PENGELOLAAN RISIKO DALAM PENYALURAN KREDIT KEPADA UMKM
A. Karakteristik Bisnis Bank.
Bank merupakan bisnis yang berbeda dengan jenis bisnis lainnya karena produknya ada pada dua sisi yaitu produk penyaluran dana (sisi aktiva neraca) dan produk penghimpunan dana (sisi pasiva neraca). Disamping itu kegiatan bank sangat bersentuhan dengan hajat hidup orang banyak, bahkan krisis perbankan dapat meruntuhkan suatu pemerintahan sebagaimana terjadi pada tahun 1998 di Indonesia. Kondisi ini tergambar dalam buku ”BPPN The End” oleh I Putu Gde Ary Suta yang menguraikan awal dari krisis perbankan dan moneter.140 Sebelum krisis di tahun 1997, bank-bank begitu gencar mengucurkan kredit. Proyek yang dibiayai tidak dikaji kelayakannya, ditambah lagi banyak bank-bank tersebut yang dimiliki oleh konglomerat. Tampaknya sudah tidak ada lagi yang mengindahkan kehati-hatian dalam menjalankan bank. Bank tidak sungkan-sungkan untuk mengucurkan kredit bagi perusahaan di grupnya sendiri.
Ketidak hati-hatian ini juga dilakukan oleh bank-bank pemerintah di dalam mengelola portofolionya kreditnya. Kealpaan dalam menerapkan prinsip kehati- hatian di dalam mengelola bank pada saat itu seolah-olah ditolerir baik oleh
140
I Putu Gde Ary Suta dan Soebowo Musa, BPPN The End, (Bogor: Yayasan Sad Satria Bhakti, 2004), hlm. 11.
pemegang saham / pemilik, manajemen, pemerintah dan bank sentral sendiri sebagai pengawas perbankan. Hal ini tercermin pada tingginya tingkat kredit macet yang disalurkan ke grup oleh pihak terkait baik di bank umum swasta maupun bank milik pemerintah.141
Hal tersebut di atas mengakibatkan semua sektor usaha yang dibiayai oleh bank menjadi macet, bank kesulitan karena dananya tidak kembali. Pada akhir tahun 1997, jumlah kredit macet di perbankan mencapai sekitar Rp 234,1 trilliun.142 Sementara itu, kewajiban bank terhadap nasabah penyimpan terus meningkat, ketimpangan ini menyebabkan bank semakin tergerus modalnya dan tingkat likuiditasnya, sehingga menjadi negatif. Tentunya kemampuan bank mengembalikan uang nasabah semakin berkurang bahkan berhenti, yang akhirnya nasabah tidak percaya lagi kepada bank.
Oleh karena itu belajar dari pengalaman masa lalu, direksi dituntut untuk mengelola bank dengan prinsip kehati-hatian dan mampu mengelola risiko. Sesuai dengan definisinya, risiko merupakan kemungkinan terjadinya hasil negatif (kerugian), dan kerugian tersebut bisa diperkirakan, sehingga terkandung makna bahwa:
a. Risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis bank atau yang dikenal dengan inherent risk.
141
Ibid, hlm. 11.
142
b. Risiko bisnis bank bisa diperkirakan, sehingga bank wajib membangun sistem untuk mengelola risiko (risk control system) agar kelangsungan usaha dapat terjaga.143
B. Kewajiban Mengelola Risiko.
Pasal 2 Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor. 11/25/PBI/2009 mengatur kewajiban penerapan manajemen risiko bagi bank umum dengan ruang lingkup yaitu:
a. Bank wajib menerapkan manajemen risiko secara efektif.
b. Penerapan manajemen risiko sebagaimana dimaksud huruf (a) sekurang- kurangnya mencakup:
1. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi. 2. Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit.
3. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko serta sistem informasi manajemen risiko, dan
4. Sistem pengendalian intern yang menyeluruh.
Manajemen risiko itu sendiri merupakan suatu proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko. Bank Indonesia juga merumuskan persyaratan wajib pada setiap tingkatan proses tersebut, antara lain:
143
a. Pelaksanaan proses identifikasi risiko sekurang-kurangnya dilakukan dengan melakukan analisis terhadap karakteristik risiko yang melekat pada bank dan Risiko dari produk dan kegiatan bank.144
b. Dalam rangka melaksanakan pengukuran risiko, Bank wajib sekurang-kurangnya melakukan evaluasi secara berkala terhadap kesesuaian asumsi, sumber data dan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko seta penyempurnaan terhadap sistem pengukuran risiko apabila terdapat perubahan kegiatan usaha bank, produk, transaksi dan faktor risiko yang bersifat material.145
c. Dalam rangka pemantauan risiko, Bank wajib sekurang-kurangnya melakukan evaluasi terhadap eksposur risiko dan penyempurnaan proses pelaporan apabila terdapat perubahan kegiatan usaha bank, produk, transaksi, faktor risiko teknologi informasi dan sistem informasi manajemen risiko yang bersifat material.146
d. Pelaksanaan proses pengendalian risiko wajib digunakan bank untuk mengelola risiko tertentu yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank.147
e. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian risiko suku bunga, risiko nilai tukar dan risiko likuiditas. Bank sekurang-kurangnya menerapkan Assets and Liabilities
Management (ALMA).148
144
Lihat Pasal 2 Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor. 11/25/PBI/2009. 145 Ibid. 146 Ibid. 147 Ibid. 148
Asset Liabilities Management (ALMA) adalah suatu financial risk management yang diterapkan oleh suatu financial institution, termasuk bank. Di dalam financial risk management ini dicakup risk assessments dari hampir semua dimensi dalam kegiatan operasional bank, mulai dari
C. Jenis Risiko Bank Dan Pengelolaannya.
Adapun jenis risiko yang wajib dikelola oleh bank ada 8 (delapan) jenis, yaitu:
1. Risiko Kredit.
Risiko kredit yaitu risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan counterparty memenuhi kewajibannya. Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan (penyediaan dana), treasury, investasi dan pembiayaan perdagangan.149 Pada Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan mengamanatkan bahwa dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, bank umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad baik dan kemampuan serta kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan.
Tingkat kegagalan debitur memenuhi kewajibannya tergambar dalam kualitas aktiva produktif bank. Bank Indonesia memberikan kualifikasi kualitas kredit dalam 5 (lima) kelas yaitu:
a. Lancar.
b. Dalam Perhatian Khusus.
policy setting, pengendalian atas bank’s reprising dan maturity schedules, pengendalian atas financial hedge positions, capital budgeting dan internal profitability measurements, termasuk pula penetapan
langkah dan kebijakan darurat (contigency planning) di mana bank harus segera melakukan analisis dan tindakan atas dampak yang mungkin timbul sebagai akibat dari perubahan-perubahan yang terjadi di luar bank, seperti perubahan atas tingkat suku bunga, iklim persaingan antar bank, pertumbuhan ekonomi dan sebagainya.
149
Lihat Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 Perihal Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank, hlm. 19.
c. Kurang Lancar. d. Diragukan. e. Macet.150
Struktur klasifikasi kualitas kredit yang dimiliki oleh suatu bank sangat menentukan tingkat kesehatan bank. Perkreditan suatu bank dikategorikan sehat bila bank tersebut memiliki ratio Non Performing Loan (NPL) lebih kecil dari 5%. Rasio
Non Performing Loan adalah perbandingan antara kredit lancar dengan jumlah kredit
kurang lancar, kredit kurang lancar dan kredit macet dikali 100%.151
2. Risiko Pasar.
Risiko pasar yaitu risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar (adverse movement) dari portofolio yang dimiliki oleh bank, yang dapat merugikan bank. Variabel pasar terdiri dari suku bunga dan nilai tukar termasuk derivasi dari kedua jenis risiko pasar tersebut yaitu perubahan harga options.152 Risiko pasar merupakan risiko yang harus dipantau dengan cermat karena memiliki volatility yang cepat mengikuti kondisi pasar yang berubah dalam hitungan detik perdetik. Untuk perbankan di Indonesia biasanya risiko pasar ini melekat pada portofolio berupa investasi pada surat berharga atau pada aktivitas perdagangan valuta asing.
150
Lihat Peraturan Bank Indonesia No.7/2/PBI/2005 tanggal 29 Januari 2005 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum.
