• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG PEMBERIAN

A. Pengaturan Hukum tentang Pemberian Data Dalam

secara umum antar bank yang satu dengan bank yang lain tidak jauh berbeda.

Yang menjadi perbedaan mungkin hanya terletak dari prosedur dan persyaratan yang ditetapkannya dengan pertimbangan masing-masing.

Mengenai ketentuan dan persyaratan umum dalam pemberian kredit oleh perbankan terdiri dari sembilan persyaratan, sebagai berikut :

1. Mempunyai feasibility study, yang dalam penyusunannya melibatkan konsultan yang terkait.

2. Mempunyai dokumen administrasi dan izin-izin usaha, misalnya akta perusahaan, NPWP, SIUP dan lain-lain.

3. Maksimum jangka waktu kredit adalah 15 tahun dan masa tenggang waktu (grace period) maksimum 4 tahun.

4. Agunan utama adalah usaha yang dibiayai. Debitur menyerahkan agunan tambahan jika menurut penilaian bank diperlukan. Dalam hal ini akan melibatkan pejabat penilai (appraiser) independen untuk menilai nilai agunan.

5. Maksimum pembiayaan bank adalah 65 % dan self-financing adalah sebesar 35%.

6. Penarikan atau pencairan kredit biasanya didasarkan atas dasar prestasi proyek. Dalam hal in biasanya melibatkan konsultan pengawas independen untuk menentukan progress proyek.

7. Pencairan biasanya dipindahbukukan ke rekening giro.

8. Rencana angsuran ditetapkan atas dasar cash Flow yang disusun berdasarkan analisis dalam feasibility study

9. Pelunasan sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan.52

52Chatamarrasjid Ais, Hukum Perbankan Nasional Indonesia Ditinjau Menurut Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan,Sebagaimana Telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, dan Undang-Undang-Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang-Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Bank Inonesia, serta Undang-Undnag No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), (Jakarta : Kencana Prenadamedia Group, 2005), Hal. 61-62.

1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Didalam Pasal 1320 KUH Perdata agar suatu perjanjian oleh hukum dianggap sah sehingga mengikat kedua belah pihak, maka perjanjian tersebut haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Kecakapan;

b. Kecakapan;

c. Perihal tertentu; dan d. Kausal yang halal

Pasal 1320 KUH Perdata mensyaratkan adanya kesepakatan sebagai salah satu syarat keabsahan kontrak. Dimana dalam kesepakatan tersebut tidak boleh mengandung unsur-unsur kekhilafan, paksaan, atau penipuan.

Sebelum perjanjian kredit tersebut ditandatangani, debitur mengajukan permohonan tertulis dan memberikan data atau dokumen untuk proses pemberian kredit kepada bank. Data atau dokumen tersebut sebagai bahan pertimbangan bank untuk memberikan kredit kepada debitur, jika data atau dokumen tersebut memenuhi persyaratan maka bank akan sepakat memberikan kredit.53

Data atau dokumen yang di berikan debitur haruslah data yang sebenarnya, karena jika data atau dokumen tersebut mengandung unsur penipuan atau pun pemalsuan, maka unsur kesepakatan dalam perjanjian bank tidak terpenuhi. Pasal 1321 KUH Perdata, perjanjian menjadi tidak sah apabila kesepakatan terjadi karena adanya unsur-unsur kekhilafan, paksaan, atau penipuan.

53Wawancara, Ika Rama Devi, Legal Officer, Bank W pada tanggal 31 April 2017, di Kota Pekanbaru.

Konsekuensi hukum jika syarat kesepakatan kehendak ini tidak terpenuhi dalam perjanjian akan mengakibatkan bahwa kontrak yang bersangkutan dapat dibatalkan (vernietigebaar, voidable).54

2. Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 Juncto Undang-Undang Nomor 7 Tahun1992Tentang Perubahan atas Undang-Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan.

