HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian
6. Pengaruh EVA terhadap TVA pada perusahaan LQ45
Berdasarkan hasil evaluasi atau pengujian hipotesis yang menguji pengaruh variabel EVA terhadap variabel TVA berpengaruh positif sebesar 0,113 dan tidak signifikan dengan T-statistik 0,998 < T-tabel 1,67 dan P-value 0,159 > alpha 0,05.
Hasil penelitian variabel EVA berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel TVA sehingga hasil penelitian ditolak.
Hasil penelitian tidak sejalan dengan penelitian Akseptori, Yuniati, Kurniasari (2018)berpengaruh negatif dan signifikan karena perbedaan periode, nilai EVA dan jumlah sampel yang digunakan. EVA tidak signifikan berarti besarnya tingkat EVA perusahaan tidak selalu naik dari tahun ke tahun ditiap perusahaan yang digunakan oleh investor untuk memperoyeksikan harga saham kedepannya, sehingga dalam hal ini perusahaan belum berhasil memberikan tolak ukur seberapa jauh perusahaan dapat memberikan nilai tambah ekonomi kepada pemegang saham dalam suatu tahun atau periode tertentu. EVA > 0, berarti nilai EVA positif yang menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan, EVA = 0 menunjukkan posisi impas atas break event point dan EVA negatif menunjukkan tidak terjadi proses nilai tambah.
EVA berpengaruh positif terhadap TVA dapat dilihat dari data analisis keuangan. Data analisis keuangan dapat dilihat perusahaan Pt. Astro Agro Lestari Tbk. (AALI) profitabilitas pada tahun 2012 sebesar -5,026,464; tahun 2013 sebesar -7,296,997 dan tahun 2014 sebesar -2,767,852, serta TVA pada tahun 2012 sebesar 0.2686; tahun 2013 sebesar 0.0182; dan tahun 2014 sebesar 0.0172.
EVA berpengaruh positif terhadap TVA dapat dilihat pada data analisis keuangan karena pada saat nilai EVA meningkat maka nilai TVA juga mengalami peningkatan, serta sebaliknya pada saat EVA mengalami penurunan maka TVA juga mengalami penurunan.
Ketika EVA mengalami peningkatan nilai pada suatu perusahaan yang terdapat di LQ45, maka terjadi aktivitas pembelian saham dipasar modal.
Sebaliknya ketika EVA mengalami penurunaan di suatu perusahaan yang terdapaat di LQ45, maka terjadi aktivitas penjualan saham di pasar modal.
EVA memberikan tolak ukur yang baik tentang apakah perusahaan telah memberikan nilai tambah atau pengembalian kas bersih atas modal kepada pemegang saham dan menjadi faktor perhatian investor, sehingga ini membantu para investor untuk mengidentifikasi saham yang akan dibeli di pasar modal.
Korelasi yang terjadi antara nilai EVA dan investor dapat meningkatkan harga saham karena banyaknya atau semakin berminatnya investor untuk berinvestasi pada perusahaan yang memiliki nilai EVA yang tinggi. Dengan profit yang tinggi para investor akan tertarik untuk membeli saham pada perusahaan tersebut dengan ekspektasi apabila profit perusahaan tinggi maka investor akan mendapatkan keuntungan yang tinggi pula.
EVA merupakan pendekatan alternative sebagai ukuran profit yang dapat mengukur kinerja manajerial dalam suatu periode tertentu. EVA menberikan tolak ukur seberapa jauh perusahaan telah memberikan nilai tambah kepada pemegang saham dalam suatu tahun atau periode tertentu. EVA bernilai positif jika pengembalian yang dihasilkan lebih tinggi daripada tingkat pengembalian yang diinginkan investor. Sedangkan EVA bernilai negatif menandakan bahwa nilai perusahaan berkurang sehingga tingkat pengembalian yang dihasilkan lebih rendah daripada tingkat pengembalian yang dituntut oleh investor, yang berarti perusahaan tidak berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal.
Metode EVA pertama kali dikembangkan pada tahun 1989 oleh Joel Stem dan Bennett Stewart yang merupakan pendiri perusahaan konsultan Sten Stewart
& Company sebagai alat ukur kinerja keuangan dan pasar untuk mengatasi kelemahan metode akuntansi tradisional atau rasio keuangan sebelumnya. Model EVA menawarkan parameter yang cukup objektif karena berangkat dari konsep cost of capital yaitu mengurangi laba dengan beban biaya modal, dimana biaya modal ini menunjukkan tingkat kompensasi atau pengembalian yang diharapkan oleh investor atas sejumlah investasi yang ditanamkan di perusahaan, dimana rasio keuangan tidak mempertimbangkan jumlah modal yang telah diinvestasikan oleh investor atau pemegang saham.
EVA dalam praktiknya berfungsi sebagai penghubung antara pengukuran kinerja dan penilaian pasar modal, membantu memastikan bahwa kinerja manajemen dinilai dan diberikan imbalan dengan cara yang konsisten dengan teori keuangan yang dapat dipercaya serta menilai atau investasi dengan
mengidentifikasikan penciptaan nilai yang dihasilkan investasi tersebut. EVA sebagai model untuk mengukur kinerja perusahaan menjadi penting karena didalam EVA adanya pengurangan-pengurangan biaya dalam perhitungannya seperti nilai ekuitas, sehingga dengan EVA dapat dilihat bagaimana kemampuan suatu perusahaan dari sudut kinerjanya setelah ada pengurangan biaya tersebut.
Dengan EVA adanya nilai tambah ekonomi dan nilai tambah pasar menjadi relevan untuk mengukur kinerja berdasarkan nilai tambah ekonomikarena nilai tambah ekonomi yang dihasilkan perusahaan sebagai akibat dari aktivitas atau strategi manajemen. Nilai tambah ekonomi dapat menjadikan alasan kemampuan perusahaan untuk dapat memberikan suatu nilai tambah bagi pemiliknya dan juga dapat tercerminkan bagaimana keberhasilan manajemen untuk dapat menghasilkan niali dari seluruh modal yang ditanamkan.
Hasil perhitungan EVA menunjukkan bahwa laba bersih sesudah dikuragi pajak lebih tinggi dari pada biaya modal yang dikeluarkan. Oleh karenanya EVA merupakan selisih laba operasi setelah pajak (Net Operating Profit After Tax/NOPAT) dengan biaya modal (cost of capital). Perusahaan yang memiliki nilai EVA cenderung tinggi dapat lebih menarik investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut, karena semakin tinggi nilai EVA maka menunjukkan keberhasilan manajemen perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi perusahaan. Asumsinya adalah bahwa manajemen baik atau efektif maka akan tercermin pada peningkatan harga saham perusahaan.
Nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya. Harga dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi
disebut nilai pasar perusahaan, karena harga saham dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keingginan pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham yang tinggi. Kebanyakan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari harga pasar dan saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, karena harga saham menunjukkan nilai atau kinerja perusahaan maka setelah mengetahui kinerja perusahaan yang dinilai dengan EVA, pasar akan merespon dengan memprediksi prospek masa depan saham perusahaan tersebut. Jika kinerja perusahaan baik maka investor berharap dimasa yang akan datang perusahaan tersebut memiliki prospek yang cerah sehingga permintaan akan saham meningkat dan harga saham naik.
Dengan demikian penelitian ini tidak mampu membuktikan hipotesis kenam bahwa pengelolaan EVA berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap TVA pada perusahaan LQ45.