• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Keragaan Model Ekonomi Usaha Kecil

6.1.8. Pengeluaran Pendidikan dan Sosial

Pengeluaran pendidikan dan sosial adalah pengeluaran oleh pelaku usaha kecil yang digunakan untuk pendidikan anggota keluarga dan kegiatan sosial masyarakat dalam periode satu tahun dan dihitung dalam satuan rupiah. Besarnya nilai pengeluaran untuk pendidikan dan sosial per tahun adalah sekitar Rp 6 200 000 , berarti setiap bulan sekitar lima ratus ribu rupiah. Pengeluaran untuk kegiatan sosial bagi usaha kecil yang umumnya berada di perdesaan adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindarkan, karena berkaitan langsung aspek kelembagan sosial.

Tabel 23. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Pengeluaran Pendidikan dan Sosial (PPKS) N o Variabel Parameter Dugaan Prob > │t│ Elastisitas 1 Intersep -3 467 540 0.0016

2 Pendapatan Usaha (PEND) 0.017714 0.0001 * 0.2972 3 Jumlah Anak Sekolah (JAS) 4 092 241 0.0001 * 1.0843 4 Pengeluaran Sosial (PSO) 0.42049 0.2073 0.1401 5 Dummy Jenis Kelamin (DJG) 305 509 0.6938

R2 = 0.6421 F Hitung = 38.12 Prob > F = 0.0001

Keterangan: * = Parameter dugaan berbeda nyata pada taraf nyata (α) 0.10 Hasil pendugaan parameter persamaan Pengeluaran Pendidikan dan Sosial (PPKS), menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.6421. Ini menunjukkan bahwa 64.21 persen variasi dari variabel endogen Pengeluaran Pendidikan dan Sosial (PPKS) dijelaskan oleh variabel-variabel Pendapatan Usaha (PEND), Jumlah Anak Sekolah (JAS), Pengeluaran Sosial (PSO) dan Dummy Jenis Kelamin (DJG), dan secara signifikan pada taraf nyata (α) 10 persen yang ditunjukkan oleh nilai Prob > F sebesar 0.0001.

Pendapatan Usaha (PEND) berpengaruh nyata terhadap Pengeluaran Pendidikan dan Sosial (PPKS) dengan nilai elastisitas sebesar 0.2972. Artinya setiap kenaikan pendapatan bersih usaha sebesar 1 persen akan menaikkan pengeluaran pendidikan dan sosial sebesar 0.2972 persen. Respon dari pengeluaran pendidikan dan sosial oleh perubahan pendapatan usaha ini menunjukkan bahwa pendapatan bersih usaha turut menentukan besarnya pengeluaran pendidikan dan sosial. Respon cukup rendah ini diduga karena pengeluaran untuk pendidikan anak dan sosial yang dikeluarkan ini merupakan investasi yang cukup mendasar dan jangka panjang sehingga tidak terlalu terpengaruh dengan besarnya pendapatan bersih usaha.

Jumlah Anak Sekolah (JAS) berpengaruh nyata terhadap Pengeluaran Pendidikan dan Sosial (PPKS) dengan nilai elastisitas sebesar 1.0843. Respon pengeluaran pendidikan dan sosial oleh perubahan jumlah anak sekolah ini menunjukkan bahwa anak sekolah merupakan prioritas bagi keluarga, sehingga kenaikan jumlah anak sekolah akan menaikkan pengeluaran pendidikan dan sosial. Besarnya respon ini, menunjukkan tingginya kesadaran pelaku usaha kecil untuk melakukan investasi keluarga terutama dalam hal pendidikan anak. Dalam jangka panjang kondisi ini akan sangat menguntungkan bagi masyarakat secara umum. Karena itu upaya untuk mendorong dan meningkatkan kinerja usaha kecil, dalam jangka panjang juga akan turut memperbaiki kualitas sumber daya manusia terutama sentra-sentra usaha kecil yang banyak tersebar di wilayah perdesaan.

Pengeluaran Sosial (PSO) walaupun bertanda positif namun tidak berpengaruh nyata terhadap Pengeluaran Pendidikan dan Sosial (PPKS). Hal ini diduga karena pengeluaran sosial oleh usaha kecil ini umumnya bersifat kekerabatan dan frekuensinya relatif tidak tetap serta seringkali juga dalam bentuk barang. Walaupun tidak nyata, respon positif ini juga menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil memiliki kewajiban dan kepedulian terhadap permasalahan sosial yang ada di wilayah usahanya. Dalam jangka panjang kondisi ini akan sangat membantu bagi masyarakat secara umum, karena biasa menjadi salah satu pendorong untuk memperkuat modal sosial.

