• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Aktif Direks

PENGELOLAAN RISIKO

5. Pengawasan Aktif Direks

Direksi adalah penanggung jawab utama terhadap pelaksanaan proses manajemen risiko dalam seluruh kegiatan operasional Bank, menerapkan manajemen risiko dalam seluruh kebijakan dan prosedur bank, menetapkan limit toleransi risiko serta memastikan bahwa limit risiko tersebut tidak dilanggar oleh unit bisnis.

Direksi adalah penanggungjawab utama dalam menyetujui dan mengevaluasi Kebijakan Manajemen Risiko sekurang-kurangnya mencakup hal-hal sebagai berikut :

1) Direksi wajib menetapkan wewenang dan tanggung jawab yang jelas pada setiap jenjang jabatan yang terkait dengan penerapan Manajemen Risiko sesuai struktur organisasi bank.

2) Direksi bertanggung jawab untuk memahami dengan baik jenis dan tingkat risiko yang melekat pada aktivitas usaha bank serta terinformasi mengenai karakterisitik, kompleksitas, metodologi pengukuran dan pengelolaan risiko yang dihadapi bank.

3) Direksi bertanggung jawab untuk memastikan penerapan Manajemen Risiko telah memadai sesuai profil risiko bank.

4) Direksi secara berkala melakukan review dan persetujuan atas penerapan Manajemen Risiko yang mencakup antara lain kebijakan, struktur, alokasi sumber daya, serta pelaporan.

Salah satu bentuk dari pengawasan aktif Direksi yaitu telah dibentuknya Credit Police Comiittee (CPC) , Risk Management Committee (RMC), dan ALCO (Asset Liability Committee) sesuai dengan SK Direksi bank bjb Nomor 580/SK/DIR-MR/2011 tentang Pembentukkan Anggota Susunan Tim ALCO, CPC, dan RMC bank bjb pelaksanaan kegiatan komite-komite tersebut antara lain yaitu :

 Kegiatan Risk Management Committee (RMC) di bank bjb diantaranya membahas hal- hal sebagai berikut :

a. Profil Risiko Bank bjb

b. Pedoman pengukuran Risiko Pasar dan Likuiditas

c. Pembahasan mengenai penyesuaian Committee Manajemen Risiko d. Pembahasan mengenai kebijakan Manajemen Risiko

 Kegiatan Credit Police Comiittee (CPC) di bank bjb diantaranya membahas hal- hal sebagai berikut :

a. Pembahasan mengenai kebijakan perkreditan bank b. Merumuskan mengenai limit kewenangan memutus kredit

c. Mengawasi pelaksanaan KPB (Kebijakan Perkreditan Bank) secara konsisten

 Kegiatan ALCO (Asset Liability Committee) antara lain membahas mengenai :

a. Membahas mengenai Tingkat suku bunga b. Merumuskan dan memutuskan pricing strategy

c. Mereview secara periodik mengenai posisi likuiditas bank

d. Mereview secara periodik mengenai posisi kualitas portofolio kredit Wewenang & Tanggung Jawab Direksi :

Menyusun dan menetapkan kebijakan dan strategi manajemen risiko secara komprehensif.

Melakukan review secara berkala terhadap kebijakan dan strategi manajemen risiko dalam hal terdapat perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha Bank secara signifikan;

Mengevaluasi dan memberikan arahan strategi manajemen risiko berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko secara triwulanan;

Mengevaluasi dan memutuskan transaksi yang melampaui kewenangan Pemimpin Divisi atau transaksi yang memerlukan persetujuan sesuai dengan kebijakan dan prosedur internal yang berlaku;

Mengembangkan budaya manajemen risiko pada seluruh jenjang organisasi, antara lain meliputi komunikasi yang memadai kepada seluruh jenjang organisasi tentang pentingnya pengendalian intern yang efektif;

Melakukan evaluasi dan menetapkan program pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan tentang sistem dan proses manajemen risiko sesuai dengan jenjang jabatan dalam struktur organisasi dalam rangka peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia terkait dengan penerapan manajemen risiko bank;

