BAB VI PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK YANG DILAKUKAN
8.1. Analisis Hubungan Persepsi dengan Penerapan Pertanian
8.2.5. Pengaruh Tingkat Kekosmopolitan Petani terhadap
Tingkat kekosmopolitan petani dilihat dari pernah atau tidaknya seseorang bepergian keluar dari tempat kelahirannya selama minimal setahun. Hipotesis pada aspek ini adalah bahwa semakin kosmopolit petani, maka makin positif persepsinya tentang karakteristik pertanian padi organik. Hubungan antara tingkat kekosmopolitan petani terhadap persepsinya tentang karakteristik inovasi pertanian padi organik dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Hubungan Tingkat Kekosmopolitan Petani terhadap Persepsinya tentang Karakteristik Inovasi Pertanian Padi Organik di Kampung Ciburuy, Tahun 2011
Kategori Persepsi Petani tentang Karakteristik Inovasi Pertanian Padi
Oganik
Kategori Keksompolitan Petani Tidak Kosmopolit (%) Kosmopolit (%) Netral 32,3 26,1 Positif 67,7 73,9 Jumlah 100 100 N 34 23
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian, 2011
Tabel 19 menunjukkan bahwa baik petani yang tergolong tidak kosmopolit dan kosmopolit, sama-sama memiliki kecenderungan persepsi yang positif tentang karakteristik inovasi pertanian organik. Terdapat gejala kecenderungan bahwa petani yang kosmopolit memiliki persentase yang lebih besar pada persepsi yang positif jika dibandingkan dengan petani yang tidak kosmopolit yang juga sama- sama memiliki persepsi yang positif. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat kekosmopolitan petani terhadap persepsinya, yaitu semakin kosmopolit petani maka makin positif persepsinya tentang karakteristik inovasi pertanian organik. Hubungan kedua aspek ini merupakan hubungan yang positif karena sesuai dengan hipotesis awal.
BAB IX PENUTUP 9.1. Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari berbagai analisis di atas antara lain, sebagai berikut:
1. Penerapan pertanian di Kampung Ciburuy masih tergolong pada pertanian
semi organik karena beberapa alasan sebagai berikut:
a) Budidaya tani yang saat ini masih dilakukan di Kampung Ciburuy
merupakan kontinuitas dari pertanian padi non organik sebelumnya, sehingga masih dilakukan secara bertahap. Terdapat beberapa pertimbangan tertentu dalam budidaya pertanian padi semi organik mereka, seperti pada penggunaan dosis pupuk yang tidak sesuai anjuran, umur benih padi yang digunakan merupakan umur benih padi yang tua, jarak tanam yang digunakan (ada yang menggunakan sistem tanam legowo maupun caplak), serta dalam hal penggunaan pestisida nabatinya.
b) Program pertanian padi organik di Kampung Ciburuy merupakan program
pertanian yang disosialisasikan sebelumnya oleh Departemen Pertanian kepada para petani, sehingga para petani di Kampung Ciburuy banyak yang ingin mencoba menerapkannya dan memiliki persepsi positif terhadap pertanian organik. Hal ini didukung pula dengan adanya pemberian bantuan pupuk dan benih padi yang diberikan pada para petani di Kampung Ciburuy.
c) Masa periode tanam padi organik di Kampung Ciburuy yang sudah
berlangsung sejak tahun 2002, sehingga sebagian besar petani di Kampung Ciburuy sudah menerapkan pertanian padi organik yang masih terbilang pertanian semi organik. Hal ini dikarenakan, mata air yang digunakan sebagai irigasi masih belum benar-benar murni dari mata air setempat.
2. Persepsi petani di Kampung Ciburuy dilihat dari lima macam karakteristik
inovasi pertanian padi organik, yaitu aspek keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan untuk dicoba, serta kemungkinan dapat diamati/dirasakan hasilnya. Kelima aspek karakteristik inovasi di atas menunjukkan bahwa petani di Kampung Ciburuy memiliki persepsi yang
positif tentang karakteristik inovasi pertanian padi organik. Hal ini didukung dengan keuntungan yang diperoleh petani ketika menerapkan pertanian padi organik dimana mereka sendiri dapat menentukan harga jual berasnya.
