4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengaruh Penggunaan Metode Mind map terhadap Kemampuan Evaluasi 66
Evaluasi
Dari hasil pengujian, penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan pada kecakapan berpikir kritis kemampuan evaluasi dengan menerapkan metode mind map dala kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitas sig. (2-tailed) pada uji Independent samples t-test dengan nilai 0,003. Harga signifikansi 0,003 lebih kecil dari 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada yang signifikan dari pretest ke
posttest. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan evaluasi.
Perbedaan yang ada pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terlihat pada skor yang didapat oleh siswa dari keempat aspek pada kemampuan
1.55 2.40 2.16 1.51 2.14 1.98 .00 .50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00
Pretest Posttest1 Posttest2
Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
67
evaluasi. Siswa pada kelompok eksperimen dapat menjelaskan dengan runtut sesuai dengan indikator (1) menilai benar tidaknya alternatif-alternatif pemecahan masalah, (2) menilai benar tidaknya argumen, (3) menilai apakah suatu prinsip dapat diterapkan dalam situasi tertentu, dan (4) menilai apakah argumen didasarkan pada asumsi yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa metode mind map dapat meningkatkan kemampuan evaluasi terutama pada aspek-aspek tersebut. Sedangkan pada kelompok kontrol, sebagian besar siswa belum dapat menunjukkan keempat indkator tersebut secara maksimal.
Kegiatan pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan metode
mind map. Melalui metode mind map, siswa terlihat lebih aktif belajar. Siswa membuat mind map sesuai dengan kreativitas masing-masing. Dengan mind map
siswa belajar untuk menilai argumen pada kemampuan evaluasi dalam membuat
mind map dengan menggunakan gambar-gambar, warna-warna yang dipilih, dan cabang-cabang yang dibuat siswa. Sedangkan kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol menggunakan metode ceramah. Selama kegiatan belajar berlangsung, guru mempunyai peran yang lebih banyak dari pada siswa. Dalam kelas kontrol siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, sehingga siswa tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya ke arah yang lebih baik. Peneliti melihat bahwa pada awal pembelajaran siswa masih kondusif, sedangkan setelah setengah jam pembelajaran siswa mulai kurang kondusif sehingga tidak memperhatikan penjelasan guru.
4.3.2 Pengaruh Penggunaan Metode Mind map terhadap Kemampuan
Inferensi
Dari hasil pengujian, penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan pada kecakapan berpikir kritis kemampuan inferensi dengan menerapkan metode mind map dala kegiatan pemabelajaran. Hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitas sig. (2-tailed) pada uji Independent Samples t-test dengan nilai 0,001. Harga signifikansi 0,001 lebih kecil dari 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari
pretest ke posttest. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan inferensi.
68 Perbedaan yang ada pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terlihat pada skor yang didapat oleh siswa dari keempat aspek pada kemampuan
inferensi. Siswa pada kelompok eksperimen dapat menunjukkan indikator dalam kemampuan inferensi, yaitu (1) Mengemukakan alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah, (2) memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang muncul dari suatu pilihan, (3) memperkirakan pro dan kontra dari suatu pilihan, dan (4) tepat menentukan kesimpulan mana yang paling kuat untuk diterima dan mana yang lemah untuk ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa metode mind map dapat meningkatkan kemampuan inferensi terutama pada aspek-aspek tersebut.
Penerapan metode mind map dalam kegiatan pembelajaran di kelompok eksperimen ini dapat membantu siswa untuk menunjukkan kemampuan inferensi
yang dimiliki oleh siswa. Dengan membuat mind map, siswa dapat belajar untuk mengembangkan kemampuan inferensi, hal ini ditunjukkan ketika siswa ingin membuat cabang-cabang dalam membuat mind map. Dengan membuat cabang-cabang tersebut, siswa dapat memperkirakan konsekuensi yang muncul ketika siswa meletakkan posisi cabnag yang salah. Sedangkan pada kelompok kontrol, siswa tidak mempunya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan inferensi
ketika kegiatan pembelajaran berlangsung. Selama kegiatan belajar berlangsung, guru mempunyai peran yang lebih banyak dari pada siswa dan guru terlihat mendominasi. Pada kelompok kontrol siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, sehingga siswa tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya ke arah yang lebih baik. Peneliti melihat bahwa pada awal pembelajaran siswa masih kondusif, sedangkan setelah setengah jam pembelajaran siswa mulai kurang kondusif sehingga tidak memperhatikan penjelasan guru.
4.3.3 Dampak perlakuan pada siswa
Dampak perlakuan pada siswa diamati berdasarkan hasil obeservasi di kelas dan wawancara terhadap siswa di kelas eksperimen dan guru. Observasi dilakukan di kedua kelas mengenai kegiatan pembelajaran yang dilakukan, serta mengenai kegiatan yang dilakuakan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung. Wawancara dilakukan dengan lima siswa di kelas eksperimen dan dengan guru
69 mata pelajaran IPA di kelas V. Penentuan siswa yang diwawancarai berdasarkan peringkat prestasi yang didapatkan di kelas. Dari 25 siswa di kelas eksperimen diambil dua siswa yang masuk ke dalam peringkat atas, dua siswa yang masuk ke dalam peringkat bawah, serta satu siswa yang masuk ke dalam peringkat menengah.
