• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Kinerja Guru.

Michael G. Fullan yang dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan bahwa “educational change depends on what teachers do and think…”. Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “. atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru. Sejalan pendapat Epon Ningrum, dalam tulisannya “Pemetaan Kualifikasi Kompetensi Guru Geografi bagi peningkatan Profesionalitas” ( http://blog.tp.ac.id/ ) Guru adalah menjadi salah satu komponen pembelajaran yang harus memenuhi standar tenaga pendidik, yakni memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S1) dan atau D4. Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai agen pembelajaran harus memiliki empat kompetensi yakni: Kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi kepribadian, dan Kompetensi Sosial. Mereka merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan.

Selanjut Epon menyatakan bagi guru yang memiliki profesionalitas, pengalaman menjadi wahana pembelajaran bagi peningkatan dan pengembangan diri. Kompetensi sifatnya dinamis, perlu dikembangkan dan ditingkatkan setiap saat, sesuai dengan tugas, kebutuhan dan perkembangan inovasi pendidikan serta perkembangan

masyarakat. Untuk peningkatan kompetensi profesional guru geografi diperlukan sikap professional.

Dwi , Kurniawam (2011) dalam skripsi Pengaruh Kompetensi Profesional Dan Produktivitas Guru Terhadap Hasil Belajar Siswa Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan Di SMK N 2 Klaten menyatakan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) tingkat kompetensi profesional guru berada pada kategori yang tinggi, sebanyak 3 guru atau 42,9% memiliki kompetensi profesional yang tinggi dan 4 guru atau 57,1% memilki kompetensi profesional yang sangat tinggi; (2) tingkat produkivitas guru seluruhnya atau 100% terkategorisasi dalam kelompok yang sangat inggi; (3) hasil belajar siswa kategori tinggi sebanyak 14,3% dan sebanyak 85,7 berada dalam kategori sangat tinggi; (4) ada pengaruh dari kompetensi profesional terhadap hasil belajar siswa, hal ini dibuktikan dengan perbedaan rata-rata hasil belajar siswa, yaitu sebesar 8,004 untuk kelompok kompetensi profesional sangat tinggi dan 7,611 untuk kelompok kompetensi profesional tinggi; (5) ada pengaruh dari produktivitas guru terhadap hasil belajar siswa, hal ini dibuktikan dengan rerata hasil belajar siswa yang sudah tergolong tinggi yang diajar oleh guru dengan tingkat produktivitas yang sangat tinggi pula.

Menurut Nawawi dalam Ahmad Barizi (2009:142) : Guru adalah orang yang pekerjaanya mengajar atau memberikan pelajaran disekolah atau didalam kelas. Secara lebih khusus guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak didik mencapai pendewasaan masing-masing.

Sedang menurut Sardiman (2005:125) “Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan”. Dengan demikian, guru bukan hanya orang yang sekedar berdiri di depan kelas untuk

menyampaikan materi pengetahuan (mata pelajaran) tertentu, akan tetapi guru adalah anggota masyarakat yang harus ikut dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang yang dewasa dan guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif serta menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional. Patut diakui dan diterima bahwa berhubung posisi guru yang sentral dalam penyelenggaraan sistem persekolahan umumnya dan khususnya kaitannya dengan tugas guru. Tugas dan tangung jawab tersebut erat kaitanya dengan kompetensi yang disyaratkan untuk memangku profesi guru. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tahun 2006 tentang guru bahwa “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesiannya”. Kompetensi mengajar guru harus sesuai dengan tuntutan standart tugas yang diemban sehingga dapat memberikan efek positif demi tercapainya tujuan pembelajaran seperti sikap siswa, ketrampilan siswa dan perubahan prestasi belajar.

