BAB V PEMBAHASAN
5.1 Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah dan Bermain Tebak Rasa
Penyuluhan kesehatan pada kelompok eksperimen A adalah menggunakan metode ceramah dengan bantuan slide dan infocus. Metode penyuluhan kelompok eksperimen B dengan metode bermain. Kelompok eksperimen C menggunakan gabungan kedua metode yakni dengan cara ceramah dan bermain. Ketiga
52
kelompok ini akan dibandingkan hasil posttest yang diberikan dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan atau kelompok kontrol.
Setelah dilakukannya penyuluhan kesehatan, keempat kelompok diberikan posttest baik kelompok perlakuan maupun kontrol. Pada posttest untuk siswa kelompok kontrol yang tidak mendapat penyuluhan dapat dilihat gambaran pengetahuan siswa sekolah dasar terhadap pengetahuan tentang sayur dan buah. Siswa pada kelompok kontrol memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 84,6% dan pengetahuan kurang sebanyak 11,5%.
Para siswa tidak pernah mendapat informasi khusus mengenai jenis dan manfaat sayur dan buah. Walau setiap tingkatan kelas di akhir semester pada pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan (Penjasorkes) selalu mendapatkan pelajaran tentang makanan sehat dan aman. Sekolah yang merupakan salah satu tempat belajar para siswa dan siswa cenderung mudah menerima informasi bila diberikan kepada mereka. Salah satunya adalah makanan apa yang boleh diamakan atau apa yang tidak sesuai dengan konsep ilmu gizi, kepercayaan, budaya maupun agama. Maka peningkatan perilaku peserta didik yang positif terhadap kesehatan dan keterampilan yang mendukung kesehatan fisik, mental dan sosial (Supariasa, 2012) (Kholid, 2012).
Salah satu upaya pemberian informasi yang dapat dilakukan adalah penyuluhan. Penyampaian informasi dengan cara berbicara adalah cara yang paling alamiah dan mudah dilakukan. Dengan berbicara, penyuluh dengan peserta dapat bertatapan dan berinteraksi langsung secara alamiah. Selain itu, dengan
53
siswa. Pada posttest yang dilakukan pada para siswa kelompok dengan pemberian metode ceramah setelah pengendapan selama 3 hari, dari 26 siswa membuat 12 siswa memiliki pengetahuan baik (46%).
Pada kelompok siswa dengan metode bermain, para siswa memiliki pengetahuan baik sebanyak 42,3%. Metode dilakukan mengingat anak kelompok sekolah dasar berada ditahap yang aktif dan senang bermain, metode bermain games akan memudahkan penyampaian informasi. Metode ini juga mampu membuat suasana lebih santai dan mampu melibatkan para siswa untuk belajar lebih aktif dan siswa dapat memahami permasalahan dalam kehidupan sehari-hari karena bermain mampu membangkitkan semangat para siswa untuk bersaing mendapatkan hadiah (Supariasa, 2012).
Hasil posttest menunjukkan pengetahuan baik pada kelompok ketiga. Kelompok ini dilakukan kombinasi dari kedua metode yakni dengan ceramah dan dilanjutkan dengan bermain game. Hasil dari posttest menunjukkan seluruh siswa kelompok ketiga memiliki pengetahuan baik (100%).
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan independent-sample t test dapat disimpulkan bahwa pada nilai rerata terdapat perbedaan yang nyata antara pengetahuan siswa pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Sedangkan dengan menggunakan uji ANOVA, dari ketiga cara penyampaian baik dengan ceramah, bermain, maupun dengan menggunakan kombinasi kedua metode terdapat perbedaan rerata yang berarti pada pengetahuan dari kelompok dengan menggunakan metode ceramah dan juga bermain. Sehingga dapat
54
diartikan ada pengaruh penyuluhan dengan menggunakan kombinasi kedua metode terhadap sikap siswa yang berhubungan dengan konsumsi sayur dan buah. Pemberian informasi dengan metode ceramah dan bermain mampu meningkatkan pengetahuan anak. Hal ini karena dengan berbicara, penyuluh dapat bertatapan dan berinteraksi langsung dengan peserta sehingga proses pemberian pengetahuan dan informasi kesehatan menjadi lebih hidup, lebih mudah dan efektif. Selain itu, menurut Santrock (2007) bermain mampu mendorong anak bertanya dan menerima informasi dengan cara yang lebih menyenangkan.
Hal ini juga sejalan dengan tanggapan yang diungkapkan Notoatmodjo (2012) bahwa pembentukan dan perubahan perilaku relevan dengan pancaindra yang digunakan dalam proses belajar. Melihat, mendengar, merasa dan mencium mampu meningkatan pemahaman pada individu. Melihat dan mendengar memiliki peran yang tinggi dalam pembentukan perilaku sedangkan pengecapan dan penciuman dapat menjadi faktor penunjang dalam proses pembelajaran, pendidikan atau pembentukan perilaku. Ceramah dapat memfungsikan indera penglihatan dan pendengaran melalui interaksi penyuluh dengan siswa serta permainan tebak rasa menjadi kegiatan menyenangkan dalam merasa serta mengenal sayur dan buah secara langsung.
