagai inokulan jamur diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan miselia jamur J1 yang cenderung lambat.
4.3. UJi Bioasaay JPN Asal Danau Toba terhadap Infeksi Meloidogyne hapla