• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Koleksi Perpustakaan

2.2.4 Pengembangan Koleksi

Pengembangan koleksi disuatu perpustakaan merupakan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan guna untuk memenuhi semua kebutuhan informasi yang tepat yang perlu disediakan bagi pengguna.

Menurut Darmono dalam Iskandar (2017, 24) menyatakan bahwa prinsip-prinsip pengembangan koleksi sebagai berikut:

1. Relevansi

Artinya aktifitas pemilihan dan pengadaan terkait dengan program pendidikan yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada. Berorientasi kepada pemakai. Dengan demikian kepentingan pengguna menjadi acuan dalam pemilihan dan pengadaan bahan pustaka.

2. Kelengkapan

Koleksi perpustakaan diusahakan tidak hanya terdiri dari buku teks yang langsung dipakai untuk mata pelajaran yang diberikan tetapi juga menyangkut bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada dalam kurikulum. Semua komponen koleksi mendapatkan perhatian yang wajar sesuai dengan tingkat prioritas yang ditentukan.

3. Kemuktahiran

Disamping memperhatikan masalah kelengkapan, kemutakhiran sumber informasi harus diupayakan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kemutakhiran bahan pustaka dapat dilihat dari tahun terbit.

Jika bahan pustaka diterbitkan pada tahun terakhir, maka dapat dilihat dari kemutakhiran dapat dikatakan mutakhir.

4. Kerjasama

Unsur-unsur yang terkait dalam pembinaan koleksi harus ada kerjasama yang baik dan harmonis sehingga pelaksanaan kegiatan pembinaan koleksi berjalan efektif dan efisien. Kerjasama ini melibatkan semua komponen yang terlibat dalam pembinaan koleksi seperti kepala perpustkaan, petugas perpustakaan atau pustakawan, guru, serta pihak yang mengadakan pembelian.

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 13) “Pengembangan koleksi adalah semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan, terutama kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan dan pengadaan bahan pustaka”.

Menurut Sutarno (2003, 90) “Pengembangan koleksi adalah awal dari pembinaan koleksi perpustakaan, bertujuan agar koleksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemakai, dan jumlah bahan pustaka selalu mencukupi”. Kegiatan pengembangan koleksi ini terdiri atas pekerjaan-pekerjaan:

1. Menyusun rencana operasional pengembangan koleksi.

2. Menghimpun alat seleksi.

3. Melakukan survei minat pemakai.

4. Melakukan survei bahan pustaka.

5. Membuat dan menyusun desiderata.

6. Menyeleksi bahan pustaka.

7. Pengadaan bahan pustaka.

8. Meregistrasi bahan pustaka.

9. Mengevaluasi dan menyiangi koleksi.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pengembangan koleksi yaitu rencana kegiatan untuk memperluas koleksi yang dilakukan oleh perpustakaan agar sesuai dengan kebutuhan informasi para penggunanya.

2.2.5 Belanja Koleksi Pepustakaan

Perpustakaan sebagai unit kerja yang harus melakukan pembinaan dan pengembangan koleksi mutlak memerlukan anggran setiap tahunnya. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 7495:2009, 6) menyebutkan sumber anggaran perpustakaan umum berasal dari:

1. Anggaran perpustakaan secara rutin tersedia melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

2. Anggaran dari sumber lain yang tidak mengikat.

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 100) menyebutkan pembinaan anggaran perpustakaan mencakup lima hal yaitu:

1. Sumber yang pasti, misalnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) untuk Pemerintah Pusat, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk Pemerintah Daerah.

2. Penggunanya sesuai dengan perencanaan kebutuhan, skala prioritas, aturan dan tertib administrasi keuangan yang berlaku. Dikelola secara terbuka, transparan, efisien, berdaya guna dan berhasil, guna, sehingga tujuannya dapat dicapai dengan baik.

3. Dapat dikontrol, diawasi, diperiksa, dan di monitor baik oleh atasan langsung (pengawasan melekat-Waskat), pengawasan fungsional (wasnal) maupun pengawasan masyarakat (waskat) melalui pers, dan dewan perwakilan rakyat, dan perorangan.

