• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Priming Benih Padi Gogo pada Kondisi Optimum Interaksi antara genotipe dan priming hanya berpengaruh nyata terhadap Interaksi antara genotipe dan priming hanya berpengaruh nyata terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan 1. Pengaruh Priming Benih Padi Gogo pada Kondisi Optimum Interaksi antara genotipe dan priming hanya berpengaruh nyata terhadap Interaksi antara genotipe dan priming hanya berpengaruh nyata terhadap

tolok ukur vigor benih, yaitu Panjang Akar (PA). Faktor tunggal genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap Daya Berkecambah (DB), Bobot Kering Kecambah Normal (BKKN), Indeks Vigor (IV), serta berpengaruh nyata terhadap Panjang Plumula (PP) dan PA. Faktor tunggal perlakuan priming tidak nyata terhadap DB dan berpengaruh sangat nyata pada PA, sedangkan untuk tolok ukur BKKN, IV dan PP menunjukkan pengaruh nyata (Tabel 1).

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Pengaruh Interaksi antara Genotipe dan Priming terhadap Tolok Ukur Viabilitas Potensial dan Vigor Benih pada Kondisi Optimum

Tolok Ukur Perlakuan Koefisien

G P G x P

Keragaman (%) Viabilitas Potensial:

Daya Berkecambah (DB) ** tn tn 19.34

Bobot Kering Kecambah Normal (BKKN) tn tn tn 22.23 Vigor Benih:

Indeks Vigor (IV) ** ** tn 23.60

Panjang Plumula (PP) ** * tn 18.57

Panjang Akar (PA) * ** * 17.75

Keterangan : * = Berpengaruh nyata menurut Uji F pada taraf α 5 %, ** = Berpengaruh sangat nyata menurut Uji F pada taraf α 1 %, tn = Tidak berpengaruh nyata

Perlakuan priming pada kondisi optimum justru menurunkan panjang akar seluruh genotipe padi gogo, terutama genotipe B1289C-MR-69. Perlakuan priming P1 berpengaruh terhadap penurunan nilai panjang akar genotipe B1289C-MR-69 sebesar 3.77 cm, sedangkan perlakuan P2 juga menunjukan pengaruh yang sama terhadap genotipe B1289C-MR-69 sebesar 3.07 cm dan B12159D-MR-52 sebesar 7.03 cm. Perlakuan priming P3 menjukkan penurunan nilai PA

genotipe padi gogo yaitu, pada 5 genotipe yang berbeda antara 3.98 – 8.97 cm (Tabel 2).

Tabel 2. Pengaruh Interaksi antara Genotipe dan Priming terhadap Panjang Akar (cm) pada Kondisi Optimum.

Genotipe P0 P1 P2 P3 B1289C-MR-69 12.68 a-d 8.91 f-k (-3.77) 9.61 e-k (-3.07) 7.38 jk (-5.30) B12648F-MR-1 10.87 b-i 8.81 f-k 9.82 e-k 7.75 ijk B12155D-MR-21 12.25 a-f 12.30 a-f 12.62 a-e 8.19 h-k

(-4.06) B12159D-MR-52 15.42 a 13.92 ab 8.39 g-k (-7.03) 6.45 k (-8.97) B11599D-TB-5-2-4 12.45 a-f 10.92 b-j 11.05 b-j 8.47 g-k (-3.98) Batutugi 11.76 b-h 12.22 a-f 10.26 b-i 8.33 g-k TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 11.09 b-i 11.75 b-h 13.97 ab 9.02 e-k B11580E-TB-17-1-1-1 11.05 b-i 10.07 c-k 7.72 ijk 7.83 ijk B11593F-MR-11-B-2-8 10.78 b-i 10.07 c-k 12.02 a-g 7.62 ijk B11580E-MR-7-2-43 13.40 abc 11.23 b-h 11.19 b-h 8.97 ef-k

(-4.43)

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka bertanda (-) di dalam kurung menunjukkan penurunan nilai peubah dibandingkan kontrol (P0).

