BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.2 Hubungan Antar Variabel
3.2.6 Pengaruh Exposure (Pengungkapan) Terhadap
Variabel Exposure/ Pengungkapan, kasus yang sudah terungkap seharusnya tidak hanya diungkap tetapi didalami lebih luas yaitu dari sisi penegakan hukum/ law enforcement secara konsisten. Seorang koruptor harus dihukum sesuai kesalahnnya sehingga memberikan efek jera bagi yang lain. Tidak boleh ada tindakan main-main oleh penegak hukum terutama Hakim yang memimpin jalannya sidang karena selama ini diketahui ada beberapa oknum penegak hukum yang masih bisa disuap yang menandakan bahwa proses hukum dapat dipermainkan sehingga menimbulkan deterrence effect yang minim.
Hasil penelitian Isgiyata, Indayani & Budiyoni (2018) menunjukkan variabel Exposure /pengungkapan berpengaruh secara positif terhadap perilaku fraud pada pengadaan barang/jasa pemerintah. Dan hasil penelitian Anfas, Mahdi, dan Umasugi (2018) dilingkungan Universitas menyebutkan bahwa variabel exposure / pengungkapan berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecurangan akademik.
H6 : Exposure / Pengungkapan berpengaruh positif terhadap Fraud / kecurangan.
3.2. Hipotesis Penelitian
Menurut Sugiyono (2014) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori. Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Berdasarkan rumusan masalah, tinjauan pustaka dan kerangka konseptual, diajukan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Tekanan (Pressure) berpengaruh positif terhadap Fraud / kecurangan yang terjadi pada perusahaan farmasi di Provinsi Sumatera Utara.
H2 : Kesempatan (Opportunity) berpengaruh positif terhadap Fraud / kecurangan yang terjadi pada perusahaan farmasi di Provinsi Sumatera Utara.
H3 : Rasionalisasi (Rationalization) berpengaruh positif terhadap Fraud / kecurangan yang terjadi pada perusahaan farmasi di Provinsi Sumatera Utara.
H4 : Kemampuan (Capability) berpengaruh positif terhadap Fraud / kecurangan yang terjadi pada perusahaan farmasi di Provinsi Sumatera Utara.
H5 : Keserakahan (Greed) berpengaruh positif terhadap Fraud / kecurangan yang terjadi pada perusahaan farmasi di Provinsi Sumatera Utara.
H6 : Pengungkapan (Exposure) berpengaruh positif terhadap Fraud / kecurangan
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang dilakukan untuk menggabungkan antara dua variabel dan mengetahui pengaruh antara variabel satu dengan yang lainnya (Sugiyono, 2008). Penelitian ini menggunakan desain penelitian \ eksplanatori yang bertujuan untuk menguji suatu teori atau hipotesis guna memperkuat atau bahkan menolak teori atau hipotesis hasil penelitian yang sudah ada. Penelitian eksplanatori bersifat mendasar dan bertujuan untuk memperoleh keterangan, informasi, data mengenai hal-hal yang belum diketahui.
4.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan pada tiga perusahaan farmasi di Provinsi Sumatera Utara, yaitu:
1. PT. Kimia Farma Trading & Distribution Cabang Medan
2. PT. Indofarma Global Medika Cabang Medan 3. Rajawali Nusindo Cabang Medan
Tiga perusahaan di atas adalah perusahaan BUMN atau plat merah yang sudah sering menjadi pelaksana pengadaan barang dan jasa (pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan) di instansi pemerintah seperti Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sebagaimana maksud dalam penelitian ini.
35
4.3 Populasi dan Sampel
Sugiyono (2008) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh steakholder pada perusahan farmasi dan obat-obatan di Sumatera Utara. Teknik yang digunakan dalam penarikan sampel adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling karena teknik tersebut digunakan untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representatif (Sugiyono, 2010). Maka dari itu, dalam penelitian ini, peneliti memberikan beberapa kriteria pada populasi yang ada sehingga didapatkan sampel yang representatif.