4. Jumlahnya diusahakan meningkat, hal ini sesuai dengan meningkatnya kebutuhan, volume kegiatan, bertambahnya pemakai dan berkembangnya keinginan masyarakat.

5. Diupayakan adanya sumber-sumber keuangan yang lain, sejauh memungkinkan untuk digali atau dicarikan.

Menurut Hermawan dan Zen (2006, 22) menyatakan berbagai sumber dana perpustakaan, adakalanya:

1. Dana rutin, yaitu yang sudah ditentukan secara terus menerus untuk pengolahan perpustakaan.

2. Dana proyek, yaitu dana yang disediakan untuk melakukan kegiatan tertentu, misalnya untuk kegiatan otomasi perpustakaan, pembangunan gedung lazimnya disediakan dana khusus untuk kegiatan tersebut.

3. Dana sumbangan yang sifatnya tidak permanen dan hanya sewaktu-waktu (kadang-kadang).

Dari pernyataan diatas dapat diketahui sumber anggaran belanja perpustakaan didapat dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) untuk Pemerintah Pusat, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk Pemerintah Daerah dan juga dana dari sumbangan.

2.2.6 Pengadaan Koleksi

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 15) “Pengadaan koleksi merupakan proses penghimpun koleksi yang akan dijadikan koleksi perpustakaan”. Metode pengadaan koleksi yaitu:

1. Pembelian

Penambahan koleksi dengan cara membeli merupakan kegiatan penambahan koleksi yang paling banyak dilakukan oleh perpustakaan.

Dengan cara ini dapat dilakukan pemilihan koleksi yang benar-benar sesuai degan kebutuhan pengguna dan dana yang tersedia.

2. Penerimaan hadiah

Cara lain untuk menambah koleksi adalah dengan menerima hadiah atau dengan megajukan permintaan.

3. Tukar-menukar koleksi

Perolehan koleksi perpustakaan dapat juga dilakukan dengan cara tukar-menukar koleksi dengan perpustakaan lain ataupun instansi tertentu lainnya.

4. Keanggotaan organisasi

Perolehan koleksi perpustakaan juga dapat dilakukan degan menjadi anggota organisasi (keanggotaan institusi atau keanggotaan perorangan).

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 177) pengadaan koleski bahan pustaka dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

1. Pembelian baik langsung maupun melalui pihak ketiga.

2. Melakukan tukar menukar.

3. Mendapatkan bantuan/sumbangan.

4. Mengadakan seperti membuat foto copi, membuat duplikasi, membuat CD, dan lain sebagainya.

5. Menerbitkan, termasuk didalamnya membuat kliping koran.

Menurut Siregar (1999, 4) penambahan koleksi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

1. Pembelian

Pembelian dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan memesan langsung kepada penerbit, membeli bahan pustaka melalui toko buku dan dari agen atau distributor.

2. Menerima sumbangan/hadiah/bantuan

Penambahan koleksi dapat juga dilakukan dengan menerima sumbungan buku dari pihak lain baik perorangan maupun lembaga.

3. Tukar menukar

Penambahan koleksi dapat juga dilakukan dengan melakukan tukar menukar, namun perlu ada persetujuan antara kedua belah pihak yang melaksanakannya.

4. Titipan

Perpustakaan dapat memperkaya koleksinya dengan menerima titipan dari pihak lain baik perorangan maupun lembaga.

5. Produksi/penerbitan sendiri

Penambahan koleksi dengan produksi/penerbitan sendiri dapat dilakukan perpustakaan dengan cara menerbitkan indeks, bibliografi, dan terbitan berkala (bulletin) perpustakaan. Dalam melaksanakan pengadaan koleksi perpustakaan, dapat dilakukan melalui tahapan pekerjaan sebagai berikut:

a. Pemilihan bahan pustaka b. Pemesanan

c. Pencatatan dan inventarisasi bahan pustaka

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pengadaan bahan pustaka dapat dilakukan dengan pembelian baik langsung maupun pihak ketiga, hadiah, tukar-menukar, titipan dan keanggotaan organisasi.

