HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2.2 Pengaruh Inovasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Inovasi berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dan perubahan inovasi pada lag pertama dan lag kedua memberikan pengaruh positif signifikan terhadap perubahan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan inovasi sebesar 1 persen akan menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,026 persen dalam jangka panjang dan menaikkan perubahan pertumbuhan ekonomi berkisaran antara 0,01-0,03 persen dalam jangka pendek. Hasil temuan memperlihatkan ada perbedaan antara hipotesis yang menyatakan inovasi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan hasil temuan memperlihatkan inovasi memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Temuan ini sejalan dengan teori pembangunan Schumpeter (1934) yang menjelaskan pada fase secondary wave, inovasi memiliki pengaruh yang kontradiktif, satu sisi menciptakan perusahaan yang memiliki keunggulan monopoli karena inovasinya dan di sisi lain perusahaan yang tidak mampu
Universitas Sumatera Utara
92
berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan teknologi akan mengalami kebangkrutan.
Perubahan inovasi di lag pertama dan lag kedua memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek di masa resesi menunjukkan adanya transformasi pelaku usaha dalam penggunaan teknologi internet. Kondisi ini didukung dengan hasil survei yang dilakukan BPS terhadap pelaku usaha di masa pandemi Covid 19, yang menunjukkan bahwa dan 5,76 persen perusahaan menggunakan internet dan teknologi informasi (TI) untuk pemasaran baru pertama kalinya pada saat pandemi sehingga secara keseluruhan terdapat 57,51 persen pelaku usaha memanfaatkan internet dan TI dalam menjalankan usaha.
Penggunaan internet dan teknologi informasi mempengaruhi penjualan pelaku usaha (BPS, 2021).
Namun masih terdapat 46,50 persen perusahaan belum menggunakan internet dan TI untuk pemasaran via online pada masa pandemi. Padahal menurut Hagroves dan Smith (2005) pada era tahun 2020-an, dunia sedang mengalami gelombang ke-6 siklus inovasi yang merupakan periode inovasi yang berorinetasi pada robotika, otomatisasi, digitalisasi, dan keberlanjutan (sustainable). Kondisi ini menujukkan betapa rentannya sebagian besar pelaku usaha di Indonesia untuk tersingkir dalam persaingan pasar yang kompetitif dan berpotensi menyebabkan pelaku usaha mengalami kebangkrutan. Survei BPS (2021) memperlihatkan kemampuan pelaku usaha untuk bertahan di masa pandemi hanya bisa bertahan kurang dari 3 bulan sebesar 18,75 persen dan mampu bertahan lebih dari 3 bulan sebesar 25,94 persen.
Universitas Sumatera Utara
93
Hasil ini menunjukkan bahwa inovasi memberikan pengaruh meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek selama resesi, namun dalam jangka panjang memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Saat pelaku usaha tidak mampu melakukan inovasi, maka pertumbuhan ekonomi akan menurun dan mengalami resesi ekonomi (Schumpeter, 1934)
Hasil ini sesuai dengan teori pembangunan Schumpeter yang mengungkapkan bahwa pembangunan merupakan hasil dari inovasi dan creative destruction. Teori pembangunan Schumpeter menekankan pada inovasi memiliki sifat ganda, yaitu inovasi dapat membuat pelaku usaha memperoleh keuntungan monopoli melalui produk, proses, metode baru (bersifat sementara) dan sekaligus inovasi memberikan efek menganggu (distruption) terhadap pelaku usaha yang lama (incumbent) sehingga mengalami kerugian karena produknya telah usang digantikan produk terbaru (tidak mampu melakukan perubahan produk).
