Verifikasi &SK
3.2. Pengambilan Sampel
Tim Evaluasi mendapatkan data tentang kontak masing-masing RSBI dan data status untuk SD, SMP, SMA, dan SMK.16 dari Direktorat di Kemendikbud. Dari data ini, Tim menemukan jumlah total RSBI sebanyak 1.339 sekolah untuki semua jenis/jenjang.
Sampel Survei Cepat
Sebuah Survai Cepat terhadap 1.339 sekolah RSBI dilakukan untuk mengkonfirmasi data Kemdikbud dan mengumpulkan data kuantitatif tentang beberapa aspek pemenuhan persyaratan sebagai RSBI. Tim Survei Cepat ‘hanya’ berhasil menghubungi 64% (n=854) dari total 1.339 RSBI yang ada dala Kemdikbud, terutama karena kurang akuratnya data Kemdikbud dan kesulitan Tim dalam mendapatkan informasi kontak sekolah dari Dinas Pendidikan kota/kabupaten. Distribusi responden Survai Cepat yang berhasil dihubungi dapat dilihat dalam Tabel 4 berikut ini:
15 Lihat Creswell (2005), 2nd Ed. 16 Tidak ada Sekolah Madrasah RSBI.
Bab 3 Metodologi
Jenis Sekolah Jumlah (n)
SD 154
SMP 254
SMA 224
SMK 222
TOTAL 854
Tabel 4– Responden Survei Cepat
Sampel Survei Lapangan
Untuk mengidentifikasi sampel studi lapangan, metode stratified random sampling diterapkan terhadap 254 kota/kabupaten yang memiliki lebih dari dua (> 2) RSBI, dikelompokkan berdasarkan Kota Besar, Kota Kecil, dan Kabupaten17. Ada 3 alasan untuk menerapkan pendekatan ini, yakni: 1) karena sebagian besar sekolah RSBI berada di daerah perkotaan Jawa, sehingga jika sampling random diterapkan pada 1.339 sekolah akan terjadi bias terhadap sampel di daerah perkotaan Jawa, 2) memilih populasi dari kota/kabupaten dengan lebih dari dua sekolah meningkatkan kemungkinan memilih kabupaten yang lebih awal mendirikansekolah RSBI, memberikan sampel yang lebih representatif untuk memungkinkan generalisasi lebih dapat dipercaya tentang interpretasi kebijakan, pelaksanaan program, dan sistem monitoring, 3) stratifikasi melaluiukuran populasi memungkinkan analisis komparatif dalam sosial-ekonomi masyarakat, dan faktor implementasi yang terkait dengan ukuran populasi.
Gambar 5 di bawah ini merangkum metode sampling dalam studi lapangan. Prosedur rinci sampling dengan rincian lokasi dan jenis disajikan di Lampiran 12. Daftar sekolah sampel yang diperoleh disajikan di Lampiran 7. 254 Kota/Kab. dengan> 2 RSBI 15 74 165 (2) Kota Besar (8) Kota Kecil (14) Kabupaten Kota besar Kota kecil Kabupaten
Stratified random sampling terhadap 254 Kota/kabupaten dengan > 2 RSBI, total 918 sekolah, dengan rata-rata 3,6 sekolah/kab. Sampel yang diinginkan 80 sekolah ≈ 23 Kota / Kab. (dibulatkan)
Proportional sampel di 23 Kota/Kab. dalam rasio. Hasil dibulatkan Jumlah RSBI dalam kategori strata yang
disampel (38) (49) (55) = 142 RSBI
Pengurangan secara proportional dari 142 sekolah menjadi 80 sekolah
Bab 3 Metodologi
18 Sampel final=79 sekolah: 70 RSBI; 9 non-RSBI
NEGERI SWASTA TOTAL RSBI TOTAL
NON-RSBI TOTAL SAMPEL
SD 11[1] 6[2] 17 3 20
SMP 12[1] 3[1] 15 2 17
SMA 15[2] 5[0] 20 2 22
SMK 18[2] 0[0] 18 2 20
TOTAL 56 14 70 9 7918
Tabel 5– Distribusi Sampel berdasarkan Tipe Sekolah
Distribusi sekolah yang menjadi sampel Studi Lapangan dapat dilihat dalam Tabel 4, dengan sekolah non-RSBI sebagai pembandingan [dalam kurung]:
Strata Sosial-Ekonomi dalam Sampel
Seperti disebutkan di atas, sampel studi lapangan pertama dikelompokkan berdasarkan jumlah penduduk. Sekolah berada antara di Kota atau Kabupaten. Dengan membandingkan strata (1 = Kota Besar, 2 = Kota Kecil, 3 = Kabupaten) dengan produk bruto per kapita, ada korelasi dengan penurunan masing-masing pendapatan. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa strata yang dibuat dalam studi ini mewakili tingkat pendapatan yang berbeda, sehingga mendukung klaim terkait hasil penelitian. Kota Tangerang dan Kota Tarakan tidak cocok dengan korelasi tersebut. Kemungkinan hal itu terjadi karena Kota Tangerang adalah kota baru yang mungkin belum mengembangkan basis ekonomi, sedangkan produk bruto Kota Tarakan kemungkinan sangat dipengaruhi oleh industri minyak dan gas di kota tersebut.
