BAB II. LANDASAN TEORI
C. Pengembangan Hipotesis dan Hipotesis
Agency theory menjelaskan mengenai hubungan yang muncul ketika
satu orang individu atau lebih yang disebut prinsipal memberikan mandat kepada individu lain atau organisasi yang disebut agent untuk melaksanakan pekerjaan
dan kemudian mendelegasikan otoritas pengambilan keputusan kepada agent
tersebut. Masalah agensi timbul karena adanya konflik kepentingan antara shareholder dan manajer, karena tidak bertemunya utilitas yang maksimal di
antara mereka.
Manajer (agent) sebagai pengelola perusahaan lebih banyak
mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (principals). Ketimpangan informasi ini biasa disebut
sebagai asymetri information. Baik pemilik maupun agen diasumsikan
mempunyai rasionalisasi ekonomi dan semata-mata mementingkan kepentingannya sendiri (Jansen dan Meckling, 1976). Agen mungkin akan takut mengungkapkan informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik, sehingga terdapat kecenderungan untuk memanipulasi laporan keuangan tersebut. Berdasarkan asumsi tersebut, maka dibutuhkan pihak ketiga yang independen untuk menjebataninya, dalam hal ini adalah akuntan publik (auditor).
commit to user
Selanjutnya (Antle dan Nalebuff, 1991) menyatakan bahwa laporan audit harus dipandang sebagai laporan bersama antara auditor dengan manajemen perusahaan. Oleh karena itu kualitas audit juga tidak hanya dipengaruhi oleh auditor, melainkan oleh auditee juga. Hal ini juga didukung oleh Petters et al. (1989) yang menyatakan bahwa beberapa risiko berhubungan
dengan kinerja suatu audit, sedangkan risiko audit terdiri dari risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi. Dari ketiga risiko audit tersebut, dua risiko yakni risiko bawaan dan risiko pengendalian bersumber dari internal perusahaan (auditee).
Argumen utama yang mendukung adanya hubungan negatif antara lamanya penugasan audit dengan kualitas audit yaitu erosi independensi yang mungkin muncul akibat tumbuhnya hubungan pribadi antara auditor dengan kliennya dan semakin lamanya penugasan audit, kapabilitas auditor untuk bersikap kritis akan berkurang karena auditor sudah terlalu familiar. Mautz dan Sharaf (1961) menyatakan bahwa auditor harus menyadari berbagai tekanan yang bermaksud mempengaruhi perilakunya dan sedikit demi sedikit akan mengurangi independensinya. Hubungan pribadi yang semakin panjang akan memunculkan ikatan loyalitas atau emosi yang akan mempengaruhi independensi dan objektivitas auditor. Kondisi paling ekstrem yaitu timbulnya familiaritas berlebihan yang akan mendorong terjadinya kolusi antara auditor dengan klien (McLaren, 1958 dalam Carey dan Simnett, 2006).
commit to user
22
Berkurangnya kapabilitas auditor untuk bersikap kritis karena auditor sudah terlalu familiar, hal ini menyebabkan semakin terbatasnya pendekatan pengujian audit kreatif seperti yang sering terjadi saat awal perikatan audit (Hoyle, 1978 dan McLaren, 1958 dalam Carey dan Simnett, 2006). Shockley (1981) dalam Carey dan Simnett (2006) menyatakan bahwa tingginya tingkat kepuasan, berkurangnya inovasi dan prosedur audit, dan muculnya percaya diri berlebihan terhadap klien cenderung muncul ketika auditor memiliki hubungan yang lama dengan klien.
Terlepas dari hubungan negatif, lamanya penugasan audit juga dapat memberikan hubungan positif. Argumen yang mendukungnya yaitu lamanya penugasan audit dapat meningkatkan kualitas audit dengan berbagai alasan dan pengetahuan tentang klien dan industri yang diperoleh setelah audit selama berulang-ulang akan meningkat, sehingga dapat meningkatkan kualitas audit. Geiger dan Raghunandan (2002) menemukan bahwa kegagalan audit sering terjadi pada periode awal auditor melaksanakan penugasan audit. Carcello dan Nagy (2004) juga menemukan bahwa kecurangan dalam laporan keuangan sering terjadi pada tahun-tahun awal auditor melaksanakan audit. Konsisten dengan hal ini, St.Pierre dan Anderson (1984) menemukan banyak kesalahan audit yang dilakukan auditor pada saat awal penugasan audit. Tingkat independensi auditor relatif lebih tinggi di awal masa penugasan, namun tingkat familiaritasnya lebih rendah, terlihat dari tingginya tingkat kegagalan audit pada masa awal tersebut.
commit to user
Johnson et al. (2002) dan Myers et al. (2003) melaporkan bahwa
tingkat akrual diskresioner menurun sesuai dengan lamanya penugasan audit, sehingga kualitas audit meningkat. Bamber dan Lyer (2002) menemukan bahwa keterikatan auditor dengan klien berhubungan dengan makin tingginya kualitas audit. Hal ini berarti rotasi kantor akuntan publik tidak bersifat produktif. Temuan ini konsisten dengan kesimpulan Ghosh dan Moon (2005) mengenai persepsi auditor dimana lamanya keterikatan KAP dengan klien identik dengan semakin meningkatnya kualitas audit.
Atas dasar paparan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa hipotesis pertama dalam penelitian ini dapat dirumuskan dan dinyatakan seperti berikut ini.
H1 :Auditor tenure berpengaruh positif terhadap kualitas audit
Hubungan antara kualitas audit dengan auditor industry specialization
telah dilakukan oleh banyak penelitian sebelumnya. Maletta dan Wright (1996) dalam Krishnan (2003) menemukan bahwa terdapat perbedaan yang mendasar pada karakteristik error dan metode deteksi error mengenai indsutri, kemudian auditor yang spesialis lebih handal untuk mendeteksi error atau abnormal lainnya dibandingankan auditor yang non-spesialis. Bedard dan Giggs (1991) dalam Krishnan (2003) menemukan bahwa auditor yang memiliki pengalaman di industri manufaktur lebih handal dalam mendeteksi error pada data klien manufaktur dibandingkan auditor yang non-spesialis. Konsisten dengan hal ini,
commit to user
24
Wright dan Wright (1997) dalam Krishnan (2003) menemukan bahwa pengalaman yang cukup terhadap industri retailing memberikan kontribusi untuk
meningkatkan deteksi error pada klien industri retailing. Solomon et al. (1999)
dalam Krishnan (2003) menemukan bahwa auditor yang spesialis menunjukkan pengetahuan yang lebih besar terhadap frekuensi non-error.
Johnson et al. (1991) dan Carcello dan Nagy (2004) menemukan
bahwa auditor yang spesialis industri dapat menemukan adanya financial fraud.
Balsam et al. (2003) menemukan adanya bukti apabila auditor yang spesialis
industri akan membuat investor melihat laba menjadi lebih informatif. Klien audit juga muncul untuk menilai auditor yang spesialis industri seperti ditunjukkan pada harga premium yang ditawarkan auditor yang spesialis industri (Francis et al. 2005). O’keefe (2004) menemukan bahwa auditor yang spesialis
industri berusaha untuk menjaga reputasi mereka melalui pemenuhan terhadap standard auditing yang diterima umum. Temuan ini konsisten akan auditor
industry specialization memberikan kontribusi untuk meningkatkan kualitas
audit.
Atas dasar paparan di atas, maka hipotesis kedua dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut ini.
commit to user