• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Keterbukaan Perdagangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Data Penelitian

1. Pengaruh Keterbukaan Perdagangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Dampak keterbukaan perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi memiliki kesamaan dengan hipotesis awal, di mana hasil estimasi menunjukan keterbukaan perdagangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini memiliki kesamaan hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh Idris et al (2016) yang berjudul

“Trade Openness and Economic Growth: A Causality Test in Panel Perspective” dan penelitian yang dilakukan oleh Hamad et al (2014) yang berjudul “The Impact of Trade Liberalization on Economic Growth in Tanzania” bahwa keterbukaan perdagangan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, hal ini sesuai dengan teori Keunggulan Komparatif.

Kegiatan ekspor mengindikasikan adanya permintaan luar negeri terhadap barang domestik yang diproduksi. Peningkatan ini berdampak pada peningkatan jumlah output yang diproduksi, dan peningkatan faktor produksi yang menjadi input faktor produksi di suatu negara. Peningkatan output dalam perekonomian akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi

suatu negara. Selain itu, ekspor juga menghasilkan devisa yang dihitung sebagai pendapatan negara.

Demikian pula dari sisi impor, menurut teori keunggulan komparatif, negara yang memiliki keunggulan dalam memproduksi suatu barang akan meningkatkan produksinya sebagai barang ekspor, dan suatu negara akan mengimpor barang yang hasilnya tidak efisien. Dengan melakukan impor, suatu negara akan mendapatkan barang yang lebih murah daripada memproduksi sendiri. Barang impor yang datang ke pasar domestik dengan harga yang murah akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat relatif meningkat. Peningkatan pendapatan relatif perseorangan akan meningkatkan pendapatan nasional, dan selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu negara berkembang memiliki ketergantungan terhadap perdagangan internasional. Proporsi pendapatan nasional negara berkembang sebagian besar diperoleh dari perdagangan internasional.

Grafik di bawah ini mengambarkan tingkat perkembangan neraca perdagangan, di mana neraca perdagangan Vietnam dan Cina yang mengalami stagnanasi dari tahun 2014-2017 di angka 3%, namun tingkat ekspor dari setiap tahunya melebihi tingkat impor yang dilakukan, hal ini menandakan hasil output baik dari barang maupun jasa dari Vietnam dan Cina lebih baik dari pada negara lain dan keterbukaan perdagangan lebih menguntungkan untuk kedua negara ini.

-35,00 -30,00 -25,00 -20,00 -15,00 -10,00 -5,00 0,00 5,00 10,00

Vietnam Indonesia Laos Pakistan Nepal Kamboja Filipina Cina

2014 2015 2016 2017

Gambar 4.4 Grafik Perkambangan Neraca Perdagangan Negara-Negara Berkembang di Asia Tahun 2014-2017

Sumber: world bank 2018 (diolah)

Di Indonesia peningkatan ekspor terjadi dari tahun 2015 di mana pada tahun 2014 tingkat neraca perdagangan masih berada diangka -0,75%

meningkat diangka 0,38% pada tahun 2015 dan tahun-tahun berikutnya Indonesia mengalami stagnanasi diangka 1%. Walaupun demikian Indonesia masih bisa mendapatkan keutungan yang lebih karena tingkat ekspor melebihi tingkat impornya.

Sedangkan negara-negara seperti Pakistan, Nepal, Filipina, dan Kamboja mengalami penurunan pada tingkat neraca perdagannya. Hal ini karena krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2014 memberikan perubahan yang drastis terhadap neraca perdagangan beberapa tersebut.

Tingkat neraca perdagangan Nepal adalah yang terendah di antara negara lain, yaitu sebesar -29,25% pada tahun 2014 dan selalu mengalami

penurunan hingga mencapai -32,26% pada tahun 2017, hal ini disebabkan oleh bencana alam yang terjadi pada tahun 2015 sehingga menyebabkan produktivitas Nepal menurun.

Berbeda dengan tingkat neraca perdagangan yang semakin tahun semakin membaik hal ini di pengaruhi oleh pembangunan infrastruktur yang mendukung dalam mobilitas produksi Laos, di mana tingkat neraca perdagangan Laos sebesar -17,89% pada tahun 2014 dan terus membaik dimana pada tahun 2017 tingkat neraca perdagangannya sebesar -7,15%

Dari grafik neraca perdagangan delapan negara berkembang di Asia dapat kita simpulkan bahwa hanya negara Vietnam, Indonesia dan Cina yang terus mengalami surplus perdagangan dan negara-negara ini lebih mendapat keuntungan pendapatan dari hasil eskpor yang dilakukan, walaupun negara lain mengalami defisit neraca perdagangan, negara-negara ini tetap mendapat keuntungan dengan mendapatkan barang dan jasa yang tidak dimilikinya, selain itu kestabilan harga dapat terjaga karena terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang di inginkan.

Konsep perdagangan internasional dalam Islam merupakan kegiatan yang dianggap penting dalam meningkatkan perekonomian.