Zakiyah Darajat, dkk (dalam Syaiful Sagala, 2009: 21 ) menyebutkan tidak sembarangan orang dapat melakukan tugas guru. Tetapi hanya orangorang tertentu yang memenuhi persyaratan yang dipandang mampu, yakni: (1) bertaqwa kepada Allah SWT. Dalam hal ini mudah difahami bahwa guru yang tidak bertaqwa akan sulit atau tidak mungkin bisa mendidik peserta didiknya menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT; (2) berilmu. Guru yang dangkal penguasaan ilmunya, akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan para peserta didiknya, apalagi untuk masa kini dan yang akan datang; (3) berkelakuan baik. Mengingat tugas guru antara lain untuk mengembangkan akhlak mulia, maka sudah barang tentu dia harus bias memberikan contoh akhlak mulia terlebih dahulu kepada anak didiknya. Di antara akhlak mulia

yang harus dicerminkan dalam kehidupannya adalah sikap bersabar menghadapi suatu persoalan, disiplin dalam menunaikan tugas, jujur dalam menyelesaikan pekerjaan, bersikap adil kepada semua orang, tidak pilih kasih, mampu menjalin kerjasama dengan orang lain, gembira memberikan pertolongan kepada orang lain, menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi, dan lain-lain; (4) sehat jasmani. Kesehatan fisik atau jasmani sangat diperlukan karena membantu kelancaran guru dalam mengabdikan diri untuk mengajar, mendidik, dan memberikan bimbingan kepada para peserta didik. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan, karena Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berpotensi untuk mendidik dan dididik.

Menurut penelitian Sudarmaji (2002 : 60).” …….Banyak faktor yang menentukan suatu sekolah menjadi berkualitas tinggi, tetapi berbagai penelitian tentang keefektifan mengajar guru, dapat disimpulkan bahwa guru mempunyai pengaruh yang sangat dominan terhadap pencapaian belajar siswa. Hal ini dapat dipahami karena guru merupakan sumber daya yang aktif, sedang sumber daya yang lain bersifat pasif. Sebaik-baik kurikulum, fasilitas, sarana prasarana pembelajaran, tetapi tingkat kualitas gurunya rendah, akan sulit mendapatkan hasil pendidikan yang berkualitas tinggi. Pendeknya guru merupakan “proxy utama” terhadap keberhasilan pendidikan.”

Hendri Joprison (2009) menyatakan “Seorang guru harus memiliki kecakapan dalam proses interaksi belajar mengajar. Dari dasar itu diperlukan kompetensi dalam mempersiapkan tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar. Kompetensi guru dalam hal ini tidak hanya berperan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa agar lebih aktif dan gairah dalam belajar. Guru merupakan sentral dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi antara guru dan anak didik merupakan kegiatan yang dominan. Kegiatan itu melibatkan komponen-komponen yang antara

satu dengan yang lainnya saling menyesuaikan dan menunjang dalam pencapaian tujuan belajar bagi anak didik.

Kehadiran seorang guru dalam proses belajar mengajar tidak dapat digantikan fungsinya oleh radio, mesin, tape recorder, ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil proses pengajaran, akan tetapi tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut dan guru masih tetap memegang peranan penting (Nana Sudjana, 1998:12).

Dari konsep di atas, jelaslah bahwa kompetensi guru adalah suatu unsur yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa. Dengan demikian kompetensi guru merupakan salah satu unsur yang tidak bisa diabaikan dalam pengelolaan proses interaksi belajar mengajar.

Kinerja (job performance) dipengaruhi oleh dimensi manusia yang menjadi penentu dalam kinerja. Sutermeister menjelaskan: "The human contribution to productivity, or employees job performance are considered to result from: (1) Ability; (2) Motivation "(Sutermeister, 1976: 11). Dalam penjelasan selanjutnya, Sutermeister mengemukakan:

"Ability is deemed to result of knowledge and skill. Knowledge, in turn is effected by education, experience, training and interest. Skill is effected by aptitude and personality, as well as by education, experience, trainig, and interest "(Sutermeister, 1976: 11).