Dummy Jenis Kelamin (DJG) yaitu: 0 adalah pelaku usaha kecil perempuan, dan 1 adalah pelaku usaha kecil laki-laki, walaupun bertanda positif namun secara statistik juga tidak berpengaruh nyata terhadap Pengeluaran Pendidikan dan Sosial (PPKS). Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin pelaku

usaha terhadap pengeluaran pendidikan dan sosial. Hal ini diduga karena adanya kesadaran yang tinggi untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka, sehingga pelaku usaha kecil baik perempuan maupun laki-laki tidak berbeda nyata dalam pengeluaran terutama untuk pendidikan.

Beberapa hal yang menonjol dari hasil ini adalah. Pertama, pendapatan usaha dari kegiatan usaha kecil mampu mendorong pengeluaran untuk pendidikan, dan sosial dalam bentuk pengeluaran yang bersifat jangka panjang dan intangible seperti: pendidikan anak dan kewajiban sosial untuk masyarakat sekitar tempat usaha. Hal ini akan memperkuat ikatan sosial diantara usaha kecil yang umumnya berada dalam kawasan usaha yang sama (sentra produksi). Kedua, besarnya respon dari pengeluaran pendidikan dan sosial oleh jumlah anak sekolah yang dimiliki usaha kecil, menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pendidikan anak di kalangan usaha kecil sangat tinggi, ini juga menunjukkan bahwa kesadaran mereka terhadap investasi jangka panjang di bidang pendidikan cukup bagus. Ketiga, masih terlihat adanya kesadaran pelaku usaha kecil untuk melakukan kewajiban dan kepedulian sosial sebagai bagian memperkuat modal sosial di masyarakat. Keempat, dummy jenis kelamin tidak berpangaruh nyata terhadap pengeluaran pendidikan dan sosial. Ini mengindikasikan bahwa kesadaran dan prioritas pelaku usaha kecil baik itu perempuan ataupun laki-laki, terhadap pendidikan dan sosial adalah relatif sama baiknya.

6.1.9. Perilaku Ekonomi Usaha Kecil

Peningkatan kegiatan usaha kecil dari pelaku usaha yang di dorong oleh permintaan kredit, mampu mempengaruhi perilaku ekonomi usaha kecil. Hal ini terlihat dari pendapatan usaha yang merupakan hasil dari penerimaan usaha

dikurangi pengeluaran untuk total biaya produksi, masih mempunyai pengaruh positif terhadap tabungan, konsumsi, dan pengeluaran pendidikan dan sosial. Beberapa catatan dari hasil analisis dan pembahasan diatas adalah:

1. Kegiatan usaha yang dilakukan oleh usaha kecil ini sebagian besar merupakan usaha skala kecil dengan jumlah tenaga kerja antara 5 orang sampai dengan 19 orang, yang menghasilkan produk makanan olahan dengan baku bahan utama pertanian seperti: ketela pohon, kedelai, beras ketan, pisang, tepung tapioka, tepung aren, tepung terigu, dan kulit rambak. Berdasarkan data penerimaan usaha rata-rata tahunan, maka angka penjualan tahunan sebesar Rp 384.89 juta yang diperoleh termasuk kategori kelompok usaha kecil.

2. Kegiatan usaha dari usaha kecil dapat dikelompokkan, pertama, kelompok usaha yang berorientasi untuk mencari kesempatan kerja, mencari nafkah dan masih kurang memiliki jiwa kewirausahaan (livehood activities), kedua, kelompok usaha yang lebih bersifat pengrajin dan sudah mulai memiliki jiwa kewirausahaan (micro enterprise), ketiga, kelompok usaha yang telah memiliki jaringan kerja dan mampu melayani pekerjaan pesanan atau sub-usaha dari pedagang, dan umumnya telah memiliki jiwa kewirasub-usahaan (small dynamic enterprise), jumlah kelompok ini termasuk paling sedikit.

3. Dari segi manajemen umumnya kondisi dari usaha kecil adalah: pemilik langsung adalah pengelola, perencanaan dan sekaligus pelaksana usaha berdasarkan kebiasaan dan tidak tertulis, pendelegasian kerja masih melalui perintah lisan, saluran informasi yang tersedia tidak dibina, dan masih bergantung pada pelanggan dan pemasok lokal sekitar. Namun demikian pada kondisi ini pelaku usaha kecil diharapkan menjadi orang berkarakter baik,

yang mampu berinteraksi dengan tenaga kerja, membina jaringan kerja, dan mampu menjalin hubungan sosial di masyarakat.

4. Dari segi ekonomi umumnya kondisi dari usaha kecil adalah: sebagian besar memproduksi produk makanan sehingga elastisitas permintaan yang rendah tidak begitu berpengaruh pada permintaan produk yang dihasilkan, modal usaha yang relatif terbatas membuat usaha kecil memiliki produksi yang ketat (efisien) sehingga cukup fleksibel berpindah jenis produk yang lebih menguntungkan. Usaha kecil mampu memperkuat perekonomian dengan menyerap banyak tenaga kerja dan bahan baku lokal.

6.2. KERAGAAN MODEL KETERKAITAN KREDIT DAN EKONOMI

Dokumen terkait