3. Terdapat kecenderungan persepsi petani yang positif memiliki jumlah
persentase lebih besar dibandingkan dengan persepsi petani yang netral. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi petani terhadap penerapan pertanian organiknya, yaitu semakin positif persepsi petani tentang karakteristik pertanian padi organik, maka budidaya tani yang dilakukan petani makin mengarah pada penerapan pertanian padi organik.
4. Pengaruh karakteristik petani terhadap persepsinya dapat dilihat sebagai
berikut:
a) Pada kategori luas lahan yang luas memiliki kecenderungan persentase
lebih besar pada persepsi positif tentang karakteristik inovasi pertanian organik dibandingkan jumlah persentase pada kategori persepsi netral. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara luas lahan yang dikelola petani terhadap persepsinya tentang karakteristik inovasi pertanian padi organik. Semakin luas lahan yang dikelola oleh petani, maka makin positif persepsinya tentang karakteristik pertanian padi organik.
b) Petani yang memiliki tingkat keberanian mengambil resiko yang
moderat/sedang dan petani yang memiliki tingkat keberanian mengambil resiko yang rendah/tinggi sama-sama memiliki kecenderungan persentase yang jumlahnya besar pada kategori persepsi yang positif. Pada kategori tingkat keberanian mengambil resiko sedang/moderat, terdapat gejala yang menunjukkan petani memiliki kecenderungan persepsi yang netral. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara tingkat keberanian mengambil resiko terhadap persepsi petani, yaitu semakin petani berani mengambil resiko yang rendah/tinggi, maka makin positif persepsinya tentang karakteristik inovasi pertanian organik.
c) Petani yang tergolong ke dalam kategori kurang inovatif dan inovatif,
sama-sama memiliki kecenderungan persepsi yang positif tentang karakteristik inovasi pertanian organik. Pada kategori petani yang inovatif terdapat gejala kecenderungan petani semakin memiliki persepsi yang
netral yang dilihat dari jumlah persentase yang lebih besar dibandingkan dengan persentase pada kategori kurang inovatif. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat keterbukaan (keinovatifan) petani terhadap persepsinya, yaitu semakin petani memiliki tingkat keterbukaan yang kurang inovatif, maka makin positif persepsinya tentang karakteristik inovasi pertanian organik.
d) Terdapat gejala yang menunjukkan jumlah persentase pada petani yang
sangat terdedah informasi memiliki persentase yang lebih besar pada kategori persepsi positif jika dibandingkan dengan persepsi petani yang netral. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat keterdedahan petani terhadap persepsinya, yaitu semakin sangat terdedah petani terhadap media informasi maka makin positif persepsinya tentang karakteristik inovasi pertanian organik.
e) Terdapat gejala kecenderungan bahwa petani yang kosmopolit memiliki
persentase yang lebih besar pada persepsi yang positif jika dibandingkan dengan petani yang tidak kosmopolit yang juga sama-sama memiliki persepsi yang positif. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat kekosmopolitan petani terhadap persepsinya, yaitu semakin kosmopolit petani maka makin positif persepsinya tentang karakteristik inovasi pertanian organik.
9.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan masukan atau saran diantaranya adalah:
1. Sebaiknya para petani diberikan pengetahuan dan pemahaman lebih
mendalam mengenai alasan penggunaan benih padi yang sesuai anjuran, karena sebagian besar petani di Desa Ciburuy menanam benih padi organik yang berlebih dari 10-15 kg/ha seperti yang telah dianjurkan.
2. Sebaiknya aparat pemerintah ketika membuat materi yang akan dipakai
sebagai rujukan penerapan inovasi teknologi pertanian dapat disesuaikan dengan kondisi di lapang karena kondisi di tiap daerah pertanian berbeda- beda.
