• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.2 Pengembangan Hipotesis

3.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka dibangun kerangka pemikiran dalam gambar berikut ini.

3.2. Pengembangan Hipotesis

Laporan keuangan merupakan laporan kinerja dari suatu perusahaan.

Laporan ini berisi sejumlah informasi yang dapat dijadikan sebagai alat pertimbangan bagi pihak-pihak yang membutuhkan, terutama para investor dan calon investor. Informasi ini berguna bagi mereka untuk mengambil keputusan investasi di pasar modal. Beberapa variasi faktor-faktor yang digunakan adalah kombinasi dari variabelvariabel yang termasuk dalam Bank Characteristic dan Macro Indicators yaitu rasio Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Net Interest Margin (NIM), Operational

ROA (Y) CAR (X1)

LDR (X2)

NPL (X3)

NIM (X4)

BOPO (X5)

Harga Saham (Z)

Efficeincy Ratio (OER), Return On Assets (ROA) terhadap Harga Saham bank umum di Bursa Efek Indonesia.

Hasil penelitian Zainudin dan Jogiyanto (1999), hubungan CAR dengan ROA adalah positif. Terdapat perbedaan dimana pada tahun 2007-2008 ketika CAR mengalami peningkatan tetapi ROA mengalami penurunan, sehingga perlu dilakukan penelitian dengan adanya gap tersebut. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa :

H1 : Capital Adequacy Ratio berpengaruh terhadap ROA

Lalu penelitian lainnya yang dilakukan oleh Boehmer dan Ljungvist (2004) ; dan Sutadanu (2009) menunjukkan bahwa LDR tidak mempengaruhi besarnya ROA.

Hasil penelitian Boehmer dan Ljungvist (2004) dan Sutadanu (2009) bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maharani dan Sugiharto (2007); Purwana (2009) yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan positif antara LDR dengan ROA pada bank domestik. Dengan adanya research gap dari penelitian Sutadanu (2009), dan Maharani dan Sugiharto (2007); Purwana (2009) maka perlu dilakukan penelitian lanjutan pengaruh LDR terhadap ROA. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa :

H2 : Loan to Deposit Ratio berpengaruh terhadap ROA

Lalu penelitian oleh Boehmer dan Ljungvist (2004), menunjukkan bahwa NPL tidak mempengaruhi besarnya ROA. Hasil penelitian Boehmer dan Ljungvist (2004) bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ariyanto (2004) yang

menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan negatif NPL terhadap ROA. Dengan adanya research gap dari penelitian Boehmer dan Ljungvist (2004) dan Ariyanto (2004) maka perlu dilakukan penelitian lanjutan pengaruh NPL terhadap ROA. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa :

H3 : Non Performing Loan berpengaruh terhadap ROA

Lalu penelitian lainnya oleh Boehmer dan Ljungvist (2004), menyatakan bahwa NIM tidak mempengaruhi besarnya ROA sementara Almilia dan Hedyningtyas, (2005) menunjukkan pengaruh yang signifikan positif, berdasarkan hasil dari kedua penelitian tersebut menunjukkan adanya research gap sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan. Maka dapat disimpulkan bahwa

H4 : Net Interest Margin berpengaruh terhadap ROA

Risiko operasional adalah risikoyang memengaruhi operasional bankkarenatidak berfungsinya proses internal,kesalahan manusia, kegagalan sistem, dankejadian eksternal (Ikatan Bankir Indonesia, 2016:59). Rasio biaya operasional pendapatan operasional (OER) digunakan untuk mengukur tingkat efisiensikegiatan operasional bank. Bank akan memperoleh laba yang meningkat ketika bank mampu menekan biaya operasional dalam mengelola usahanya (SE. Intern BI, 2011). Semakin efisien bank menjalankan aktivitasnya semakin kecil OER yang dimiliki (Hartini, 2016). Hasil penelitian yang dilakukan Buchory (2015), Utami (2015), Paulin dan Sudarso(2015), Manurung (2015), Pratiwi dan Wiagustini (2015), Kristianti

dkk.(2015),danChimkono dkk.(2016) menunjukkan hasil bahwa OER memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa H5 : Operational Efficiency Ratio berpengaruh terhadap ROA

Pengaruh rasio Capital Adequacy Ratio terhadap perubahan harga saham didasari pada latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya. Teori yang mendukung adanya pengaruh antara variabel dependen dengan variabel independen adalah signalling theory atau teori sinyal. Teori tersebut menjelaskan bahwa perusahaan akan memberikan informasi kepada pihak eksternal untuk mengurangi asimetri informasi dan investor selalu memasukkan faktor informasi yang tersedia dalam keputusan mereka sehingga terefleksi pada harga saham yang mereka transaksikan.

