• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Drainase

Dalam dokumen Bab 3 ANGKA DIARE DI JEPARA (Halaman 38-43)

TPS TANPA KONTAINER

3.4 Pengelolaan Drainase

3.4.1 Landasan Hukum/Legal Operasional

Landasan hukum pengelolaan drainase adalah :

1. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 239/KPTS/1987 tentang Fungsi Utama Saluran Drainase Sebagai Drainase Wilayah dan Sebagai Pengendalian Banjir.

2. Kepmen Kimpraswil Nomor 534/2001 tentang Standar Pelayanan Minimal Drainase.

3.4.2 Aspek Institusional

Institusi yang berwenang dalam pengelolaan drainase adalah DPU & ESDM dan DPTRK. DPU & ESDM menangani masalah pembangunannya dan DPTRK menangani pemeliharan saluran drainase. Sedangkan BLH menangani masalah promosi dan advokasi PHBS dengan memasang pesan-pesan di Billboard supaya masyarakat tidak membuang sampah di sungai, kegiatan pembersihan sampah disepanjang pantai wisata dengan melibatkan masyarakat setempat, memberikan bantuan bibit tanaman untuk penghijauan ke sekolah- sekolah, membuat biopori didaerah resapan air hujan, tanaman untuk taman-

taman kota. Pendanaan yang disediakan oleh BLH untuk kegiatan ini rata-rata sebesar Rp. 50 juta pertahun.

Struktur organisasi PU & ESDM yang mengurus masalah drainase dan air limbah adalah sebagai berikut dibawah ini:

‐ Kepala Dinas

‐ Sekretaris

a. Sub Bagian umum dan Kepegawaian b. Sub Bagian Perencanaan dan Evaluasi c. Sub Bagian Keuangan

‐ Bidang Bina Marga yang terdiri dari a. Seksi Pembangunan Jalan,

b. Seksi Jembatan dan Sarana Prasarana Umum

‐ Bidang Cipta Karya yang terdiri dari :

a. Seksi Penataan Lingkungan Dan Air Bersih b. Seksi Pemukiman

‐ Bidang Pengairan yang terdiri dari: a. Seksi Bina Manfaat

b. Seksi Pembangunan dan Pemeliharaan

‐ Bidang ESDMyang terdiri dari: c. Seksi Energi

d. Seksi Sumber Daya Mineral

‐ UPT DPU & ESDM 3.4.3 Cakupan Pelayanan

Pengelolaan drainase di Kabupaten Jepara yang menjadi tanggung jawab DPU & ESDM sudah meliputi seluruh wilayah kota dengan cakupan pelayanan meliputi : tidak ada luas genangan yang lebih dari 10 hektar, lama waktu genangan tidak lebih dari 2 jam dan tinggi genangan tidak lebih dari 30 cm. Pembangunan saluran drainase lingkungan (saluran tersier) menjadi tanggungjawab masyarakat. Layanan yang diberikan DPTRK pada aspek pemeliharaan meliputi: melakukan pengedukan lumpur/waled/sedimen pada saluran drainase, memelihara ketertiban penggunaan saluran drainase serta melakukan pemusnahan dan pemanfaatan hasil pembersihan saluran drainase, air kotor supaya berdaya guna dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan/banjir. Sedangkan BLH melakukan pemasangan pesan-pesan PHBS kepada masyarakat disepanjang pinggir sungai, supaya tidak membuang sampah di sungai.

3.4.4 Aspek Teknis dan Operasional

Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan penerima air atau ke bangunan resapan buatan. Ditinjau dari fungsi pelayanan, drainase terdiri atas :

1. Drainase utama (makro) 2. Drainase lokal (mikro)

Drainase utama (makro) yaitu sistem saluran yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (catchment area). Biasanya sistem ini menampung aliran yang berskala besar dan luas. Di Kabupaten Jepara yang termasuk dalam drainase utama (makro) ada 4 sungai yaitu Kali Kanal, Kali Wiso, Kali Sikembu dan Kali Sampok.. Pada Kali Kanal dan Kali Wiso yang berada pada daerah perkotaan sebagian besar sudah di tanggul.

