• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV NASIONALISASI HOTEL PRAPAT TAHUN 1958

4.2 Pengaruh Nasionalisasi Terhadap Perkembangan

Tindakan pengambilalihan terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda tentunya membawa dampak terhadap berakhirnya dominasi modal Belanda dalam ekonomi modern Indonesia. Pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda dibawah pengawasan tentara disebabkan oleh situasi dimana tenaga ahli untuk jajaran birokrasi pemerintahan Indonesia masih jauh dari mencukupi.Begitu juga halnya dengan pengambilalihan yang terjadi terhadap Hotel Prapat.

Pengambilalihan terhadap Hotel Prapat tentunya membawa pengaruh terhadap perkembangan dan keseimbangan hotel.Pengambilalihan hotel tersebut berdampak pada berkurangnya fasilitas yang disediakan oleh Hotel Prapat.Fasilitas yang tidak lagi disediakan oleh hotel yaitu fasilitas olahraga tennis dan olahraga golf. Hal ini disebabkan karena pengambil-alihan yang dilakukan oleh peperda hanya berfokus pada bangunan fisik hotel saja sedangkan fasilitas lainnya yang berada dibawa

54

pengelolaan perusahaan yang sama dengan hotel tersebut tidak turut serta diambil alih.

Untuk lapangan Golf, pasca nasionalisasi lapangan tersebut tidak lagi berada dibawah pengelolaan Hotel Prapat.tidak diketahui dengan pasti siapa yang mengelola lapangan tersebut setelah tidak lagi berada dibawah pengelolaan Hotel Prapat.Fasilitas lapangan tennis yang semula menjadi salah satu fasilitas yang di unggulkan di Hotel Prapat juga tidak lagi tersedia.Lapangan tersebut telah dialih-fungsikan menjadi lapangan pagoda hingga saat ini.Namun sebelum beralih fungsi, lapangan ini sempat mengalami kekosongan dan dijadikan sebagai lokasi perladangan oleh beberapa keluarga yang bertempat tinggal disekitaran lapangan tersebut.

Sebelum menjadi lapangan Pagoda, lapangan ini merupakan lapangan tanpa nama namun pernah disebut sebagai lapangan pondok. Disebut demikian karena kawasan tersebut sebelumnya merupakan tanah lajangan atau perladangan penduduk yang memiliki banyak pondok milik para petani. Setelahnya kemudian didirikan bangunan pagoda dan nama lapangan pondok pun perlahan berubah menjadi pagoda.

Ditahun 1960-an lapangan ini juga dijadikan sebagai tempat berlangsungnya pasar malam, setiap kali pasar malam diadakan, hiburan pertandingan olahraga tinju juga menjadi bagian dari kegiatan.Selain itu lapangan ini juga pernah dijadikan sebagai lokasi latihan para tentara Rindam II.52

Pada bagian tengah lapangan didirikan sebuah panggung terbuka yang bisa digunakan sebagai panggung pertunjukan hiburan.Lapangan ini juga kerap digunakan

52Wawancara dengan Sarido Ambarita, di Parapat pada tanggal 7 September 2020.

55

sebagai lahan parkir bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke Prapat.Gambar lapangan pagoda yang digunakan oleh masyarakat sebagai lapangan terbuka serba guna dapat dilihat pada lampiran 13.

Dengan adanya lapangan ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kegiatan lainnya, termasuk kegiatan ekonomi.Masyarakat sekita turut terlibat dalam kegiatan pariwisata.Mereka mulai menjajakan dagangan mereka kepada para wisatawan yang datang.selain itu mereka juga menyewakan tikar-tikar kecil yang di letakkan dilapangan tersebut. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada hari-hari besar saat wisatawan yang berkunjung jumlahnya meningkat.

Nasionalisasi hotel tersebut juga berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata yang ada di Parapat.Wilayah Si-piak yang menjadi lokasi berdirinya hotel ini menjadi pusat kunjungan wisatawan yang datang ke Parapat.Para pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan berenang di pantai yang memanjang di wilayah ini.Hal ini tentunya berpengaruh baik pula terhadap ekonomi masyarakat sekitar.Perkembangan pariwisata pasca nasionalisasi ini membuka lapangan pekerjaan baru di kalangan masyarakat, mereka mulai membuka usaha-usaha souvenir di sekitar hotel.

Walaupun fasilitas yang disediakan telah berkurang, namun setelah dilakukannya nasionalisasi terhadap Hotel Prapat tidak mengubah eksistensi hotel ini.Perkembangan pariwisata menyebabkan pengunjung yang datang untuk menginap di hotel ini tetap stabil jumlahnya.Hal ini dibuktikan dengan perkembangan dan renovasi yang masih terus dilakukan hotel hingga saat ini.