DAFTAR PUSTAKA
Indriana H. 2010. Kelembagaan Berkelanjutan dalam Pertanian Organik. Tesis. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Lontaan, Johny J dkk. 1995. Studi Tentang Peranan Tenaga Kerja Wanita Tani Didalam Rangka Penerapan Teknologi Pertanian Pagi Sawah Pada Desa-Desa Miskin Sulawesi Utara. Hasil Penelitian. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
Lubis DP, Mugniesyah SS, Purnaningsih N, Riyanto S, Kusumastuti YI, Hadiyanto, Saleh A, Sumardjo, Agung SS, Amanah S, Fatchiya A. 2010. Bab 5 Persepsi dan Komunikasi. Hubeis AVS, editor. Dasar-Dasar Komunikasi. Bogor: Sains KPM IPB Press.
Mustafainah A. 2003. Pengaruh Teknologi Pertanian Terhadap Pemiskinan Perempuan di Satu Desa (Studi Kasus di Desa Sereang, Kabupaten Sidrap, Propinsi Sulawesi Selatan). Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
Rahmat J. 2005. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi, Cetakan ke-23. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rogers E.M. 2003. Diffusion of Innovations. Fifth Edition. New York: The Free Press. Hal. 168-190.
Singarimbun M. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.
Sudarta W dkk. 1989. Perkembangan Teknolgi Pertanian dan Peluang Bekerja Wanita Pedesaan (Studi Kasus di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali). Hasil Penelitian. Denpasar: Universitas Udayana.
Sutanto R. 2002. Penerapan Pertanian Organik: Pemasyarakatan & Pengembangannya. Yogyakarta: Kanisius.
Tindjabate C. 1993. Pembangunan Pertanian dan Wanita Tani Pedesaan (Studi Tentang Pengaruh Program Pembangunan Pertanian Terhadap Peranan Wanita Tani di Pedesaan Daerah Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah). Tesis. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Vago S. 1989. Social Change. New Jersey USA: Prentice Hall Inc.
Wahyuni ES. 2010. Pedoman Teknik Penulisan Laporan Studi Pustaka. Bogor: Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor.
Wahyuni I dkk.. 2000. Penggunaan Jam Kerja Wanita Kaitannya Dengan Perkembangan Teknologi Pertanian Di Daerah Pasang Surut Propinsi Jambi (Studi Kasus di Kecamatan Rantau Rasau dan Tungkal Hilir). Hasil Penelitian. Jambi: Universitas Jambi.
Widiarta A. 2011. Analisis Keberlanjutan Praktik Pertanian Organik di Kalangan Petani (Kasus: Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah). Skripsi. Bogor: Program Studi Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Yudiono K. 2005. Asimetri Akses Informasi Pertanian Ditinjau Dari Perspektif Gender. Hasil Penelitian. Malang: Universitas Katolik Widya Karya.
Lampiran 1. Kuesioner
PERSEPSI PETANI DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI
PERTANIAN PADI ORGANIK DI DESA CIBURUY, KEC. CIGOMBONG, KAB. BOGOR KUESIONER (DAFTAR PERTANYAAN) 1) Nama Responden : ……… 2) Alamat : a. Desa ……….. b. Dusun ……… c. RT / RW : ………. / ………… d. Kecamatan ………...
3) Usia Responden : ……….. tahun
4) Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan (*coret salah satu yang
tidak sesuai)
5) Tempat lahir Anda di :
……… Tempat tersebut merupakan : a. Ibu kota propinsi (Beri tanda X pada jawaban) b. Ibu kota kabupaten
c. Ibu kota kecamatan/kotamadya
d. Desa
6) Status Responden : a. Petani- pemilik lahan
(Beri tanda X pada jawaban) b. Pemilik – penggarap lahan
c. Penyewa- penggarap lahan
d. Penggarap lahan
7) Tempat & Waktu Wawancara : ………
8) Tanda Tangan :
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
A. KARAKTERISTIK UNIT PENGAMBIL KEPUTUSAN INOVASI
Petunjuk pengisian : Silakan Bapak/ Ibu mengisi pertanyaan di bawah ini dengan memberikan tanda checklist ( √ ) pada pilihan jawaban yang telah disediakan.