Hasil penelitian oleh beberapa peneliti lain juga menunjukkan pengaruh yang sama dengan percobaan ini. Penurunan panjang akar juga terjadi pada benih gandum yang diberikan perlakuan hydro-priming selama 6 jam (Basra et al., 2003). Penelitian Subendi dan Ma (2005) pada benih jagung yang diberi priming dengan 20 ppm GA3 selama 16 jam juga menurunkan panjang akar. Priming dengan KNO3 juga menurunkan panjang akar, benih melon, jagung dan kacang lentil (Farooq et al., 2007, Ghiyasi et al., 2008 dan Ghassemi-Golezani et al.,2008). Perlakuan hydro-priming juga menurunkan panjang akar benih gandum dan benih jintan (Yagmur dan Kaydan, 2008 dan Neamatollahi et al., 2009). Pada benih tanaman endive dan chicory, priming dengan GA3 juga menurunkan panjang akar (Tzortzakis, 2009).

Penurunan panjang akar pada perlakuan priming mungkin disebabkan konsentrasi larutan priming serta lamanya perendaman terhadap benih. Waktu

yang terlalu cepat atau terlalu lama pada perlakuan priming menyebabkan terganggunya metabolisme dalam benih selama proses perkecambahan. Hal yang terjadi dalam percobaan ini, khususnya perlakuan GA3 Tabel 2. mungkin disebabkan rendahnya konsentrasi GA3 yang diberikan, sehingga justru menimbulkan respon menurunkan nilai panjang akar kecambah padi gogo. Perbedaan respon perlakuan atar genotipe seperti pada Tabel 2. terhadap tolok ukur panjang akar ini juga ditunjukkan pada benih bayam, dari keempat varietas dengan perlakuan hydro-priming selama 3, 6, 9 dan 12 jam menunjukkan respon yang berbeda terhadap tolok ukur panjang akarnya (Moosavi et al., 2009). Hal ini disebabkan oleh perbedaan genetik pada masing-masing genotipe atau varietas yang diuji.

Penelitian lain perlakuan priming menunjukkan respon meningkatkan panjang akar, hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian ini. Perlakuan hydro-priming selama 12 dan 24 jam dapat meningkatkan panjang akar pada benih gandum (Basra et al., 2003). Perlakuan GA3 juga dapat meningkatkan panjang akar benih jagung (Afzal et al., 2005). Perlakuan hydro-priming dan KNO3 dapat meningkatkan panjang akar benih cabe (Amjad et al., 2007). Peningkatan panjang akar juga ditunjukkan pada benih melon dengan perlakuan KNO3 1% dan 3% (Farooq et al., 2007). Pada bunga matahari, priming dengan GA3 juga dapat meningkatkan panjang akarnya (Wahid et al., 2008). Perlakuan KNO3 dapat meningkatkan panjang akar benih tanaman endive dan chicory. Beberapa hal di atas menunjukan bahwa, pada konsentrasi dan lama perendaman yang tepat dapat mempengaruhi pertumbuhan akar selama perkecambahan benih (Tzortzakis, 2009). Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa, konsentrasi dan lama perendaman yang tepat, tidak sama pada setiap komoditas yang diuji.

Nilai daya berkecambah menunjukkan viabilitas benih padi gogo. Status viabilitas rata-rata seluruh genotipe padi gogo baik pada viabilitas awal maupun viabilitas setelah diberi perlakuan umumnya rendah, kecuali B12159D-MR-52 yaitu sebesar 80.33%. Berdasarkan nilai DB rata-rata, genotipe B1289C-MR-69 menunjukkan DB terendah yaitu sebesar 24.33% (Tabel 3). Rendahnya DB menunjukkan bahwa benih yang digunakan telah mundur. Ketiga perlakuan priming tersebut tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap daya

berkecambah benih padi gogo. Perbedaan viabilitas rata-rata setelah perlakuan priming disebabkan oleh perbedaan genetik antar genotipe tersebut dalam menerima respon perlakuan, seperti pada genotipe B12155D-MR-21 dan genotipe B11599D-TB-5-2-4; hal ini sesuai dengan pernyataan, Shafi et al. (2006).