Kredit menurut Undang-undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 adalah sebagai berikut :

“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.”55

Pengertian kredit diatas terkandung unsur-unsur kredit itu sendiri, yaitu:

a. Waktu

Adanya jarak antara saat persetujuan pemberian kredit dan pelunasannya. Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.

b. Kepercayaan

Unsur esensial dari kredit bank adalah kepercayaan dari bank sebagai kreditur terhadap nasabah peminjam sebagai debitur. Kepercayaan tersebut timbul karena dipenuhinya segala ketentuan dan persyaratan untuk memperoleh kredit bank oleh debitur, antara lain jelasnya tujuan peruntukan kredit, adanya benda jaminan atau agunan, dan lain-lain.56 c. Penyerahan atau objek

Pihak kreditur menyerahkan nilai ekonomi atau objek berupa uang atau tagihan kepada debitur yang harus dikembalikan setelah jatuh tempo.

d. Risiko

Suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu resiko tidak tertagihnya/macet pemberian kredit yang mungkin timbul sepanjang jangka waktu kredit

e. Perjanjian

Suatu kontrak perjanjian atau kesepakatan yang dilakukan antara Bank (kreditur) dengan pihak peminjam (debitur).

54 Munir Fuady, Hukum Kontrak (dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001),Hal 35.

55Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, Pasal 1 Butir 11.

56Hermansyah,Loc, Cit.

f. Kreditur dan Debitur

Antara kreditur dan debitur terdapat suatu persetujuan/ perjanjian pinjam meminjam uang yang dibuktikan dengan suatu akta perjanjiandan masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing-masing-masing.

g. Balas jasa

Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita kenal dengan nama bunga.57

Dalam pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, bank wajib memerhatikan hal-hal sebagaimana ditentukan dalam Pasal 8 ayat (1) dan (2) UU No 10 Tahun 1998, yaitu :

Ayat (1) :

“Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah bank umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang dalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan diperjanjikan.”

Ayat (2)

“Bank umum wajib memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan dan pembiayaan berdasarkan prinsip pembiayaan syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.”

Berkaitan dengan itu, menurut penjelasan Pasal 8 ayat (2) dikemukan bahwa pedoman perkreditan Pasal 8 ayat (2) dikemukakan bahwa pedoman perkreditan dan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang wajib dimiliki dan diterapkan oleh bank dalam pemberian kredit dan pembiayaan adalah sebagai berikut :

a. Pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis.

b. Bank harus memiliki keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur yang antara lain diperoleh dari penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal agunan, dan proyek usaha dari nasabah debitur.

c. Kewajiban bank untuk menyusun dan menerapkan prosedur pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

57Ismail ,Loc.Cit.

d. Kewajiban bank untuk memberikan informasi yang jelas mengenai prosedur dan persyaratan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

e. Larangan bank untuk memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dengan persyaratan yang berbeda kepada nasabah debitur dan/atau pihak-pihak terafiliasi.

f. Penyelesaian sengketa.58

Ketentuan Pasal 8 ayat (1) dan (2) di atas merupakan dasar atau landasan bagi bank dalam menyalurkan kreditnya kepada nasabah debitur. Lebih dari itu, karena pemberian kredit merupakan salah satu fungsi utama dari bank, maka dalam ketentuan tersebut juga mengandung dan menerapkan prinsip kehati-hatian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 2 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan.59

Selain kewajiban kreditur diatas, debitur juga mempunyai kewajiban sebagai berikut :

a. Kewajiban Debitur atas kemampuannya untuk membayar kembali utangnya.

b. Kewajiban Debitur atas untuk memberikan informasi yang jelas atas data perusahaan seperti data keuangan, data legalitas usaha, data jaminan, dan data Para pengurus.

c. Kepatuhan debitur atas perjanjian kredit.

d. Kewajiban debitur atas penggunaan dana kredit sesuai dengan tujuan kredit.60 Untuk mencegah terjadinya kredit bermasalah, penilaian suatu bank untuk memberikan persetujuan terhadap suatu permohonan kredit dilakukan dengan berpedoman kepada Formula 7P dan Formula 5C.

58Ibid, Hal. 63.

59Ibid.

60Wawancara, Riva Lisa S, Legal Officer, Bank W pada tanggal 31 April 2017, di Kota Pekanbaru.

