BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Pengembangan Karir
2.6.2. Pengaruh Pengembangan Karir terhadap Kepuasan
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja pegawai adalah adanya kesempatan untuk pengembangan karir. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ekayadi (2009) Pengaruh Motivasi dan Pengembangan Karir Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan pada PT Rimbajati Raya Citrakarya menyimpulkan bahwa motivasi dan pengembangan karir secara bersama berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan, sedangkan secara parsial hanya variabel pengembangan karir yang mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2012) Pengaruh Pengembangan Karir terhadap Kepuasan Kerja Pegawai di Kantor Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama variable pengembangan karir yang terdiri dari promosi (X1), pelatihan (X2), kebijakan (X3) dan kepedulian (X4) berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja pegawai Kantor Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.
2.6.3. Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Motivasi Berprestasi
Adapun faktor lainnya yang berpengaruh terhaap motivasi berprestasi adalah tingkat kepuasan kerja. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugraheny (2012) tentang Analisis Pengaruh Kepuasan Kerja, Dukungan Organisasi, dan Gaya Kepemimpinan Terhadap motivasi Kerja dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan (Studi Pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kota Semarang), menunjukkan bahwa kepuasan kerja, dukungan organisasi, dan gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi berprestasi karyawan PT Bank Mandiri di Kota Semarang.
Kepuasan kerja yang diperoleh karyawan berpengaruh positif terhadap motivasi berprestasi karyawan pada suatu organisasi. Semakin tinggi kepuasan kerja yang diterima oleh individu maka akan semakin besar pula motivasi berprestasi karyawan yang timbul.
2.6.4. Pengaruh Pemberian Remunerasi terhadap Motivasi Berprestasi Motivasi berprestasi pegawai dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang salah satunya adalah faktor pemberian remunerasi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarmina (2009) tentang “Pengaruh Peningkatan Remunerasi Terhadap Motivasi Berprestasi dan Kepuasan Kerja Pegawai Dalam Lingkungan Kanwil Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta“ menyimpulkan bahwa peningkatan remunerasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi adalah remunerasi. Semakin dilaksanakannya pemberian remunerasi di dalam suatu perusahaan maka karyawan akan semakin
dilaksanakan, maka kecenderungan karyawan untuk tidak termotivasi untuk berprestasi akan semakin besar.
2.6.5. Pengaruh Pengembangan Karir terhadap Motivasi Berprestasi
Motivasi berprestasi juga dapat dipengaruhi oleh adanya pengembangan karir. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Radea (2002) tentang: ”Hubungan Program Pengembangan Karir dengan Motivasi Kerja Karyawan PT PLN (Persero) Pikitring Jawa, Bali dan Nusra Pikiting Jawa Barat, Bandung”, menunjukkan bahwa program pengembangan karir mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan motivasi kerja Karyawan PT PLN (Persero) Pikitring Jawa, Bali dan Nusra Pokitring, Jawa.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut tampak bahwa ada hubungan antara pengembangan karir dengan motivasi berprestasi bagi pegawai. Adanya kesempatan kesempatan untuk memperbaiki posisi kerja dan karir dapat bisa menimbulkan motivasi berprestasi yang lebih tinggi.
Adapun Kerangka Konseptual penelitian ini adalah :
H4€1 £2
2.7. Hipotesis
1. H1 = Remunerasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.
2. H2 = Pengembangan karir berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.
3. H3 = Kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
4. H4 = Remunerasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
5. H5 = Pengembangan karir berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
6. H6 = Remunerasi berpengaruh secara tidak langsung terhadap motivasi berprestasi melalui kepuasan kerja.
7. H7 = Pengembangan karir berpengaruh secara tidak langsung terhadap motivasi berprestasi melalui kepuasan kerja.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian ini menurut tingkat ekplanasinya adalah deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif yaitu metode-metode penelitian yang memusatkan perhatian pada masalah-masalah atau fenomena yang bersifat aktual pada saat penelitian dilakukan, kemudian menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interprestasi yang rasional dan akurat (Nawawi, 2007).
Metode kuantitatif merupakan metode ilmiah karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis (Sugiyono, 2005).
Adapun sifat penelitian ini adalah deskriptif explanatory, yaitu penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungannya antara satu variabel dengan yang lain (Sugiyono, 2005)
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilaksanakan di Kantor BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara pada bulan Agustus 2014 - Januari 2015.