No FIELD SAMPLE LOCATION Strata POPULATION 2010 GROSS PRODUCT 2010 (000,000)
GROSS PRODUCT PER CAPITA (000,000)
1 Kota Tangerang Selatan (new) 1 1,290,322 5,378,417 4.17
2 Kota Bandung 1 2,536,649 31,697,282 12.50
3 Kota Jakarta Selatan 1 1,894,236 88,687,180 46.82
4 Kota Semarang 1 1,527,433 21,180,000 13.87 5 Kota Makasar 1 1,339,374 16,282,481 12.16 6 Kota Palembang 1 1,538,938 18,053,204 11.73 7 Kota Sukabumi 2 287,443 1,920,727 6.68 8 Kota Salatiga 2 170,352 1,849,275 10.86 9 Kota Tomohon 2 91,553 663,557 7.25 10 Kota Malang 2 820,243 14,044,625 17.12 11 Kota Yogyakarta 2 388,627 5,244,851 13.50
12 Kota Tarakan (Oil & Gas City) 3 239,787 11,804,015 49.23
13 Kabupaten Sukabumi 3 2,341,409 8,641,734 3.69 14 Kabupaten Pekalongan 3 838,621 7,226,000 8.62 15 Kabupaten Semarang 3 983,000 5,560,000 5.66 16 Kabupaten Wonosobo 3 795,000 1,888,808 2.38 17 Kabupaten Lamongan 3 1,179,770 5,880,536 4.98 18 Kabupaten Malang 3 2,443,604 14,537,635 5.95 19 Kabupaten Trenggalek 3 674,411 3,066,326 4.55 20 Kabupaten Sleman 3 1,093,110 6,373,200 5.83
21 Kabupaten Kulon Progo 3 384,921 1,828,304 4.75
22 Kabupaten Pinrang 3 353,367 2,532,000 7.17
23 Kabupaten Sumbawa 3 415,789 1,720,935 4.14
24 Kabupaten Aceh Barat 3 173,558 1,265,376 7.29
Bab 3 Metodologi
Tabel 7 - Rata-rata PDB Menurut Strata
Strata Rata-rata GDP Rata-rata PDB tanpa Tangerang & Tarakan
Kota Besar 16.87 19.41
Kota Kecil 11.08 11.08
Pedesaan 8.79 5.42
Sekolah Pembanding
Sekolah non-RSBI sebagai sekolah pembanding dipilih melalui non-probability sampling. Metode sampling ini diterapkan untuk memilih sekolah dengan reputasi yang baik dalam komunitas yang sama dengan sekolah-sekolah (RSBI) yang diteliti. Hal ini memungkinkan untuk menjadikan sekolah pembanding sebagai sekolah “baseline/acuan” yang mungkin memiliki kualitas yang sama dengan sekolah RSBI yang diteliti. Sekolah-sekolah pembanding dipilih darikota/kabupaten sampel penelitian. Lampiran 7 memuat daftar sekolah studi, lokasi, jenis dan distribusinya.
Data untuk Studi
Data mengenai RSBI diterima dari Kemdikbud. File data yang ada tersebut tersedia untuk masing-masing jenis/jenjang (SD, SMP, SMA, dan SMK), digunakan sebagai sumber data untuk Survei Cepat dan untuk Studi Lapangan. Direktorat di Kemenagdikunjungi untuk memperoleh file data RSBI, tetapi ditemukan bahwa tidak ada sekolah madrasah yang mengikuti kebijakan SBI19. Hasil pemetaan berdasarkan data disajikan dalam Bab 5.
Sumber informasi penting lain diperoleh dari berbagai dokumen review dokumen. Dokumen-dokumen ini termasuk undang-undang, kebijakan dan peraturan, keputusan menteri, artikel penelitian yang dipublikasikan, artikel surat kabar, laporan donor, dll. Daftar lengkap dokumen yang dikonsultasikan disajikan di Lampiran 8.