Dari hasil observasi didapatkan bahwa tingkat pemahaman siswa di kelompok eksperimen lebih tinggi, selain itu keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru juga lebih besar di kelompok eksperimen. Siswa di kelompok ekperimen juga dapat menunjukkan indikator-indikator yang termuat dalam kemampuan evaluasi dan inferensi. Indikator-indikator yang ditunjukkan oleh siswa pada kemampuan evaluasi adalah menilai benar tidaknya alternatif pemecahan masalah, menilai benar tidaknya suatu argumen dan menilai argumen yang didasarkan pada asumsi yang benar. Hal ini terlihat ketika guru memberikan masalah kepada siswa, dan siswa mampu menjawab dengan memberikan argumen dan asumsi yang benar. Selain itu siswa juga dapat menujukkan indikator-indikator yang termuat dalam kemampuan inferensi, yaitu siswa dapat mengungkapkan alternatif untuk memecahkan masalah, menyebutkan konsekuensi yang muncul dan memberikan kesimpulan yang tepat. Sedangkan siswa di kelompok kontrol terlihat lebih pasif dalam bertanya mengenai materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru dan mencatat materi pelajaran sesui dengan ringkasan yang diberikan oleh guru. Selain itu siswa di kelompok kontrol tidak menunjukkan indikator-indikator yang termuat dalam kemampuan evaluasi dan inferensi.
Sedangkan dari hasil wawancara terhadap lima siswa di kelompok eksperimen didapatkan bahwa siswa lebih mudah untuk memahami materi pelajaran dengan menggunakan metode mind map dalam kegiatan pembelajaran. Lima siswa yang diwawancarai tersebut mengaku bahwa mereka lebih mudah memahami materi pelajaran dengan menggunakan metode mind map. Selain itu mereka juga dapat mempelajari materi dengan santai, tidak hanya menghafal saja. Siswa juga mudah mengingat materi yang telah disampaikan oleh guru, karena meraka memetakan poin-poin penting pada materi tersebut pada mind map dengan menggunakan kata-kata mereka sendiri. Siswa 1 mengatakan ”... lebih suka
70
belajar dengan menggunakan mind map karena nggak hanya nulis-nulis doang, bisa gambar jadi nggak bosen...”. Siswa 2 mengatakan “... lebih gampang nginget materi kalau pake mind map, soalnya inget kata-kata yang tak tulis sendiri...“.
Siswa 4 mengatakan “... lebih suka pake mind map mbak, karena cepet ngingetnya, terus gak usah capek-capek nyatet ...”. Kelima siswa di kelompok eksperimen tersebut mengaku bahwa mereka lebih mudah memahami materi yang disampaikan dengan menggunakan metode mind map daripada memahami materi yang disampaikan oleh guru dengan menggunakan metode ceramah. Tetapi dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode mind map, dua orang siswa di kelompok eksperimen merasa sedikit bosan karena setiap kali pertemuan siswa membuat mind map mengenai materi pelajaran. Berikut ini adalah pernyataan dari siswa 3 “... bosen karena tiap hari buat mind map terus, bosen pas peertemuan ketiga...”
Setelah melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran IPA di kelas V SD N Sokowaten Baru, guru merasa bahwa ada perbedaan hasil belajar di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil belajar di kelas eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil belajar di kelas kontrol. Selain itu guru mendapatkan perbedaan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar di kelas. Siswa di kelas eksperimen terlihat lebih aktif adalam bertanya. Selain itu, siswa di kelas eksperimen dapat menunjukkan pemahaman dalam berbagai hal yang berkaitan dengan materi pesawat sederhana, siswa dapat mengidentifikasi hubungan antar kosep dari materi pesawat sederhana, siswa dapat menilai ketepatan benda yang digunakan, siswa dapat memberikan alasan dari jawaban yang diberikan, serta dapat menjelaskan konsep yang sesuai. Sedangkan siswa di kelompok kontrol terlihat kurang aktif dalam bertanya maupun menganalisis materi yang disampaikan. Guru mengatakan bahwa ada perbedaan yang pemahaman siswa dari kelompok eksperiman dan kelompok kontrol “...terlihat ada perbedaan di kelas VA dan VB, anak-anak di kelas VB lebih terlihat memahami materi dengan baik...”
Dari kegiatan observasi dan wawancara kepada siswa dan guru tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode mind map dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan kecakapan berpikir kritis pada kemampuan
71
evaluasi dan inferensi siswa. Dikatakan demikian, karena siswa mampu menunjukkan indikator-indikator yang termuat dalam kemampuan evaluasi dan
inferensi.
4.3.4 Konsekuensi Lebih Lanjut
Penggunaan metode inovatif dalam hal ini metode mind map berdampak besar terhadap peningkatan kompetensi siswa atau kemampuan belajar siswa. Penggunaan metode inovatif akan membantu mengatasi rendahnya hasil belajar siswa, dan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa pada kemampuan evaluasi dan inferensi.
72
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. Pada bagian kesimpulan menunjukkan hasil penelitian yang menjawab dari hipotesis penelitian. Selanjutnya pada bagian keterbatasan penelitian akan dibahas mengenai keterbatasan yang dialami saat melakukan penelitian. Pada bagian saran berisi beberapa saran bagi peneliti selanjutnya.