Formula 7P dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Personality. Dalam hal ini pihak bank mencari data secara lengkap mengenai kepribadian si pemohon kredit, antara lain mengenai riwayat hidupnya, pengalamannya dalam berusaha, pergaulan dalam masyarakat, dan lain-lain.61 b. Purpose. Selain mengenai kepribadian (personality) dari pemohon kredit, bank juga harus mencari data tentang tujuan atau penggunaan kredit tersebut sesuai line of business kredit bank yang bersangkutan.62

c. Prospect. Dalam hal ini bank harus melakukan analisis secara cermat dan mendalam tentang bentuk usaha yang akan dilakukan oleh pemohon kredit mempunyai prospek di kemudian hari ditinjau dari aspek ekonomi dan kebutuhan masyarakat. Ini dapat diketahui dari perkembangan usaha si peminjam selama beberapa bulan/tahun, perkembangan keadaan ekonomi perdagangan, keadaan ekonomi/perdagangan sektor usaha si peminjam, kekuatan keuangan perusahaan yang dibuat dari earning perusahaan (kekuataan pendapatan/keuntungan) masa lalu dan perkiraan masa mendatang.63

d. Payment. Sumber pembayaran kredit dari calon debitur cukup tersedia dan cukup aman, sehingga dengan demikian diharapkan bahwa kredit yang akan diluncurkan tersebut dapat dibayar kembali oleh debitur yang bersangkutan.64

61Hermansyah, Op.Cit, Hal 64.

62Ibid

63 Muchdarsyah Sinungan, Manajemen Dana Bank edisi kedua,( Jakarta: Bumi Aksara, 1993), Hal. 242.

64Djoni S Gazali dan Racmadi Usman, Hukum Perbakan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), Hal. 275.

e. Party yaitu mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diiginkan nasabah. Tujuan pengambilan kredit dapat bermacam-macam.

f. Profitability, untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profitability diukur dari periodeke periode apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya.

g. Protection, tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan asuransi.65

Mengenai Formula 5C biasa diuraikan sebagai berikut : a. Character

Dalam konsep 5C dari kredit, yang selalu menjadi C pertama adalah Character (karakter).Sebab, karakter menunjukkan kemauan (willingness) atau tekanan moral dari diri debitur untuk memenuhi kewajibannya komitmen debitur dalam berbisnis atau menghasilkan uang, karena itulah sumber pelunasan kewajiban bank.66

Calon debitur memiliki watak, moral, dan sifat-sifat pribadi.Penilaian terhadap karakter ini dilakukan untuk memenuhi kewajiban dan menjalankan usahanya, mengetahui tingkat kejujuran, integritas, dan kemauan dari calon nasabah debitur untuk memenuhi kewajiban dan menjalankan usahanya.

65Wawancara, Ika Rama Devi, Account Officer, Bank W pada tanggal 31 April 2017, di Kota Pekanbaru.

66Jusuf Jopie, Kiat Jitu Memperoleh Kredit Bank, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2003), Hal. 139.

Kejujuran juga adalah hal yang ingin diketahui dan dituntut bank dari debiturnya.

Bank tidak ingin berhubungan dengan orang yang tidak jujur dan tidak memiliki komitmen untuk mejalankan kesepakatan bersama. Bank hanya mau berhubungan dengan nasabah yang diyakini memiliki itikad baik dalam berhubungan.67

Walaupun merupakan aspek yang paling penting, harus diakui bahwa untuk mengetahui karakter, bukanlah pekerjaan mudah. Sebaliknya, justru merupakan pekerjaan yang paling sulit. Untuk mengetahui karakter nasabah (calon debitur), ada berbagai hal yang dilakukan apabila pemohon kredit telah (atau pernah) berhubungan dengan baik, baik kredit maupun bukan.

Dengan melihat “arsip hubungan perkreditan” antara pemohon kredit dengan bank, dapat diketahui beberapa informasi penting :

1) Kelancaran pembayaran kredit di masa lalu, baik bunga maupun pokok pinjaman.

2) Kerjasama dalam hal dokumentasi. Misalnya ketepatan menetapi janji untuk melengkapi dokumen.68

Disamping catatanya sendiri, bank juga berusaha mencari informasi ke bank lain, yaitu bank yang biasa berhubungan dengan pemohon kredit dan ke Bank Indonesia. Melalui Pengecekan ke Sistem Informasi yang berkaitan dengan kredit nasabah di seluruh bank di Indonesia, seperti :

1) Jumlah, mata uang, dan bentuk kredit yang diterima.