151
Lihat Peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 Tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP, tanggal 31 Mei 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.
152
Lihat Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003, Op Cit, hlm. 27.
3. Risiko Likuiditas.
Yaitu risiko yang antara lain disebabkan bank tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. Ditinjau dari sudut pandang kepada siapa saja kewajiban tersebut harus dipenuhi, dapat dibedakan atas:
a. Bank Indonesia, yaitu penyediaan sejumlah dana di rekening bank umum yang ada di Indonesia atau yang dikenal dengan kewajiban menyediakan Giro Wajib Minimum (GWM).153
b. Internal bank, yaitu untuk memenuhi kewajiban untuk internal bank seperti pembayaran gaji dan kewajiban intern.
c. Nasabah, yaitu pemenuhan kewajiban kepada para deposan untuk menarik dana simpanan dan untuk keperluan pencairan kredit.
Risiko likuiditas ditinjau dari sumber penyebab kegagalan memenuhi kewajiban dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Risiko likuiditas pasar, yaitu risiko yang timbul karena bank tidak mampu melakukan offsetting posisi tertentu dengan harga pasar karena kondisi likuiditas pasar tidak memadai atau terjadi gangguan di pasar (market disruption).
153
Lihat Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/15/PBI/2004 tanggal 28 Juni 2004 tentang giro wajib minimum bank umum pada Bank Indonesia dalam rupiah dan valuta asing. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/29/PBI/2005 tanggal 6 September 2005 tentang perubahan atas peraturan Bank Indonesia Nomor 6/15/PBI/2004 tentang giro wajib minimum bank umum pada Bank Indonesia dalam rupiah dan valuta asing. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/49/PBI/2005 tanggal 29 November 2005 tentang perubahan kedua atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/15/PBI/2004 tentang giro wajib minimum bank umum pada Bank Indonesia dalam rupiah dan valuta asing. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/54/DPNP tanggal 29 November 2005 tentang giro wajib minimum bank umum pada Bank Indonesia dalam rupiah dan valuta asing.
b. Risiko likuiditas pendanaan, yaitu risiko yang timbul karena bank tidak mampu mencairkan asetnya atau memperoleh pendanaan dari sumber dana lain.154
4. Risiko Operasional.
Risiko operasional yaitu risiko yang antara lain disebabkan adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya problem eksternal yang memperngaruhi operasional bank.155
Karakteristik risiko operasional adalah sebagai berikut:
a. Dapat menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. b. Dapat melekat pada setiap aktivitas fungsional bank, seperti kegiatan perkreditan
(penyediaan dana), treasury dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, teknologi informasi dan sistem manajemen serta pengelolaan sumber daya manusia.156
Risiko ini memiliki cakupan yang sangat luas karena dapat terjadi dalam berbagai tingkatan kegiatan bank. Sesuai dengan definisinya, terjadinya risiko operasional diakibatkan oleh terjadinya kegagalan operasional, yaitu:
a. People risk, yaitu risiko operasional yang diakibatkan oleh faktor manusia berupa incompetency, fraud dan lain-lain.
154
Lihat Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003, Op Cit, hlm. 36.
155
Ibid, hlm. 41.
156
b. Process risk, yaitu tidak atau kurang berfungsinya proses internal bank. Risiko ini
akan mengakibatkan terganggunya pelayanan bank, menimbulkan banyaknya
complain, ketidakpuasan pegawai dan tingginya fraud. Oleh karena itu bank harus
senantiasa melakukan review terhadap standar operasional dan prosedurnya untuk menilai apakah masih mampu mengakomodir kebutuhan intern, ekstern dan aman (secure).157
Bank harus mengidentifikasi risiko dengan memilah-milah risiko dan menggunakan kriteria sebagai berikut:
a. High frequency with high impact (Risiko dengan frekuensi kemungkinan
terjadinya tinggi, akibat kerugiannya tinggi);
b. High frequency with low impact (Risiko dengan frekuensi kemungkinan
terjadinya tinggi, akibat kerugiannya rendah);
c. Low frequency with high impact (Risiko dengan frekuensi kemungkinan
terjadinya rendah, akibat kerugiannya tinggi);
d. Low frequency with low impact (Risiko dengan frekuensi kemungkinan terjadinya
rendah, akibat kerugiannya rendah);158
Setelah mengidentifikasi kemungkinan tersebut, bank wajib melakukan pengendalian risiko. Untuk kemungkinan ”a”, bank harus menghindari kegiatan operasional dengan jenis risiko ini karena akan menyebabkan bank menderita kerugian cukup besar. Kalaupun bank berupaya melakukan pengendalian, akan
157
Masyhud Ali, Op Cit, hlm. 273.