Tabel 3. Pengaruh Faktor Tunggal antara Genotipe dan Priming terhadap Daya Berkecambah (%) pada Kondisi Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 Rata-rata B1289C-MR-69 18.67 30.67 24.00 24.00 24.33 f B12648F-MR-1 56.00 52.00 54.67 54.84 50.00 cd B12155D-MR-21 46.67 57.33 56.00 49.33 53.33d B12159D-MR-52 85.33 73.33 76.00 86.67 80.33 a B11599D-TB-5-2-4 45.33 40.00 37.33 44.00 41.67 e Batutugi 24.00 30.67 22.67 41.33 29.67 f TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 44.00 48.00 41.33 49.33 47.00 de B11580E-TB-17-1-1-1 72.00 68.00 68.00 73.33 71.33 b B11593F-MR-11-B-2-8 72.00 54.67 69.33 54.67 62.67 bc B11580E-MR-7-2-43 62.67 65.33 65.33 64.00 64.33 b Rata-rata 52.67 52.00 51.47 54.15

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm.

Hasil penelitian pada komoditas yang berbeda pada beberapa penelitian lain, juga menunjukkan nilai penurunan daya berkecambah. Penurunan daya berkecambah benih juga terjadi pada perlakuan hydro-priming benih gandum selama 6 jam (Basra et al., 2003). Priming KNO3 -1.1 MPa juga menurunkan nilai daya berkecambah benih padi, hal ini mungkin karena adanya pengaruh keracunan benih oleh KNO3 (Basra et al., 2005). Perlakuan benih melon dengan KNO3 2% dan perlakuan KNO3 -1.0 hingga -2.0 MPa juga menunjukkan respon penurunan daya berkecambah benih jagung (Farooq et al., 2007 dan Ghiyasi et al., 2008). Perlakuan hydro-priming juga menurunkan perkecambahan benih kedelai, sedangkan pada benih lentil perlakuan tersebut menunjukkan respon yang tidak nyata (Gassemi-Golezani et al., 2008 dan Mohammadi, 2009). Perlakuan hydro-priming selama 24 dan 36 jam juga menurunkan perkecambahan benih sorghum yang telah diturunkan viabilitasnya, sedangkan hydro-priming selama 12 jam pada lot benih yang sama, tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap nilai daya berkecambahnya (Moradi dan Younesi, 2009). Perlakuan hydro-priming dan GA3

juga menurunkan daya berkecambah pada komoditas marigold dan sweet fennel (Sedghi et al., 2010). Waktu perendaman dan konsentrasi perlakuan priming berpengaruh terhadap nilai viabilitas benih. Pada benih yang telah mundur, pengaruh priming kurang berpengaruh terhadap peningkatan viabilitas benih.

Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa perlakuan priming mampu meningkatkan daya berkecambah benih gogo, hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian bahwa, perlakuan priming pada benih padi gogo tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap daya berkecambah benih, Tabel 3. Perlakuan hydro-priming selama 12 dan 24 jam meningkatkan daya berkecambah benih gandum dan padi (Basra et al., 2003 dan Basra et al., 2005). Perlakuan hydro-priming dapat meningkatkan nilai daya berkecambah lebih baik dibandingkan perlakuan KNO3 pada benih gandum, barley, jagung maupun oat (Shafi et al., 2006). Pada konsentrasi KNO3 -0.5 MPa, priming dapat meningkatkan perkecambahan benih jagung dan timun pada konsentrasi KNO3 3% (Ghiyasi et al., 2008 dan Ghassemi-Golezani dan Esmaelpour, 2008). Perlakuan GA3 pada benih bunga matahari, black gram dan horse gram mampu meningkatkan nilai daya berkecambah (Wahid et al., 2008 dan Chauhan et al., 2009). Pada benih bayam, perlakuan hydro-priming selama 3 jam menunjukkan nilai daya berkecambah yang lebih baik dibandingkan perlakuan hydro-priming selama 6, 9 dan 12 jam (Moosavi et al., 2009). Perlakuan hydro-priming dapat meningkatkan nilai daya berkecambah benih jintan (Neamatollahi et al., 2009). Perlakuan KNO3 dan hydro-priming mampu meningkatkan daya berkecambah benih gladiol dan parsley (Dursun dan Ekinci, 2010 dan Ramzan et al., 2010). Hal ini menunjukkan bahwa pada konsentrasi dan waktu yang tepat, perlakuan priming dapat meningkatkan perkecambahan benih. Viabilitas awal juga menentukan pengaruh perlakuan priming terhadap daya berkecambah benih pada komoditas tertentu, hal ini dipengaruhi oleh faktor genetik yang berbeda dalam menerima respon perlakuan.