Drainase lokal (mikro) yaitu sistem saluran yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan yang sebagian besar berada di dalam wilayah kota. Biasanya sistem ini menampung aliran yang berskala lebih kecil dari drainase utama (makro). Di Kabupaten Jepara yang termasuk dalam drainase lokal (mikro) adalah saluran di sepanjang sisi jalan protokol (saluran drainase sekunder) dan saluran di lingkungan pemukiman (saluran drainase tersier/drainase lingkungan). Karakteristik sistem saluran di wilayah kota sudah permanen, pada umumnya masih terbuka dan dimensi sekitar 0,3 – 2 m. Pada umumnya saluran drainase mengikuti alur jalan yang ada, dimulai dari pintu air Demaan dan terbagi menurut hirarki sistem menjadi 7 sistem pelayan (I – VII/Sistem Sikembu). Ada yang bermuara ke sungai/kanal, ada yang langsung ke laut dan ada yang masuk ke rencana pembangunan polder dekat terminal Jepara. Panjang saluran drainase yang melayani 7 sistem pelayanan tersebut sekitar 24.236 m, terdiri dari :

Sistem I = 4.681 m Sistem IV = 3.152 m Sistem VII = 2.676 m Sistem II = 6.042 m Sistem V = 1.300 m

Sistem III = 2.625 m Sistem VI = 3.760 m

Secara umum, saluran drainase lingkungan di pemukiman ada berupa saluran alami dan buatan baik terbuka atau tertutup, pasangan beton maupun galian tanah. Berdasarkan hasil Studi EHRA Jepara Juli 2010, sekitar 39,48 % responden memiliki saluran air /drainase. Kondisi fisik saluran drainase dari 39,483% tersebut, sekitar 17,32 % saluran menggunakan tutup dan sekitar 42,21 % saluran airnya mengalir.

K E L . J O B O K U T O K E L . B U LU K E L . K A U M A N K E L . D E M A A N K E L . P O T R O Y U D A N K E L . P A N G G A N G K E L U R A H A N S A R IP A N S ta d io n K a m a l J u n a e d i S ka la : 0 2 50 5 00 m K E L U R A H A N P E N G K O L K E L U R A H A N M U L Y O H A R JO K E L U R A H A N U JU N G B A T U Gambar 3.14

Peta Jaringan Drainase dan Lokasi Daerah Genangan

3.4.5 Peran Serta Masyarakat dan Gender Dalam Pengelolaan Drainase Lingkungan

Peran serta masyarakat diperlukan dalam pengelolaan drainase lingkungan antara lain:

1. Pembersihan saluran dengan cara kerja bakti di setiap lingkungan.

2. Membayar retribusi sampah sehingga tidak membuang sampah ke saluran drainase.

3. Membuat saluran pembuangan air limbah rumah tangga ke belakang rumah. Saluran drainase yang ada di depan rumah hanya untuk pematusan air hujan saja.

4. Mentaati slogan-sloga himbauan yang telah dipasang oleh BLH Kabupaten Jepara di tempat - tempat strategis pinggiran sepanjang sungai, supaya masyarakat ikut menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang sampah pada sungai.

3.4.6 Permasalahan

Di Kabupaten Jepara muncul permasalahan dalam pengelolaan drainase lingkungan yaitu :

1. Ketidakmampuan saluran untuk mengalirkan air yang disebabkan oleh endapan (sedimen), serta dimensi/ukurannya kecil.

2. Adanya sampah-sampah yang menyumbat saluran. Hal ini akan menyebakan berkurangnya kapasitas saluran.

3. Banyak terdapat lokasi-lokasi yang rendah (disekitarnya sudah ditinggikan untuk bangunan) menyebabkan sulitnya mengarahkan saluran dengan air.

4. Tingginya permukaan air laut pada saat pasang dan rendahnya permukaan tanah menyebabkan air hujan tidak dapat lancar mengakir ke laut. Perlu penanganan sedini mungkin genangan yang diakibatkan oleh ROB, sebelum meluas sampai ke area perkotaan. Saat ini Pemerintah Kabupaten Jepara sedang melakukan studi untuk penanggulangan akibat ROB..

Dalam dokumen Bab 3 ANGKA DIARE DI JEPARA (Halaman 38-43)

Dokumen terkait