No. Pertanyaan Jawaban
KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI
1. Jumlah luas lahan sawah yang Bapak/ Ibu kelola. ……… m2
2.
Status lahan yang Bapak/ Ibu kelola.
Persil 1 : luasnya ……….. ( ) Milik sendiri
( ) Bukan milik sendiri
Persil 2 : luasnya ……….. ( ) Milik sendiri
( ) Bukan milik sendiri
Persil 3 : luasnya ………. ( ) Milik sendiri
( ) Bukan milik sendiri
Persil 4 : luasnya ……….. ( ) Milik sendiri
( ) Bukan milik sendiri
Persil 5 : luasnya ……….. ( ) Milik sendiri
( ) Bukan milik sendiri
3.
Jenis budidaya pertanian yang diterapkan oleh Bapak/Ibu tiap persil.
Persil 1 ( ) Pertanian Organik
( ) Pertanian Non Organik
Persil 2 ( ) Pertanian Organik
( ) Pertanian Non Organik
Persil 3 ( ) Pertanian Organik
( ) Pertanian Non Organik
Persil 4 ( ) Pertanian Organik
( ) Pertanian Non Organik
Persil 5 ( ) Pertanian Organik
( ) Pertanian Non Organik KEPRIBADIAN YANG INOVATIF
Keberanian Mengambil Resiko
4.
Si A seorang petani padi. Sewaktu diperkenalkan pertanian organik oleh temannya, si A langsung menerapkan pertanian organik pada seluruh lahan sawahnya padahal ia belum mengetahui bagaimana hasil produksi padinya nanti.
Bagaimana penilaian Bapak/Ibu terhadap sikap si A tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ………. 5.
Si B merupakan pengusaha koperasi di desanya. Selama ini si B berusaha mengumpulkan produksi beras organik dari para petani di desanya untuk dijual ke kota. Harga beras organik sangat tinggi di pasaran dan digemari oleh para konsumen. Kemudian, si B mengajak rekannya, si C untuk bekerja sama dengannya. Namun, si C menolak karena merasa tidak mampu menggerakkan petani untuk menyerahkan produksi padinya di koperasi tersebut, padahal si C belum mencoba untuk bekerja sama terlebih dahulu. Bagaimana penilaian Bapak/Ibu terhadap sikap si C tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ……….
6.
Si A merupakan seorang ibu rumah tangga. Ia tertarik untuk membuka usaha produk organik di rumahnya. Ia memiliki modal yang cukup untuk membuka usaha dan sudah membuat perencanaan biaya usahanya. Namun, ia kemudian tidak jadi membuka usahanya tersebut karena takut akan sepi pembeli.
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang sikap si A tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ……… 7.
Si B merupakan seorang petani konvensional. Suatu hari, ia melihat rekannya sesame petani, si C yang sukses setelah menerapkan pertanian organik. Kemudian, si B juga ingin mengikuti rekannya itu untuk
menerapkan pertanian organik dan mencari tahu informasi tentang pertanian organik. Namun, si B memutuskan untuk tidak bertani organik
dikarenakan butuh perawatan yang ekstra intensif dibandingkan bertani konvensional. Padahal, si B tidak memikirkan keuntungan yang nantinya bisa ia peroleh dengan penjualan produk padi organik nantinya.
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang sikap si B tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ……… Keterbukaan (Keinovativan) 8.
Si A seorang petani konvensional. Ketika melihat rekannya sesama petani sukses setelah menerapkan pertanian organik, ternyata si A sama sekali tidak tertarik untuk bertani organik dan tidak ingin mencari tahu mengapa rekannya itu bisa sukses setelah bertani organik.
