• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PERBUATAN MELAWAN HUKUM YANG DILAKUKAN PERUSAHAAN LEASING

PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH PERUSAHAAN LEASING DALAM PUTUSAN

C. Pengaturan Prosedur Penarikan Oleh Leasing

Wewenang untuk memberikan usaha Leasing dikeluarkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan Surat Keputusan Nomor 649/MK/IV/5/1974 tanggal 6 Mai 1974 yang mengatur mengenai ketentuan tata cara perizinan dan kegiatan leasing di Indonesia.73

Dasar hukum perjanjian leasing di Indonesia ini antara lain:74 1. Umum

72 Fared Wijaya M, Op.Cit, hal. 385

73 Ibid.

74 Djoko Prakoso, Bambang Ri Lady Yani, Dasar Hukum Persetujuan Tertentu diIndonesia, Jakarta: PT.Bina Aksana, 1987 hal. 63

a. Asas Konkordansi Hukum berdasarkan pasal II aturan peralihan UUN 1945 atas Hukum Perdata yang berlaku bagi penduduk Eropa.

b. Pasal 1338 KUH Perdata asas kebebasan berkontrak serta asas-asas persetujuan pada umumnya sebagaimana tercantum pada Bab I Buku III KUH Perdata. Pasal ini memberikan kebebasan kepada semua pihak untuk memilih isi perjanjian mereka sepanjang itu tidak ada pertentangan dengan Undang-undang, kepentingan/kebijakan umum (Public Policy) dan kesusilaan.

c. Pasal 1548 sampai 1580 KUH Perdata (Buku III Bab VII). Yang berisikan tentang ketentuan-ketentuan tentang sewa-menyewa sepanjang tidak adanya penyimpangan oleh para pihak. Pasal-pasal ini membahas hak dan kewajiban Lessor dan Lessee.

2. Khusus

a. Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No.

kep,-122/MK/IC/2/1974, No. 32/M/SK/2/1974. No. 30/Kpb/I/1974 tertanggal 7 Februari 1974 tentang perizinan usaha Leasing.

b. Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

KEP. 649/MK/IV/5/1974 tertanggal 6 Mai 1974, tentang perizinan usaha Leasing.

c. Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

Kep. 650/MK/IV/5/1974 tertnggal 6 Mai 1974, tentang penegasan

ketentuan pajak penjualan dan besarnya bea materai terhadap usaha Leasing.

d. Surat Edaran Derektur Jendral Moneter No. PENG.-307/DJM/III.1/7/1974 tertanggal 8 juli 1984, tentang: a. Tata cara perizinan b. Pembatasan usaha c. Pembukuan d. Tingkat suku bunga e. Perpajakan f. Pengawasan dan pembinaan

e. Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 34/kp/II/80 tertanggal 1 Februari 1980, mengenai lisensi/perizinan kegiatan usaha sewa beli (Hire Purchase), jual beli dengan angsuran/cicilan (Sale and Purchase by Installmet), dan sewa menyewa (Renting).

f. Surat Edaran Dirjen Moneter dalam Negeri No. Se 4815/MD/1983 tertanggal 31 Agustus 1983 tentang ketentuan perpanjangan izin usaha perusahaaan Leasing dan perpanjangan pengunaan tenaga warga negara asing pada perusahaan Leasing.

g. Surat Edaran Dirjen Moneter Dalam Negeri No. Se 4835/MD/1983 tangggal 1 September 1983 tentang tata cara dan prosedur pendirian kantor cabang dan kantor perwakilan perusahaan Leasing.

h. Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

Se. 742/MK/. 011/1984 tanggal 12 Juli 1984 mengenai PPH pasal 23 atas usaha Financial Leasing.

i. Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pajak No. Se, 28/PJ. 22/1984 tanggal 26 Juli 1984 mengenai PPH pasal 23 atas usaha Financial Leasing.

Dengan demikian maka untuk pembuatan perjanjian Leasing yang harus mengatur hak, kewajiban dan hubungan hukum antara pihak-pihak yang bersangkutan, selain itu kita harus berpegang pula asas-asas dan ketentuan-ketentuan hukum yang terdapat di dalam undang-undang negara kita, dalam hal ini Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Republik Indonesia.

