BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi IPM
2.2.2 Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan
Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia. Oleh sebab itu, setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Hak memperoleh pendidikan bagi setiap warga negara tidak memandang status sosial, status ekonomi, suku, etnis, agama, dan gender. Hal tersebut sudah tertuang dalam UUD 1945. Berdasarkan UUD 1945 Pasal 28C (ayat 1) dinyatakan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan, memperoleh manfaat dari IPTEK, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidup dan demi kesejahteraan umat manusia. Selanjutnya, dalam Pasal 31 (ayat 2) dinyatakan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan diharapkan akan mampu menjadikan warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sebagai upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memfasilitasi hak pendidikan bagi tiap warganya. Melalui sekolah yang terjangkau dari sisi pembiayaan, bermutu dari segi layanan, dan berkualitas
dari sisi pembelajaran. Selain pembiayaan pendidikan yang harus ditanggung pemerintah, sarana dan prasarana, kurikulum, dan sumber belajar serta daya dukung lainnya perlu diupayakan pemerintah.
Untuk mendapatkan pendidikan yang memadai harus ditunjang suatu kemampuan baik itu dari pemerintah untuk dapat menyediakan sarana yang memadai dan juga ditunjang dengan kemampuan masyarakat, karena sampai saat ini kemampuan pemerintah untuk menyediakan pendidikan gratis bagi warganya masih belum terlaksana secara optimal. Kemampuan baik dari pemerintah tersebut dapat dipenuhi dengan adanya pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan, sehingga kebutuhan di bidang pendidikan dapat terpenuhi. Realita ini senantiasa banyak ditemui di sekeliling kita, yaitu banyak sarana pendidikan yang sangat tidak layak dan juga banyak anak-anak usia sekolah seharusnya belajar, namun sudah harus bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Ditengah keterbatasan inilah pemerintah mencanangkan Program Wajib Belajar Sekolah Dasar enam tahun pada tahun 1984 dan kemudian diikuti dengan Wajib Belajar Pendidikan Dasar sembilan tahun mulai tahun 1994. Kebijakan lain sebagai upaya untuk meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat adalah melalui program di luar pendidikan formal.
18
investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Masyarakat yang sehat akan menciptakan kehidupan yang berkualitas, karena kesehatan merupakan modal berharga bagi seorang dalam melakukan akivitasnya. Bangsa yang memiliki tingkat derajat kesehatan yang tinggi akan lebih berhasil dalam melaksanakan pembangunan. Oleh sebab itu, kesehatan menjadi salah satu aspek kesejahteraan dan menjadi fokus utama pembangunan manusia. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah, dan merata karena memang salah satu hak dasar rakyat adalah mendapat pelayanan Kesehatan.
Upaya perbaikan kesehatan masyarakat dikembangkan melalui Sistem Kesehatan Nasional. Pelaksanaannya diusahakan dengan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat yang diarahkan terutama kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Selain itu, upaya pencegahan, penyembuhan penyakit, dan peningkatan pembangunan pusat-pusat kesehatan masyarakat serta sarana penunjangnya terus dilakukan oleh pemerintah, seperti Puskesmas, Posyandu, pos obat desa, pondok bersalin desa serta penyediaan fasilitas air bersih. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik. Oleh karena itu, pembangunan yang sedang digiatkan pemerintah diharapkan dapat berakselerasi positif. Faktor-faktor yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat di antaranya adalah kurangnya sarana pelayanan kesehatan, keadaan sanitasi dan lingkungan yang tidak memadai, serta rendahnya konsumsi makanan bergizi. Tetapi faktor terpenting dalam upaya peningkatan kesehatan ada pada manusianya sebagai subyek dan sekaligus
obyek dari upaya tersebut. Besarnya pengeluaran pemerintah untuk sub sektor kesehatan menunjukkan seberapa jauh prioritas alokasi dana pemerintah untuk sub sektor ini (Susanti, et al., 2000).