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh pemeriksa di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara yang berjumlah 95 orang (per Agustus 2014).
3.3.2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Jadi sampel adalah contoh yang diambil dari sebagian populasi penelitian yang dapat mewakili populasi.
Penentuan pengambilan sample apabila kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, (Arikunto, 2008).
Dengan demikian jumlah sampel adalah 95 sampel atau disebut sebagai metode sensus.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Kuesioner: Daftar pertanyaan yang berstruktur diberikan kepada seluruh pemeriksa di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara yang berjumlah 95 orang.
2. Wawancara/Observasi: Pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya, kegiatan ini dilakukan saat penuis melakukan survei pendahuluan.
3. Dokumentasi: Studi dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dan
organisasi, jurnal dan buku-buku khususnya dari BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
3.5. Jenis dan Sumber Data 3.5.1. Jenis Data
Jenis penelitian dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka.
3.5.2. Sumber Data
Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data primer
Data primer yaitu data yang dibuat untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri langsung dari BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
2. Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan.
3.6. Identifikasi dan Definisi Operasional variabel
Definisi operasional variabel merupakan suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan memberikan arti untuk menspesifikkan kegiatan atau membenarkan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut (Sugiyono, 2005). Definisi operasional variabel berguna untuk memahami secara lebih dalam mengenai variabel di dalam sebuah penelitian.
Dengan pemahaman yang mendalam diharapkan dapat memberikan kemudahan di dalam pembuatan indikator. Berdasarkan perumusan masalah, kerangka berpikir dan hipotesis yang diajukan, maka variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel
No. Variabel Definisi Operasional Dimensi Variabel imbalan/balas jasa yang diberikan organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan 2. Sesuai dengan kinerja.
1. Kesesuaian beban kerja dengan TKPK.
2. Kesesuaian kinerja dengan TKPK.
1. Memenuhi kebutuhan hidup layak.
2. Mampu meningkatkan kesejahteraan.
1. Setara dengan gaji pegawai dengan kualifikasi yang sama di sektor swasta.
2. Menghindari brain drain.
1. Bisa menghitung jumlah TKPK.
2. Sesuai dengan peraturan.
Skala Likert
Pengembang an Karir
(X2)
Pengembangan Karir adalah kegiatan untuk melakukan perencanaan karir dalam rangka meningkatkan karir pemeriksa dimasa yang akan datang agar memberikan pendidikan dan pelatihan.
3. Kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang terbuka.
Skala Likert
No. Variabel Definisi Operasional Dimensi Variabel
Indikator Skala
Ukur 2. Promosi 1. Adanya kesempatan pegawai
berprestasi untuk naik jabatan.
2. Harapan pegawai untuk promosi.
3. Kejelasan informasi promosi jabatan.
3. Mutasi 1. Adanya kesempatan karyawan berprestasi untuk mutasi.
2. Harapan pegawai untuk mutasi.
3. Kejelasan informasi mutasi.
Kepuasan terhadap situasi kerja dan apa yang diperoleh
1. Sesuatu yang bermanfaat.
2. Menantang.
1. Kepuasan terhadap kebijakan penggajian.
2. Kepuasan terhadap berbagai jenis tunjangan yang ada.
3. Kepuasan terhadap ketepatan waktu.
2. Kebutuhan akan peningkatan karir berkala. berperilaku dalam keadaan yang wajar.
2. Kebutuhan untuk menjadi teladan bagi orang lain.
3. Kebutuhan untuk dihormati.
3. Kebutuhan
No. Variabel Definisi Operasional Dimensi Variabel
Indikator Skala
Ukur memiliki hubungan yang
harmonis dengan
atasan/rekan kerja.
3.7. Uji Validitas dan Reliabilitas 3.7.1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengukur ketepatan dan kecermatan setiap pertanyaan yang digunakan pada kuesioner yang merupakan instrumen penelitian.
Ghozali (2006) menyatakan bahwa pengukuran validitas dapat dilakukan dengan korelasi bivariate antara masing-masing skor indikator dengan total skor konstruk.
Perhitungan korelasi bivariate antara masing-masing skor indikator dengan total skor konstruk dilakukan dengan mengunakan perangkat lunak Statisical Packages for Social Sciences (SPSS).