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang sikap si A tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ………... 9.
Si B merupakan pengusaha sayuran organik. Ia senang mencari informasi tentang pemasaran sayuran organik. Kemudian ia mengajak rekannya (si C) untuk bekerja sama dalam memasarkan, namun si C tidak senang mencari informasi tentang pemasaran sayuran organik karena menganggap hal tersebut membuang waktu saja.
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang sikap si C tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ………. 10.
Si A merupakan petani penggarap. Ia menggarap lahan milik si B dengan syarat si A harus menanam benih padi organik di lahan milik si B dengan memperhatikan umur benih padi yang sesuai masa tanam (8-10 HSS). Kemudian, si A menanam benih padi tersebut dengan tidak
memperhatikan ketentuan umur benihnya. Si A berpikir bahwa benih padi, baik yang organik maupun tidak organik itu sama saja umur masa tanamnya.
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang sikap si A tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ……… 11.
Si B dan si C merupakan seorang petani sayuran organik. Si B senang mencari informasi tentang bertani sayuran organik dengan bertanya pada penyuluh. Sedangkan, si C tidak senang mencari informasi karena menganggap bertani organik cara budidayanya sama saja dengan bertani konvensional dan yang berbeda hanyalah pada penggunaan pupuk dan benihnya saja.
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang sikap si C tersebut ?
( ) Sangat Setuju ( ) Setuju ( ) Tidak Setuju Jelaskan : ……… ……… PERILAKU KOMUNIKASI
Keterdedahan terhadap Sumber Informasi
12. Media informasi apa saja yang Bapak/Ibu gunakan untuk memperoleh informasi. (Boleh pilih lebih dari satu )
( ) Televisi ( ) Radio ( ) Surat kabar ( ) Networking HP ( ) Tetangga / Kerabat ( ) Penyuluh ( ) Peneliti ( ) Kelompok tani ( ) Lainnya ( ……….. )
13. Media informasi pertanian yang sering Bapak/Ibu gunakan. (Buat peringkat dari 1-5) ( ) Televisi ( ) Radio ( ) Surat kabar ( ) Networking HP ( ) Tetangga ( ) Penyuluh ( ) Peneliti ( ) Kelompok tani ( ) Lainnya ( ……… )
14. Media informasi yang Bapak/Ibu mudah peroleh/jangkau/akses. (Buat peringkat dari 1-5) ( ) Televisi ( ) Radio ( ) Surat kabar ( ) Networking HP ( ) Tetangga ( ) Penyuluh ( ) Peneliti ( ) Kelompok tani ( ) Lainnya ( ………... ) Kekosmopolitan
15. Apakah Bapak/Ibu pernah menetap di tempat selain tempat kelahiran Anda ? ( ) Pernah ( ) Tidak Pernah
16.
(jika pernah, sebutkan dimana) Tempat dan lama tinggal
……… ……..
……… tahun.
Tempat tersebut merupakan :
( ) Ibu kota propinsi ( ) Ibu kota kabupaten ( ) Ibu kota
kecamatan/kotamadya ( ) Desa
17.
Tempat dan lama tinggal
……… ……..
……… tahun.
Tempat tersebut merupakan :
( ) Ibu kota propinsi ( ) Ibu kota kabupaten ( ) Ibu kota
kecamatan/kotamadya ( ) Desa
18.
Tempat dan lama tinggal
……… ……..
……… tahun.
Tempat tersebut merupakan :
( ) Ibu kota propinsi ( ) Ibu kota kabupaten ( ) Ibu kota
kecamatan/kotamadya ( ) Desa
B. PERSEPSI TENTANG KARAKTERISTIK INOVASI PERTANIAN PADI ORGANIK
Petunjuk pengisian : Silakan Bapak/ Ibu mengisi pertanyaan di bawah ini dengan memberikan tanda checklist ( √ ) pada kolom jawaban yang telah disediakan, yaitu kolom :
1) Apabila Bapak/Ibu menjawab “Ya” pada pernyataan tersebut; 2) Apabila Bapak/Ibu menjawab “Tidak” pada pernyataan tersebut;
No. Pernyataan
Jawaban
1 2 Keuntungan Relatif ( Relative Advantage)
19. Bertani padi organik lebih menguntungkan karena hasil produksi padinya lebih banyak/meningkat dibandingkan dengan bertani non organik.