Secara keseluruhan, genotipe menunjukkan Bobot kering kecambah normal (BKKN) yang cukup rendah. Berdasarkan nilai rata-ratanya, genotipe B11580E-MR-7-2-43 menunjukkan nilai BKKN tertinggi yaitu sebesar 9.26 mg dan genotipe B11593F-MR-11-B-2-8 menunjukkan nilai BKKN terendah 6.94 mg. Perlakuan priming ternyata tidak dapat meningkatkan nilai BKKN padi gogo,

tetapi pada perlakuan P2 dan P3 justru menurunkan nilai BKKN. Perlakuan P1 tidak menunjukkan pengaruh yang nyata, sedangkan perlakuan P2 dan P3 menurunkan nilai BKKN secara nyata yaitu sebesar 1.30 mg dan sebesar 1.85 mg tetapi penurunan yang terjadi diantara kedua perlakuan tersebut tidak nyata (Tabel 4).

Tabel 4. Pengaruh Faktor Tunggal antara Genotipe dan Priming terhadap Bobot Kering Kecambah Normal (mg) pada Kondisi Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 Rata-rata B1289C-MR-69 7.53 6.91 6.84 7.27 7.14 c B12648F-MR-1 7.14 7.04 6.04 7.66 6.97 c B12155D-MR-21 8.02 7.56 8.55 5.18 7.33 bc B12159D-MR-52 8.17 8.57 7.41 7.39 7.89 abc B11599D-TB-5-2-4 8.34 7.44 8.98 7.38 8.04 abc Batutugi 6.64 4.25 9.75 9.71 7.60 bc TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 8.47 9.06 9.45 8.40 8.90 a B11580E-TB-17-1-1-1 8.15 8.06 6.96 7.55 7.73 abc B11593F-MR-11-B-2-8 6.53 6.46 6.99 7.78 6.94 c B11580E-MR-7-2-43 9.12 9.81 8.92 9.22 9.26 a Rata-rata 11.67 a 11.40 a 10.37 b (-1.30) 9.82 b (-1.85)

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 =

hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka di dalam kurung bertanda (-) menunjukkan penurunandibandingkan kontrol (P0).

Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh beberapa penelitian lainnya. Pada benih gandum perlakuan hydro-priming selama 6 jam dan hydro-priming selama 24 jam pada benih kedelai juga menurunkan nilai BKKN (Basra et al., 2003 dan Mohammadi, 2009). Lamanya perendaman dan jenis komoditas pada perlakuan hydro-priming berpengaruh terhadap nilai BKKN. Hal ini ditunjukkan bahwa pada perlakuan hydro-priming selama 12 hingga 24 jam pada benih gandum serta hydro-priming selama 24 jam pada benih lentil dan jintan juga menunjukkan peningkatan nilai BKKN (Basra et al., 2003, Neamatollahi et al., 2009 dan Saglam et al., 2010).

Perlakuan GA3 20 ppm pada penelitian Subendi dan Ma, (2005) juga menurunkan nilai BKKN benih jagung. Pada komoditas lainnya, perlakuan priming GA3 meningkatkan nilai BKKN. Hal ini ditunjukkan pada hasil penelitian Wahid et al., (2008) dan Tzortzakis, (2009) bahwa, benih bunga matahari yang