2) Jaminan atau agunan yang diberikan untuk masing-masing kredit yang diperoleh

67Ibid

68Ibid, Hal 140.

3) Kolektibilitas kredit, yaitu penggolongan tingkat kelancaran suatu kredit.

Kolektibilitas terdiri dari lima klasifikasi, yaitu : a) Kolektibilitas 1: Lancar

b) Kolektibilitas 2 : Dalam Perhatian Khusus/ DPK c) Kolektibilitas 3 : Kurang Lancar

d) Kolektibilitas 4 : Diragukan e) Kolektibilitas 5 : Macet69

Untuk menguji karakter pemohon kredit, bank juga akan memeriksa Daftar Hitam Bank Indonesia yang berisi informasi rekening yang ditutup bank karena membuka giro kosong. Daftar ini diterbitkan oleh Bank Indonesia secara berkala.

Disamping bankcheking, bank juga berusaha melakukan trade cheking, yaitu pencairan informasi ke rekan bisnis pemohon kredit untuk memperoleh informasi mengenai reputasi, etika dan perilaku bisnis calon debitur. Beberapa hal yang dapat dilakukan bank adalah :

1) Mencari Informasi ke pemasok yang biasa berhubungan dengan calon debitur untuk mengetahui kebiasaan calon debitur menepati janji pembayaran uang dagang ke pemasok. Calon debitur yang selalu memenuhi kewajiban utang dagang sesuai perjanjian menunjukkan kemampuan untuk mengelola keuangan, dan menunjukkan itikad baik dalam berbisnis.

2) Mencari informasi ke para pelanggan calon debitur. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan calon debitur memenuhi komitmen calon debitur kepada pasar yang dilayaninya, seperti kualitas barang, ketepatan pengiriman barang, cara menyelesaikan persoalan dagang, dan lain-lain.

3) Bank juga mungkin saja mencari informasi ke sesama pemain di industri yang sama, seperti para pesaing calon debitur. Banyak informasi yang dapat diperoleh jauh lebih lengkap dibandingkan dengan para pemasok atau

69Wawancara, Ika Rama Devi, Account Officer, Bank W pada tanggal 31 April 2017, di Kota Pekanbaru.

pelanggan, karena biasanya disetiap industri selalu terbentuk suatu komunitas yang secara tidak formal saling menyebarkan informasi tentang para pemain yang terlibat.

4) Disamping pihak-pihak di atas, bank juga berusaha memperoleh informasi ke para mitra bisnis lainnya, seperti pihak yang terlibat dengan aliansi bisnis calon debitur, dan sebagainya.70

b. Capacity (Kapasitas)

Analisis terhadap aspek kelayakan usaha ini sebenarnya hanya untuk menjawab satu pertanyaan : “Apakah perusahaan (pengusaha) yang akan dibiayai ini mampu mempertahankan eksistensi bisnisnya dan menghasilkan uang yang cukup di masa-masa mendatang untuk membayar kreditnya?” Jangan lupa bahwa pelunasan kredit terjadi di masa yang akan datang. Jadi, bank selalu concern (peduli) dengan keadaan perusahaan di masa yang akan datang.71

Berdasarkan kemampuan kendali manajemen, faktor-faktor ini dapat dibagi menjadi : faktor ekternal dan internal. Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manajemen. Faktor eksternal ini dapat menjadi ancaman (threat) bagi perusahaan atau memberikan peluang (opportunity) untuk perusahaan. Analisis terhadap faktor-faktor internal, yaitu aspek di dalam perusahaan yang dapat dikendalikan oleh manajemen, akan memberikan gambaran mengenai kekuatan (strenght) yang merupakan dukungan dan kelemahan (weakness) yang merupakan faktor penghambat bagi perusahaan untuk maju dan sukses di masa yang akan datang.72

Ada dua golongan data yang dianalisis : data kuantitatif dan data kualitatif.

Data kuantitatif adalah data yang dilakukan perhitungan (kalkulasi) matematis,

70Jopie Jusuf, Op. Cit, Hal. 139.

