• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.6. Hubungan Antar Variabel

2.6.2. Pengaruh Religiusitas sebagai Variabel Moderasi Terhadap

Religiusitas merupakan komitmen seseorang pada aspek keagamaan, misalnya komitmen untuk berkunjung ke tempat ibadah, partisipasi dalam kegiatan keagamaan, dan tingkat keyakinan/ keimanan dalam agama. Hubungan antara nasabah dan bank syariah tidak hanya didasarkan pada hubungan fungsional saja, akan tetapi juga hubungan emosional yang dapat dibentuk oleh tingkat religiusitas seseorang (Shemwel, 1998).

Religi (agama) memberikan tujuan yang terbaik untuk apa manusia hidup. Religi menjanjikan kebahagiaan dan kesejahteraan, moralitas, etika kerja, keadilan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam menjaga hubungan mereka dengan sesama manusia dan juga semua unsur-unsur alam (Hidayat dkk., 2015). Jadi religius merupakan bentuk kepatuhan terhadap agama ajaran.

Tidak ada yang bisa menilai, apalagi untuk mengukur, religiusitas seseorang kecuali Allah, karena ini adalah masalah pribadi antara individu dan Tuhannya. Namun, dengan asumsi bahwa seseorang bertindak rasional (seperti yang dijelaskan dalam syari'at), tidak sulit untuk memprediksi, secara teoritis serta empiris, perilaku religius seorang Muslim. Hal ini karena seorang Muslim yang melakukan ibadah secara konsisten dan hati-hati akan lebih religius daripada mereka yang melakukan sebaliknya. Dalam mengukur religiusitas nasabah, dapat dilakukan melalui tiga komponen, yaitu fardhu atau wajib, haram, dan sunnah. Sehingga tingkat religiusitas seseorang bisa diukur melalui seberapa sering dia melakukan hal-hal yang wajib, menjauhi hal-hal yang diharamkan, serta melakukan hal-hal yang disunnahkan. Abdullah (2003) menyatakan religiusitas

diukur dari beberapa aspek, yaitu belief (the ideological dimension), practice (the ritual dimension), feeling (the experiental dimension), knowledge (the intellectual dimension), dan effect (the consequential dimension).

Loyalitas adalah suatu kesediaan pelanggan untuk melanjutkan pembelian pada sebuah perusahaan dalam jangka waktu yang panjang dan mempergunakan produk atau pelayanannya secara berulang, serta merekomendasinya kepada teman-teman dan perusahaan lain secara sukarela (Lovelock et al., 2005). Umumnya, bank ingin pelanggan mereka dapat dipertahankan untuk selamanya (loyal). Dengan demikian, dalam konteks layanan perbankan, loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan pada sebuah bank berdasarkan sikap positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten (Boulding et al., 1993).

Nasabah dengan religiusitas tinggi memiliki kepercayaan dan pemahaman yang lebih baik mengenai hukum halal dan haram, sebagaimana dijelaskan Abdullah (2003) bahwa orang yang religius dicerminkan dari kepercayaan (belief) dan pemahamannya (knowledge) mengenai hukum-hukum agama. Nasabah yang religius lebih memahami hukum halal dan haram khususnya yang berkaitan dengan produk-produk perbankan, karena dengan belief, akan muncul kekhawatiran akan riba yang diharamkan dalam agama, sehingga mereka akan mencari tahu dari berbagai sumber mengenai detail informasi kehalalan produk tabungan perbankan syariah, karena orang yang religius dapat mempengaruhi beberapa aspek pada perilaku memilih berdasarkan aturan dan larangan dari agama yang dianut (Shofwa, 2015). Dengan demikian nasabah yang religius cenderung memiliki pemahaman yang baik mengenai kualitas produk bank syariah dan kesesuaiannya dengan hukum-hukum agama, sehingga akan tertanam

ketenangan jiwa dalam menggunakan produk tersebut, yang pada akhirnya nasabah akan loyal untuk terus menggunakan produk tabungan bank syariah.

Sebaliknya nasabah yang religiusnya rendah, kurang memahami atau bahkan tidak memahami bagaimana hukum halal dan haram berkaitan dengan produk-produk perbankan, mereka kurang memahami perbedaan produk tabungan bank syariah dan produk tabungan bank konvensional, kurang ada ketakutan pada diri mereka terjerumus dalam riba, mereka mencari tahu informasi produk bank syariah yang menguntungkan saja secara ekonomi, bukan melihat bagaimana kualitas produknya secara syariat, apabila dianggap kurang menguntungkan maka mereka akan mencari produk tabungan bank lainnya, sehingga loyalitasnya rendah untuk terus menggunakan produk-produk bank syariah.