158
memerlukan biaya yang cukup tinggi. Sedangkan untuk jenis risiko dengan ciri huruf ”d”, sebaiknya diabaikan karena kerugiannya yang tidak materail. Sehingga yang harus menjadi perhatian bank adalah jenis risiko dengan ciri-ciri huruf ”b” dan ”c”.
159
5. Risiko Hukum.
Risiko hukum yaitu risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis. Kelemahan aspek yuridis antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak dan pengikatan agunan.
6. Risiko Reputasi.
Risiko reputasi yaitu risiko yang antara lain disebabkan adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank.161 Risiko ini bisa disebabkan oleh dampak dari kegagalan bank mengatasi 7 (tujuh) risiko lainnya. Semisal bank yang tidak menerapkan prinsip mengenal nasabah (know your customer principle), akan mudah dipakai oleh para teroris dan kriminal lainnya untuk mencuci uang hasil kejahatannya. Rumor ini akan berkembang di masyarakat dan sebagai akibatnya citra bank tersebut menjadi negatif. Masyarakat akan takut untuk menyimpan uangnya di bank tersebut karena khawatir pada suatu saat pihak yang berwenang akan mencabut izin bank tersebut. Disamping mengelola risiko yang ada agar tidak menimbulkan risiko reputasi, bank juga wajib
160
159
Ibid.
160
Lihat Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003, Op Cit, hlm. 46.
161
melakukan kegiatan-kegiatan yang memberikan dampak kepada peningkatan citranya. Apalagi bank adalah bisnis yang sangat didasari oleh kepercayaan.
7. Risiko Strategik.
Risiko strategik antara lain timbul disebabkan adanya penetapan dan pelaksa
timbul disebabkan oleh bank tidak mematuhi atau tidak melaks
naan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya terhadap perubahan ekternal.162 Sesuai dengan definisinya, strategi adalah cara mengalokasikan sumber daya yang dimiliki. Sebagai contohnya adalah keputusan bank untuk membuka kantor cabang baru di suatu daerah, sebelum melakukan pembukaan kantor cabang, bank harus melakukan analisa kelayakan dari berbagai aspek dan mencantumkan rencana tersebut di dalam Rencana dan Anggaran Kerja Tahunan (RKAT). Kebijakan ini mengandung risiko bila kelak setelah kantor cabang dioperasionalkan, ternyata tidak mencapai target yang sudah ditetapkan dalam RKAT. Kesalahan strategik dalam skala yang lebih besar akan menggerus modal bank.
8. Risiko Kepatuhan.
Risiko kepatuhan
anakan peraturan perundang-undangan yang berlaku.163 Pengelolaan risiko kepatuhan dilakukan melalui penerapan sistem pengendalian intern secara konsisten. Kegagalan bank didalam mengelola risiko ini akan mengakibatkan bank terbelit masalah hukum yang tentunya memerlukan biaya besar disamping itu juga akan
162
Ibid, hlm. 50.
163
mengganggu operasional bank. Sedangkan ketidakpatuhan kepada ketentuan Bank Indonesia bisa mengakibatkan bank dijatuhi denda dan penurunan tingkat kesehatan bank atau yang paling buruk pembekuan usaha bank dan akhirnya dilikuidasi.
D. Risiko Kredit Penyaluran Kredit Berpola Penjaminan Kepada UMKM Di
roleh sumber penghasilan yang domina
ya kredit macet tidak saja akan merugikan para pemilik dana dan yang se
permodalannya. Untuk keperluan ini, boleh jadi perbankan akan memperbesar porsi
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.
