BAB V PEMBAHASAN
5.3. Pengaruh Parameter Kualitas Fisik dan Kimia
A. Suhu
Hasil pengukuran suhu pada air tambak dengan jarak 100 m yaitu 26,6º C, jarak 200 m yaitu 26,2º C dan jarak 300 m yaitu 26,6º C, sedangkan kadar suhu pada air lindi yaitu 26ºC, ini berarti suhu dari ketiga jarak tambak yang diteliti juga pada air lindi yang ada di TPA sudah sesuai dengan baku mutu air Kelas II, sedangkan menurut baku mutu yang ditetapkan berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 suhu yang diperbolehkan adalah 24-30ºC. Suhu merupakan suatu karakter yang sangat penting untuk diperhatikan, karena perubahan suhu akan memberikan perubahan pada kualitas air. Suhu merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap ion, fase keseimbangan dan juga mempengaruhi kecepatan proses biokimia yang akhirnya bisa menyebabkan perubahan kadar kandungan zat organik dan mineral (Depkes RI, 1996).
Suhu juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap kelarutan oksigen. Populasi termal pada organisme air terjadi pada suhu tinggi. Setiap spesies mempunyai suhu optimumnya. Ada ikan yang mempunyai suhu optimum. 15ºC, ada yang 24ºC dan ada juga yang 32ºC. Ikan ini dapat menenggang perbedaan suhu sedikit, bahkan dapat mengaklimatisasi diri. Tetapi jika suhu berbeda jauh dari optimumnya hewan itu akan mati atau berimigrasi ke daerah baru (Sastrawijaya, 1991).
Kenaikan suhu air menyebabkan suhu badan hewan berdarah dingin dalam air itu naik. Hal ini akan menyebabkan laju metabolisme naik dalam ikan dan selanjutnya menaikkan kebutuhan oksigen. Tetapi jika suhu air naik, maka kandungan oksigen dalam air menurun. Jika kebutuhan oksigen melampaui oksigen yang tersedia maka ikan itu akan mati. Suhu ini disebut suhu yang mematikan (lethaltemperature) (Sastrawijaya, 1991).
B. TDS (Zat Padat Terlarut)
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa TDS pada jarak 100 m yaitu 728 mg/L, jarak 200 m ada 1800 mg/L dan jarak 300 m yaitu 467 mg/L. Ini berarti pada jarak 200 m hasilnya melebihi baku mutu air yang ditetapkan, karena dari hasil dilapangan air tambak tersebut sangat keruh dan berdekatan dengan saluran pembuangan air sedangkan pada jarak 100 dan 300 meter lebih jauh dari saluran pembuangan air. Baku mutu air kelas II hasil TDS yaitu 1000 mg/L. TDS biasanya terdiri atas zat organik, garam anorganik dan gas terlarut. Bila TDS bertambah maka kesadahan air akan naik pula (Soemirat, 2004).
Rupa air dalam sungai, kolam atau danau tidak tetap. Sehabis hujan kecoklatan, karena banyak partikel tersuspensi yang terbawa masuk. Pada musim kemarau banyak yang kelihatan kehijauan karena disebabkan banyaknya ganggang tumbuh. Perubahan rupa air disebabkan bahan tersuspensi dan terlarut. Padatan terlarut mempengaruhi ketransparanan dan warna air (Sastrawijaya, 1991).
Menurut Darmono (2001), bahan partikel yang tidak terlarut seperti pasir, lumpur, dan bahan kimia anorganik dan organik menjadi bentuk bahan tersuspensi di
dalam air. Pertikel yang tersuspensi menyebabkan kekeruhan di dalam air, sehingga mengurangi kemampuan ikan dan organisme air lainnya memperoleh makanan, pakan ikan menjadi tertutup lumpur.
5.2.2. Pengaruh Parameter Kualitas Kimia
Kualitas kimia yang diteliti meliputi pH, minyak dan lemak, Nitrat, DO (Oksigen terlarut), Seng (Zn), Sulfida (H2S), Detergen, Tembaga (Cu) dan Ammonia.
1. pH (Derajat Keasaman)
Hasil penelitian pH pada air tambak dari jarak 100 yaitu 8,4, jarak 200 m ada 7,9 dan jarak 300 m yaitu 7,8, sedangkan kondisi di TPA kualitas pH yaitu 8,6. Ini berarti kandungan pH dalam air tambak dan di TPA masih sesuai dengan baku mutu air yang ditetapkan yaitu 6-9. Air yang mempunyai pH antara 6,7 sampai 8,6 mendukung populasi ikan dalam kolam. Dalam jangkauan pH itu pertumbuhan dan pembiakkan air tidak terganggu, karena ada juga ikan yang mampu hidup antara pH 5 sampai 9.