Ungkapan Santrock dan Notoatmodjo ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tuzzaroh (2015) tentang pengaruh pemberian penyuluhan dengan metode yang menyenangkan bagi anak sekolah dasar yaitu salah satunya dengan video dan bermain kwartet gizi terhadap pengetahuan anak dan status gizi anak
55
terhadap pengetahuan gizi. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Bintaria (2014) tentang pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan siswa di SD Kelurahan Pincuran Kerambil Kecamatan Sibolga Sambas Kota Sibolga dengan metode ceramah dan juga poster yang mengutamakan visual dari siswa mampu meningkatkan pengetahuan siswa terhadap keamanan makanan jajanan.
Notoatmodjo (2012) juga mengungkapkan sasaran dan tujuan dari promosi kesehatan terdiri dari domain yang paling utama pengetahuan (knowledge), selain itu sikap (attitude) dan praktik atau tindakan (practice). Pemberian informasi mengenai cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan, menghindari penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan sasaran tentang hal tersebut. Sehingga dalam hal ini, para siswa mampu menjawab pertanyaan tentang pengetahuan saat posttest karena telah mendapatkan informasi melalui penyuluhan yang dilakukan.
5.2 Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah dan Bermain Tebak Rasa Terhadap Sikap Siswa
Pada kelompok kontrol yang diberikan posttest, tingkat sikap masih rendah. Rendahnya sikap siswa kelompok kontrol terhadap konsumsi sayur dan buah sejalan dengan rendahnya pengetahuan siswa tentang hal tersebut. Para siswa yang menjadi kelompok kontrol tidak pernah mendapatkan informasi tentang sayur dan buah, sehingga pengetahuan tentang ini pun rendah.
56
Berbeda dengan kelompok eksperimen A dan B yang diberi masing-masing perlakuan ceramah ataupun bermain. Kelompok ceramah dan kelompok bermain memiliki tingkat sikap baik yang sama yaitu 88,5% dari 26 siswa dilihat dari nilai posttest yang diberikan setelah diendapkan selama 3 hari. Sikap ini memiliki perbedaan karena tingkat pengetahuan yang dimiliki kelompok ceramah dan kelompok bermain lebih tinggi daripada kelompok kontrol.
Kelompok eksperimen C diberikan perlakuan dengan kombinasi kedua metode yakni dengan melakukan ceramah dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian games bermain tebak rasa. Dengan kedua metode ini, pengetahuan siswa memiliki tingkat pengetahuan yang baik secara keseluruhan. Begitu pula sikap dari siswa kelompok ini keseluruhannya dalam kategori baik (100%). Sehingga dengan gabungan kedua metode ini mampu meningkatkan sikap dari para siswa menjadi lebih baik secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan independent-sample t test disimpulkan bahwa secara rata-rata ada perbedaan yang nyata antara sikap siswa dengan membandingkan nilai rata-rata kelompok kontrol dan ketiga kelompok eksperimen. Sedangkan uji dengan menggunakan uji ANOVA, dari ketiga metode penyampaian baik dengan ceramah, bermain, dan juga kombinasi keduanya terdapat perbedaan rerata yang signifikan pada kelompok dengan menggunakan metode ceramah dan juga bermain. Sehingga dapat diartikan ada pengaruh penyuluhan dengan kombinasi kedua metode penyuluhan terhadap sikap siswa.
57
sepanjang perkembangan orang tersebut dalam hubungan dengan objeknya. Hal ini merupakan pengalaman melalui indra penglihatan, pendengaran, penciuman dan sebagainya, sehingga setiap orang memiliki sikap yang berbeda-beda walau objeknya sama sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2012).
Setelah mendapatkan stimulus berupa informasi baik dengan menggunakan metode ceramah, bermain maupun dengan kombinasi keduanya, dapat berpengaruh pada sikap para siswa dalam konsumsi sayur dan buah. Hal ini sesuai dengan komponen sikap yang diungkapkan oleh Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2012) bahwa dalam bersikap didahului oleh kepercayaan objek, evaluasi individu terhadap objek dan setelah itu kecenderungan untuk bertindak. Kemudian ketiga komponen ini membentuk sikap yang utuh yang ditentukan oleh pengetahuan, pikiran dan keyakinan. Sehingga dengan kata lain tingkat pengetahuan yang tinggi sejalan dalam bersikap yang baik.
Ungkapan Allport sesuai dengan hasil posttest pada keempat kelompok, dapat dilihat tingkatan pengetahuan yang berbeda-beda pada tiap-tiap kelompok. Kelompok yang mendapatkan penyuluhan dengan kombinasi metode ceramah dan bermain tebak rasa dapat nilai pengetahuan yang baik pada keseluruhan siswa. Sikap siswa pada kelompok ini pun tinggi. Hal ini karena adanya keterkaitan pengetahuan dengan bersikap.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Syofia (2014) tentang pemberian penyuluhan dengan menggunakan metode flashcard pada anak sekolah dasar kelas I (satu)- III (tiga) SD Islam Titi Berdikari mampu meningkatkan