20 BAB III
METODE PENELITIAN
BAB III
METODE PENELITIAN
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan pada Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah menggambarkan ketercapaian pembangunan manusia melalui perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan menyusun Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
3.2 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah data sekunder. Dimana data tersebut diperoleh dari masing-masing instansi yakni data Angka Harapan Hidup diperoleh dari Dinas Kesehatan, data Rata-Rata Lama Sekolah dan Angka Harapan Lama Sekolah diperoleh dari Dinas Pendidikan, data pengeluaran per kapita di peroleh dari Badan Pusat Statistik serta variabel-variabel pendukung IPM yang didapatkan dari organisasi perangkat daerah terkait. Data yang digunakan adalah data-data pada tahun 2016 – 2020.
22
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel
Variabel Keterangan Satuan Definisi Operasional Y
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
-
Indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dalam jangka
panjang dihitung oleh BPS X1
Realisasi belanja daerah Kabupaten Mojokerto di bidang kesehatan
X2
Realisasi belanja daerah Kabupaten Mojokerto di bidang pendidikan
X3 PDRB Triliun
Rupiah
Pengeluaran Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan dihitung oleh BPS
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan pada penyusunan pada Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut.
A. Statistika Deskriptif
Statistika deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi (Sugiyono, 2007). Statistik deskriptif hanya berhubungan dengan hal menguraikan atau memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu data atau keadaan atau fenomena, dengan kata lain hanya melihat gambaran secara umum dari data yang didapatkan.
Biasanya statistik deskriptif dapat disajikan dalam bentuk diagram, grafik, tabel, maupun penyajian data lainnya. Kemudian hasil penyajian data tersebut dianalisis dan dikaji.
B. Regresi Linier Berganda
Regresi linier berganda merupakan model persamaan yang menjelaskan hubungan satu variabel tak bebas/ response (Y) dengan dua atau lebih variabel bebas/ predictor (X1, X2,…Xn). Tujuan dari uji regresi linier berganda adalah untuk memprediksi nilai variabel tak bebas/ response (Y) apabila nilai-nilai variabel bebasnya/ predictor (X1, X2,..., Xn) diketahui.
Disamping itu juga, untuk dapat mengetahui bagaimanakah arah hubungan variabel tak bebas dengan variabel-variabel bebasnya.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data time series dengan bantuan program Eviews 9 menggunakan analisis regresi linier berganda. Persamaan regresi linier berganda pada penelitian ini secara matematik diekspresikan sebagai berikut:
𝑌 = 𝑎 + 𝑏1𝑋1+ 𝑏2𝑋2+ 𝑏3𝑋3+ 𝜀 Keterangan :
Y = Variabel Indeks Pembangunan Manusia
𝑋1 = Variabel Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan 𝑋2 = Variabel Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan 𝑋3 = Variabel PDRB
𝑎 = Konstanta / intersep
24
tidak semua uji asumsi klasik harus dilakukan pada setiap model regresi linier dengan pendekatan OLS.
1. Uji linieritas hampir tidak dilakukan pada setiap model regresi linier.
Karena sudah diasumsikan bahwa model bersifat linier. Kalaupun harus dilakukan semata-mata untuk melihat sejauh mana tingkat linieritasnya.
2. Uji normalitas pada dasarnya tidak merupakan syarat BLUE (Best Linier Unbias Estimator) dan beberapa pendapat tidak mengharuskan syarat ini
sebagai sesuatu yang wajib dipenuhi.
3. Autokorelasi hanya terjadi pada data time series. Pengujian autokorelasi pada data yang tidak bersifat time series (cross section atau panel) akan sia-sia semata atau tidaklah berarti.
4. Multikolinieritas perlu dilakukan pada saat regresi linier menggunakan lebih dari satu variabel bebas. Jika variabel bebas hanya satu, maka tidak mungkin terjadi multikolinieritas. Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
5. Heteroskedastisitas biasanya terjadi pada data cross section, dimana data panel lebih dekat ke ciri data cross section dibandingkan time series.
Pengujian masalah heteroskedasitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser.
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk melihat apakah suatu hipotesis yang diajukan ditolak atau dapat diterima. Hipotesis merupakan asumsi atau pernyataan yang mungkin benar atau salah mengenai suatu
populasi. Dengan mengamati seluruh populasi, maka suatu hipotesis akan dapat diketahui apakah suatu penelitian itu benar atau salah. Untuk keperluan praktis, pengambilan sampel secara acak dari populasi akan sangat membantu. Dalam pengujian hipotesis terdapat asumsi/pernyataan istilah hipotesis nol. Hipotesis nol merupakan hipotesis yang akan diuji, dinyatakan oleh H0 dan penolakan H0 dimaknai dengan penerimaan hipotesis lainnya/
hipotesis alternatif yang dinyatakan oleh H1. Jika telah ditentukan Koefisien Determinasi (r2), maka selanjutnya dilakukan uji signifikan hipotesis yang diajukan. Uji ini dapat menggunakan Uji-t ; Uji-F ; Uji-z atau Uji Chi Kuadrat.