56

Selain itu pasca pengambil-alihan Hotel Prapat yang dilakukan oleh Peperda tidak banyak perubahan yang terjadi, Peperda hanya bertugas untuk menjaga kestabilan hotel.Kemudian pengelolaan dan pengawasan Hotel Prapat diserahkan kepada Badan Pimpinan Umum - Perusahaan Dagang Negara (BPU-PDN) Sumatera Utara dan Aceh yang berkedudukan di Medan.Badan usaha ini merupakan bagian dari badan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang bertujuan untuk menjamin koordinasi dalam pimpinan, kebijaksanaan dan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi.Dengan demikian produktivitas perusahaan-perusahaan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi dapat tetap dipertahankan.

Dengan adanya perusahaan ini diharapkan mampu mengelola dan meningkatkan produktivitas perusahaan-perusahaan tersebut termasuk Hotel Prapat.Diberlakukannya nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan belanda dilakukan untuk mengakhiri peran istimewa Belanda dalam ekonomi Indonesia.

Setelah berada dibawah pengelolaan perusahaan yang baru kemudian pada tahun 1960 manajemen hotel ini diserahkan kepada manajer baru yaitu Muhammad Machmud Isa, seorang berkebangsaan Belanda yang ditunjuk untuk mengelola hotel karena dianggap berkompeten untuk mengembangkan Hotel Prapat.

Kemudian setelah dikeluarkannya undang-undang yang membahas mengenai nasionalisasi perusahaan Belanda, tanggal 31 Maret 1962 berdasarkan peraturan pemerintah Hotel Prapat menjadi berada dibawah pengawasan dan penguasaan

57

Menteri Perhubungan Republik Indonesia dan dijadikan sebagai hotel-hotel pariwisata nasional berkantor pusat di Jakarta.

Walaupun telah menjadi salah satu hotel yang berada dibawah pengawasan Menteri Perhubungan Republik Indonesiahotel ini tidak mengalami perubahan manajer, hingga tahun 1980 Muhammad Machmud Isa masih menjabat sebagai manajer dan mengatur manajemen hotel ini. Selain itu, hotel ini juga tetap menggunakan nama yang sama sejak berdiri yaitu Hotel Prapat.

58 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan.

Situasi dan kegiatan-kegiatan di Hindia-Belanda pada akhir abad ke-19 memberikan pengaruh pada para perintis pariwisata Hindia-Belanda.Perkembangan pariwisata juga banyak dipengaruhi oleh perkembangan sarana angkutan motoritas, yaitu sarana angkutan seperti sepeda, sepeda motor, dan mobil.Khususnya pembukaan jalan raya tobaweg juga menjadi salah satu alasan maraknya wisata yang datang ke Prapat.

Dengan dibukanya jalan raya tobaweg membuat banyak para pengunjung dari luar daerah yang datang untuk berwisata ke Prapat. Keuntungan tersebut dimanfaatkan oleh pihak pengusaha swasta Kolonial Belanda dengan mendirikan Hotel Prapat sebagai tempat persinggahan bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam Danau Toba maupun bagi para pengunjung yang sekedar beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan mereka.

Prapat merupakan bagian dari wilayah onder afdeling Simaloengoen yang merupakan titik persinggahan penting yang menghubungkan antara pantai timur dan barat Sumatera.Prapat memiliki pemandangan alam yang luar biasa menakjubkan, hamparan indah Danau Toba dan lereng-lereng bukit disekitarnya merupakan pemandangan yang tidak dapat dilewatkan oleh siapapun yang melalui wilayah ini.

Orang-orang yang bermukim di Prapat merupakan Etnis Toba yang bermigrasi dari daerah daratan tinggi toba.Etnis Toba yang melakukan migrasi ke

59

wilayah Simaloengoen merupakan para petani yang melakukan perjalanan untuk membuka lahan pertanian di daerah yang mereka tuju.Begitu juga dengan penduduk yang berada wilayah Prapat pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani, hal ini disebabkan oleh potensi tanah yang dimiliki sangat bagus untuk pertanian.Selain itu beberapa dari penduduk di Prapat juga memanfaatkkan kekayaan alam lainnya dengan mencari ikan di danau.

Hotel Prapat merupakan bangunan sederhana yang lebih terlihat seperti bangunan rumah biasa daripada bangunan hotel, bangunan hotel inidihiasi dengan beberapa patung-patung yang dipajang di dinding hotel.Hotel Prapat juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas hiburan seperti berperahu, berenang, lapangan golf dan lapangan tenis.Semua fasilitas yang dimiliki oleh Hotel Prapat tentunya disesuaikan dengangaya hidup dan kegemaran orang-orang Eropa. Fasilitas-fasilitas yang disediakan hotel ini dikelolah oleh perusahaan N.V Hotel en Handel Maatschappij Toba.