Untuk menguji ketepatan alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner, uji validitas dilakukan terhadap 30 orang pemeriksa BPK yang tersebar di berbagai kota di Indonesia (tidak termasuk populasi dalam penelitian ini).
Menurut Sugiyono (2005) jika nilai validitas setiap pertanyaan lebih besar dari nilai koefisien korelasi (r) 0,30 maka butir pertanyaan dianggap sudah valid.
Uji validitas dilakukan dengan metode sekali ukur (one shot method) dimana pengukuran dengan metode ini cukup dilakukan satu kali. Kemudian dilakukan penentuan nilai rhitung untuk menguji tingkat validitas alat ukur penelitian. Nilai rhitung dibandingkan dengan nilai rtabel pada taraf signifikansi α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = n-2
Berdasarkan hasil pengujian statistik, maka validitas untuk setiap variabel
3.7.1.1.Uji Validitas Instrumen Remunerasi (X1)
Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Instrumen Remunerasi (X1) No. Butir
Sumber : Hasil olah SPSS (Statistical Product and Service Solutions)
Dari Tabel 3.2 sebagai hasil uji validitas dan berdasarkan ketentuan di atas, diperoleh nilai r item correction semua item > 0,361. Dengan demikian semua pertanyaan yang digunakan dalam variabel X1 dinyatakan valid dan dapat digunakan.
3.7.1.2.Uji Validitas Instrumen Pengembangan Karir (X2)
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen Pengembangan Karir (X2) No. Butir
instrumen
Nilai r Tabel Corrected Item-Total Correlation
No. Butir instrumen
Nilai r Tabel Corrected Item-Total Correlation semua pertanyaan yang digunakan dalam variabel X2 dinyatakan valid dan dapat digunakan.
3.7.1.3.Uji Validitas Instrumen Kepuasan Kerja (X3)
Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen Kepuasan Kerja (X3) No. Butir instrumen Nilai r Tabel Corrected
Item-Total Correlation
Dari Tabel 3.4 sebagai hasil uji validitas dan berdasarkan ketentuan di atas, diperoleh nilai r item correction semua item > 0,361. Dengan demikian semua pertanyaan yang dgunakan dalam variabel X3 dinyatakan valid dan dapat digunakan.
3.7.1.4.Uji Validitas Instrumen Motivasi Berprestasi (Y)
Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Instrumen Motivasi Berprestasi (Y) No. Butir instrumen Nilai r
Tabel
Corrected Item-Total Correlation
Kesimpulan
1. Y1,1 0,361 0.857 Valid
2. Y1,2 0,361 0.849 Valid
3. Y1,3 0,361 0.891 Valid
4. Y1,4 0,361 0.905 Valid
5. Y1,5 0,361 0.880 Valid
6. Y1,6 0,361 0.909 Valid
7. Y1,7 0,361 0.789 Valid
8. Y1,8 0,361 0.868 Valid
9. Y1,9 0,361 0.878 Valid
Sumber : Hasil olah SPSS
Dari Tabel 3.5 sebagai hasil uji validitas dan berdasarkan ketentuan di atas, diperoleh nilai r item correction semua item > 0,361. Dengan demikian semua pertanyaan yang dgunakan dalam variabel Y dinyatakan valid dan dapat digunakan.
3.7.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas atau istilah lainnya yaitu reproduksibilitas, keterandalan, keandalan, presisi, atau ketepatan pengukuran adalah mencakup tingkat kepercayaan data yang diperoleh dari responden karena hal ini dipengaruhi oleh
sikap, motivasi dan persepsi responden dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Menurut Ghozali (2006) uji reliabilitas dimaksudkan untuk melihat sejauh mana hasil suatu pengukuran instrumen dapat dipercaya. Teknik yang digunakan untuk menguji reliabilitas adalah Cronbach’s Alpha dengan kriteria sebagai berikut:
1. α ≥ 0,6 artinya instrumen reliabel; dan 2. α < 0,6 artinya instrumen tidak reliabel.
Berdasarkan hasil pengujian statistik, maka validitas untuk setiap variabel penelitian dapat dilihat sebagai berikut:
3.7.2.1.Uji Reliabilitas Instrumen Remunerasi (X1)
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Remunerasi (X1) No. Butir
Dari Tabel 3.6 di atas hasil nilai Cronbach’s Alpha > nilai koefisien reliabilitas yaitu 0.784 > 0,632. Dengan demikian instrumen remunerasi (X1) telah dapat dikatakan reliabel.