Dengan uji signifikansi ini dapat diketahui apakah variabel bebas/predictor/independent (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variable tak bebas/response/dependent (Y). Arti dari signifikan adalah bahwa pengaruh antar varible berlaku bagi seluruh populasi. Dalam modul ini hanya dibahas uji signifikansi menggunakan Uji-F.
Penggunaan Uji-F bertujuan mengetahui apakah variabel-variabel bebas secara signifikan bersama-sama berpengaruh terhadap variabel tak bebas Y. Tahapan yang dilakukan dalam Uji - F adalah:
1. Menentukan Hipotesis
H0 : b1 = b2 = b3 = 0; (variabel X1, X2, X3 tidak berpengaruh terhadap Y)
26 𝐹ℎ𝑖𝑡 = 𝑟2/𝑘
(1 − 𝑟2)(𝑛 − 𝑘 − 1)= 𝑟2(𝑛 − 𝑘 − 1) 𝑘(1 − 𝑟2) 4. Menentukan F tabel (mempergunakan tabel Uji-F)
Tabel Uji-F untuk = 5% dengan derajat kebebasan pembilang (Numerator, df) = k - 1; dan untuk penyebut (Denominator, df ) = n – k.
n= jumlah sampel/ pengukuran, k= jumlah variabel bebas dan terikat).
5. Kriteria Pengujian nilai Fhit dan ttab
Apabila nilai Fhit < Ftab, maka hipotesis H1 ditolak dan H0 diterima.
Apabila nilai Fhit < Ftab, maka hipotesis H1 ditolak dan H0 ditolak.
6. Kesimpulan : akan disimpulkan apakah ada/tidak pengaruh variabel-variabel bebas ( X1, X2, X3 ) terhadap variable tak bebas (Y).
Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji-t) Pengujian koefisien regresi secara parsial bertujuan mengetahui apakah persamaan model regresi yang terbentuk secara parsial variabel-variabel bebasnya (X1, X2, X3) berpengaruh signifikan terhadap variable tak bebas (Y).
3.5 Langkah Penelitian
Langkah penelitian dalam penyusunan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut.
1) Menyusun konsep kegiatan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
2) Melakukan FGD dengan OPD terkait untuk koordinasi berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan Perencenaan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
3) Mengumpulkan data variabel determinan yang mempengaruhi perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
4) Mengolah data yang telah dikumpulkan dari OPD terkait;
5) Menganalisa ketercapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
6) Menganalisa variabel determinan yang mempengaruhi perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto menggunakan program eviews;
7) Menyusun rekomendasi dari hasil analisis variabel determinan yang mempengaruhi perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
3.6 Diagram Alir
Diagram alir dalam penyusunan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut.
28
Gambar 3.1 Diagram Alir
Analisis Variabel Determinan Analisis Ketercapaian
IPM
Analisis Pertumbuhan Ekonomi terhadap IPM
Kesimpulan dan Rekomendasi
Selesai Mulai
Identifikasi Masalah
Pengumpulan Data Sekunder
BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH
BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH
KABUPATEN MOJOKERTO
30 BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN MOJOKERTO
4.1 Luas dan Batas Wilayah Administrasi
Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu daerah yang memiliki sejarah penting di mana dahulu kerajaan terbesar di Indonesia yaitu Kerajaan Majapahit ditemukan peninggalan-peninggalannya di daerah Trowulan dan sekitarnya. Kabupaten Mojokerto sendiri saat ini merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak di antara 111o20’13” sampai 111o40’47” bujur timur dan antara 7o18’35 sampai dengan 7o47’30” lintang selatan. Letak Kabupaten Mojokerto tidak berbatasan dengan pantai ataupun laut, melainkan berbatasan dengan kabupaten lainnya yaitu.
Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik Sebelah Timur : Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan Sebelah Selatan : Kabupaten Malang dan Kota Batu
Sebelah Barat : Kabupaten Jombang
Secara topografi wilayah Kabupaten Mojokerto cenderung cekung di tengah-tengah dan tinggi di bagian selatan dan utara. Bagian selatan merupakan bagian pegunungan yang subur, meliputi Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang dan Jatirejo. Bagian tengah merupakan bagian dataran, sedangkan bagian utara merupakan daerah perbukitan kapur yang cenderung kurang subur.
Luas wilayah Kabupaten Mojokerto 692,15 km2 atau sekitar 2,09% dari luas Provinsi Jawa Timur, yang seluruhnya berupa dataran. Kabupaten Mojokerto sama sekali tidak memiliki wilayah berupa perairan atau laut.
Secara administratif Kabupaten Mojokerto terdiri dari 18 Kecamatan, 299 Desa dan 5 Kelurahan. Wilayah Kabupaten Mojokerto yang terluas adalah Kecamatan Dawarblandong yakni seluas 58,93 km2 dan Kecamatan Ngoro memiliki luas wilayah seluas 57,48 km2. Kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang memiliki luas wilayah paling sempit adalah Kecamatan Gedeg yakni seluas 22,98 km2.
Gambar 4. 1Luas Kecamatan di Kabupaten Mojokerto Sumber: Kabupaten Mojokerto Dalam Angka, 2021
Disamping itu, wilayah Kabupaten Mojokerto juga mengitari wilayah
32,98 39,11 45,16 29,86 57,48 48,14 42,83 26,65 35,42 24,06 35,65 39,2 23,46 22,98 50,05 57,17 58,93 23,02
32
Gambar 4. 2Penggunaan Lahan di Kabupaten Mojokerto Sumber: Kabupaten Mojokerto Dalam Angka, 2021
Cakupan luas area tiap kebutuhan daerah dalam satu Kabupaten Mojokerto untuk area penggunaan lahan berupa permukiman, pertanian, hutan, rawa/waduk, perkebunan, lahan kritis, padang rumput, semak/alang-alang, dan permukiman. Area penggunaan yang mempunyai luas area terbesar yakni area penggunaan pertanian sebesar 371.010 km2 atau 38,47 persen dan area penggunaan terkecil terdapat pada area semak/alang-alang seluas 0,720 km2 atau mendekati 0,00 persen dan area lahan kritis yakni sebesar 0,2 km2 atau mendekati 0,00 persen.
4.2 Letak dan Kondisi Geografis
Kabupaten Mojokerto merupakan bagian dari Gerbang Kertasusila.
Posisi ini menjadikan Kabupaten Mojokerto sebagai salah satu wilayah prioritas dalam percepatan pembangunan ekonomi guna menunjang perekonomian nasional. Disamping itu, dalam lingkup Kabupaten Mojokerto termasuk dalam Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) yang berpotensi pengembangan industri besar.
Tujuan dengan dibentuknya kawasan Gerbang Kertosusila sebagai upaya membuat regionalisasi dengan menekan kemandirian terhadap wilayah kabupaten/kota. Kawasan tersebut merupakan salah satu kawasan aglomerasi di Provinsi Jawa Timur. Peran wilayah Gerbang Kertosusila yang semakin meningkat sebagai penggerak dan sekaligus kontribusi pembangunan ekonomi di Jawa Timur, tidak dapat dilepaskan dari kinerja pembangunan ekonomi Kabupaten Mojokerto. Kabupaten Mojokerto terdiri atas 18 kecamatan, 299 desa dan 5 kelurahan dengan perincian sebagai berikut.
Tabel 4. 1Jumlah Desa, Kelurahan, Dusun, Rukun Warga dan Rukun Tetangga
Kecamatan Desa kelurahan Dusun Rukun
Warga Rukun
34 4.3 Topografi
Topografi (bentuk permukaan bumi) wilayah Kabupaten Mojokerto terdiri dari dataran rendah dan pegunungan yang dilalui aliran sungai Brantas yang membelah dari selatan ke utara. Suhu udara berkisar antara 23°C sampai dengan 31°C, dengan ketinggian rata-rata 107 meter di atas permukaan laut.