Hasil dari penelitian sebelumnya yakni penelitian Takarini dan Hayudanto (2013) menyimpulkan bahwa CAR berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Kania (2012) yaitu CAR berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham. Hal ini menunjukkan bahwa investor cenderung memperhatikan aspek permodalan( CAR) dalam menentukan dan membeli harga saham perbankan. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa:

H6 : Capital Adequacy Ratio berpengaruh terhadap Harga Saham.

LDR (Loan to Deposit Ratio), perbandingan kredit yang diberikan terhadap dana pihak ketiga, jika rasionya terlalu rendah banyak dana pihak ketiga yang tidak disalurkan dalam bentuk kredit, jika rasionya semakin besar, bank melakukan

ekspansi kredit dibanding sumber dana yang tersedia. Semakin rendah rasio LDR maka semakin meningkat harga saham suatu bank. (Ihsanuilkahir, 2009).

Dari aspek likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) yang tinggi artinya jumlah kredit yang telah diberikan dan dibiayai dengan dana pihak ketiga serta mengukur tingkat kemampuan bank untuk membayar dana pihak ketiga dari pengambilan kredit yang telah diberikan. Rendahnya peringkat kesehatan bank menunjukkan semakin rendahnya kemampuan likiditas bank yang bersangkutan sehingga mengurangi kepercayaan investor. Investor akan merespon negatif terhadap informasi tersebut (bad news). Dalam likuiditas yang tinggi dalam hal ini telah ditetapkan Bank Indonesia maksimal sebesar 110%, maka hal tersebut akan meningkatkan konsumen pada bank tersebut. Investor akan melirik perusahaan perbankan untuk menanamkan modal dan akan berdampak terhadap kenaikan harga saham. Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh terhadap Harga Saham. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa:

H7 : Loan to Deposit Ratio berpengaruh terhadap Harga Saham

Non Performing Loan(NPL) yaitu tingkat kredit bermasalah dibandingkan dengan total kredit yang telah diberikan kepada pihak ketiga namun tidak termasuk kredit yang diberikan ke bank lain. Kredit bermasalah tersebut yaitu kredit yang diklasifikasikan dalam kredit kurang lancar, diragukan, dan macet, sedangkan kredit bermasalah itu sendiri dihitung secara kotor dengan tidak mengurangkan dengan penyisihan penghapusan aktiva produktif. Suatu bank dapat menjalankan operasinya dengan baik jika NPL mempunyai nilai dibawah 5%. Dengan adanya kenaikan NPL

maka akan menyebabkan cadangan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang ada tidak mencakupi sehingga pemacetan kredit tersebut harus diperhitungkan sebagai beban biaya yang langsung berpengaruh terhadap keuntungan bank. Kredit yang diberikan kepada masyarakat sebagai salah satu bentuk produk jasa yang ditawarkan oleh industri perbankan, semakin tinggi tingkat kredit bermasalah maka risiko yang ditanggung oleh bank menggambarkan kinerja perbankan tersebut tidak baik atau tidak sehat. Hal tersebut akan memengaruhi keputusan investor dalam menanamkan modal dan mampu mempengaruhi harga saham, jadi NPL berpengaruh terhadap harga saham.

NPL (Non Performing Loan) sebagai rasio kredit bermasalah, semakin besar rasio NPL akan mengindikasikan bank dapat mengalami masalah profitabilitas, karena yang seharusnya bank memperoleh profit dari kegiatan pemberian kredit karena banyaknya kredit bermasalah menimbulkan potensi loss bagi bank. Sebaiknya rendahnya NPL membantu bank memperbaiki profitabilitas. Selain itu, semakin rendah rasio NPL maka semakin meningkat harga saham suatu bank. (Siamat, 2004).

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa

H8 : Non Performing Loan berpengaruh terhadap Harga Saham

NIM (Net Interest Margin), perbandingan pendapatan bunga bersih terhadap rata-rata aktiva produktif. Angka NIM yang semakin tinggi menunjukkan bahwa profitabilitas bank umum akan semakin baik, karena selisih antara pendapatan bunga dengan biaya bunga semakin besar, namun angka NIM yang terlalu tinggi akan memberi petunjuk adanya inefisiensi perbankan, sebab selisih antara tingkat bunga

kredit dengan tingkat bunga deposito semakin besar. Semakin tinggi rasio NIM maka semakin meningkat harga saham suatu bank. (Rosy, 2003). Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa :

H9 : Net Interest Margin berpengaruh terhadap Harga Saham

OER merupakan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional, semakin besar rasionya akan memperlihatkan kondisi ketidakefesienan bank dalam pengelolaan kegiatan operasional yang membawa pengaruh pada profitabilitas bank.