20. Bertani padi organik lebih menguntungkan karena menghasilkan beras yang aman untuk dikonsumsi.
21. Bertani padi organik lebih menguntungkan karena berasnya memiliki rasa yang lebih enak dan pulen dibandingkan dengan hasil bertani non oganik.
22. Bertani padi organik lebih menguntungkan karena memiliki harga jual yang tinggi di pasaran.
23. Bertani padi organik lebih bergengsi tinggi karena turut peduli dalam menjaga kelestarian lingkungan.
24. Bertani padi organik lebih bermanfaat karena dapat membantu menjaga kesuburan tanah.
25. Bertani padi organik lebih bermanfaat karena tidak menggunakan pestisida, sehingga dapat mencegah terjadinya polusi udara.
26. Bertani padi organik lebih bermanfaat karena tidak membunuh tanaman maupun hewan alami di sekitarnya.
27. Bertani padi organik lebih bermanfaat karena mengurangi pencemaran air di lingkungan sekitarnya.
Kesesuaian (Compatibility)
28. Pertanian padi organik menjawab kebutuhan ekonomi Bapak/ibu karena dapat meningkatkan jumlah pendapatan Anda.
29. Pertanian padi organik sesuai dengan penerapan pertanian Bapak/Ibu sebelumnya.
31. Pertanian padi organik tidak melanggar kepercayaan yang berlaku di lingkungan Bapak/Ibu.
32. Bertani padi organik membutuhkan tenaga kerja yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan bertani non organik.
33. Bertani padi organik membutuhkan tenaga kerja yang sama jumlahnya dengan bertani non organik.
34. Bertani padi organik membutuhkan tenaga kerja yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan bertani non organik.
35. Bertani padi organik dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak bagi buruh tani dibandingkan dengan bertani non organik.
36. Bertani padi organik maupun non organik dapat membuka lapangan pekerjaan yang jumlahnya sama bagi buruh tani.
37. Bertani padi organik dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih sedikit bagi buruh tani dibandingkan dengan bertani non organik.
38.
Bertani padi organik mengakibatkan waktu jam kerja anggota rumah tangga perempuan lebih panjang (lebih banyak) dibandingkan dengan bertani non organik.
39. Bertani padi organik mengakibatkan waktu jam kerja anggota rumah tangga perempuan jumlahnya sama saja ketika bertani non organik.
40.
Bertani padi organik mengakibatkan waktu jam kerja anggota rumah tangga perempuan lebih pendek (lebih sedikit) dibandingkan dengan bertani non organik.
Kerumitan (Complexity) 41.
Cara-cara pengolahan tanah/lahan (seperti pembajakan, penggaruan, dan perataan tanah) mudah untuk Bapak/Ibu pahami dan laksanakan dalam budidaya pertanian organik.
42. Menaburkan pupuk organik dengan dosis rata-rata 7.000 kg/ha mudah untuk Bapak/Ibu pahami dan laksanakan dalam budidaya pertanian organik.
43. Mempertahankan keadaan air yang macak-macak mudah untuk Bapak/Ibu
laksanakan dalam budidaya pertanian organik.
44. Bapak/Ibu merasa mudah dalam membuat saluran air di tengah dan di pinggir di sekeliling pematang.
45. Bapak /Ibu mudah untuk melakukan persemaian benih padi organik pada baki/pipiti/bak kecil yang terbuat dari kayu.
46.
Bapak/Ibu mudah memahami bahwa benih padi yang digunakan bukan merupakan hasil rekayasa dan tidak mengandung bahan kimiawi ataupun zat aditif lainnya.