Hotel Prapat sejak dari dibangunnya sudah mengalami beberapa kali perubahan, dari tahun 1918 kemudian dilakukan pembangunangedung hotel.

Renovasi kemudian dilakukan pada tahun 1920 dikarenakan terjadinya kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan hotel, bangunan hotel didirikan menjadi lebih luas dari bangunan sebelumnya. Tak berhenti samapai disitu perbaikan-perbaikan terus dilakukan di hotel untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang disediakan, pada tahun 1925Hotel Prapat telah dilengkapi dengan penerangan lampu listrik.Pembangunan pusat-pusat listrik yang membuat rumah-rumah di sekitar hotel

60

memiliki penerangan.Dengan adanya pembangunan pusat-pusat listrik ini menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan yang ada.

Pada awalnya Hotel Prapat belum memilki struktur kepemimpinan yang jelas, sejak tanggal 1 april 1935 mulai dilakukan pembenahan manajemen hotel oleh Van Neck yang kemudian mempekerjakan masyarakat yang tinggal disekitar hotel yang bertugas untuk membantu pekerjaan atasan mereka.Selama kepemimpinan Van Neck pemasaran hotel biasanya dilakukan dengan pemasangan iklan di surat-surat kabar dan melakukan kerja sama dengan biro perjalanan untuk mempermudah para wisatawan melakukan kunjungan ke Hotel Prapat.

Tindakan pengambilalihan terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda tentunya membawa dampak terhadap berakhirnya dominasi modal Belanda dalam ekonomi modern Indonesia. Sejak dikeluarkannya undang-undang tentang nasionalisasi perusahaan Belanda membuat Hotel Prapat menjadi berada dibawah pengawasan dan penguasaan Menteri Perhubungan Republik Indonesia dan dijadikan sebagai hotel-hotel pariwisata nasional berkantor pusat di Jakarta.

Setelahdilakukannya nasionalisasi manejemen Hotel Prapat dikelola oleh manajer baru berkebangsaan Belanda yaitu Muhammad Machmud Isa. Selama kepemimpinannya, beliau telah banyak melakukan renovasi guna memaksimalkan fasilitas yang ada. Kerap kali beliau melakukan renovasi dengan dana pinjaman tanpa diketahui oleh Pemerintah. Manajemen Hotel Prapat berkembang lebih baik pada masa kepemimpinan Muhammad Machmud Isa dibandingkan dengan Van Neck. Hal

61

ini terlihat dari perkembangan dan pembaharuan yang ada di hotel dan juga kualitas dari pegawai-pegawai hotel.

5.2 Saran

Pada kesempatan ini penulis menyarakan kepada pihak pengelola Hotel Inna Parapat agar lebih mempedulikan dan menjaga keaslian bangunan hotel yang masih tersisa.Penulis juga menyarankan kepada pihak pengelola hotel agar lebih memperhatikan sejarah berdirinya Hotel ini hingga dapat terus berkembang sampai saat ini.Hal ini tentunya menjadi salah satu daya tarik Hotel Inna Parapat yang merupakan salah satu bangunan bersejarah di KabupatenSimalungun, khususnya Parapat.

Selain itu penulis juga menyarankan kepada pihak Pemerintah Kabupaten Simalungun ataupun Pemerintah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon agar lebih memperhatikan bangunan-bangunan bersejarah lainnya yang berada diwilayah pemerintahannya seperti Hotel Prapat atau Hotel Inna Parapat sekarang. Bangunan bersejarah merupakan salah satu bukti perjalanan suatu wilayah atau kota yang memiliki arti penting dan juga nilai sejarah yang dapat dijadikan sebagai ikon pariwisata di wilayah tersebut.

Oleh karena minimnya penulisan sejarah perhotelan di Indonesia khususnya Sumatera Utara, penulis juga mengharapkan agar adanya penulisan yang lebih mendalam terhadap hotel-hotel bersejarah lainnya yang ada di wilayah Sumatera Utara secara ilmiah dan dapat dipertanggung-jawabkan.Hal ini tentunya berguna

62

untuk menambah wawasan dan khasanah dalam sejarah perhotelan, khususnya di Sumatera Utara.

63

Daftar Pustaka A. Sumber Buku

Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah, Jakarta. Logos Wacana Ilmu.

Hermawan, Hary, dkk. 2018. Pengantar Manajemen Hospitality. Bandung. PT.

Nasya Expanding Manajemen.

Kanumoyoso, Bondan. 2001. Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.

Kodhyat, H. 1996. Sejarah Pariwisata Dan Perkembangannya Di Indonesia, Jakarta.

Grasindo.

Marpaung, Happy. 2000. Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung: ALFABETA.

Pdt. Antoni Manurung,STh, dkk. 2010. Perjalanan Umat Tuhan : Sejarah Huria Kristen Batak Protestan Parapat (HKBP) 1904-2010, Jakarta. PT. Nadia Jaya Utama.