Kementerian Keuangan telah menerbitkan peraturan yang melarang perusahaan leasing untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak pembayaran kredit kendaraan. Maka dengan adanya peraturan ini, Anda sebagai pemilik kendaraan baik motor maupun mobil yang sifatnya masih kredit melalui lembaga pembiayaan (leasing) tidak perlu lagi merasa resah, gelisah, dan khawatir akan berhadapan dengan tukang tagih hutang dari leasing (debt collector) yang akan menarik atau merampas kendaraan dari tangan Anda hanya karena Anda telat atau lalai/gagal dalam memenuhi kewajiban pembayaran cicilan kredit bulanan. secara resmi telah mengeluarkan peraturan yang melarang leasing atau perusahaan pembiayaan menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan.

Peraturan ini sendiri tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 tentang pendaftaran fidusia bagi perusahaan pembiayaan. Dengan telah diterbitkannya peraturan Fidusia tersebut, maka pihak leasing tidak berhak untuk menarik atau mengambil kendaraan secara paksa.

Penyelesaian terhadap nasabah yang lalai dalam melakukan pembayaran kewajiban atas beban cicilan kendaraan diselesaikan melalui jalur hukum.

Berdasarkan ketentuan ini, seharusnya PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk Padang selaku pihak leasing melakukan tindakan penarikan terhadap unit kendaraan sesuai dengan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 tersebut, bukan dengan cara-cara yang dapat merugikan konsumen dan dapat dikatakan sebagai perbuatan melawan hukum.

Lebih jauh terkait peraturan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2012 ini, diharapkan dengan adanya peraturan ini tingkat tunggakan pun terus berkurang dari tahun ke tahun. Ditambah lagi dengan aturan Bank Indonesia (BI) yang menyebutkan DP minimal kredit kendaraan harus 20 persen dari harga kendaraan maka hal ini akan membuat pemberian kredit pun semakin potensial kepada nasabah yang mampu. Dengan adanya peraturan tambahan dari BI ini maka kemungkinan terjadinya pembelian kredit kendaraan akan berada pada konsumen yang tepat yang bisa melunasinya hingga akhir angsuran. Debitur diminta untuk memenuhi kewajiban pembayaran angsuran secara tepat waktu sesuai besaran dan waktu yang telah disepakati kedua belah pihak. Pasalnya, jika debitur tidak memenuhi kewajibannya, maka risikonya, perusahaan pembiayaan akan melakukan penarikan kendaraan.

Berikut beberapa hal yang harus dipahami masyarakat mengenai prosedur penarikan kendaraan bermotor dari debitur oleh perusahaan pembiayaan:75

75 Ratna, Op.Cit.

1. Debitur perlu memastikan bahwa proses eksekusi benda jaminan fidusia telah sesuai dengan prosedur yang diatur dalam perjanjian pembiayaan, termasuk mengenai tahapan pemberian surat peringatan kepada debitur/konsumen

2. Petugas yang melakukan eksekusi benda jaminan fidusia merupakan pegawai perusahaan pembiayaan atau pegawai alih daya perusahaan pembiayaan yang memiliki surat tugas untuk melakukan eksekusi benda jaminan fidusia

3. Petugas yang melakukan eksekusi benda jaminan fidusia membawa sertifikat jaminan fidusia

4. Proses penjualan barang hasil eksekusi benda jaminan fidusia harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan mengenai jaminan fidusia.

Perbuatan melawan hukum yang dimaksud dilakukan oleh pihak PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk Padang adalah penarikan atas mobil Toyota Avanza dengan Nomor Polisi BA 1005 A atas nama Fatmawati. Penarikan dilakukan pada tanggal 12 Januari 2012 pada saat perjalanan ke bengkel. Adapun penarikan ini dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Penggugat sebagai pemilik sah kendaraan tersebut. Penarikan tersebut dilakukan secara tanpa hak karena Penggugat telah membayar Uang Muka serta melakukan pembayaran cicilan sebanyak 15 kali. Perjanjian kedua pihak juga telah didaftarkan pada Lembaga

Jaminan Fidusia sehingga jelas bahwa Penggugat berhak atas kepemilikan unit fidusia.

A. Faktor- faktor Penyebab Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Oleh