Tabel 3.7 Uji Reliabilitas Instrumen Remunerasi (X1) Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
0.784 10
3.7.2.2.Uji Reliabilitas Instrumen Pengembangan Karir (X2)
Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Pengembangan karir (X2) No. Butir
instrumen
Nilai Cronbach's
Alpha
Cronbach's Alpha if Item Deleted
Keterangan
1. X2,1 0,632 0.766 Reliabel
2. X2,2 0,632 0.763 Reliabel
3. X2,3 0,632 0.771 Reliabel
4. X2,4 0,632 0.771 Reliabel
5. X2,5 0,632 0.770 Reliabel
6. X2,6 0,632 0.766 Reliabel
7. X2,7 0,632 0.762 Reliabel
8. X2,8 0,632 0.764 Reliabel
9. X2,9 0,632 0.761 Reliabel
10. X2,10 0,632 0.760 Reliabel
Sumber : Hasil olah SPSS
Dari Tabel 3.8 di atas hasil nilai Cronbach’s Alpha > nilai koefisien reliabilitas yaitu 0.787 > 0,632. Dengan demikian instrumen pengembangan karir telah dapat dikatakan reliabel.
Tabel 3.9 Uji Reliabilitas Instrumen Pengembangan Karir (X2) Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
0.787 10
3.7.2.3.Uji Reliabilitas Instrumen Kepuasan Kerja (X3)
Tabel 3.10 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Kepuasan Kerja (X3) No. Butir
Dari Tabel 3.10 hasil nilai Cronbach’s Alpha > nilai koefisien reliabilitas yaitu 0,781 > 0,632. Dengan demikian instrumen kepuasan kerja (X3) telah dapat dikatakan reliabel.
Tabel 3.11 Uji Reliabilitas Instrumen Kepuasan Kerja (X3) Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
0.781 11
3.7.2.4.Uji Reliabilitas Instrumen Motivasi Berprestasi (Y)
Tabel 3.12 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Motivasi Berprestasi (Y) No. Butir
instrumen
Nilai Cronbach's
Alpha
Cronbach's Alpha if Item Deleted
Keterangan
1. X2,1 0,632 0.767 Reliabel
2. X2,2 0,632 0.764 Reliabel
3. X2,3 0,632 0.762 Reliabel
4. X2,4 0,632 0.763 Reliabel
5. X2,5 0,632 0.762 Reliabel
6. X2,6 0,632 0.761 Reliabel
7. X2,7 0,632 0.768 Reliabel
8. X2,8 0,632 0.766 Reliabel
9. X2,9 0,632 0.763 Reliabel
Sumber : Hasil olah SPSS
Dari Tabel 3.12 hasil nilai Cronbach’s Alpha > nilai koefisien reliabilitas yaitu 0.785 > 0,632. Dengan demikian instrumen motivasi berprestasi (Y) telah dapat dikatakan reliabel.
Tabel 3.13 Uji Reliabilitas Instrumen Motivasi Berprestasi (Y) Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
0.785 9
3.8. Metode Analisa Data
3.8.1. Analisa Jalur (Path Analysis)
Metode path analysis merupakan perluasan regresi linier berganda yang digunakan untuk menaksir hubungan kausalitas antara variabel dalam model penelitian yang dibangun berdasarkan landasan teori yang kuat.
Sesuai dengan kerangka pemikiran maka dapat membuat dua persamaan struktural yaitu persamaan regresi yang menunjukan hubungan yang dihipotesiskan.
Adapun langkah-langkah menguji path analysis adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan hipotesis dan persamaan struktural.
a. Merumuskan hipotesis
1) Remunerasi (X1) dan pengembangan karir (X2)secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja(X3).
2) Remunerasi (X1) dan pengembangan karir (X2) dan kepuasan kerja(X3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi (Y).
b. Persamaan Struktural
Sesuai dengan kerangka pemikiran maka dapat membuat dua persamaan struktural yaitu persamaan regresi yang menunjukan hubungan yang dihipotesiskan. Dua persamaan tersebut sebagai berikut:
X3 = a0+b1X1+ b1X2 + e1……….1 Y = a1+b2X1+ b2X2+ e2……….2 Keterangan :
X3= Kepuasan Kerja (variabel intervening) Y = Motivasi Berprestasi (variabel dependen) X1 = Remunerasi (variabel independen)
X2 = Pengembangan Karir (variabel independen) a = Konstanta
b = Koefisien regresi e = error
2. Menghitung koefisien jalur yang didasarkan pada koefisien regresi.
a. Menggambar diagram jalur lengkap dan merumuskan persamaan strukturalnya yang sesuai hipotesis yang diajukan.