Pratono, Suhartono W. 2018. Teori & Metodologi Sejarah, Yogyakarta. Graha Ilmu.

Purba, O.H.S. dkk. 1998. Migran Batak Toba di Luar Tapanuli Utara : suatu deskripsi. Medan, CV. Monora.

Rasyidin, M (2018). Sejarah Perkembangan Hotel De Boer di Medan Tahun 1899-1958.Skripsi. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Sumatera Utara: Medan.

Saragih, Hisarma. 2019. Zending Tanah Batak. Yogyakarta, Ombak.

Simanjuntak, Bungaran A. dkk. 2015. Sejarah Pariwisata : Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia, Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Soekadijo, R.G. 1996. Anatomi Pariwisata (Memahami Pariwisata sebagai

“Systemic Linkage”). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

64

Subakti, Agung Gita. 2016. “Sejarah Perkembangan Hotel di Indonesia”

(https://hotel-management.binus.ac.id/2016/08/01/sejarah-perkembangan-hotel-di-indonesia/).

Sunjayadi, Achmad. 2019. Pariwisata di Hindia Belanda (1891-1942), Jakarta. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Suwithi, Ni Wayan, Boham, C.E.Jr. 2008. Akomodasi Perhotelan Jilid 1. Jakarta.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Tideman,J. 1921. Simaloengoen, Leiden. Stoomdrukkerij Louis H. Becherer.

B. Surat Kabar

De Sumatra Post, Parapat, 26-06-1918.

De Sumatra Post, N. V. Hotel Mij, Toba, 12-05-1920.

De Sumatera Post, Brand e Prapat, 01-12-1920.

De Sumatra Post, Prapat Hotel, 22-06-1926.

De Sumatra Post, Hotel Prapat, 29-04-1922.

De Sumatera Post, Telefonische verbinding met Prapat, 01-10-1926.

De Sumatera Post, Golf te Prapat, 12-12-1932.

De Sumatra Post, Hotel Prapat Badplaats, 21-12-1922.

De Sumatra Post, Het Prapat Hotel, 17-03-1928.

De Sumatera Post, BEKENDMAKING, 04-01-1928.

De Indische Courant, De Levende Schoolplaat, 29-04-1936.

De Indische Courant, Een Prauwenwedstrijd, 29-04-1936.

Niuewe Rotterdamsche Courant, Modern Hotel-comfort aan het Toba-meer, 22-07-1926.

65

Tweentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche Courant, Brieven uit Sumatra’s Binnenlanden, 22-04-1921.

66

DAFTAR INFORMAN

Nama : Charles Usman Sirait Umur : 81 tahun

Pekerjaan : Pensiunan Hotel

Alamat : Jl. Josep Sinaga, Kel. Tigaraja, Kec. Girsang Sipangan Bolon

Nama : Sarido Ambarita Umur : 58 tahun

Pekerjaan : Seniman

Alamat : Jl. Haranggaol, Kel. Tigaraja, Kec. Girsang Sipangan Bolon

67 Lampiran 1

Peta Prapat tahun 1940

Sumber :Deli automobiel club (diakses melalui colonialarchitecture.nl)

68 Lampiran 2

Pemandangan Prapat dilihat dari jalan raya tobaweg

Sumber :colonialarchitecture.nl (1920)

69 Lampiran 3

Segerombolan turis yang sedang menuju Hotel Prapat

Sumber : sibatakjalanjalan (1920)

70 Lampiran 4

Tempat berenang di Hotel Prapat

Sumber :Colonial Architecture (1920)

71 Lampiran 5

Lapangan Golf dan pohon pinus di Prapat

Sumber : sibatakjalanjalan

Lampiran 6

Beberapa kapal dan Danau Toba

Sumber : sibatakjalanjalan (1920)

72 Lampiran 7

Hotel Prapat di Danau Toba

Sumber : KITLV (1925)

73 Lampiran 8

Ruangan makan atau aula yang didesain oleh para pemuda Batak dari sekitaran Laguboti dan Balige yang merupakan siswa di sekolah kesenian.

sumber : KITLV (1920)

74 Lampiran 9

Hotel Prapat

Sumber : KITLV (1935)

75 Lampiran 10

Teras Hotel Prapat

Sumber : KITLV (1935)

76 Lampiran 11

Pengunjung yang sedang duduk di teras Hotel Prapat

Sumber: koleksi milik Hotel Inna Parapat (1935)

77 Lampiran 12

Lapangan tennis yang diubah menjadi lapangan open stage tahun 1960

Sumber : arsip kelurahan Tigaraja

78 Lampiran 13

Surat st. P. Simangunsong tentang tanah Sipiak dan aset-asetnya

Sumber : Buku Perjalanan Umat Tuhan

Dokumen terkait