Wilayah Kabupaten Mojokereto dengan luas 692,15 km2 (BPS, 2020).
Secara administrasi, Kabupaten Mojokerto terbagi menjadi 18 kecamatan. Ditinjau dari kemiringan tanahnya, Kabupaten Mojokerto dapat dibagi menjadi 4 (empat) klasifikasi, yaitu (BPS, 2020) :
1. Kemiringan I seluas 47.591,30 Hektar atau 48,70 persen, merupakan tanah berupa lereng dengan kemiringan 0-2 derajat yang banyak dijumpai di Kecamatan Jetis, Kemlagi, Trowulan, dan Dawarblandong.
2. Kemiringan II seluas 22.072 hektar atau 22,26 persen, merupakan tanah berupa lereng dengan kemiringan 2-15 derajat yang banyak terdapat di Kecamatan Dawarblandong, Kutorejo, dan Pacet.
3. Kemiringan III seluas 8.474 hektar atau 8,6 persen merupakan tanah lereng dengan kemiringan 15-40 derajat. Tanah tersebut banyak dijumpai di Kecamatan Pacet dan Trawas.
4. Kemiringan IV seluas 19.409 Hektar atau 19,8 persen merupakan tanah lereng dengan kemiringan lebih dari 40 derajat dan banyak dijumpai di Kecamatan Gondang, Pacet dan Trawas.
Kabupaten Mojokerto dilalui 61 sungai yang tersebar di beberapa kecamatan. Sungai terpanjang adalah sungai Jurangcetot yang melewati Kecamatan Jatirejo yaitu sepanjang 33,63 km. Selanjutnya Sungai Gembolo
sepanjang 31,63 km yang melintasi Kecamatan Trawas, Pacet, Pungging, dan Kutorejo (BPS, 2020).
Gambar 4. 3Panjang Sungai Di Kabupaten Mojokerto Sumber : Kabupaten Mojokerto Dalam Angka Tahun 2020
4.4 Demografi
Demografi dapat meliputi deskripsi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian maupun migrasi. Analisa kependudukan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau entitas tertentu. Berikut adalah jumlah penduduk di Kabupaten Mojokerto.
14,38 12,6 12,41 31,63 10,12 14,43
K A L I J A N J I N G
K A L I J U B E L K A L I M A D E K A L I G E M B O L O
K A L I C U R A H K L E N G K E N G
K A L I T E K U K
36
Gambar 4. 4Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Tahun 2017-2020
Penduduk sebagai objek sekaligus subjek pembangunan merupakan aspek utama yang mempunyai peran penting dalam pembangunan. Oleh karena itu, data penduduk sangat dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan. Pada tahun 2017, jumlah penduduk Kabupaten Mojokerto tercatat sejumlah 1.138.262 jiwa. Kondisi ini sempat menurun pada tahun 2018 menjadi 1.133.783 jiwa pada tahun 2018. Terjadi peningkatan jumlah penduduk Kabupaten Mojokero menjadi sebanyak 1.159.593 jiwa. Jumlah penduduk di Kabupaten Mojokerto menurun signifikan pada tahun 2020 menjadi sejumlah 1.126.392 jiwa.
1.138.262 1.133.783
1.159.593
1.126.392
1.100.000 1.110.000 1.120.000 1.130.000 1.140.000 1.150.000 1.160.000 1.170.000
2 0 1 7 2 0 1 8 2 0 1 9 2 0 2 0
Gambar 4. 5Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Berdasarkan Kecamatan Tahun 2017-2020
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mojokerto
Kecamatan dengan jumlah penduduk paling tinggi dari tahun 2017 hingga 2020 adalah Kecamatan Jetis dimana pada tahun 2020 tercatat sejumlah 89.266 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak kedua adalah Kecamatan Ngoro tercatat sebanyak 86.669 jiwa pada tahun 2020, sedangkan kecamatan yang dihuni penduduk dengan jumlah paling rendah adalah Kecamatan Trawas sebanyak 32.000 jiwa pada tahun 2020.