2.2.7 Pengolahan Koleksi

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 35) “Pengolahan koleksi merupakan proses penyiapan koleksi untuk dapat dilayankan ke pengguna”. Pengolahan koleksi buku meliputi:

1. Inventarisasi

Tahapan pertama pengolahan koleksi buku adalah mendaftar koleksi yang baru datang. Tahap mendaftar koleksi biasa dikenal dengan istilah inventarisasi. Yang pada umumnya mencatat hal-hal sebagai berikut:

1) Tanggal pemesanan

12) Jumlah eksemplar

Katalogisasi merupakan proses pembuatan daftar keterangan lengkap suatu koleksi yang disusun berdasar aturan tertentu. Tahap katalogisasi yaitu:

1. Katalogisasi subjek

1) Subjek dan tajuk subjek 2) Klasifikasi bahan pustaka 2. Katalogisasi deskriptif

1) Penentuan tajuk entri 2) Deskripsi bibliografi 3) Katalog perpustakaan 3. Kegiatan pasca katalogisasi

Setelah kegiatan katalogisasi selesai, selanjutnya memberi kelengkapan pada buku, sehingga siap dilayankan kepada pengguna. Kelengkapan buku yang perplu dipersiapkan meliputi:

1. Label nomor panggil 2. Kartu buku

3. Kantong kartu buku

4. Blanko/slip tanggal kembali (date due) Barcode

Menurut Sutarno (2006, 179) “Pengolahan atau “processing” adalah pekerjaan yang diawali sejak koleksi diterima di perpustakaan sampai dengan penempatan di rak atau di tempat tertentu yang telah disediakan”. Untuk bentuk yang berbentuk tercetak yakni buku dan sejenisnya, maka pekerjaan pengolahan itu meliputi:

1. Menyusun rencana operasional pengolahan bahan pustaka, meliputi : 1) Menentukan sistem klasifikasi dan katalogisasi yang akan dipakai.

2) Menentukan kebijakan otomasi dan penggunaan komputer dalam mengolah, menyimpan dan menggunakan koleksi.

3) Merancang kartu-kartu, slip buku dan formulir yang diperlukan.

2. Registrasi bahan pustaka

Kegiatan ini adalah mencatat identitas bahan pustaka pada buku induk atau kartu indeks (cardek). Data pustaka yang didaftarkan pada buku induk meliputi :

1) Nama pengarang

2) Judul buku

3) Tanggal diterima di perpustakaan 4) Tahun terbit

5) Edisi ke berapa?

6) Nama penerbit

7) Tempat dan tahun terbit

8) Sumber (membeli, sumbangan atau lainnya)

9) Keterangan lain yang dianggap perlu, seperti harga, jumlah eksemplar dan seri

3. Pengecapan atau stempel perpustakaan pada halaman tertentu, biasanya dibubuhkan di bagian depan, di bagian tengah, dan di bagian belakang.

4. Klasifikasi

Selanjutnya mengklasifikasi adalah kegiatan menganalisis bahan pustaka dan mentukan notasi yang mewakili subjek bahan pustaka dengan menggunakan sistem klasifikasi tertentu. Salah satunya sistem Dewey Decimal Classification (DDC) dan Universal Dewey Classification (UDC) atau sistem yang lain.

5. Katalogisasi

Katalogisasi adalah kegiatan membuat deskripsi data bibliografi suatu bahan pustaka menurut standar atau peraturan tertentu. Katalogisasi dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

1) Katalogisasi sederhana, adalah kegiatan katalogisasi yang hanya mencantumkan informasi data bibliografis, tingkat (level) 1 berdasarkan Anglo American Cataloging Rules (AACR) yaitu : judul asli, pengarang, edisi, penerbit, tempat terbit, dan nomor standar seperti International Standard Book Number (ISBN).

2) Katalogisasi kompleks, adalah kegiatan katalogisasi yang mencantumakan informasi data bibliografis tingkat 1 ditambah antara judul pararel, judul-judul seri, judul terjemah, dan pengarang tambahan.

