Untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi usaha ternak sapi potong di Desa Mangkai Lama Kecamatan Lima puluh Kabupaten Batubara digunakan analisis regresi linier berganda, dimana yang menjadi variabel bebas (independent) adalah jumlah tanggungan keluarga (X1), umur peternak (X2), jumlah ternak sapi (X3), pengalaman beternak (X4), tingkat pendidikan (X5), sedangkan yang menjadi variabel terikat/tidak bebas (dependent) adalah pendapatan (Y).
Adapun hasil pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi usaha ternak sapi potong di Desa Mangkai Lama Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara dapat di lihat pada Tabel 10.
Tabel 11. Hasil Output Analisis Regresi Linier Berganda Variabel Koefisien
Regresi
Std. Error t- hitung Signifikan
Konstanta 13,273 1,310 10,131 0,000 X1 -0,115 0,109 -1,059 0,300 X2 0.017 0,024 0,734 0,470 X3 0,060 0,020 2,996 0,006 X4 0,031 0,024 1,302 0,205 X5 0,124 0,068 1,824 0,081 R square 0,468 F- tabel 2,62
Berdasarkan Tabel 10 diatas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
Uji Hipotesis :
• Pengaruh X1 ( jumlah tanggungan keluarga) terhadap Y H0 : β1= 0
H1 : β1≠ 0
Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p(0,300) > alpha 5% maka terima H0 artinya jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan.
• Pengaruh X2 ( Umur) terhadap Y H0 : β2= 0
H1 : β2≠ 0
Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p(0,470) > alpha 5% maka terima H0 artinya umur tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan.
• Pengaruh X3 ( jumlah ternak) terhadap Y H0 : β3= 0
H1 : β3≠ 0
Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p(0,006) < alpha 5% maka tolak H0 artinya jumlah ternak berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Nilai koefisien positif artinya peningkatan jumlah ternak mampu meningkatkan pendapatan.
30
• Pengaruh X4 (Pengalaman beternak) terhadap Y H0 : β4= 0
H1 : β4≠ 0
Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p(0,205) > alpha 5% maka terima H0 artinya pengalaman beternak tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan.
• Pengaruh X5 ( Pendidikan) terhadap Y H0 : β5= 0
H1 : β5≠ 0
Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p(0,081) < alpha 10% maka tolak H0 artinya pendidikan berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Nilai koefisien positif (0,124) artinya semakin tinggi pendidikan maka akan meningkatkan pendapatan.
Berdasarkan Hasil Regresi di atas dapat diketahui:
1. Nilai Konstanta/Intersept adalah sebesar 13273. Artinya apabila variabel bebas yaitu jumlah tanggungan keluarga, umur peternak, skala usaha (jumlah ternak), pengalaman beternak, dan tingkat pendidikan tidak ada maka peternak sapi potong tetap memperoleh pendapatan sebesar nilai Konstanta yaitu 13273.
2. Secara serempak nilai F-hitung (4,231) lebih besar daripada F-tabel (2,62). Hal ini menunjukkan bahwa secara serempak kelima variabel tersebut yaitu jumlah tanggungan keluarga, umur peternak, skala usaha (jumlah ternak), pengalaman beternak, dan tingkat pendidikan berpengaruh secara nyata (ada pengaruh positif) terhadap pendapatan peternak sapi potong dengan taraf signifikansi 0.000 dan pada taraf nyata 10%.
3. Secara partial nilai t-hitung variabel yang mempengaruhi adalah variabel jumlah tanggungan keluarga (-1,059), variabel umur peternak (0,734), variabel skala usaha (jumlah ternak) (2,996), variabel pengalaman beternak (1,302), dan variabel tingkat pendidikan (1,824).
a. Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p (0,300) > alpha 10% maka terima H0 artinya jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Hal ini menyatakan bahwa tanggungan anak dalam keluarga peternak tidak dapat memberikan dorongan positif terhadap peningkatan pendapatan peternak. Menurut Bossard and Boll yang disitir Ahmadi (2003), bahwa masyarakat itu mula-mula terdiri dari small family (keluarga kecil), yaitu suatu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anaknya paling banyak 2 atau 3 anak. Pada keluarga kecil ini anak-anak lebih banyak menikmati segi sosial ekonomi dan lebih banyak diperhatikan orang tuanya.
b. Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p (0,470) > alpha 10% maka terima H0 artinya umur tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan. kriteria umur peternak tidak mendorong peternak dalam mengembangkan usahaternak sapi potong di Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. Faktor umur biasanya lebih diidentikkan dengan produktivitas kerja, dan jika seseorang masih tergolong usia produktif ada kecenderungan produktivitasnya juga
31
tinggi. Chamdi (2003) mengemukakan, semakin muda usia peternak (usia produktif 20-45 tahun) umumnya rasa keingintahuan terhadap sesuatu semakin tinggi dan minat untuk mengadopsi terhadap introduksi teknologi semakin tinggi.
c. Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p (0,006) < alpha 10% maka tolak H0 artinya jumlah ternak berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ternak yang dipelihara maka akan semakin besar pula pendapatan yang akan diperoleh peternak sapi potong. Menurut Soekartawi (1995), bahwa pendapatan usahaternak sapi sangat dipengaruhi oleh banyaknya ternak yang dijual oleh peternak itu sendiri sehingga semakin banyak jumlah ternak sapi maka semakin tinggi pendapatan bersih yang diperoleh.
d. Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p (0,205) > alpha 10% maka terima H0 artinya pengalaman beternak tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Umumnya pengalaman beternak diperoleh dari orang tuanya secara turun-temurun. Pengalaman beternak yang cukup lama memberikan indikasi bahwa pengetahuan dan keterampilan peternak terhadap manajemen pemeliharaan ternak mempunyai kemampuan yang lebih baik. Namun di lapangan tidak diperoleh pengaruh seperti yang diharapkan. Hal ini dapat disebabkan banyak peternak yang memiliki pengalaman yang memadai namun masih mengelola usaha tersebut dengan kebiasaan-kebiasaan lama yang sama dengan sewaktu mereka mengawali usahanya sampai sekarang. Menurut Abidin dan Simanjuntak (1997), faktor penghambat berkembangnya peternakan pada suatu daerah tersebut dapat berasal dari faktor- faktor topografi, iklim, keadaaan sosial, tersedianya bahan-bahan makanan rerumputan atau penguat, disamping itu faktor pengalaman yang dimiliki peternak masyarakat sangat menentukan pula perkembangan peternakan didaerah itu.
e. Dari hasil uji-t diatas diperoleh nilai-p (0,081) < alpha 10% maka tolak H0 artinya pendidikan berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Soekartawi (1986), menyatakan bahwa tingkat pendidikan peternak cenderung mempengaruhi cara berpikir dan tingkat penerimaan mereka terhadap inovasi dan teknologi baru. Peternak yang tingkat pendidikannya lebih tinggi seharusnya dapat meningkatkan pendapatan peternak yang lebih besar.
Dalam pengujian analisis regresi linier berganda pada variabel pendapatan difungsikan kedalam bentuk Ln (logaritma natural) hal tersebut bertujuan untuk memenuhi asumsi pada analisis regresi linier berganda sehingga dari bentuk linier tersebut diperoleh juga nilai elastisitas pada koefisien regresi linier berganda. Adapun hasil elastisitas dari regresi linier berganda pada koefisien regresi masing- masing variabel dapat dilihat pada tabel 12.
32
Tabel 12. Elastisitas koefisien regresi pada analisis regresi linier berganda
Variabel Koefisien regresi Rata-rata Elastisitas
X1 -0,115 3,1 -0.4
X2 0,017 43,5 0.7
X3 0,060 12,9 0.8
X4 0,031 13,2 0.4
X5 0,124 9,2 1.1
Adapun arti dari persamaan berikut adalah:
LnPendapatan = 13,273 – 0,4 X1 + 0,7 X2 + 0,8 X3 + 0,4 X4 + 1,1 X5.
Keterangan:
X1 : Jumlah tanggungan keluarga X2 : Umur peternak
X3 : Jumlah ternak sapi dalam ST X4 : Pengalaman beternak X5 : Tingkat pendidikan
Berdasarkan model persamaan diatas dapat diinterpretasi bahwa:
a. Apabila variabel bebas jumlah tanggungan keluarga (X1) mengalami peningkatan sebesar 1 %, maka akan terjadi penurunan pendapatan (Y) sebesar 0,4 %.
b. Apabila variabel bebas umur (X2) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka akan terjadi kenaikan pendapatan (Y) sebesar 0,7%.
c. Apabila variabel bebas jumlah ternak (X3) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka akan terjadi kenaikan pendapatan (Y) sebesar 0,8 %.
d. Apabila variabel bebas pengalaman beternak (X4) mengalami kenaikan sebesar 1 %, maka akan terjadi kenaikan pendapatan (Y) sebesar 0,4 %. e. Apabila variabel bebas pendidikan (X5) mengalami kenaikan sebesar 1 %,
maka akan terjadi kenaikan pendapatan (Y) sebesar 1,1 %.
f. Apabila variabel X1, X2, X3, X4, dan X5 yang dianalisis dianggap nol (tidak melakukan aktivitas), maka peternak sapi potong akan menanggung biaya sebesar Rp 13.273/tahun .
Koefisien Determinasi (R2)
Nilai R2 diperoleh dari tabel 8 diatas sebesar 0,468 menunjukkan informasi bahwa 46,8% pendapatan telah dapat dijelaskan oleh variabel jumlah tanggungan keluarga, umur, jumlah ternak, pengalaman beternak dan pendidikan atau dengan kata lain R-square 46,8% artinya keragaman yang mampu dijelaskan oleh faktor- faktor dalam model sebesar 46,8% sedangkan sisanya mampu dijelaskan oleh faktor lain diluar model.
Uji-F (uji model secara keseluruhan)
Berdasarkan tabel 8 di atas diperoleh uji-F dengan nilai-p (0.007) < alpha 10 % maka tolak H0 artinya model regresi berganda sudah mampu menjelaskan keragaman pendapatan atau dari tabel ANOVA tersebut diperoleh nilai Sig sebesar 0,007 atau 0,7%, nilai ini lebih kecil dari taraf nyata 10 % dengan kesimpulan tolak H0 artinya model dugaan yang diperoleh secara statistik signifikan untuk memprediksi variabel pendapatan pada taraf nyata 10 %.
33