44.528 43.930 59.738 31.292 83.652 79.031 66.375 80.378 57.300 52.547 77.653 76.363 74.417 59.844 60.341 87.151 53.131 50.591
44604 43939 59581 31106 83316 79503 66132 80007 56953 52370 77397 76083 73296 59667 60246 86723 52595 50265
45.727 44.905 60.940 31.781 85.591 81.187 67.799 81.806 58.438 53.536 79.487 77.881 75.222 60.510 61.424 88.596 53.354 51.409
46.346 45.389 61.643 32.000 86.669 82.069 68.527 82.574 59.102 54.126 80.622 78.584 75.885 60.770 61.782 89.266 53.653 51.741
2017 2018 2019 2020
38
Gambar 4. 6Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Berdasarkan Jenis Kelamin pada Tahun 2017
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mojokerto
Penduduk Kabupaten Mojokerto pada tahun 2017 didominasi oleh penduduk yang berjenis kelamin laki-laki dengan total penduduk laki-laki di Kabupaten Mojokerto sebanyak 573.415 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 564.847 jiwa. Berdasarkan Gambar 2.7 sebagian besar penduduk laki-laki jumlahnya lebih mendominasi, namun kecamatan yang banyak dihuni oleh penduduk perempuan adalah Kecamatan Ngoro dan Kecamatan Dawarblandong.
22.620 22.119 29.986 15.670 41.740 39.701 33.674 40.593 28.813 26.566 39.158 38.687 37.603 30.003 30.200 44.360 26.414 25.508
21.908 21.811 29.752 15.622 41.912 39.330 32.701 39.785 28.487 25.981 38.495 37.676 36.814 29.841 30.141 42.791 26.717 25.083
LAKI-LAKI PEREMPUAN TOTAL
Gambar 4. 7Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Berdasarkan Jenis Kelamin pada Tahun 2018
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mojokerto
Penduduk di Kabupaten Mojokerto pada tiap kecamatan tahun 2018 didominasi oleh penduduk yang berjenis kelamin laki-laki. Sementara Kecamatan yang banyak dihuni oleh penduduk berjenis kelamin perempuan adalah Kecamatan Trawas, Ngoro, Kutorejo dan Dawarblandong. Dengan total penduduk laki-laki sebanyak 570.899 jiwa, lebih banyak dari jumlah total penduduk perempuan sebanyak 562.884 jiwa.
22.618 22.142 29.911 15.543 41.563 39.949 33.534 40.344 28.668 26.446 39.021 38.506 36.972 29.901 30.184 44.113 26.151 25.333
21.986 21.797 29.670 15.563 41.753 39.554 32.598 39.663 28.285 25.924 38.376 37.577 36.324 29.766 30.062 42.610 26.444 24.932
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000 100000
LAKI-LAKI PEREMPUAN TOTAL
40
Gambar 4. 8Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Berdasarkan Jenis Kelamin pada Tahun 2019
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mojokerto
Pada tahun 2019, jumlah laki-laki (584.209 jiwa) di Kabupaten Mojokerto lebih banyak daripada jumlah penduduk perempuan (575.384 jiwa), sedangkan penduduk Kabupaten Mojokerto pada tiap kecamatan tahun 2019 didominasi oleh penduduk yang berjenis kelamin laki-laki. Kecamatan yang banyak dihuni oleh penduduk perempuan adalah Kecamatan Trawas dan Dawarblandong.
Penduduk Kabupaten Mojokerto pada tahun 2020 didominasi oleh penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 589.783 jiwa, sedangkan penduduk perempuan tidak lebih banyak yaitu sebanyak 580.965 jiwa.
Begitupun jika dilihat dari tiap kecamatan juga didominasi oleh penduduk laki-laki, kecuali beberapa kecamatan yang banyak dihuni oleh penduduk perempuan adalah Kecamatan Dawarblandong.