3) Katalog salinan adalah kegiatan menyalin data bibliografi lain dengan atau tanpa menambah informasi yang diperlukan.

Kartu-kartu katalog yang dibuat dapat dapat terdiri atas:

1) Katalog pengarang 2) Katalog judul 3) Katalog subjek 4) Katalog klasifkasi 6. Pembuatan kelengkapan pustaka

Pembuat kelengkapan pustaka adalah kegiatan menyiapkan dan membuat kelengkapan pustaka agar pustaka itu siap dipakai, mudah dipergunakan, dan untuk memelihara agar koleksi tetap dalam keadaan baik.

7. Penjajaran kartu (file)

Kartu-kartu katalog yang sudah selesai dibuat (ditik) sesuai dengan format, kemudian dijajarkan (di-file) pada laci atau lemari katalog. Penjajaran

8. Penyusunan koleksi (buku) di rak

Setelah buku atau bahan pustaka selesai diproses dan dilengkapi dengan berbagai kelengkapan tersebut diatas, dan kartu-kartu katalog di jajarkan menurut sistem tertentu. Kemudian bahan pustaka tersebut harus segera disusun atau diatur pada rak buku untuk dilayankan kepada pemakai perpustakaan.

9. Penyimpanan dan pelestarian bahan pustaka

Pekerjaan menyimpan dan pelestarian bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan perpustakaan. Tujuannya agar setiap bahan pustaka selalu terpelihara atau terawat sehingga usianya menjadi panjang, daya pakainya lama, dan penempatannya di rak selalu teratur dan keadaannya selalu bersih.

3) Pendaftaran ke buku induk 2. Klasifikasi Koleksi

4. Penyandian (Pembuatan nomor buku)

5. Kartu buku, kantong buku, lembar tanggal kembali, dan label buku 6. Penyusunan kartu katalog

7. Penyusunan buku dalam rak

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pengolahan koleksi adalah kegiatan awal penyiapan koleksi yang lakukan perpustakaan yang diawali sejak koleksi diterima di perpustakaan sampai dengan penempatan di rak agar memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang mereka perlukan.

2.2.8 Seleksi Koleksi perpustakaan

Menurut Handayani (2013, 139) menyatakan pustakawan sebagai selektor harus memiliki kriteria seleksi yaitu:

1. Memahami fungsi dan tujuan perpustakaan tempat ia bekerja.

2. Mengenal kebutuhan masyarakat yang dilayani.

3. Mengetahui bahan perpustakaan apa saja yang ada di pasaran.

4. Mengenal prinsip-prinsip seleksi umum, khusus (untuk bidang subyek atau format) dan lokal (disesuaikan dengan kondisi perpustakaan tempat ia bekerja)

5. Mengenal dan mampu menggunakan alat-alat bantu seleksi yang tepat.

6. Memahami berbagai kendala (sosial, budaya politik, dsb) yang harus diperhitungkan agar tercapai keputusan-keputusan (selection decision) yang dapat dipertanggung jawabkan.

Menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012, 6) “Seleksi bahan perpustakaan adalah kegiatan menilai desiderata dan mempertimbangkan usulan untuk menetapkan bahan perpustakaan yang perlu diadakan oleh perpustakaan berdasarkan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan”.

Adapun alat bantu seleksi dan verifikasi yaitu:

1. Alat bantu seleksi merupakan sarana yang diperlukan untuk menetapkan/menentukan pilihan bahan perpustakaan yang akan diadakan sesuai dengan visi dan misi perpustakaan bersangkutan. Alat bantu seleksi memuat informasi tentang deskripsi bibligrafis seperti judul, kepengarangan, tempat terbit, penerbit dan tahun terbit. Alat bantu seleksi dapat berupa:

1) Bibliografi 2) Books in print 3) Brosur

4) Katalog pameran buku 5) Katalog penerbit 6) Katalog toko buku 7) Resensi buku

8) Ulrich’s International Directory

2. Verifikasi adalaha kegiatan memeriksa dan melengkapi data bibliografis setiap judul bahan perpustakaan, serta mencocokannya dengan koleksi yang ada di perpustakaan agar tidak terjadi duplikasi.