Schumpeter menguraikan dalam “Business Cycles (1939) perubahan inovasi yang memberikan pengaruh pada pertumbuhan ekonomi, yang dimulai pada periode Kondratieff gelombang panjang pertama dari tahun 1780-an hingga 1842 yang dikenal dengan era revolusi industri. Penemuan mesin uap menggantikan industri yang menggunakan tenaga kerja manusia sehingga pada masa peralihan ini meningkatkan pengangguran terutama pada industri tekstil. Kondratieff gelombang panjang kedua dari 1842 hingga 1897 yang dikenal dengan era perkeretaapian (railroad). Penemuan sistim transportasi perkeretaapian mempercepat arus barang dan orang bahkan mampu mencapai ke area pinggiran. Kehadiran transportasi kereta api menggeser penggunaan kereta kuda sebagai alat transportasi. Kemudian Kondratieff gelombang panjang dari 1898 hingga akhir 1930-an yang dikenal
Universitas Sumatera Utara
94
dengan era inovasi di sektor industri kimia, tenaga listrik, dan mobil. Penemuan listrik dan mesin pembakaran mengubah sistim transportasi dalam kota dengan munculnya trem dan kereta api yang menggantikan kereta kuda sebagai alat transportasi dalam kota.
Oleh sebab itu, Schumpeter menekankan pentingnya melakukan inovasi secara berkesinambungan untuk tetap mempertahankan siklus bisnis terus bergerak.
Anderson (2008) menggambarkan mekanime proses evolusi inovasi yang mengalami tiga tahapan, yaitu: (1) inovasi, (2) replikasi/adopsi dan (3) pemilahan (selection). Baik pelaku usaha yang lama maupun pelaku usaha pendatang baru melakukan inovasi untuk menghasilkan produk, proses atau metode baru sehingga menghasilkan keuntungan monopoli. Keberhasilan produk baru ini akan segera diikuti pelaku usaha lainnya sehingga mengubah arena sektor industri dengan produk, proses ataupun metode menjadi lebih baik dan efisien.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan 3.074 kantor cabang bank umum tutup sejak 2015 sampai Maret 2021 seiring dengan digitalisasi dan berkembangnya bank digital yang serba cepat dan bisa diakses lewat ponsel pintar.
Kantor fisik perbankan telah disubstitusi teknologi, yang sifatnya jadi contact less atau less touch economy.
Selain itu di sektor retail terjadi juga tutupnya beberapa gerai dari perusahaan besar seperti Matahari, Centro, Giant yang menyebabkan ribuan pegawai harus kehilangan pekerjaan. Kondisi ini terjadi karena pasar retail beralih ke e-commercee dan marketplace seperti lazada, shopee dan tokopedia.
Selain itu, hasil ini sejalan dengan temuan Ayres (1996), Bialbao-Osorio &
Rodriguez-Pose (2004) dan Petrariu et al. (2013) yang menyimpulkan bahwa
Universitas Sumatera Utara
95
inovasi memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemajuan teknologi saat ini dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya teknologi di bidang teknologi informasi yang dapat menyebabkan turunnya harga barang-barang manufaktur yang akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi (Ayres,1996).
Bialbao-Osorio & Rodriguez-Pose (2004) dan Petrariu et al. (2013) menilai inovasi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi karena adanya efek mengejar ketertinggalan negara maju sesuai dengan teori neoklasik. Bialbao-Osorio
& Rodriguez-Pose (2004) melakukan kajian hubungan inovasi dan pertumbuhan ekonomi di kawasan pinggiran (peripheral regions) Eropa dan Petrariu et al. (2013) melakukan kajian untuk melihat hubungan antara inovasi dan pertumbuhan ekonomi di Central and Eastern European countries (CEE). Hasilnya memperlihatkan negara-negara CEE memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat, tetapi pertumbuhan yang tidak didasarkan pada proses inovasi. Innovation is in a catch-up process, related to the growth rate (Petrariu et al., 2013).
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pada negara atau wilayah yang sedang berkembang inovasi belum berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi seperti di negara maju, dan pertumbuhan ekonomi yang mendorong terjadinya inovasi dalam upaya mempercepat alih teknologi dari negara maju melalui salah satunya investasi luar negeri. Disamping itu dukungan Pemerintah dan Bank Indonesia untuk memberikan insentif melalui keringanan pajak dan suku bunga rendah kepada pelaku usaha yang mengembangkan R&D dan inovasi akan mendorong percepatan pertumbuhan teknologi dan inovasi di Indonesia.
Universitas Sumatera Utara
96