Melalui penyaluran kredit bank mempe
n berupa pendapatan bunga. Pendapatan tersebut diperoleh melalui spread yang merupakan selisih antara bunga pinjaman dan bunga simpanan. Oleh sebab itu, jika terjadi kredit macet yang cukup besar maka bank tersebut dapat lumpuh bahkan terancam insolvable (tidak dapat menyalurkan kredit lagi) dan illiquid (kekurangan dana tunai), karena sebagian besar dana masyarakat yang dititipkan pada bank, tertahan di tangan debitur bank bahkan dapat dikatakan bahwa kredit macet bagi dunia perbankan merupakan penyakit berbahaya yang dapat membuat lumpuhnya suatu bank.164
Timbuln
bagian besar adalah anggota masyarakat dari berbagai lapisan dan tingkatan kehidupan yang dapat meresahkan masyarakat bahkan merusak sendi perekonomian negara.165 Naiknya NPL akan memaksa perbankan memperkuat struktur
164
Rahmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan Di Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
c. Cit.
Utama, 2001), hlm. 12.
165
penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP). Konsekuensinya adalah pada saat perbankan berupaya memperkuat struktur permodalan, secara otomatis hal ini akan mengurangi kemampuan perbankan melakukan ekspansi kredit (ke sektor riil).166
Pengurangan kemampuan perbankan melakukan ekspansi kredit akan berdampak negatif terhadap perekonomian. Argumentasinya, imbas negatif krisis global
atat sampai Desember 2009,
. Kredit mikro pemerintah yang diberi l
1,67 juta debitur. Kepala Sub Bidang Pendanaan Kemeneg KUKM, Mohammad
membuat peran beberapa sumber permodalan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi seperti investasi portofolio di pasar modal, investasi asing langsung (FDI), dan modal sendiri dari sektor swasta mengalami penurunan.167
Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Begitulah gambaran tingkat kemacetan kredit macet di sektor mikro. Bank Indonesia menc
total angka Non Performing Loan (kredit bermasalah/NPL) seluruh sektor mencapai Rp.47,548 trilliun. Sekitar separuh angka itu atau Rp.24,79 triliun merupakan kredit bermasalah sektor mikro. Nilai itu naik 19,4% dibandingkan NPL mikro tahun 2008 yang senilai Rp.20,79 triliun.168
Persoalan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tidak hanya menghantui penyaluran kredit Mikro di Bank Umum
abel Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga menghadapi bencana kredit bermasalah yang semakin membesar. Data kementerian Negara Koperasi dan UKM menyebutkan, penyaluran KUR per Januari 2010 mencapai Rp.17,54 triliun untuk
166
Latif Adam, Loc. Cit.
167
Ibid
168
Hasyim menyatakan bahwa NPL KUR kini sebesar 5,85%, angka NPL ini melejit tinggi dibandingkan Januari 2009 yang baru 1,49%, bahkan NPL pada September 2009 pernah lebih tinggi lagi yaitu 5,96%.169
W. Pramono, Kepala Divisi Bisnis Mikro PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk berpendapat bahwa hal tersebut diatas terjadi karena nasabah KUR belum berpengalaman mendapatkan kredit. Selain itu, banyak yang berpendapat bahwa
a Kecil (Small Scale Enterprise), meliputi: a.
antung pada kredit perbankan dan subsidi
.
KUR adalah bantuan pemerintah dan tidak perlu dikembalikan. Selain karena minimnya pengetahuan debitur, faktor bencana alam dan krisis global juga turut menaikkan NPL. Kedua faktor itu memang berandil besar menggulung banyak usaha pebisbnis kecil karena bagi pengusaha kecil omzet berkurang Rp.20.000,- per hari itu sudah bisa mempengaruhi keberlangsungan usaha sehingga mengancam NPL. BRI sebagai penguasa 74% pangsa pasar KUR, menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp.8,09 triliun.170
Beberapa identifikasi masalah awal yang dinventarisir terkait dengan kondisi dari aspek UMKM dan Perbankan adalah:
1. Dari Aspek Usah
Keterbatasan perluasan pemasaran produk UMKM. b. Keterbatasan modal usaha yang terg
pemerintah.
c. Keterbatasan penguasaan teknologi produksi UMKM
169
Ibid. hlm. 35
170
d. Pengelolaan Manajemen SDM yang belum memadai.