Hasil penelitian Thambiah (2013) juga memberikan temuan yang jelas bahwa religiusitas masih berperan dalam pengaruh beberapa faktor terhadap kesediaan nasabah untuk terus menggunakan bank syariah, faktor tersebut meliputi keuntungan relatif terkait produk dan kompleksitas produk.

Keuntungan relatif merupakan sebagai sejauh mana suatu inovasi dianggap sebagai lebih baik daripada sistem sebelumnya (Rogers, 2003). Seseorang selalu mempertimbangkan keuntungan relatif dalam hal manfaat secara ekonomi yang dihasilkan dari inovasi yang diberikan kepada sesuai status sosial pelanggan. Oleh karena itu, keuntungan relatif pada produk-produk bank syariah harus memenuhi azas kewajaran, yaitu dalam hal bagi hasil, etika sistem perbankan, serta pemerataan kekayaan. Seseorang menggunakan bank syariah disebabkan persepsi bahwa sistem yang ada di produk-produk bank syariah

cenderung lebih memenuhi azas kewajaran, dan dalam penelitian Thambiah (2013) menunjukkan tujuan untuk mendapatkan keuntungan produk secara relatif lebih terjadi pada nasabah dengan religiusitas rendah.

Kompleksitas merupakan sejauh mana sebuah inovasi dianggap sulit dalam hal pemahaman maupun penggunaannya (Rogers, 2003). Kompleksitas diukur dalam hubungan dengan persepsi tentang kesederhanaan atribut inovasi, pemanfaatan yang diinginkan,serta kemudahan yang diperoleh (Gerrard dan Cunningham, 2003). Sebagaimana diketahui, sistem perbankan Islam merupakan salah satu bentuk inovasi keuangan dalam dunia perbankan khususnya mengenai inovasi dalam prinsip-prinsip keuangan. Polatoglu dan Ekin (2001) berpendapat bahwa tingkat pendidikan Islam nasabah memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan tingkat kompleksitas antara nasabah dan perbankan, nasabah dengan tingkat pendidikan Islam yang rendah cenderung menganggap produk bank syariah adalah kompleks, sehingga cenderung menghindari penggunaan bank syariah, sebaliknya nasabah dengan tingkat pendidikan Islam yang tinggi sudah lebih memahami prinsip-prinsip dalam produk bank syariah, sehingga akan lebih loyal untuk terus menggunakan bank syariah. Thambiah (2013) juga menyatakan dari hasil penelitiannya bahwa sangat penting untuk mempelajari tingkat religiusitas seseorang dari tingkat pendidikan Islam yang diperoleh, karena hal tersebut mempengaruhi cara pandangnya terhadap kompleksitas produk-produk bank syariah.

Penjelasan di atas memberikan informasi yang jelas bahwa religiusitas sebagai variabel moderasi bisa menjadi faktor bagi nasabah perbankan Islam khususnya dalam memahami produk dan layanan dari berbagai sisi, yaitu sisi

keadilan, keuntungan ekonomis, dan sistem yang dirancang dengan prinsip- prinsip agama, sehingga nasabah dengan religiusitas yang tinggi menjadi lebih paham mengenai produk-produk bank syariah dan menganggap keuntungan relatif produk bank syariah lebih adil, sehingga akan berdampak pada loyalitasnya untuk terus menggunakan bank syariah. Sebaliknya, bagi non muslim atau muslim dengan tingkat religiusitas yang rendah cenderung menganggap produk bank syariah sangat kompleks, lebih rumit dibandingkan dengan sistem yang ada di bank konvensional, hal tersebut membuat pemahaman tentang produk bank syariah menjadi rendah sehingga mempengaruhi kesediaan mereka untuk terus menggunakan bank syariah. Dapat disimpulkan bahwa religiusitas dapat menjadi variabel moderasi karena religiusitas merupakan komitmen yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik suatu hipotesis sebagai berikut:

H2 : Religiusitas memoderasi (menguatkan) pengaruh kualitas produk

terhadap loyalitas nasabah

Dokumen terkait