Memastikan bahwa fungsi manajemen risiko telah diterapkan secara independen yang dicerminkan antara lain adanya pemisahan fungsi antara Satuan Kerja Manajemen Risiko yang melakukan identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko dengan satuan kerja yang melakukan dan menyelesaikan transaksi;

Menyetujui dan melakukan evaluasi terhadap penerapan manajemen risiko dalam hal :

- Penggunaan metodologi penilaian risiko;

- Kecukupan implementasi sistem informasi manajemen risiko; dan - Ketepatan kebijakan, prosedur dan penetapan limit toleransi risiko. I. Kecukupan Kebijakan, prosedur dan penetapan limit

Bank bjb telah memiliki Kebijakan, Prosedur dan Penetapan Limit Risiko dengan cakupan sebagai berikut :

1. Risiko Pasar & Likuiditas

Bank bjb telah memiliki Kebijakan, Prosedur dan Penetapan Limit terkait Risiko Pasar & Likuiditas, hal ini ditandai dengan adanya pengembangan Limit Risiko salah satunya berupa Toleransi Risiko

Forex Line untuk Korporasi sesuai dengan Surat Keputusan Direksi Bank bjb Nomor 506/SK/DIR-MR/2012 tentang Standar Operasional Prosedur Tools Corporate Forex Line. Alur kerja dalam Penentuan

Forex Line untuk Korporasi adalah sebagai berikut :

Risk Taking Unit melakukan review melalui pengukuran secara komprehensif toleransi risiko yang tercermin dari besaran Forex Line Counterparty korporasi melalui Tools Corporate Forex Line yang dibuat oleh Divisi Manajemen Risiko, selanjutnya hasil besaran

Forex Line tersebut dijadikan acuan bagi risk taking unit dalam memberikan Forex Line kepada Counterparty.

2. Risiko Kredit

Bank telah memiliki Kebijakan, Prosedur dan Penetapan Limit terkait Risiko Kredit. Hal tersebut ditandai dengan telah dilakukannya pengembangan Limit Risiko berupa Limit Sektor Industri yang telah disahkan melalui Surat Keputusan Direksi bank bjb Nomor 453/SK/DIR-MR/2012 tentang Pedoman Metodologi Perhitungan Limit Sektor Industri/Ekonomi. Terhadap pedoman tersebut telah disosialiasikan kepada Divisi terkait. Adapun terhadap

perkembangan portofolio kredit telah dilakukan mekanisme monitoring melalui kajian yang dilakukan secara bulanan. Bank bjb juga telah menerapkan internal rating melalui penggunaan Internal Credit Risk Rating (ICRR) dan Internal Credit Risk Scoring (ICRS) yang digunakan pada proses pengajuan kredit.

3. Risiko Operasional & Lainnya

Dalam manajemen risiko operasional, Bank mengidentifikasi risiko dengan cara mengenal dan memahami seluruh risiko yang sudah ada (inherent risk) maupun yang mungkin timbul dari suatu bisnis baru Bank. Setelah dilakukan identifikasi risiko, selanjutnya secara berturut-turut Bank melakukan pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko. Dalam melakukan identifikasi, pengukuran dan pengendalian risiko, Bank menggunakan metode Key Risk Indicator

(KRI), di samping metode self assessment dan loss event database

yang telah diimplementasikan sebelumnya. Melalui penerapan KRI, diharapkan indikator risiko yang telah ditetapkan dapat diukur dan Bank mampu mendeteksi eksposur risiko. Key Risk Indicator adalah kumpulan indikator yang dapat diukur dan hasil pengukuran tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi eksposur risiko yang dihadapi Bank sebagaimana tercantum dalam SK Direksi bank bjb Nomor 213/SK/DIR-MR/2011 tanggal 21 Juli 2011 tentang Kebijakan dan Pedoman Manajemen Risiko. Setiap indikator yang didefinisikan dalam KRI memiliki nilai limit toleransi (threshold) yang diperoleh berdasarkan data historis dan/atau nilai risk appetite yang diterima oleh risk taking unit. Selain itu terdapat pembatasan limit transaksi operasional bank sebagai langkah dalam melakukan upaya meminimalisir kejadian risiko operasional.

II. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan

pengendalian risiko serta sistem informasi Manajemen Risko

Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko dilaksanakan secara efektif melalui mekanisme sebagai berikut:

1. Dilakukannya pelaporan profil risiko bank secara berkala kepada Bank Indonesia. Adapun perhitungan profil risiko dimaksudkan sebgai upaya

assesment dan forecasting atas risiko inheren bank serta menilai kecukupan proses manajemen risiko;

2. Telah dikembangkannya mekanisme pengukuran tingkat risiko pada setiap kantor cabang melalui pengembangan metodologi perhitungan branch risk profile. Metodologi pengukuran branch risk profile

mencakup penilaian atas 8 (delapan) jenis risiko yang dihitung secara agregat sesuai dengan tingkat materialitasnya;

3. Dilakukannya pelaporan Root Cause of Credit Risk (RCCR) yang ditujukan sebagai dashboard atas pertumbuhan portofolio kredit serta pergerakan kredit bermasalah sehingga kualitas penyediaan dana yang dilakukan oleh dapat dimonitor secara berkala;

4. Telah disusunnya laporan Market and Liquidity Risk Measurement, Mit- igate and Control yang ditujukan sebagai upaya monitoring atas risiko likuiditas dan risiko pasar yang dikelola oleh Divisi Treasury;

5. Menerapkan Internal Credit Risk Rating (ICRR) dan Internal Credit Risk Scoring (ICRS) untuk mendukung proses analisa kredit sebagaimana telah disahkan melalui Surat Keputusan sebagai berikut: a. Surat Keputusan Direksi Nomor 203/SK/DIR-MR/2011 tentang

Aplikasia Credit Scoring dan Analisa Kredit Usaha Rakyat (KUR) Berbasis Web;

b. Surat Keputusan Direksi Nomor 1570/SK/DIR-MR/2009 tentang Aplikasi Credit Scoring dan Analisa Kredit Mikro Utama Berbasis Web;

c. Surat Keputusan Direksi Nomor 408/SK/DIR-MR/2011 tentang Standar Operasional Prosedur Aplikasi Credit rating Untuk Kredit Korporasi, Korporasi Jasa Konstruksi, SMU, dan SME Jasa Konstruksi Berbasis Web.

6. Telah dikembangkannya perhitungan stress testing yang dilakukan sebagai simulasi pengujian tingkat ketahanan bank dalam menghadapi kejadian risiko ekstrim;

7. Melakukan pengkajian yang memadai terhadap produk dan aktivitas baru.

8. Melakukan pemantauan atas eksposur risiko yang terjadi pada unit kerja melalui laporan Key Risk Indicator (KRI), laporan Self Assess- ment, serta Loss Database Event.

9. Melakukan Pemantauan atas eksposur risiko nilai tukar dalam proses revaluasi Kurs akhir hari melalui proses Mark to Market pada saat end of day (EOD).

III. Sistem pengendalian Intern yang menyeluruh

Dalam rangka penerapan Sistem Pengendalian Intern yang menyeluruh, bank telah menerapkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Telah diakomodirnya prinsip dual control dan segregation of duty

dalam penyediaan dana melalui pembentukan Divisi Credit Risk Re- viewer (CRR) yang berfungsi sebagai pairing Unit Bisnis;

2. Terdapat dual control dalam pelaksanaan transaksi pada kegiatan operasional bank dengan adanya limit transaksi.

3. Telah dikembangkannya mekanisme pemeriksaan oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) yang dilakukan secara independen kepada seluruh unit kerja;

4. Penerapan Risk Based Audit yang dilaksanakan melalui penggunaan hasil laporan Self Assessment yang digunakan sebagai salah satu bahan dalam pelaksanaan audit pada masing-masing unit kerja;

5. Telah dilaksanakannya kaji ulang secara berkala oleh SKAI atas kecukupan dan akurasi metodologi perhitungan risiko yang disusun oleh Divisi Manajemen Risiko;

6. Bank bjb telah secara aktif menggunakan jasa konsultan eksternal untuk melakukan penilaian kecukupan metodologi perhitungan risiko yang dimiliki.

Dokumen terkait