e. Kesulitan mendapatkan akses kredit dari perbankan karena tidak dapat
ing Loan (NPL) sektor UMKM yang terus
hadap bobot risiko kredit khususnya sektor
ersepsi penyelesaian kredit
maksimal pinjaman jika terjadi wanprestasi
Indonesia memiliki fungsi sebagai pembina
rsebut sesuai dengan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 23 Tahun
menyediakan agunan bank (lack of collateral).171 2. Dari Aspek Perbankan, meliputi:
a. Masih tingginya risiko bisnis akibat stagnasi prospek pasar UMKM (kondisi usaha yang kurang kompetitif).
b. Kecenderungan Non Perform
meningkat akibat inflasi yang terus meningkat. c. Pengaturan Bank Indonesia ter
UMKM yang tidak mendukung.
d. Kurang jelasnya fungsi hukum terhadap p bermasalah pada sektor UMKM.
e. Agunan yang tidak mencukupi kredit UMKM.172
Dalam kegiatan perkreditan, Bank
dan pengawas perbankan, dituntut konsekuensinya untuk selalu mengawasi kegiatan perkreditan tersebut. Hal te
1999 Tentang Bank Indonesia yang mencantumkan bahwa dalam rangka melaksanakan tugas mengatur bank, Bank Indonesia berwenang menetapkan ketentuan-ketentuan perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian. Salah satu upaya
171
Sulistia Teguh, Perlindungan Hukum Dan Pemberdayaan Pengusaha Kecil Dalam
Ekonomi Pasar Bebas, Jurnal Hukum Bisnis Volume 27 No. 1 Tahun 2008. 172
dalam rangka pembinaan dan pengawasan perkreditan tersebut Bank Indonesia telah membuat suatu aturan mengenai Pedoman Penyusunan Kebijakan Perkreditan Bank (PPKPB) yang harus dilaksanakan oleh perbankan nasional. Pedoman tersebut sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia Nomor 27/162/Kep/DIR tanggal 31 Maret 1995 dimana ditentukan bahwa Bank Umum diwajibkan memiliki standar dan ukuran yang mengandung unsur pengawasan intern pada setiap proses pemberian kredit. Hal ini diperlukan menginat pelaksanaan pengawasan kredit tersebut merupakan tugas yang sulit karena adanya interaksi keanekaragaman faktor yang melingkupi perkreditan itu sendiri.173
Kebijakan tersebut sekurang-kurangnya mengatur dan memuat hal-hal pokok sebagai berikut:
1. Prinsip kehati-hatian dalam perkreditan. 2. Org
n persetujuan kredit.
n sejarah perbankan di Indonesia, tampak jelas am perbankan pada masa lalu dijadikan sebagai alat politik
anisasi dan manajemen perkreditan. 3. Kebijaksanaa
4. Dokumen dan administrasi kredit. 5. Penyelesaian kredit.
6. Pengawasan kredit bermasalah.174 Jika ditinjau dari perkembanga bahwa fungsi hukum dal
173
Muhammad Djumhana (I), Hukum Perbankan Di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 336-367.
akti,1996), hlm. 84.
174
Muhammad Djumhana (II), Rahasia Bank, Ketentuan Dan Penerapannya Di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya B
untuk melegitimasi kebijakan pemerintah. Salah satu akibatnya, pengaturan bisnis perban
hingga pendapatan bank berkurang. Akan tetapi disisi lain, bank tetap harus memba
kan nasional dilakukan dengan cara memodifikasi kebijakan deregulasi yang telah diambil pemerintah untuk disesuaikan dengan tuntutan pembangunan ekonomi nasional dan tujuan politik yang dijalankan pemerintah. Terlebih lagi bisnis perbankan nasional cenderung dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat politis dan ekonomis,175 yang pada akhirnya menyengsarakan kehidupan rakyat. Krisis ekonomi yang timbul diawal tahun 1998 pada saat itu bermula dari kehancuran bisnis perbankan di Indonesia dimana angka menunjukkan lebih dari Rp 42,48 trilliun, atau 60,4% adalah dengan status kredit yang tergolong non performing
loan.176
Jopie Jusuf mengemukakan ada beberapa alasan dampak yang diterima bank