Data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan dari kuesioner survei melalui SurveiCepat dan Studi Lapangan. Data dikumpulkan dari para pemangku kepentingan dan praktisi, pejabat pendidikan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kepala sekolah, guru, murid, komite sekolah, dll.
Tipe Data
Data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan dalam rangka untuk mengevaluasi SBI. Tabel 8 di bawah ini merangkum jenis data, sumber data, metode pengumpulan, dan lokasi. Pembahasan rinci desain evaluasi ada dalam Lampiran 5:
Manajemen Data
Tiga kegiatan evaluasi terdiri dari: 1) Survei Cepat; 2) Studi Lapangan, dan 3) Wawancara Stakeholder. Untuk
survei cepat, empat petugas dipekerjakan di kantor proyek untuk melakukan survei melalui telepon/ fax/ email kepadasemua RSBI. Untuk studi lapanganan, tujuh tim yang terdiri dari satu peneliti dan satu enumerator direkrut, dilatih, dan dikirim ke lokasi studi untuk mensurvei sekolah dan Dinas Pendidikan Kota/ Kabupaten. Tim Evaluasi (Ahli Pendidikan, Ahli Keuangan Pendidikan dan Ahli Analisis Data) mengunjungi Dinas Pendidikan Provinsi untuk wawancara dengan pemangku kepentingan, serta mengawasi tim studi Lapangan di lapangan. Informasi kuantitatif dan transkrip wawancara yang ditulis ke dalam kuesioner yang telah disiapkan. Kuesioner sudah lengkap dikirim ke kantor TIA untuk dikelola dan disimpan.
Bab 3 Metodologi
Jenis Data Sumber Metode Lokasi
Kuantitatif
1 Informasi faktual
Dokumen publik, catatan sekolah dan pemerintah
Survei dengan kuisioner
Pusat: survey viatelepon/fax/email;
kunjungan lapangan ke kantor pemerintah dan sekolah
2 Pengamatan
perilaku individu Ceklist perilaku
Pengamatan
langsung Kelas
3 Test kinerja Catatan sekolah Survei dengan kuisioner
Survei dengan telepon; kunjungan
lapangan ke sekolah
Kualitatif
4 Catatan dan laporan lapangan Tim Evaluasi; Tim Study
lapangan
Pengamatan
langsung Kunjungan ke sekolah
5 Struktur transkrip, wawancara terbuka Pemangku kepentingan pendidikan pemerintah dan tingkat sekolah
Wawancara tatap muka oleh Tim Evaluasi dan Tim
study lapangan
Kunjungan kantor Pemerintah
Pusat; Kunjungan lapangan ke
Dinas kota/kabupaten
6 Foto Tim evaluasi Kunjungan lapangan
Tabel 8–Ringkasan Jenis dan Sumber Data
Manajemen Data
Tiga kegiatan evaluasi terdiri dari: 1) Survei Cepat; 2) Studi Lapangan, dan 3) Wawancara Stakeholder.
Untuk survei cepat, empat petugas dipekerjakan di kantor proyek untuk melakukan survei melalui telepon/fax/ email kepadas emua RSBI. Untuk studi lapanganan, tujuh tim yang terdiri dari satu peneliti dan satu enumerator direkrut, dilatih, dan dikirim ke lokasi studi untuk mensurvei sekolah dan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten. Tim Evaluasi (Ahli Pendidikan, Ahli Keuangan Pendidikan dan Ahli Analisis Data) mengunjungi Dinas Pendidikan Provinsi untuk wawancara dengan pemangku kepentingan, serta mengawasi tim studi Lapangan di lapangan. Informasi kuantitatif dan transkrip wawancara yang ditulis ke dalam kuesioner yang telah disiapkan. Kuesioner sudah lengkap dikirim ke kantor TIA untuk dikelola dan disimpan.
File entri data disiapkan oleh Ahli Analis Data dan Ketua Tim. Entri data dilakukan oleh tim sesuai aktivitas masing-masing. Koding untuk data kualitatif dilakukan oleh tim studi lapangan di bawah pengawasan Tim Evaluasi. Data digabung dan ditabulasi oleh Ahli Analisis Data dan Ketua Tim.
Analisis Data
Analisis data dilakukan oleh Tim Evaluasi dan Direktur Teknis Proyek TIA. Lihat bagian bawah untuk temuan dan analisis rinci.