H4€1 £2
b. Menghitung koefisien regresi untuk struktur yang telah dirumuskan.
Menghitung koefisien korelasi menggunakan PASW statistics 20.0 for windows. Dalam melakukan interpretasi hasil menggunakan standardized coefficients atau yang dikenal dengan nilai beta bukan unstandardized coefficients sehingga mengabaikan nilai konstanta (intercept).
c. Menghitung koefisien jalur secara simultan (keseluruhan). Uji secara keseluruhan (simultan) ditunjukan dalam Uji F.
d. Menghitung koefisien jalur secara individu. Uji secara individu (parsial) ditunjukan dalam Uji t.
3.8.2. Uji Hipotesis
Untuk menjawab hipotesis yang telah dibuat dapat digunakan metode analisis sebagai berikut:
1. Uji koefisien jalur secara menyeluruh
Uji koefisien jalur secara menyeluruh menggunakan uji F. Uji F digunakan untuk melihat pengaruh variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependen.
Rumusan hipotesis dalam pengujian ini adalah:
a. Ho1 : ρ 0 : remunerasi dan pengembangan karir secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.
b. Ho2 : ρ 0 : remunerasi dan pengembangan karir dan kepuasan kerja secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
c. Ha1 : ρ = 0 : remunerasi dan pengembangan karir secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.
d. Ha2 : ρ = 0 : remunerasi dan pengembangan karir secara simultan berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
Uji signifikansi analisis jalur dicari yaitu membandingkan antara nilai probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig. Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau (0,05 ≤ Sig), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak signifikan.
b. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau (0,05 ≥ Sig), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.
2. Uji koefisien jalur secara individu
Uji koefisien jalur secara individu menggunakan uji t. Uji t dipakai untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel independen secara individu terhadap variabel dependen.
Rumusan hipotesis dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:
a. Remunerasi mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja.
1) Ho3 : ρ > 0 : remunerasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.
2) Ha3 : ρ = 0 : remunerasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.
b. Pengembangan karir mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja.
1) Ho4 : ρ > 0 : pengembangan karir tidak berpengaruh signifikan terhadap terhadap kepuasan kerja.
2) Ha4 : ρ = 0 : pengembangan karir berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.
c. Remunerasi mempunyai pengaruh terhadap motivasi berprestasi
1) Ho5 : ρ > 0 : remunerasi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
2) Ha5 : ρ =0 : remunerasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
d. Kepuasan kerja mempunyai pengaruh terhadap motivasi berprestasi.
1) Ho6 : ρ > 0 : kepuasan kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
2) Ha6: ρ = 0 : kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.
Uji signifikansi analisis jalur dicari yaitu membandingkan antara nilai probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig.
Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau (0,05 ≤ Sig), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak signifikan.
b. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau (0,05 ≥ Sig), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.
3. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) berguna untuk mengukur seberapa besar peranan variabel independen secara simultan mempengaruhi perubahan yang terjadi pada variabel dependen.
3.9. Uji Asumsi Klasik
Tujuan pengujian asumsi klasik ini adalah untuk memberikan kepastian bahwa persamaan regresi yang didapatkan memiliki ketepatan dalam estimasi, tidak bias dan konsisten. Pengujian asumsi klasik diperlukan untuk mengetahui apakah hasil estimasi regresi yang dilakukan benar-benar bebas dari adanya gejala heteroskedastisitas, gejala multikolinearitas, dan gejala autokorelasi. Model regresi akan dapat dijadikan alat estimasi yang tidak bias tidak terdapat heteroskedastistas, tidak terdapat multikolinearitas, dan tidak terdapat autokorelasi.
3.9.1. Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan mengamati penyebaran data pada sumbu diagonal suatu grafik.