Menurut Siregar (1999, 7) menyatakan pihak-pihak yang dilibatkan dalam pemilihan bahan pustaka yaiu:

1. Pustakawan

Secara umum tugas pustakawan pengadaan adalah sebagai berikut:

1) Sebagai penentu apakah satu buku dibeli atau tidak 2) Menyeleksi permintaan pemakai/pakar

3) Bertanggung jawab akan pembinaan koleksi 4) Mengarahkan dan mengkordinir pemilihan buku

5) Membina kerjasama dengan pihak lain yang berhubungan dengan pembinaan koleksi. Misalnya para pakar/komisi perpustakaan 6) Membina hubungan baik dengan penerbit/agen

7) Melaksanakan pemilihan buku referensi umum 8) Memikirkan penggunaan dana secara tepat guna 9) Menganalisa kebutuhan pengguna

Sesuai dengan tugas yang dilaksanakan oleh pustakawan bagian pengadaan tersebut, maka personil/pustakawan bagian pengadaan sebaiknya memenuhi kriteria berikut:

1) Memiliki pengetahuan/keterampilan dalam bidang administrasi 2) Memiliki pengetahuan tentang perdagangan buku/majalah

3) Mengetahui peraturan perdagangan seperti impor buku dan majalah

4) Mengetahui fungsi dan tujuan perpustakaan 5) Dapat berhubungan dengan bagan lain 6) Memiliki kecermatan dalam bekerja

7) Dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat 8) Memiliki inisiatif

9) Taktis

10) Dapat memecahkan masalah dengan cepat

11) Memahami dengan baik alat bantu pemilihan buku (book selection aids)

2. Subyek spesialis/pakar

Mereka merupakan ahli dalam memilih subyek bidang ilmu tertentu, dan lebih mengetahui cara menelusurinya pada sarana bibliografi, dan selalu mengikuti perkembangan bidang ilmu yang menjadi spesialisasinya.

3. Bagian sirkulasi

Keikutsertaan bagian ini dalam pemilihan buku karena bagian ini dapat memberi informasi tentang buku yang banyak digunakan, sehingga dapat dipikirkan penambahan jumlahnya.

4. Bagian pengadaan

Bagian pengadaan memegang peranan yang penting dalam pemilihan bahan pustaka karena bagian ini bertugas melaksanakan administrasi tentang pemilihan bahan pustaka, seperti mencatat semua permintaan yang datang dari pihak-pihak yang dilibatkan dalam pemilihan buku.

5. Pengguna

Pengguna merupakan orang-orang yang memanfaatkan koleksi perpustakaan, oleh sebab itu permintaan mereka atas bahan pustaka perlu dipertimbangkan agar kebutuhan pengguna terpenuhi.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa dalam melakukan seleksi bahan pustaka dapat dilakukan oleh pustakawan atau orang-orang yang berwewenang dan memahami sarana bibliografis serta memahami kebutuhan informasi para pemakainya.

2.2.9 Perawatan Bahan Putaka

Menurut Ibrahim (2013, 78) “Tujuan utama program perawatan dan pelestarian bahan pustaka adalah mengusahakan agar koleksi bahan pustaka selalu siap dan siap dipakai.

Dalam buku pengelolaan perpustakaan yang diedit oleh Rahayuningsih (2007, 135) pemeliharaan koleksi di perpustakaan meliputi 3 kegiatan yaitu:

1. Pelestarian (preservation) : Pelestarian koleksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan koleksi agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.

2. Pengawetan (conservation): Pengawetan koleksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk melindungi koleksi dari kerusakan dan kehancuran.

3. Perbaikan (restoration): Perbaikan koleksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki koleksi yang rusak sehingga dapat digunakan lagi.

Perbaikan koleksi meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1) Penjilidan: Kegiatan penjilidan adalah proses perbaikan koleksi dengan cara menyusun atau merangkai lembaran-lembaran kertas, kemudian dijahit atau dilem.

a. Perbaikan isi buku atau blok buku.

b. Pembuatan sampul buku.