Berdasarkan ilustrasi Suterrneister, produktivitas dipengaruhi oleh 32 faktor. Kurang lebih 10% dari faktor-faktor tersebut adalah faktor teknologi, bahan baku, layout, dan metode. Sedangkan sisanya, yaitu sekitar 90% ada(ah pengaruh kinerja pegawai (employees job performance). Kinerja pegawai sendiri sekitar 20% dipengaruhi oleh kemampuan dan 80% dipengaruhi oleh motivasi. Kemampuan

pegawai meliputi keterampilan dan pengetahuan Keterampilan terdiri atas bakat dan kepribadian. Sedangkar pengeta'iuan terdiri atas pendidikan, penga1aman, pelatihan, dan kepentingan (interest). Motivasi pegawai dipengaruhi oleh kondisi fisik (yang meliputi pencahayaan, temperatur, ventilasi, waktu istirahat, keamanan, dan musik); kebutuhan individu (yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi umum, pendidikan pribadi individu, waktu istirahat, waktu kerja, tingkat aspirasi, latar belakang budaya, pendidikan, dan pengalaman); dan kondisi sosial (yang dipengaruhi oleh kesatuan, kepemimpinan. organisasi informal, organisasi formal, efisiensi organisasi, iklim kepemimpinan, dan struktur organisasi).

Robins (2000: 190) mengemukakan bahwa kinerja merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan (ability), motivasi (motivation), dan kesempatan (opportunity). Sehingga dapat dirumuskan bahwa kinerja (P) = f(A X M X O), dimana A = kemampuan, O = kesempatan, dan M = Motivasi.

Selanjutnya Winardi (2002) menjelaskan: "Kemampuan di lain pihak, berhubungan dengan kompetensi tugas seseorang. Perbedaan antara kedua hal, yakni kompetensi dan motivasi sangat relevan bagi banyak situasi." (Winardi, 2002: 63).

Berbagai kajian dan hasil penelitian yang berhubungan dengan peranan strategis guru dalam menentukan keberhasilan pendidikan antara lain (Mulyasa, 2008 : 8-9) :

1. Murphy, (1995) menyatakan bahwa keberhasilan pembaharuan sekolah sangat ditentukan oleh gurunya, karena guru adalah pemimpin pembelajaran, fasilitator, dan sekaligus merupakan pusta inisiatif pembelajaran.

2. Brand dalam Educational Leadership (1993) menyatakan bahwa “Hampir semua usaha reformasi pendidikan seperti pembaharuan kurikulum dan

penerapan metode pembelajaran, semuanya tergantung kepada guru. Tanpa penguasaan materi dan strategi pembelajaran, serta tanpa dapat mendorong siswanya untuk belajar sungguh-sungguh, segala upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil yang maksimal.

3. Cheng dan Wong, (1996), melaporkan empat karakteristik sekolah dasar unggul (berprestasi), yaitu : (1) adanya dukungan pendidikan yang konsisten dari masyarakat, (2) tingginya derajat profesionalisme di kalangan guru, (3) adanya tradisi jaminan kualitas (quality assurance) dari sekolah, dan (4) adanya harapan yang tinggi dari siswa untuk berprestasi.

4. Supriadi (1998 : 178) mengungkapkan bahwa mutu pendidikan yang dinilai dari prestasi belajar peserta didik sangat ditentukan oleh guru, yaitu 34% pada negara sedang berkembang, dan 36% pada negara industri.

5. Jalan dan Mustofa, (2001), menyimpulkan bahwa komponen guru sangat mempengaruhi kualitas pengajaran melalui (1) penyediaan waktu lebih banyak pada peserta didik, (2) interaksi dengan peserta didik yang lebih intensif/sering, (3) tingginya tanggung jawab mengajar dari guru. Karena itu baik buruknya sekolah sangat tergantung pada peran dan fungsi guru.

Dokumen terkait