ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
6. Pengaruh Komisaris Independen dalam memoderasi Likuiditas terhadap Return Saham
melihat dan tidak menggunakan informasi Arus Kas Operasi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi karena kadang kala informasi laba akuntansi dan arus kas operasi menunjukkan informasi yang bertentangan misalnya kenaikan laba dapat diikuti dengan penurunan arus kas operasi. Oleh karena itu, investor lebih memilih untuk menggunakan informasi laba akuntansi dibandingkan arus kas operasi.
6. Pengaruh Komisaris Independen dalam memoderasi Likuiditas terhadap Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang telah dilakukan di dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa interaksi antara variabel Likuiditas dan variabel Komisaris Independen terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,333. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H6 yang telah dirumuskan yaitu Komisaris Independen dapat memoderasi hubungan antara Likuiditas terhadap
Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan penerapan Corporate
Governance yang dalam penelitian ini diproksikan dengan Komisaris
Independen ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Likuiditas terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komisaris Independen tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Likuiditas.
100 Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komisaris Independen sebagai variabel moderasi hubungan antara Likuiditas dan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Novitasari (2017) keberadaan Komisaris Independen ternyata tidak berpengaruh terhadap Return Saham. Adapun perusahaan sektor pertambangan dalam penelitian semuanya telah memenuhi regulasi sesuai dengan ketentuan BAPEPAM serta Peraturan OJK No. 33/POJK.04/2014 yaitu jumlah Komisaris Independen sebesar 30% dari total komisaris. Berdasarkan hasil penelitian ini Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Likuiditas terhadap Return Saham karena keberadaan Komisaris Independen yang ternyata belum mampu menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan serta belum mampu menjadi nilai tambah bagi perusahaan di mata investor.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori agensi dimana pengelolaan perusahaan melalui mekanisme Corporate Governance diharapkan memberikan keyakinan tambahan bagi para pemegang saham bahwa mereka akan memperoleh return atas dana yang telah diinvestasikan. (Novitasari, 2017: 38) Dalam penelitian ini keberadaan Komisaris Independen sebagai salah satu bukti pelaksanaan Corporate
Governance diharapkan mampu menyelaraskan berbagai kepentingan
yang ada dalam perusahaan dan membuat perusahaan memiliki nilai tambah yang nantinya akan berpengaruh terhadap Return Saham perusahaan. Keberadaan Komisaris Independen dengan tingkat Likuiditas perusahaan yang baik seharusnya akan mampu meningkatkan nilai Return Saham dikarena kepercayaan publik terhadap perusahaan yang ikut meningkat. Tetapi hasil penelitian ini menunjukkan hal yang berlawanan dengan teori agensi dimana Komisaris Independen justru tidak mampu memoderasi hubungan antara Likuiditas dan Return Saham.
Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Manse (2018) yang menyebutkan bahwa Komisaris Independen memiliki pengaruh positif terhadap Return Saham, yang artinya yang artinya setiap
101 kenaikan jumlah anggota dewan Komisaris Independen maka nilai Return Saham pun akan naik. Komisaris Independen diharapkan dapat menjadi pihak yang dapat mengawasi jalannya pengambilan keputusan di dalam perusahaan dan menghindarkan terjadinya benturan kepentingan antara pihak minoritas dengan pihak lainnya karena sifat independen yang diharapkan akan terus dimiliki oleh dewan Komisaris Independen tersebut. Akan tetapi walaupun keberadaan Komisaris Independen di dalam penelitian ini belum mampu memoderasi hubungan antara Likuiditas dan
Return Saham tetapi keberadaan Komisaris Independen tetap menjadi
penting karena pada dasarnya pelaksanaan Corporate Governance sangat berguna bagi perusahaan apabila dijalankan dengan efektif. Corporate
Governance dapat memaksimalkan nilai perusahaan dalam rangka
persaingan global, mendorong transparansi dan akuntabilitas perusahaan, serta menghindarkan perusahaan dari berbagai konflik kepentingan.