Menurut Santoso (2001) ketentuannya adalah sebagai berikut:
a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti garis diagonal, maka regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
3.9.2. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas digunakan untuk menguji suatu model apakah terjadi hubungan yang sempurna atau hampir sempurna antara variabel bebas, sehingga sulit untuk memisahkan pengaruh antara variabel-variabel itu secara individu terhadap variabel terikat. Pengujian ini untuk mengetahui apakah antar variabel
bebas dalam persamaan regresi tersebut tidak saling berkorelasi. Untuk mendeteksi multikolinieritas adalah dengan melihat nilai tolerance dan nilai Variance Inflation Factor (VIF). Menurut Priyatno (2009) variabel dikatakan mempunyai masalah multikolinearitas apabila nilai tolerance lebih kecil dari 0,1 atau nilai VIF lebih besar dari 10.
3.9.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah terjadi penyimpangan model karena gangguan varians yang berbeda antar observasi satu ke observasi lain. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan mengamati grafik scatter plot pada output SPSS, dimana menurut Priyatno (2009) ketentuannya adalah sebagai berikut:
a. Jika titik-titiknya membentuk pola tertentu yang teratur maka diindikasikan terdapat masalah heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titiknya menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka diindikasikan tidak terdapat masalah heterokedastisitas.
Semua uji analisa dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS versi windows 20.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara beralamat di Jalan Imam Bonjol Nomor 22 Medan.
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 adalah sebuah lembaga negara yang bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Secara struktur, BPK RI merupakan sebuah lembaga eksternal yang terpisah dari Pemerintah Republik Indonesia dan memiliki kedudukan yang setingkat dengan lembaga negara yang lain, seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Yudisial.
BPK RI berdiri pada tanggal 1 Januari 1947 berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor 11/UM tanggal 28 Desember 1946. Landasan hukum lain yang berhubungan dengan BPK RI adalah Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bab VIII A, Pasal 23 E, 23 F, dan 23 G. Adapun peraturan yang menjadi pegangan BPK RI dalam melaksanakan tugas pemeriksaan yaitu Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Adapun tujuan strategis dari BPK RI adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan Efektivitas Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Memenuhi Harapan Pemangku Kepentingan (SS 1) Pengelolaan keuangan negara yang baik adalah pengelolaan keuangan negara yang dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, dikelola secara ekonomis, efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. BPK dalam meningkatkan perannya untuk mendorong terwujudnya pengelolaan keuangan negara yang baik berupaya untuk membangun komunikasi dua arah secara efektif kepada semua pemangku kepentingan. Komunikasi efektif mencakup adanya pengelolaan informasi yang jelas dan akurat, pilihan media komunikasi yang tepat dan penerimaan informasi yang baik bagi semua pemangku kepentingan. Komunikasi yang efektif menitikberatkan kepada proses pendidikan kepada publik (public awareness) untuk dapat memahami kedudukan, peranan dan hasil pemeriksaan BPK. Dengan demikian, BPK dapat menyajikan informasi yang akurat mengenai mutu pengelolaan keuangan negara dan dapat menjaring serta menerima umpan balik informasi dari publik untuk perbaikan kualitas proses bisnis BPK. Melalui sasaran strategis ini BPK mengharapkan adanya kontribusi dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan efektivitas tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK dan mempercepat upaya perbaikan mutu pengelolaan
1. Meningkatkan Efektivitas Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Memenuhi Harapan Pemangku Kepentingan (SS 1) Pengelolaan keuangan negara yang baik adalah pengelolaan keuangan negara yang dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, dikelola secara ekonomis, efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. BPK dalam meningkatkan perannya untuk mendorong terwujudnya pengelolaan keuangan negara yang baik berupaya untuk membangun komunikasi dua arah secara efektif kepada semua pemangku kepentingan. Komunikasi efektif mencakup adanya pengelolaan informasi yang jelas dan akurat, pilihan media komunikasi yang tepat dan penerimaan informasi yang baik bagi semua pemangku kepentingan. Komunikasi yang efektif menitikberatkan kepada proses pendidikan kepada publik (public awareness) untuk dapat memahami kedudukan, peranan dan hasil pemeriksaan BPK. Dengan demikian, BPK dapat menyajikan informasi yang akurat mengenai mutu pengelolaan keuangan negara dan dapat menjaring serta menerima umpan balik informasi dari publik untuk perbaikan kualitas proses bisnis BPK. Melalui sasaran strategis ini BPK mengharapkan adanya kontribusi dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan efektivitas tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK dan mempercepat upaya perbaikan mutu pengelolaan