2. Minyak dan Lemak
Hasil penelitian kandungan minyak dan lemak dalam air tambak didapat pada jarak 100 m yaitu 1,3878 mg/L, pada jarak 200 m ada 1,5432 mg/L dan jarak 300 m yaitu 3,85560 mg/L, sedangkan jika dibandingkan di TPA kualitas minyak dan lemak 0,9398 mg/L ini menunjukkan bahwa hasil minyak dan lemak pada air tambak tidak sesuai dengan baku mutu air yang ditetapkan yaitu 1 mg/L. Minyak tidak dapat larut dalam air, melainkan akan mengapung di atas permukaan air. Bahan buangan sampah yang mengandung minyak/lemak yang dibuang apabila terkena air hujan akan
buangan cairan berminyak mengandung senyawa yang relatil maka akan terjadi penguapan dan luasan permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan menyusut.
Lapisan minyak di permukaan air akan mengganggu kehidupan organisme di dalam air. Hal ini disebabkan oleh : 1). Lapisan minyak dan lemak pada permukaan air akan menghalangi difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga jumlah oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang, 2). Adanya lapisan minyak dan lemak pada permukaan air juga akan meghalangi masuknya sinar matahari ke dalam air sehingga fotosintesis oleh tanaman air tidak dapat berlangsung.
3. Nitrat (NO2)
Hasil penelitian dari laboratorium bahwa kandungan Nitrat pada air tambak dari jarak 100 ada 4,5 mg/L, jarak 200 m yaitu 5,9 mg/L dan jarak 300 sebesar 12,1 mg/L, sedangkan jika dibandingkan dengan kandungan Nitrat pada air lindi yaitu 77 mg/L. Jadi dari hasil tersebut pada jarak 300 m dan di TPA ternyata melampaui dari baku mutu air yang sudah ditetapkan yaitu sebesar 10 mg/L. Nitrat dalam tanah dan air terbanyak dibuat oleh mikroorganisme dengan cara biologis. Nitrat dapat juga berasal dari dekomposisi bakteri terhadap organik yang berasal dari vegetasi atau hewan (pupuk yang mengandung senyawa N, buangan rumah tangga dan industri).
Sampah yang mengandung nitrat, bila hujan lebat air akan membawa nitrat dari tanah masuk menuju ke dalam aliran sungai, tambak, dan danau. Hal ini akan merangsang tumbuhnya algae dan tanaman air lainnya. Kelimpahan unsur nitrisi nitrat dalam air disebut Euthrophication. Pengaruh negatif dari eutrofikasi adalah
terjadinya perubahan keseimbangan kehidupan antara tanaman air dengan hewan air, sehingga beberapa spesies ikan akan musnah dan tanaman air akan dapat menghambat laju arus air (Darmono, 2001).
4. DO (Oksigen Terlarut)
Hasil penelitian di dapat bahwa kandungan oksigen terlarut pada air tambak dengan jarak 100 yaitu 5,28 mg/L, jarak 200 m sebesar 2,52 mg/L dan jarak 300 m 2,84 mg/L, hal ini menujukkan pada jarak 100 m kandungan DO pada air tambak sudah melampaui baku mutu air yang ditetapkan yaitu sebesar 4 mg/L Tingginya kadar DO pada kolam III yang ada pada jarak 100 m sangat perlu bagi kehidupan ikan karena oksigen adalah gas yang berwarna, tak berbau, tak berasa, dan hanya sedikit larut dalam air. Untuk mempertahankan hidupnya makhluk yang hidup di air, baik tanaman maupun hewan, bergantung kepada oksigen terlarut ini (Sastrawijaya, 1991).
Penyebab utama berkurangnya kadar oksigen dalam air ialah limbah organik yang terbuang dalam air tambak. Limbah organik akan mengalami degradasi dan dekomposisi oleh bakteri aerob (menggunakan oksigen dalam air), sehingga lama kelamaan oksigen yang terlarut akan berkurang (Darmono, 2001).
Sedangkan pada kolam I dan kolam II jumlah DO (oksigen terlarut) kurang dari baku mutu air yang ditetapkan, kurangnya oksigen terlarut menyebabkan organisme anaerob mungkin akan mati dan mungkin organisme anaerob akan menguraikan bahan organik dan menghasilkan bahan seperti metana dan hidrogen
5. Seng (Zn)
Hasil di dapat bahwa kadar seng dalam air tambak menunjukkan pada jarak 100 m sebesar 0,015 mg/L, pada jarak 200 m yaitu 0,013 mg/L dan jarak 300 m yaitu 0,002 mg/L, hal ini berarti sudah sesuai dengan baku mutu air yang ditetapkan oleh PP No 82 tahun 2001 yaitu 0,05 mg/L. Seng adalah unsur yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil yang ditemukan dalam semua makanan dan air yang dapat diminum, dalam bentuk garam-garam atau senyawa organik yang komplek (Depkes RI, 1996).