47.
Bapak/Ibu mudah melaksanakan persemaian benih padi dengan menggunakan media yang merupakan campuran tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 1.
48. Bapak/Ibu mudah untuk memahami bahwa benih organik yang digunakan
49. Menanam benih padi dengan menggunakan anjuran sistem legowo, yaitu 2:1, 3:1, atau 4:1 lebih mudah untuk dipahami dan diterapkan oleh Bapak/Ibu.
50. Bapak/Ibu merasa lebih mudah untuk menanam benih dalam jumlah
tanam/lubang = 1 batang/tunas sesuai anjuran.
51. Bapak/Ibu merasa lebih mudah mengendalikan hama dan penyakit tanaman
dengan menggunakan cara pergiliran tanaman pada budidaya organik.
52.
Bapak/Ibu merasa lebih mudah untuk mempertahankan kelembaban tanah dengan cara mempertahankan keadaan airnya agar selalu lembab dalam budidaya organik.
53.
Bapak/Ibu merasa lebih mudah untuk mengendalikan hama tanaman menggunakan pengendalian secara mekanis, seperti penggunaan perangkap dalam budidaya organik.
54. Bapak/Ibu merasa lebih mudah untuk memisahkan produk padi hasil organik dan non organik setelah panen.
Kemungkinan untuk Dicoba (Trialability) 55. Pertanian padi organik dapat diterapkan pada lahan yang kecil.
56. Pertanian padi organik dapat diterapkan dengan menggunakan benih dalam takaran yang lebih kecil.
57. Pertanian padi organik dapat diterapkan dengan menggunakan modal yang kecil.
58. Pertanian padi organik dapat diterapkan dengan menggunakan tenaga kerja keluarga.
Kemungkinan Hasilnya dapat Diamati (Observability)
59. Bapak/Ibu dapat merasakan hasil dari bertani organik, yaitu rasa berasnya yang enak dan pulen.
60. Bapak/Ibu dapat melihat hasil dari bertani organik, yaitu meningkatnya jumlah produksi padi hasil budidaya organik.
61. Bapak/Ibu mudah untuk menghitung secara pasti/akurat jumlah produksi padi organik per hektar/per petak sawah.
62. Bapak/Ibu mudah untuk menghitung biaya/ongkos bertani padi organik per hektar/per petak sawah.
C. PENERAPAN PERTANIAN PADI ORGANIK
Petunjuk pengisian : Silakan Bapak/ Ibu mengisi pertanyaan di bawah ini dengan memberikan tanda checklist ( √ ) pada kolom jawaban yang telah disediakan, yaitu kolom :
1) Apabila Bapak/Ibu menjawab “Ya” pada pernyataan tersebut; 2) Apabila Bapak/Ibu menjawab “Tidak” pada pernyataan tersebut;
No. Pernyataan
Jawaban
1 2 Pengolahan Lahan/Tanah
63.
Bapak/Ibu melakukan pengolahan tanah sebanyak 3 (tiga) kali, yaitu pembajakan, penggaruan, dan perataan tanah (ngangler) selama 2 (dua) minggu sebelum tanam.
64. Setelah pembajakan selesai, Bapak/Ibu menaburkan pupuk organik secara merata dengan dosis rata-rata 7.000 kg/ha atau sesuai dengan kebutuhan.
65. Saat penggaruan dan perataan tanah (ngangler), Bapak/Ibu selalu mempertahankan keadaan air yang harus macak-macak.
66. Setelah perataan tanah selesai, Bapak/Ibu membuat saluran air di tengah dan di pinggir di sekeliling pematang.
Persiapan Benih / Persemaian
67. Bapak/Ibu melakukan persemaian pada baki/pipiti/bak kecil yang terbuat dari kayu.
68.
Bapak/Ibu menggunakan benih sebanyak 10-15 kg/ha yang merupakan benih yang bukan berasal dari hasil rekayasa genetika dan tidak diperlakukan dengan