diberi perlakuan priming GA3 150 ppm selama 8 jam, serta benih endive dan chicory yang diberi perlakuan priming GA3 25 dan 250 ppm selama 24 jam juga menunjukkan penurunan nilai BKKN. Berdasarkan beberapa hal tersebut dapat diduga bahwa menurunnya nilai BKKN pada benih padi gogo Tabel 4, disebabkan rendahnya konsentrasi GA3 yang diberikan serta waktu yang perendaman yang terlalu singkat, sehingga pengaruh yang diberikan justru menurunkan nilai BKKNnya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai BKKN pada perlakuan priming dengan KNO3, antara lain hasil penelitian Sukoco (1999) dan Farooq et al. (2007) yang menunjukkan bahwa, perlakuan KNO3 1.63% selama 34 jam pada benih padi dan benih melon yang diberi perlakuan KNO3 1% meningkatkan nilai BKKN. Pada beberapa komoditas tanaman lainnya, perlakuan priming tersebut dapat meningkatkan nilai BKKN. Perlakuan priming KNO3 2-3% pada benih melon; serta priming KNO3 -0,5 dan -1.0 MPa pada benih jagung menunjukkan pengaruh tidak nyata, sedangkan pada perlakuan -1.5 dan -2.0 MPa menunjukkan penurunan nilai BKKN (Farooq et al., 2007 dan Ghiyasi et al., 2008). Berdasarkan beberapa hal tersebut pengaruh perlakuan priming dipengaruhi oleh konsentrasi yang diberikan, serta komoditas yang diberi perlakuan. Pada penelitian ini, kondisi viabilitas awal juga mempengaruhi pengaruh perlakuan KNO3 terhadap nilai BKKN benih padi gogo. Rendahnya viabilitas awal benih padi gogo menyebabkan lot benih tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap perlakuan KNO3, sehingga menurunkan nilai BKKN.

Secara keseluruhan, nilai indeks vigor benih padi gogo cukup rendah. Berdasarkan nilai indeks vigor rata-rata genotipe B11580E-TB-17-1-1-1 menunjukkan nilai indeks vigor tertinggi yaitu sebesar 66.00% sedangkan genotipe B1289C-MR-69 menunjukkan nilai indeks vigor terendah yaitu sebesar 13.33%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya genotipe B12159D-MR-52, B11580E-TB-17-1-1-1 dan B11580E-MR-7-2-43 yang memiliki vigor >50%. Seluruh perlakuan priming dapat meningkatkan indeks secara nyata, tetapi masing-masing perlakuan priming tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Peningkatan indeks vigor tersebut adalah sebesar 7.86% pada perlakuan P1, sebesar 7.08% pada perlakuan P2 dan sebesar 7.73% pada perlakuan P3 (Tabel 5).

Tabel 5. Pengaruh Faktor Tunggal antara Genotipe dan Priming terhadap Indeks Vigor (%) pada Kondisi Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 Rata-rata B1289C-MR-69 12.00 14.67 10.67 16.00 13.33 f B12648F-MR-1 17.33 41.33 40.00 32.44 32.33 cd B12155D-MR-21 28.00 45.33 38.67 21.33 33.33 cd B12159D-MR-52 49.33 61.33 64.00 72.00 61.67 ab B11599D-TB-5-2-4 20.00 28.00 25.33 30.67 26.00 de Batutugi 14.67 21.33 16.00 24.00 19.00 ef TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 33.33 38.67 36.00 36.00 36.00 e B11580E-TB-17-1-1-1 68.00 62.67 62.67 70.67 66.00 a B11593F-MR-11-B-2-8 25.33 29.33 49.33 40.00 36.00 c B11580E-MR-7-2-43 56.67 56.00 53.33 58.67 55.67 b Rata-rata 32.27 b 40.13 a (+7.86) 39.33 a (+7.06) 40.00 a (+7.73)

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka di dalam kurung bertanda (+) menunjukkan peningkatan nilai peubahdibandingkan kontrol (P0).

Perlakuan priming dengan air dapat membantu benih berimbibisi (De Datta, 1981). Perlakuan priming menigkatkan perkecambahan serta pertumbuhan bibit dilapang, melalui sintesis protein, memperbaiki mekanisme membrane dalam melakuan imbibisi, mengaktifkan enzim, serta mensuplai nutrisi yang diperlukan selama proses perkecambahan (Tzortzakiz, 2009) hal ini dapat mempercepat munculnya akar pada benih. Peningkatkan IV pada penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Chauhan et al., (2009) bahwa, perlakuan GA3 10 ppm meningkatkan vigor benih black gram hingga 83.75% dan benih horse gram sebesar 96.25%. Hasil penelitian Ramzan et al. (2010) menunjukkan bahwa perlakuan KNO3 1-5% dan hydro-priming mampu meningkatkan vigor benih gladiol.