Adapun kriteria yang peneliti berikan, yaitu:
1. Divisi yang berkaitan dengan proses penjualan dan pengadaan barang dan jasa;
2. Individu yang memiliki otorisasi atas proses pengadaan barang dan jasa di RSUD dan Dinas Kesehatan;
3. Individu yang masa kerjanya di atas dua tahun karena dianggap lebih memahami tentang entitas bisnis.
Sehingga dari hasil pengkategorian tersebut diperoleh sampel berjumlah 61 responden.
4.4 Teknik Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan adalah data primer, yaitu merupakan data yang langsung diperoleh dari sumbernya. Instrumen pengumpulan data yang penulis gunakan adalah kuesioner (angket). Kuesioner merupakan tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara member seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan tekhnik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu
dengan pasti variable yang akan diukur dan nilai apa yang diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/ pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet (Sugiyono, 2010).
Skala yang digunakan adalah skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel.
Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono, 2008). Tingkat skala Likert dengan bentuk checklist, dimana setiap setiap pernyataan mempunyai lima (5) opsi sebagai berikut:
Tabel 4.1 Skala Likert
PERNYATAAN BOBOT
Sangat Setuju ( SS) 5
Setuju ( S ) 4
Kurang Setuju ( KS ) 3
Tidak Setuju ( TS ) 2
Sangat Tidak Setuju ( STS ) 1
4.5 Definisi Operasional Penelitian
Definisi operasional variabel adalah pengertian variabel (yang diungkap dalam definisi konsep) tersebut, secara operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Definisi variabel menjelaskan pengertian konsep dari masing-masing variabel dan hubungan antara variabel independen dan dependennya (Safitri, 2016).
Sedangkan dalam penelitian ini, variabel yang digunakan yakni ada enam variabel dependen dan satu variabel independen.
4.5.1 Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang menjadi perhatian utama dalam sebuah pengamatan. Variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen (Sugiyono, 2015). Variabel dependen penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Fraud / Kecurangan
Secara harfiah fraud didefinisikan sebagai kecurangan, namun pengertian ini telah dikembangkan lebih lanjut sehingga mempunyai cakupan yang luas. Black’s Law Dictionary menguraikan pengertian fraud mencakup segala macam yang dapat dipikirkan manusia dan yang diupayakan oleh seseorang, untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain dengan cara yang salah atau pemaksaan kebenaran dan mencakup semua cara yang tidak terduga, penuh siasat, licik, tersembunyi, dan setiap cara yang tidak jujur yang menyebabkan orang lain tertipu. Sedangkan dalam Arens (2008:430) kecurangan didefinisikan sebagai Setiap upaya penipuan yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengambil harta atau hak orang atau pihak lain.
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) mendefinisikan kecurangan (fraud) sebagai tindakan penipuan atau kekeliruan yang dibuat oleh seseorang atau badan yang mengetahui bahwa kekeliruan tersebut dapat mengakibatkan beberapa manfaat yang tidak baik kepada individu atau pihak lain. ACFE mengklasifikasikan kecurangan (fraud) dalam beberapa klasifikasi dan dikenal dengan istilah “Fraud Tree” yaitu sistem klasifikasi mengenai hal-hal yang ditimbulkan oleh kecurangan yang sama (uniform occuptional fraud classification system) membagi fraud menjadi 3 jenis sebagai berikut :
1) Penyimpangan atas asset (Asset Missappropriation) 2) Pernyataan Palsu (Fraudulent Statement)
3) Korupsi (Corruption) 4.5.2 Variabel Independen
Variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai hubungan yang positif maupun negatif bagi variabel dependen lainnya (Sugiyono, 2015).
Variabel independen penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Tekanan / Pressure
Pressure (tekanan), yaitu adanya tekanan kebutuhan untuk melakukan fraud.
Tekanan dapat mencakup hampir semua hal termasuk gaya hidup, tuntutan ekonomi, dan lain-lain termasuk hal keuangan dan non keuangan serta lingkungan pekerjaan.