Menurut Dendawijaya (2005), semakin rendah OER maka semakin efisien bank bekerja dan semakin meningkat harga saham suatu bank. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa :

H10 : Operational Efficiency Ratio berpengaruh terhadap Harga Saham

Variabel profitabilitas yang diproksikan oleh Return on Assets (ROA) sebagai intervening berdasarkan asumsi variabel lain berpengaruh terhadap harga saham apabila didukung oleh ROA yang tinggi sehingga ROA turut memperkuat hubungan antar variabel terhadap harga saham. Apabila ROA rendah maka hubungan antar variabel memiliki pengaruh yang kecil.

ROA merupakan gambaran kemampuan bank untuk memperoleh laba (pengembalian aset) yang digunakan dalam operasional perusahaan dengan menggunakan aset yang tersedia. Karenanya rasio ini tidak kalah penting digunakan dalam memprediksi harga saham. Rasio ini merupakan perbandingan antara laba

bersih yang diperoleh perusahaan dengan total aktiva. Nilai ROA mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Menurut Arisanti (2004:21), dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ROA berpengaruh positif terhadap harga saham. Jadi semakin tinggi rasio ini maka akan semakin tinggi pula harga saham, sebaliknya jika rasio ini mengalami penurunan maka akan menurun pula harga saham.

Pada ekonomi konvensional motif utama investor dalam menanamkan dananya adalah untuk pencapaian laba atau keuntungan maksimal. Jadi apabila suatu perusahaan mempunyai ROA yang tinggi maka perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba yang tinggi pula, dengan laba yang tinggi, akan semakin tinggi pula besarnya deviden yang akan dibagikan kepada investor. Kondisi seperti inilah yang menjadi daya tarik masyarakat untuk memiliki saham perusahaan tersebut.

Karena apabila perusahaan dianggap kurang mampu dalam menghasilkan laba dari aktiva yang dimiliki maka, akan berdampak pada persepsi negatif investor yang akan berimbas pada menurunnya harga saham. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa :

H11 : ROA bepengaruh terhadap Harga Saham

Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh positif terhadap profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset (ROA) seperti penelitian yang dilakukan oleh Werdaningtyas (2002) dan Syofyan (2003). Disamping itu CAR mempunyai pengaruh positif pula terhadap harga saham, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Suardan (2003) dan Berliani (2008). Karena CAR berpengaruh

positif terhadap ROA dan Harga Saham, dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H12 : ROA memediasi pengaruh CAR terhadap Harga Saham

Loan to Depositt Ratio (LDR) mempunyai pengaruh positif terhadap profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset (ROA) sebagaimana Mahardian (2008) dan Nugroho (2010). Disamping itu LDR mempunyai pengaruh positif pula terhadap Harga Saham, sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh Berliani (2008) dan Artwienda (2008). Karena LDR berpengaruh positif terhadap ROA dan Harga Saham, dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H13 : ROA memediasi pengaruh LDR terhadap Harga Saham

Non Performing Loan (NPL) mempunyai pengaruh negatif terhadap profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset (ROA) sebagaimana Mawardi (2005), Utomo (2008), dan Nusantara (2009). Disamping itu NPL mempunyai pengaruh negatif pula terhadap Harga Saham, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Macit dan Topaloglu (2012). Karena NPL berpengaruh negatif terhadap ROA dan Harga Saham, dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H14 : ROA memediasi pengaruh NPL terhadap Harga Saham

Net Interest Margin (NIM) mempunyai pengaruh positif terhadap profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset (ROA) sebagaimana Mawardi (2005), Utomo (2008), dan Nusantara (2009). Disamping itu NIM mempunyai

pengaruh positif pula terhadap Harga Saham, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Macit dan Topaloglu (2012). Karena NIM berpengaruh positif terhadap ROA dan Harga Saham, dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H15 : ROA memediasi pengaruh NIM terhadap Harga Saham

Operational Efficiency Ratio (OER) mempunyai pengaruh negatif terhadap Return On Asset (ROA) seperti penelitian yang dilakukan oleh Usman (2003) dan Mawardi (2004). Disamping itu OER mempunyai pengaruh negatif terhadap Harga Saham, sebagaimana penelitian yang dilakukan Sarifudin (2005). Karena OER berpengaruh negatif terhadap ROA dan Harga Saham, dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H16 : ROA memediasi pengaruh OER terhadap Harga Saham

Dokumen terkait