71Ibid, Hal. 144.

72Ibid, Hal. 145.

seperti laporan keuangan, tingkat inflasi, dan lain sebagainya. Sedangkan data kualitatif adalah data yang tidak dapat dilakukan kalkulasi matematis, seperti gaya manajemen, kemampuan beradaptasi, dan sebagainya.73

Analisa kuantitatif terhadap aspek internal perusahaan dilakukan dengan menganalisis kondisi keuangan. Beberapa hal yang di analisis antara lain, adalah : 1) Tingkat kemampuan (profitability) dari perusahaan, yaitu kemampuan

perusahaan mencetak laba;

2) Keadaan likuiditas perusahaan;

3) Perputaran bisnis perusahaan;

4) Tingkat ketahanan perusahaan terhadap berbagai perusahaan 5) Struktur keuangan perusahaan.

6) Tingkat risiko yang dihadapi pemberi kredit dibandingkan dengan pemegang saham apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi)

7) Perkembangan keuangan perusahaan dari waktu ke waktu.

8) Proyeksi kondisi keuangan perusahaan di masa-masa yang akan datang berdasarkan seragkaian rencana bisnis (dan asumsi) yang disusun manajemen.74

Faktor-faktor internal kualitatif yang dianalisis oleh bank adalah :

1) Bentuk perusahaan, seperti perusahaan perorangan, perseroan komanditer (CV) dan perseroan terbatas. Melakukan analisis terhadap keaslian dan keabsahan dokumen-dokumen yang diajukan oleh pemohon kredit. Analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut dilakukan oleh pejabat atau lembaga yang berwenang.

73Ibid, Hal. 146.

74Ibid, Hal. 147.

2) Aspek Manajemen dalam mengelola perusahaan. Penilaian terhadap aspek manajemen ini adalah untuk menilai pengalaman dari perusahaan yang memohon kredit dalam mengelola kegiatan usahanya, termasuk sumber daya manusia yang mendukung kegiatan usaha tersebut.

3) Organisasi perusahaan , yaitu jaringan kerjasama yang menunjukkan hubungan berbagai unit di dalam perusahaan.

4) Aspek pembelian, terutama untuk sektor bisnis manufaktur dan perdagangan.

5) Aspek produksi, misalnya mengenai lokasi tempat usaha, kondisi gedung, beserta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

6) Aspek pemasaran

7) Aspek Sumber Daya Manusia (SDM) juga memperoleh perhatian bank, terutama di sektor-sektor tertentu yang sangat mengandalkan SDM, seperti konsultan manajemen, pembuat program, dan lain-lain.75

Analisis terhadap kelayakan usaha ini umumnya dimulai dengan permintaan data keuangan, data legal perusahaan, data jaminan, peninjauan lokasi usaha dan diskusi yang intensif dengan calon debitur.

3 Capital (Modal Sendiri)

Faktor lain yang juga dianalisis oleh bank adalah aspek modal sendiri (capital) yang disetor oleh pemilik. Dalam hal ini bank harus terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap modal yang dimiliki oleh pemohon kredit.

Penyelidikan ini tidaklah semata-mata didasarkan pada besar kecilnya modal, akan tetapi lebih difokuskan kepada bagaimana distribusi modal ditempatkan oleh pengusaha tersebut, sehingga segala sumber yang telah ada dapat berjalan secara efektif.76

4 Collateral (Jaminan)

Collateral adalah jaminan untuk persetujuan pemberian kredit yang merupakan sarana pengaman (back up) atas risiko yang mungkin terjadi atas wanprestasinya nasabah debitur di kemudian hari, misalnya terjadi macet.

75Ibid, Hal. 149.

76Herman Darmawi, Manaemen Perbankan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2016), Hal.112.

Jaminan ini diharapkan mampu melunasi sisa utang kredit baik utang pokok maupun bunganya.77

5 Condition of economy.

Dalam pemberian kredit oleh bank, kondsi ekonomi secara umum dan kondisi sektor usaha pemohon kredit perlu memperoleh perhatian dari bank untuk memperkecil risiko yang mungkin terjadi diakibatkan oleh kondisi ekonomi tersebut.