Menurut SAS No. 99, terdapat empat jenis kondisi yang umum terjadi pada pressure yang dapat mengakibatkan kecurangan. Yaitu financial stability, external pressure, personal financial need, dan financial targets
2. Kesempatan / Opportunity
Yaitu situasi yang membuka kesempatan untuk memungkinkan suatu kecurangan terjadi. Biasanya terjadi karena pengendalian internal entitas bisnis yang lemah, kurangnya pengawasan dan penyalahgunaan wewenang. Diantara elemen fraud yang lain, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan upaya deteksi dini terhadap fraud.
3. Rasionalisasi / Raztionalization
Yaitu adanya sikap, karakter, atau serangkaian nilai-nilai etis yang membolehkan pihak-pihak tertentu untuk melakukan tindakan kecurangan, atau orang orang yang berada dalam lingkungan yang cukup menekan yang membuat mereka merasionalisasi tindakan fraud. Rasionalisasi atau sikap (attitude) yang paling banyak digunakan adalah hanya meminjam (borrowing) aset yang dicuri dan alasan bahwa
tindakannya untuk Membahagiakan orang-orang yang dicintainya (Rini, 2012).
Albretch et al. (2011) mengungkapkan rasionalisasi yang dilakukan oleh pelaku berupa asumsi dari diri pelaku bahwa entitas bisnis berhutang atas kinerjanya dan tindakan yang dilakukannya semata-mata untuk membahagiakan orang banyak.
4. Kemampuan / Capability
Wolfe dan Hermanson (2004) menjelaskan sifat-sifat terkait elemen capability yang sangat penting dalam pribadi pelaku kecurangan, yaitu:
a. Positioning,
Posisi seseorang atau fungsi dalam organisasi dapat memberikan kemampuan untuk membuat atau memanfaatkan kesempatan untuk penipuan.Seseorang dalam posisi otoritas memiliki pengaruh lebih besar atas situasi tertentu atau lingkungan.
b. Intelligence and creativity
Pelaku kecurangan ini memiliki pemahaman yang cukup dan mengeksploitasi kelemahan pengendalian internal dan untuk menggunakan posisi, fungsi, atau akses berwenang untuk keuntungan terbesar.
c. Convidence / Ego
Individu harus memiliki ego yang kuat dan keyakinan yang besar dia tidak akan terdeteksi. Tipe kepribadian umum termasuk seseorang yang didorong untuk berhasil di semua biaya, egois, percaya diri, dan sering mencintai diri sendiri (narsisme).
d. Coercion
Pelaku kecurangan dapat memaksa orang lain untuk melakukan atau menyembunyikan penipuan. Seorang individu dengan kepribadian yang persuasif
dapat lebih berhasil meyakinkan orang lain untuk pergi bersama dengan penipuan atau melihat ke arah lain.
e. Deceit
Penipuan yang sukses membutuhkan kebohongan efektif dan konsisten. Untuk menghindari deteksi, individu harus mampu berbohong meyakinkan, dan harus melacak cerita secara keseluruhan.
f. Stress
Individu harus mampu mengendalikan stres karena melakukan tindakan kecurangan dan menjaganya agar tetap tersembunyi sangat bisa menimbulkan stres.
5. Keserakahan / Greed
Greed terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi yang secara potensial ada dalam diri setiap orang. Greed atau keserakahan sebagai faktor yang pertama disebutkan sebagai penyebab terjadinya fraud. Faktor keserakahan cenderung membuat seseorang buta akan tindakannya, menghalalkan segala cara untuk dapat memenuhi hasrat materialnya Dewani & Chariri (2015), sehingga semakin tinggi tingkat keserakahan sesorang maka semakin tinggi pula potensinya untuk melakukan tindakan fraud
6. Pengungkapan / Exposure
Hukuman yang rendah (exposes) adalah hal yang berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan melakukan kecurangan (Dewani & Chariri, 2015). Hukuman yang rendah (exposes) belum menjamin tidak terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh pelaku yang
lain. Semakin rendah tingkat hukuman maka semakin tinggi pula potensi seseorang untuk melakukan tindakan fraud.