23.246 22.620 30.618 15.890 42.830 40.812 34.346 41.200 29.444 27.004 40.108 39.485 37.904 30.339 30.808 45.103 26.522 25.930
22.481 22.285 30.322 15.891 42.761 40.375 33.453 40.606 28.994 26.532 39.379 38.396 37.318 30.171 30.616 43.493 26.832 25.479
0
Gambar 4. 9Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Berdasarkan Jenis Kelamin pada Tahun 2020
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mojokerto
23.579 22.864 31.001 16.017 43.391 41.274 34.708 41.631 29.800 27.273 40.693 39.894 38.169 30.428 30.951 45.381 26.662 26.067
22.767 22.525 30.642 15.983 43.278 40.795 33.819 40.943 29.302 26.853 39.929 38.690 37.716 30.342 30.831 43.885 26.991 25.674
10.000
1.350 1.123 1.323 1.048 1.455 1.642 1.550 3.016
1.352 1.123 1.319 1.042 1.449 1.651 1.544 3.002
1.387 1.148 1.349 1.064 1.489 1.686 1.583 3.070
42
Kepadatan penduduk wilayah Kabupaten Mojokerto pada tahun 2017 mencapai 1.645 jiwa/km2. Artinya setiap satu kilometer persegi dihuni oleh penduduk 1.645 jiwa penduduk. Kepadatan penduduk di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2018 menurun menjadi 1.638 jiwa/km2. Kemudian meningkat pada tahun 2019 menjadi 1.675 jiwa/km2. Kepadatan penduduk di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2020 meningkat kembali menjadi 1.691 jiwa/km2.
Adapun kecamatan yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi dari tahun 2017 hingga 2020 adalah Kecamatan Sooko. Kepadatan penduduk wilayah Kecamatan Sooko pada tahun 2017 mencapai 3.172 jiwa/km2. Artinya setiap satu kilometer persegi dihuni oleh penduduk 3.171 jiwa penduduk.
Kepadatan penduduk di Kecamatan Sooko pada tahun 2018 menurun menjadi 3.124 jiwa/km2. Kemudian meningkat pada tahun 2019 menjadi 3.206 jiwa/km2. Kepadatan penduduk di Kecamatan Sooko pada tahun 2020 terus meningkat menjadi 3.235 jiwa/km2.
Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk yang paling rendah dari tahun 2017 hingga 2020 adalah Kecamatan Dawarblandong.
Kepadatan penduduk wilayah Kecamatan Trawas pada tahun 2017 mencapai 902 jiwa/km2. Artinya setiap satu kilometer persegi dihuni oleh penduduk 902 jiwa penduduk. Kepadatan penduduk di Kecamatan Trawas pada tahun 2018 menurun menjadi 892 jiwa/km2. Kemudian meningkat pada tahun 2019 menjadi 905 jiwa/km2 dan terus meningkat pada tahun 2020 menjadi 910 jiwa/km2.
Adapun jumlah penduduk Kabupaten Mojokerto tahun 2020 berdasarkan komposisinya didominasi oleh penduduk usia muda dan usia produktif yang ditunjukkan oleh bentuk piramida penduduk yang lebih lebar pada bagian bawah dan tengah. Dengan didominasi penduduk usia muda, Kabupaten Mojokerto memiliki potensi sumber daya manusia yang menunjang pembangunan Kabupaten Mojokerto.
Gambar 4. 11Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Tahun 2020
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mojokerto
4.5 Kondisi Perekonomian
4.5.1 Produk Domestik Regional Bruto
(60.000) (40.000) (20.000) - 20.000 40.000 60.000
44
periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang memiliki residen/non-residen (BPS, 2021).
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tingkat regional (kabupaten/kota) menggambarkan kemampuan suatu wilayah untuk menciptakan output (nilai tambah) pada suatu waktu tertentu (BPS, 2021).
Berikut ini merupakan distribusi persentase Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Mojokerto atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha:
Tabel 4. 2Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Mojokerto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha
Lapangan Usaha 2016 2017 2018 2019 2020
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 9,10 8,62 8,13 7,79 7,96 Pertambangan dan Penggalian 0,98 0,96 0,97 0,94 0,93
Industri Pengolahan 52,41 53,09 53,48 53,83 54,56
Pengadaan Listrik dan Gas 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06
Konstruksi 10,12 10,01 9,93 9,70 8,99
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor 10,28 10,24 10,40 10,51 10,07
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 2,36 2,32 2,36 2,42 2,48
Jasa Pendidikan 1,36 1,34 1,32 1,31 1,35
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,38 0,38 0,38 0,39 0,44
Jasa lainnya 0,87 0,85 0,86 0,85 0,75
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Mojokerto
Berikut ini merupakan distribusi persentase Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Mojokerto atas dasar harga konstan menurut lapangan
Berikut ini merupakan distribusi persentase Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Mojokerto atas dasar harga konstan menurut lapangan