Menurut Ibnu Khaldun perdagangan internasional dapat meningkatkan kepuasan masyarakat, laba perdagangan, dan peningkatan kekayaan negara. Adapun pertimbangan untuk mengadakan perdagangan internasional, yaitu biaya yang lebih murah dibandingkan memproduksi secara internal, mutu yang lebih baik, dan mendapatkan produk baru.

Perdagangan merupakan transaksi jual beli dan jalan memeperoleh harta yang dihalalkan oleh Allah SWT. Hal ini telah termaktub dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ (4) ayat 29 sebagai berikut:

َرَت نَع ًةَر َٰجِت َنوُكَت نَأ َٰٓ هلَِإ ِلِط َٰبْلٱِب مُكَنْيَب مُكَلَٰوْمَأ ۟ا َٰٓوُلُكْأَت َلَ ۟اوُنَماَء َنيِذهلٱ اَهُّيَأََٰٰٓي ۚ ْمُكنِّم ٍضا

اًميِحَر ْمُكِب َناَك َ هللَّٱ هنِإ ۚ ْمُكَسُفنَأ ۟ا َٰٓوُلُتْقَت َلَ َو

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janagnlah kalian

memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kalian”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT melarang orang-orang beriman mendapatkan harta dengan jalan yang haram, seperti riba, merampas hak milik oranglain, mencuri, dan lain sebagainya. Jalan yang diperbolehkan dalam mencari harta adalah dengan perdagangan atas dasar suka sama suka. Perdagangan di negara-negara berkembang di Asia dilakukan secara sukarela, sehingga hal ini telah sesuai dengan dasar hukum diperbolehkannya transaksi perdagangan. Salah satu tokoh muslim yang mengemukakan pentingnya peranan perdagangan internasional dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

Menurut Ibnu Khaldun perdagangan merupakan implementasi dari bentuk kerjasama antara satu manusia dengan manusia lainnya dalam upaya pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Karena setiap manusia harus bekerjasama untuk memperoleh kebutuhan hidup di dalam peradabannya.

2. Pengaruh Foreign Direct Invesment Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Dampak Foreign Direct Invesment (FDI) terhadap pertumbuhan ekonomi memiliki perbedaan dengan hipotesis awal, di mana hasil estimasi menunjukan FDI berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini memiliki kesamaan hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh Kastarti (2013) yang berjudul “The Effects of Foreign Direct Investments for Host Country’s Economy” dan penelitian yang dilakukan oleh Mesci (2006) dengan judul “FDI and growth in MENA countries: an empirical analysis” bahwa FDI tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Penyebab FDI tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi ialah disebabkan adanya kebijakan suatu negara yang mempersulit investor menanamkan modalnya seperti tingginya pajak yang berlaku.

Kebijakan pemberian pajak yang tinggi membuat para investor merasa sulit memasukan modalnya. Berdasarkan teori siklus produksi investasi sangat berperan aktif dalam meningkatkan intensitas dagang dan berperan sebagai alat untuk menambah faktor produksi.

Jika investasi sulit masuk maka akibatnya perusahaan-perusahaan yang membutuhkan modal tidak bisa mendapatkan modal secara langsung, dan menyebabkan gangguan pada operasional perusahaan tersebut. Bukan hanya itu perusahaan sebagai produsen dalam negeri cenderung kurang

efisien dalam berproduksi dan kurang termotivasi untuk meningkatkan mutu produksinya, sehingga produktivitas semakin berkurang.

Konsep investasi dalam Islam lebih kepada penggunaan harta, penggunaan harta atau modal bukan sebagai komoditas perdagangan namun sebagai alat tukar untuk perdagangan dan faktor produksi. Selain itu investasi haruslah yang memiliki manfaat bukan hanya sekedar keuntungan semata. Di mana semua aktifitas manusia khususnya dalam berinvestasi harus diniatkan untuk memproleh keridhoan Allah SWT.

karena aktivitas yang mencari keridhaan Allah ini merupakan yang lebih besar dari seluruh aktifitas. Hal tersebut diterangkan dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 207 sebagai berikut:

ِداَبِعْلٱِب ٌٌۢفوُءَر ُ هللَّٱ َو ۗ ِ هللَّٱ ِتاَضْرَم َءَٰٓاَغِتْبٱ ُه َسْفَن ىِرْشَي نَم ِساهنلٱ َنِم َو

Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.

Ayat tersebut memiliki makna bahwa janganlah menjual ketaatan hanya karena kebahagaian dunia sesaat. Dengan demikian maka investasi kepemilikan dan kekayaan seseorang itu dalam hal-hal yang benar tidak mungkin untuk dilewatkan penekanannya. Investasi yang baik adalah ditujukan untuk mencapai ridha Allah. Karena kekayaan Allah itu adalah tanpa batas dan tidak pernah habis.

Jika pemborosan dalam berbelanja tidak diinginkan, janganlah menyimpan uang, hanya disimpan saja, Al-Quran dan sunnah dengan

tegas mengecam hal tersebut. Berbagai sumber daya yang diberikan oleh Allah dimaksudkan untuk digunakan bagi kemanfaatan seseorang (dalam batas-batas yang diizinkan oleh Islam) dan bagi kemanfaatan orang lain.

3. Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan

Dokumen terkait