Tabel 4.2 Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Operasional Indikator Skala
Fraud / Kecurangan
(Y)
Kecurangan (fraud) sebagai tindakan penipuan atau kekeliruan yang dibuat oleh seseorang atau badan yang mengetahui bahwa kekeliruan tersebut dapat mengakibatkan beberapa manfaat yang tidak baik kepada individu atau entitas atau pihak lain.
a. Penyimpangan atas asset (Asset Missappropriation)
Pressure (tekanan), yaitu adanya tekanan kebutuhan untuk melakukan fraud.
Tekanan dapat mencakup hampir semua hal termasuk gaya hidup, tuntutan ekonomi, dan lain-lain termasuk hal keuangan dan non keuangan serta lingkungan pekerjaan.
a. Tekanan keuangan b. Kebiasaan buruk untuk memungkinkan suatu kecurangan terjadi.
Biasanya terjadi karena pengendalian internal entitas bisnis yang lemah, kurangnya pengawasan dan penyalahgunaan
wewenang.
a. Memanfaatkan jabatan b. Menduduki suatu posisi
cukup lama
c. Pengendalian internal lemah
d. Aturan yang tidak tegas
Ordinal
Rasionalisasi / Rationalization
(X3)
Yaitu adanya sikap, karakter, atau serangkaian nilai-nilai etis yang membolehkan pihak-pihak tertentu untuk melakukan tindakan kecurangan, atau orang orang yang berada dalam lingkungan yang cukup menekan yang
membuat mereka
merasionalisasi tindakan fraud.
d. Sikap manajemen terhadap nilai etis rendah e. Penyelewengan
merupakan hal yang lumrah
f. Hasil penyelewengan digunakan untuk tujuan kebaikan
g. Layak mendapatkan imbalan lebih karena hasil yang di dapat tidak sesuai
Ordinal
Kemampuan / Capability
(X4)
Capability dijelaskan oleh Wolfe dan Hermanson sebagai suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam hal ini pelaku untuk memanfaatkan keadaan yang ada karena
a. Positioning / Posisi b. Intelligence & Creativity c. Convidence / Ego d. Stress / Mampu
Ordinal
kemampuan di bidang tertentu dan hal tersebut yang mendorong seseorang untuk melakukan fraud.
Mengendalikan Strees
Keserakahan / Greed
(X5)
Greed terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi yang secara potensial ada dalam diri setiap orang
a. menghalalkan segala cara untuk dapat berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan melakukan
4.6 Teknik Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, analisis regresi berganda (Multiple Regression Analysis) variabel. Data penelitian ini diolah dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) 21.
4.6.1. Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan suatu teknik analisis data dengan cara mendeskripsikan situasi objek penelitian tanpa bermaksud menarik kesimpulan berdasarkan semua data yang telah dikumpulkan. Pada penelitian ini, metode analisis statistik deskriptif mencakup kegiatan menggolongkan, mengklasifikasikan, menginterpretasikan data-data yang diperoleh dan selanjutnya dianalisis untuk memperoleh gambaran umum tentang objek penelitian.
Dalam analisis statistik deskriptif ini dipaparkan juga distribusi frekuensinya dimana berdasarkan pengelompokan atau penggolongan dilakukan penjumlahan, rata-rata, standar
deviasi dan persentase sehingga diketahui tingkat persepsi responden terhadap seluruh komponen variabel dalam penelitian ini.
4.7 Uji Kualitas Data 4.7.1 Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi.
Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto, 2015).
Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui instrumen penelitian mampu mencerminkan isi sesuai hal dan sifat yang diukur, artinya setiap butir instrumen telah benar-benar menggambarkan keseluruhan isi atau sifat bangun konsep yang menjadi dasar penyusunan instrumen.
Uji validitas pada penelitian ini akan dilakukan pada responden dengan melihat nilai Corrected Item-Total Correlation setiap butir pertanyaan dengan kriteria sebagai berikut :
- Jika rhitung > rtabel, maka butir pertanyaan tersebut valid.