Dalam memberikan kredit pada dunia usaha, sebuah bank mungkin tertarik dengan fungsi ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan dan arti pentingnya dalam industry. Apa yang sedang berlangsung dalam industri tersebut sangat penting diketahui, seperti terjadinya perubahan: persaingan, teknologi, permintaan atas produk tersebut, dan metode distribusi. Jika seorang pemohon kredit tidak melakukan fungsi yang penting bagi kehidupan ekonomi, bank biasanya enggan untuk mengabulkan permohonan kredit tersebut.78

3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pengaturan pemberian data dan informasi yang benar yang disyaratkan oleh bank, sebagai bahan pertimbangan persetujuan pemberian kredit kepada debitur juga diatur dalam Pasal 19 sampai dengan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Adapun Pasal berbunyi sebagai berikut :

77Ibid, Hal 113.

78Ibid, Hal.115.

Pasal 19 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang berbunyi :

(1) “Setiap Orang yang melakukan Transaksi dengan Pihak Pelapor wajib memberikan identitas dan informasi yang benar yang dibutuhkan oleh Pihak Pelapor dan sekurang-kurangnya memuat identitas diri, sumberdana, dan tujuan Transaksi dengan mengisi formulir yang disediakan oleh Pihak Pelapor dan melampirkan Dokumen pendukungnya.”

(2) “Dalam hal Transaksi dilakukan untuk kepentingan pihak lain, Setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan informasi mengenai identitas diri, sumber dana, dan tujuan Transaksi pihak lain tersebut.”

Pasal 20 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang berbunyi :

(1) “Pihak Pelapor wajib mengetahui bahwa Pengguna Jasa yang melakukan Transaksi dengan Pihak Pelapor bertindak untuk diri sendiri atau untuk dan atas nama orang lain.”

(2) “Dalam hal Transaksi dengan Pihak Pelapor dilakukan untuk diri sendiri atau untuk dan atas nama orang lain, Pihak Pelapor wajib meminta informasi mengenai identitas dan Dokumen pendukung dari Pengguna Jasa dan orang lain tersebut.”

(3) “Dalam hal identitas dan/atau Dokumen pendukung yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lengkap, Pihak Pelapor wajib menolak Transaksi dengan orang tersebut.”

Pasal 21 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang berbunyi :

(1) “Identitas dan Dokumen pendukung yang diminta oleh Pihak Pelapor harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh setiap Lembaga Pengawas dan Pengatur.”

(2) “Pihak Pelapor wajib menyimpan catatan dan Dokumen mengenai identitas pelaku Transaksi paling singkat 5 (lima) tahun sejak berakhirnya hubungan usaha dengan Pengguna Jasa tersebut.”

(3) “Pihak Pelapor yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Pasal 22 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang berbunyi :

(1) “Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a wajib memutuskan hubungan usaha dengan pengguna jasa jika:

a. Pengguna Jasa menolak untuk mematuhi prinsip mengenali Pengguna Jasa;

atau

b. penyedia jasa keuangan meragukan kebenaran informasi yang disampaikan oleh Pengguna Jasa.”

(2) “Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaporkannya kepada PPATK mengenai tindakan pemutusan hubungan usaha tersebut sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan.”

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang pihak bank juga diwajibkan untuk meminta informasi dan dokumen dari debitur sebagai bahan pendukung untuk pemberian kredit kepada debitur. Jika data tersebut kurang lengkap dan bank meragukan kebenaran atas pemberian data yang diberikan debitur maka bank berhak menolak permohonan debitur atau bank dapat memutuskan hubungan terhadap debitur. Bank di tuntut untuk lebih hati-hati dan professional dalam menghadapi debitur.

4. Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Jo Surat Edaran BI No 27/162/KEP/DIR

Didalam peraturan ini terdapat hal mengenai peraturan mengenai prosedur pemberian kredit kepada debitur. Pemberian kredit merupakan kegiatan utama bank yang mengandung risiko yang dapat berpengaruh pada kesehatan dan

Didalam peraturan ini terdapat hal mengenai peraturan mengenai prosedur pemberian kredit kepada debitur. Pemberian kredit merupakan kegiatan utama bank yang mengandung risiko yang dapat berpengaruh pada kesehatan dan