7. Pengaruh Komisaris Independen dalam memoderasi Profitabilitas terhadap Return Saham
Berdasarkan hasil uji Moderated Regression Analysis (MRA) dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa interaksi antara variabel Profitabilitas dan variabel Komisaris Independen terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,753 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H7 yang telah dirumuskan yaitu Komisaris Independen dapat memoderasi hubungan antara Profitabilitas terhadap Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Komisaris Independen ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Profitabilitas terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komisaris Independen tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Profitabilitas.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komisaris Independen sebagai variabel moderasi hubungan antara
102 Profitabilitas dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Novitasari (2017) keberadaan Komisaris Independen ternyata tidak berpengaruh terhadap Return Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Profitabitas terhadap Return Saham dikarenakan keberadaan Komisaris Independen yang ternyata belum mampu menarik minat investor untuk berinvestasi di perusahaan serta belum mampu meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor atau menambah kepercayaan investor untuk menanamkan dana terhadap perusahaan. Hasil ini juga sejalan dengan hasil penelitian dari Budiharjo (2016) yang menyatakan Good Corporate
Governance tidak berpengaruh terhadap Return Saham.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori agensi dimana
Corporate Governance diharapkan akan mampu mengatasi masalah
keagenan yang timbul karena terjadinya asimetris informasi antara manajemen perusahaan dengan pemilik perusahaan. (Novitasari, 2017: 38) Dengan penerapan Corporate Governance yang diproksikan dengan Komisaris Independen ditambah tingkat Profitabilitas perusahaan yang baik seharusnya akan mampu meningkatkan kepercayaan investor dan nantinya akan mampu berpengaruh terhadap peningkatan Return Saham. Tetapi di dalam penelitian ini Komisaris Independen justru tidak mampu memoderasi hubungan antara Profitabilitas dan Return Saham.
Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Manse (2018) yang menerangkan bahwa Komisaris Independen berpengaruh positif terhadap Return Saham, yang artinya keberadaan Komisaris Independen mampu mempengaruhi nilai Return Saham perusahaan tersebut. Komisaris Independen diharapkan dapat menghindarkan perusahaan dari benturan-benturan kepentingan yang ada ketika dihadapkan pada perbedaan kepentingan antara pemegang saham mayoritas dengan minoritas maupun pihak-pihak lainnya serta diharapkan dapat berlaku independen sehingga dapat menghasilkan keputusan perusahaan yang objektif demi keberlangsungan hidup perusahaan di masa depan.
103 Oleh karena itu, walaupun dalam penelitian ini Komisaris Independen tidak mampu memoderasi pengaruh Profitabilitas terhadap
Return Saham keberadaan Komisaris Independen ini tetap penting. Hal
tersebut dikarenakan sebagai salah satu komponen dari Corporate
Governance tentunya keberadaan Komisaris Independen sangat vital bagi
perusahaan dimana ketika Komisaris Independen dijalankan dengan efektif maka akan mampu menjadi nilai tambah bagi perusahaan di mata publik, dapat melindungi perusahaan dari benturan kepentingan serta dapat meningkatkan akuntabilitas serta transparansi perusahaan.
8. Pengaruh Komisaris Independen dalam memoderasi Solvabilitas terhadap Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang telah dilakukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa interaksi antara variabel Solvabilitas dan variabel Komisaris Independen terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,634, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H8 yang telah dirumuskan yaitu Komisaris Independen dapat memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Komisaris Independen ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komisaris Independen tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Solvabilitas.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komisaris Independen sebagai variabel moderasi hubungan antara Solvabilitas dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Novitasari (2017) keberadaan Komisaris Independen ternyata tidak berpengaruh terhadap Return Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham dikarenakan ternyata keberadaan
104 Komisaris Independen di dalam perusahaan belum mampu menarik minat investor untuk berinvestasi atau belum mampu meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor. Hasil ini juga sejalan dengan hasil penelitian dari Budiharjo (2016) yang menyatakan Good Corporate Governance tidak berpengaruh terhadap Return Saham.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori agensi dimana pelaksanaan Corporate Governance diharapkan akan mampu mengurangi masalah keagenan yang terjadi karena adanya gap yang terjadi karena perbedaan kepentingan antara pemilik perusahaan dan manajemen yang mengelola perusahaan. (Novitasari, 2017: 38) Keberadaan Komisaris Independen sebagai pihak independen disertai tingkat Solvabilitas yang tinggi seharusnya dapat membuat para investor akan lebih tertarik terhadap perusahaan dan menyebabkan nilai tawar saham yang meningkat yang nantinya akan membuat Return Saham pun ikut meningkat. Dalam hal ini hasil penelitian justru menunjukkan hasil yang berlawanan dengan teori yaitu Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Manse (2018) yang menyatakan bahwa Komisaris Independen berpengaruh positif terhadap Return Saham. Jumlah Komisaris Independen yang semakin banyak dinilai akan mampu membuat fungsi pengawasan dan koordinasi di dalam perusahaan menjadi meningkat yang nantinya akan berdampak terhadap meningkatnya tingkat integritas pengawasan terhadap dewan direksi. Hal tersebut akan berdampak pada semakin terlindungi nya kepentingan pihak minoritas di dalam perusahaan yang akan mampu meningkatkan nilai perusahaan yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan nilai Return Saham perusahaan tersebut.