- Jika rhitung ≤ rtabel, maka butiran pertanyaan tersebut tidak valid
4.7.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan dengan menghitung nilai alfa atau dengan Cronbach’s Alpha.
Penghitungan Cronbach’s Alpha dilakukan dengan menghitung rata-rata interkorelasi diantara butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Secara umum, Sekaran (2010), menyatakan bahwa reliabilitas yang ditentukan oleh Cronbach’s Alpha (α) – kurang dari 0,60 dinyatakan kurang baik. Cronbach’s Alpha (α) dengan nilai range 0.70 dinyatakan dapat diterima dan nilai lebih dari 0.80 adalah baik.
4.8 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi dasar klasik dilakukan untuk memperoleh model regresi yang menunjukkan hubungan signifikan dan representatif dalam arti secara statistik adalah BLUE (Best Linear Unbiased Estimations). Pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolinearitas.
4.8.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel residual memiliki distribusi normal. Pada penelitian digunakan uji statistik untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak. Uji statistik dapat digunakan adalah uji statistik non parametrik Kolmogrov-Smirnov (K-S), analisis grafik, dan uji statistik. Data dikatakan normal apabila nilai Asymp. Sig lebih besar dari 0,05 (Ghazali, 2012). Analisis grafik dengan melihat grafik histogram dan normal P-P Plot. Untuk grafik histogram berbentuk lonceng sempurna dan grafik normal P-P Plot tersebar sepanjang garis diagonal. Ujistatistik untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak. Uji statistik dapat digunakan adalah uji statistik non parametrik Kolmogrov-Smirnov (K-S) (Ghazali, 2012).
4.8.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji korelasi antara variabel independen.
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen (Ghozali, 2012). Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance. Nilai yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikoleniaritas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10.
4.8.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2012). Cara memprediksi ada tidaknya heteroskedastis pada suatu model dapat dilihat dari pola gambar scatterplot model tersebut. Adapun
dasar analisisnya adalah sebagai berikut:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.9 Uji Hipotesis Penelitian
Uji hipotesis berupa uji perbedaan antara nilai sampel dengan populasi atau nilai data yang diteliti dengan nilai ekspektasi (hipotesis) peneliti (Erlina, 2008). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Uji Koefisien Determinasi (R2), uji Simultan (F) dan uji Parsial (t). Dengan persamaan regresi berganda sebagai berikut:
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + ε Dimana :
Y = Fraud / Kecurangan X1 = Pressure
b0 = Intercept X2 = Opportunity
b1 = Koefisien Regresi Pressure X3 = Rationalization b2 = Koefisien Regresi Opportunity X4 = Capability b3 = Koefisien Regresi Rationalization X5 = Greed b4 = Koefisien Regresi Capability X6 = Exposure b5 = Koefisien Regresi Greed
b6 = Koefisien Regresi Exposure
4.9.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghazali, 2012).
4.1.1 Uji Simultan (F)
Uji Statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen.
Adapun langkah-langkah dalam pengambilan keputusan untuk uji F adalah:
H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0, artinya pressure / tekanan , opportunity / kesempatan, rationalization / rasionalisasi, capability / kemampuan, greed / keserakahan, dan exposure / pengungkapan secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap fraud atau kecurangan pada perusahaan farmasi di Sumatera Utara.
Ha : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ b4 ≠ 0, pressure / tekanan , opportunity / kesempatan, rationalization / rasionalisasi, capability / kemampuan, greed / keserakahan, dan exposure / pengungkapan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap fraud atau kecurangan pada perusahaan farmasi di Sumatera Utara.
Kriteria pengujian :
P Value (Sig) < 0,05 = Ha dapat diterima P Value (Sig) > 0,05 = Ha tidak dapat diterima
4.1.2 Uji Parsial (t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh satu variabel independen secara individual atau parsial dapat menerangkan variasi variabel terikat. Adapun langkah-langkah dalam pengambilan keputusan untuk uji t adalah:
H0 : bi = 0 , artinya pressure / tekanan , opportunity / kesempatan, rationalization / rasionalisasi, capability / kemampuan, greed / keserakahan, dan exposure / pengungkapan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap fraud atau kecurangan pada perusahaan farmasi di Sumatera Utara.