6. Sulfida (H2S)
Hasil penelitian di dapat bahwa kadar Sulfida dalam air tambak menunjukkan bahwa dari jarak 100 m sebesar 0,36 mg/L, jarak 200 m yaitu 0,29 mg/L dan jarak 300 m sebesar 0,72 mg/L, jadi dari ke tiga jarak tersebut semuanya melampaui baku mutu air yang ditetapkan oleh PP No.82 tahun 2001 yaitu 0,002 mg/L. Senyawa sulfida menimbulkan rasa dan bau, bersifat korosif dan iritan. Keracunan biasanya jarang terjadi, karena zat ini berbau busuk. Bila orang sempat menjauh, maka ia tidak akan keracunan, tetapi apabila sulfida ini berbentuk gas yang menjalar cepat, sehingga orang tidak sempat melarikan diri maka orang dapat menderita keracunan akut yang mematikan dalam waktu singkat karena asphyxia.
7. Detergen
Hasil penelitian di daapt bahwa kadar detergen dalam air tambak menunjukkan bahwa pada jarak 100 m sebesar 0,259 mg/L, pada jarak 200 m ada 0,231 mg/L dan jarak 300 m sebesar 0,281 mg/L, jadi dari ketiga jarak tersebut
semuanya melampaui baku mutu air yang ditetapkan oleh PP No. 82 tahun 2001 yaitu 0,2 mg/L.
Deterjen merupakan bahan sintesis dan terbagi dalam dua kelompok, deterjen anionik dan kationik. Sumber detergen yang mencemari air tambak berasal dari rumah penduduk, yang berupa air bekas cucian pakaian atau alat rumah tangga. Untuk deterjen rumah tangga digunakan kelompok yang pertama. Telah dikenal dua macam deterjen anionik, yakni alkil sulfonat linear dan alkil benziana sulfonat. Golongan pertama adalah deterjen lunak dan dapat mengalami biodegradasi dan golongan kedua ialah deterjen keras yang sifatnya melawan aksi bakteri.
Adapun pencemaran aliran sungai disebabkan oleh detergen yang berasal dari sampah-sampah plastik yang dibersihkan oleh para pemulung dengan menggunakan detergen. Dampak dari deterjen ini berbahaya bagi ikan walaupun konsentrasi yang kecil. Misalnya natrium dodesil benzena sulfonat dapat merusak insang ikan. Biarpun hanya 5 ppm. Kotoran kita yang belum diolah dapat mengandung sampai 10 ppm deterjen. Juga tanaman air dapat terganggu pertumbuhannya jika kadar deterjen tinggi. Kemampuan fotositesis dapat terhenti. Ikan masih dapat bertahan selama sebulan jika detergen mencapai 3 ppm. Tetapi bagi organisme yang menjadi makanan ikan hal ini sudah berbahaya. Detergen juga mempermudah absorpsi racun melalui insang (Sastrawijaya, 1991).
8. Tembaga (Cu)
mg/L Jadi dari ketiga jarak sudah melampaui baku mutu air yang ditetapkan yaitu 0,02 mg/L. Kadar tembaga merupakan unsur yang diperlukan dan pajanan melalui makanan umumnya adalah 1-3 mg/hari.
Pengaruh kadar pada ikan di tambak karena Cu merupakan logam yang pada dasarnya bersifat elektrostatistik dan pada larutan garam berbentuk ion hidrofilik, juga merupakan komponen kovalen dan jarang berbentuk ion bebas. Logam jenis ini apabila masuk kedalam sel hewan biasanya selalu proposional dengan tingkat konsentrasi logam dalam air sekitarnya, sehingga logam dapat terikat dengan adanya ketersediannya logam dalam sel.. Masuknya logam tersebut (Cu) ke dalam sel malalui lapisan lipida dari dinding sel dengan fenomensa endositosis, sistem pemompaan dan sistim kelas organik. Diduga logam tersebut merupakan logam berat, sangat mudah dan cepat melakukan penetrasi dalam tubuh organisme air. Toksisitas logam tersebut terhadap organisme air sudah tidak diragukan lagi, sehingga kerusakan yang ditimbulkan terhadap jaringan organisme akuatik terjadi pada organ yang peka seperti insang dan usus, kemudian jaringan bagian dalam seperti hati dan ginjal tempat logam tersebut terakumulasi (Darmono, 2001).
9. Ammonia (NH3)
Hasil penelitian di dapat kadar Ammonia pada jarak 100 m sebesar 11,5 mg/L, sedangkan jarak 200 m ada 4,68 mg/L dan jarak 300 m ada 3,85 mg/L. Ammonia merupakan hasil tambahan penguraian (pembusukan). Ammonia adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme, dan mengganggu proses desinfeksi dengan Khlor (Soemirat, 2004).
Amoniak merupakan hasil tambahan penguraian (pembusukan protein tanaman atau hewan, atau dalam kotorannya. Jadi jika ada amoniak dalam air ada kemungknan kotoran hewan masuk, juga dapat terbentuk jika urea dan asam urik dalam urine mengurai. Nitrat dapat terbentuk karena tiga proses, yakni badai listrik, organisme pengikat nitrogen dan bakteri yang menggunakan amoniak (Sastrawijaya, 1991)