Dapat disimpulkan, walaupun Komisaris Independen di dalam penelitian ini tidak mampu memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham tetapi keberadaan Komisaris Independen tetaplah penting. Pelaksanaan Corporate Governance melalui Komisaris
105 Independen yang efektif dapat menjaga perusahaan dari benturan kepentingan, sehingga dapat melindungi pemegang saham minoritas dari keputusan-keputusan yang merugikan posisi mereka dan mampu meningkatkan nilai tambah perusahaan agar mampu menghadapi persaingan global dengan perusahaan-perusahaan lainnya.
9. Pengaruh Komisaris Independen dalam memoderasi Laba Akuntansi terhadap Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang telah dilakukan dalam penelitian ini, menunjukkan hasi bahwa interaksi antara variabel Laba Akuntansi dan variabel Komisaris Independen terhadap
Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu
sebesar 0,993 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H9 yang telah dirumuskan yaitu Komisaris Independen dapat memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi terhadap
Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Komisaris Independen ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komisaris Independen tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Laba Akuntansi.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komisaris Independen sebagai variabel moderasi hubungan antara Laba Akuntansi dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Novitasari (2017) keberadaan Komisaris Independen ternyata tidak berpengaruh terhadap Return Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi terhadap Return Saham dikarenakan ternyata keberadaan Komisaris Independen di dalam perusahaan tidak dapat menarik minat investor untuk berinvestasi atau belum dapat meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor. Hasil ini juga sejalan dengan hasil penelitian dari Budiharjo
106 (2016) yang menyatakan Good Corporate Governance tidak berpengaruh terhadap Return Saham.
Hasil penelitian ini berbeda dari teori stakeholder yang mengatakan bahwa keberlangsungan suatu perusahaan tidak terlepas dari adanya peranan stakeholder yang memiliki perbedaan kepentingan, penerapan Corporate Governance dinilai sejalan dengan teori karena dapat mengatasi benturan kepentingan yang ada dalam perusahaan. (Lindawati dan Puspita, 2015: 162) Penerapan Corporate Governance melalui Komisaris Independen disertai dengan nilai Laba Akuntansi yang tinggi seharusnya akan membuat para investor akan tertarik untuk menanamkan dana nya ke perusahaan dan pada akhirnya akan meningkatkan nilai
Return Saham. Di dalam teori ini, diharapkan penerapan Corporate Governance dapat menyelaraskan berbagai kepentingan stakeholder.
Tetapi hasil penelitian ini justru berlawanan dengan teori stakeholder karena Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi dan Return Saham.
Hasil penelitian ini juga bertolak belakang dengan hasil penelitian dari Manse (2018) yaitu bahwa Komisaris Independen berpengaruh positif terhadap Return Saham. Keberadaan Komisaris Independen dapat memberikan rasa aman kepada investor karena perusahaan telah mempergunakan dana investasi yang telah diberikan dengan penuh tanggung jawab dan dipergunakan untuk memaksimalkan kesejahteraan perusahaan. Laba Akuntansi juga menjadi salah satu perhatian utama berbagai pihak karena dapat menggambarkan kinerja perusahaan dalam satu periode serta dijadikan sebagai dasar perbandingan dengan kinerja tahun sebelumnya ataupun dengan perusahaan pesaing sehingga jika laba akuntansi meningkat akan mampu meningkatkan Return Saham perusahaan.
Oleh karena itu, walaupun Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi terhadap Return Saham tetapi keberadaan Komisaris Independen tetaplah menjadi hal yang
107 penting karena tugasnya yaitu menjalankan fungsi pengawasan di dalam perusahaan sehingga transparansi dan akuntabilitas perusahaan dapat terjaga salah satunya mengenai informasi Laba Akuntansi perusahaan yang sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak.
10. Pengaruh Komisaris Independen dalam memoderasi Arus Kas