Pengaruh faktor tunggal genotipe terhadap Panjang Plumula (PP) menunjukkan bahwa, berdasarkan nilai rata-ratanya, genotipe B11580E-TB-17-1-1-1 menunjukkan nilai tertinggi yaitu sebesar 12.16 cm dan genotipe B12648F-MR-1 terendah yaitu 9.22 cm. Perlakuan priming tidak dapat meningkatkan PP, tetapi perlakuan P3 justru secara nyata menunjukkan penurunan PP sebesar 1.35 cm, dan pengaruh yang sangat nyata terhadap perlakuan P1 (Tabel 6).

Tabel 6. Pengaruh Faktor Tunggal antara Genotipe dan Priming terhadap Panjang Plumula (cm) pada Kondisi Optimum

Genotipe P0 P1 P2 P3 Rata-rata B1289C-MR-69 11.80 10.54 11.33 9.81 10.87 ab B12648F-MR-1 9.86 9.49 8.43 9.10 9.22 b B12155D-MR-21 11.11 11.60 10.20 9.27 10.55 ab B12159D-MR-52 12.61 15.22 10.46 9.12 11.81 a B11599D-TB-5-2-4 11.25 11.35 11.41 9.30 10.82 ab Batutugi 8.67 10.79 10.27 9.12 9.71 b TB490C-TB-1-2-1-MR-1-1 11.31 12.07 10.04 8.89 10.60 ab B11580E-TB-17-1-1-1 12.98 11.89 11.27 12.49 12.16 a B11593F-MR-11-B-2-8 8.61 9.84 9.66 9.78 9.47 b B11580E-MR-7-2-43 13.49 11.18 10.62 11.25 11.64 a Rata-rata 11.17a 11.40a 10.37ab 9.82 b

(-1.35)

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan pada taraf 5 %. P0 = kontrol, P1 = priming dengan KNO3 1.63%, P2 = hydro-priming, P3 = priming dengan GA3 2 ppm. Angka di dalam kurung bertanda (-) menunjukkan penurunandibandingkan kontrol (P0).

Secara umum perlakuan priming tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap panjang plumula, tetapi perlakuan GA3 justru menurunkan nilai panjang plumula benih, Tabel 6. Menurunnya panjang plumula pada perlakuan GA3 ini sesuai dengan hasil penelitian Subendi dan Ma (2005) bahwa, perlakuan GA3 juga menurunkan panjang plumula benih jagung. Pada benih gandum, perlakuan hydro-priming juga menurunkan panjang plumula (Yagmur dan Kaydan, 2008). Tzortzakis (2009) melaporkan bahwa perlakuan KNO3 dan GA3 tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan plumula tanaman endive dan chicory. Berdasarkan beberapa hal tersebut dapat diduga penyebab menurunnya panjang plumula karena konsentrasi perlakuan yang tidak tepat atau faktor genetik yang berbeda, sehingga perlakuan priming justru menyebabkan terhambatnya pertumbuhan plumula pada saat perkecambahan benih.

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa perlakuan priming dapat meningkatkan panjang plumula kecambah benih pada komoditas lain. Hasil penelitian Afzal et al. (2005) menunjukkan bahwa, hormon GA3 dapat menstimulasi pertumbuhan plumula gandum dengan baik. Perlakuan hydro-priming dan KNO3 pada benih cabe, jagung dan kacang lentil ternyata juga meningkatkan panjang plumula (Amjad et al., 2007, Ghiyasi et al, .2008 dan

Ghassemi-Gelezani et al., 2008). Perlakuan GA3 pada benih bunga matahari dapat meningkatkan panjang plumula (Wahid et al.,2008). Perlakuan hydro-priming meningkatkan panjang plumula pada komoditas lentil dan benih jintan (Neamatollahi et al., 2009 dan Saglam et al., 2010).

Percobaan 2. Pengaruh Priming Benih Padi Gogo pada Kondisi Sub