Ha : bi ≠ 0, pressure / tekanan , opportunity / kesempatan, rationalization / rasionalisasi, capability / kemampuan, greed / keserakahan, dan exposure / pengungkapan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap fraud atau kecurangan pada perusahaan farmasi di Sumatera Utara.
Kriteria pengujian :
P Value (Sig) < 0,05 = Ha dapat diterima.
P Value (Sig) > 0,05 = Ha tidak dapat diterima.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Gambaran Umum Perusahaan Farmasi
PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) adalah anak perusahaan Perseroan yang didirikan pada tanggal 4 Januari 2003, bergerak di bidang layanan distribusi dan perdagangan produk kesehatan dan memiliki wilayah layanan yang luas mencakup 34 Propinsi dan 511 Kabupaten atau Kota. Sebagai penyedia Jasa Layanan Distribusi,KFTD menyalurkan aneka produk dari Perseroan, produk dari keagenan lainnya, serta produk-produk non-keagenan. KFTD mendistribusikan produk-produk tersebut melalui penjualan reguler ke apotek (apotek Kimia Farma dan apotek non Kimia Farma), rumah sakit, Toko obat,supermarket, restoran dan Cafe.Komposisi pemegang saham PT Kimia Farma (Persero) Tbk yaitu 99.99% dan Kimia Farma Apotek (KFA) 0.01%.
PT. Indofarma Global Medika (PT. IGM) adalah anak perusahaan Indofarma (Persero), Tbk yang bergerak di bidang distribusi obat, alat keseharan, dan makanan sehat. Awal tahun 2007, PT. IGM melakukan reorganisasi menjadi divisi perdagangan dan distribusi dengan jumlah cabang yang totalnya bertambah menjadi 30 cabang. Cakupan layanan di 30 cabang PT. IGM tersebut telah menerapkan sistem informasi berbasis ERP Azecsoft yang bersifat online dan terintegrasi di seluruh cabang dalam mengembangkan bisnis alat kesehatan.
Pengaplikasian System Analysis and Program Development (SAP) Pengaplikasian Tag Line baru perusahaan “Si Jempol”. Menyiapkan dan memproses Sertifikasi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik (CDAKB). Beberapa cabang (21 Cabang) telah mendapatkan Sertifikat CDOB.
PT. Rajawali Nusantara Indonesia (Rajawali Nusindo) merupakan salah satu perusahaan tertua di Indonesia dengan ukiran sejarah yang cemerlang. Pada awalnya Perusahaan bernama Kian Gwan Company Limited NV didirikan dengan akta No.85 dari Tan A Sioe Notaris di Semarang tanggal 22 Juli 1955 yang bernaung di dalam grup Oei Tiong Ham Concern. Anggaran dasar telah mengalami perubahan dengan akta No. 91 tanggal 30 Agustus 1955 dari Notaris yang sama dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman RI No.J.A.1/103/13 tanggal 5 November 1955. Pada tahun 1961 perusahaan tersebut dinasionalisasikan oleh Pemerintah RI berdasarkan Keputusan Pengadilan Ekonomi No.32/1961 EKS tanggal 10 Juli 1961 yang kemudian dikukuhkan dengan Keputusan Mahkamah Agung RI No.5/Kr/K/1963 tanggal 27 April 1963 dimana kegiatan perusahaan berada dibawah penguasaan Menteri / Jaksa Agung untuk selanjutnya pada tanggal 20 Juli 1963 penguasaan diserahterimakan dari Jaksa Agung kepada Menteri Urusan Pendapatan Pembiayaan dan Pengawasan (P3) yang sekarang menjadi Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kompartemen Keuangan tanggal 19 Agustus
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kompartemen Keuangan tanggal 19 Agustus