2) Perbaikan punggung buku yang rusak:

a. Dilem.

b. Diganti kertas sisi/penutup dan dilapisi dengan kain penguat/kasa.

a. Diberi perekat kedua sisinya yang sobek untuk ditempelkan kembali.

b. Bila ada halaman buku yang sobek dan tidak mungkin direkatkan dengan lem, maka dapat diperbaiki dengan memfotokopi atau menscan halaman yang rusak itu (dari buku dengan judul yang sama) kemudian direkatkan kembali.

4) Perbaikan halaman yang lepas: Memberi lem pada punggung halaman untuk menempelkan halaman yang lepas itu, lalu dipres agar lemnya kuat dan rata.

5) Penyampul bahan pustaka: Bahan pustaka diberi sampul plastik atau kertas supaya lebih awet dan tidak mudah kotor.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa perawatan bahan pustaka sanga penting dilakukan yaitu dengan cara pelestarian, pengawetan, dan perbaikan bahan pustaka agar dapat digunakan kembali oleh para pengguna.

2.2.10 Cacah Ulang (Stock Opname) dan Penyiangan Koleksi (Weeding) Menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012, 6) “Cacah ulang (stock opname) adalah kegiatan pendataan ulang koleksi mencakup verifikasi lokasi dokumen, pemeriksaan dokumen yang tidak ada di tempat atau hilang, atau sedang dipinjam, serta memeriksa kondisi fisik koleksi”.

Menurut Zen (2013, 10) menyebutkan manfaat dari cacah ulang yaitu untuk mengetahui jumlah:

1. Koleksi terakhir di miliki perpustakaan.

2. Koleksi yang hilang.

3. Koleksi yang dipinjam tetapi belum dikembalikan.

4. Koleksi yang salah tempat.

5. Koleksi yang rusak.

6. Koleksi yang tidak pernah atau jarang digunakan.

7. Koleksi yang banyak diminati.

Sedangkan menurut Evans dalam Zen (2013, 10) menyebutkan alasan yang mendorong untuk melakukan kegiatan cacah ulang yaitu:

1. Untuk menghemat tempat (to save space).

2. Untuk memperbaiki akses (to improve access).

3. Untuk penghematan uang (to save money).

4. Untuk menyediakan tempat bagi koleksi baru (to make room for the newmaterials).

Sedangkan menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2012, 6)

“Penyiangan adalah kegiatan mengidentifikasi, memilih, dan mengeluarkan bahan perpustakaan dari jajarannya sesuai kebijakan pengembangan koleksi”.

Menurut Lasa (2005, 323) “Penyiangan adalah upaya pengeluaran sejumlah koleksi perpustakaan karena dianggap tidak relevan lagi, terlalu banyak jumlah eksemplarnya, sudah ada edisi baru, atau koleksi itu termasuk terbitan yang dilarang”.

Menurut Zen (2013, 12) menyatakan ketika diputuskan bahwa beberapa koleksi akan disiangi (dikeluarkan) dari koleksi perpustakaan, maka beberapa kegiatan yang harus dilakukan antara lain:

1. Membuat daftar koleksi yang akan disiangi.

2. Memberikan cap atau tanda yang menyatakan bahwa koleksi tersebut sudah dikeluarkan dari koleksi perpustakaan.

3. Mengeluarkan semua kartu katalog yang terkait dengan koleksi tersebut, misalnya kartu pengarang, kartu judul, kartu subjek, dan sebagainya.

Termasuk menghapus koleksi dari pengkalan data katalog terpasang.

4. Membuat laporan kegiatan penyiangan yang akan dilakukan secara sistematis.

5. Jika dimungkinkan koleksi hasil siangan dihadiahkan kepada perpustakaan lain yang memerlukan. Sebaiknya, sebelumnya mengirim surat tawaran kepada calon penerima.

6. Sering juga koleksi hasil siangan dijual dengan harga murah kepada anggota perpustakaan atau masyarakat umum.

7. Kedangkala koleksi hasil siangan dijadikan sebagai barter tukaran koleksi dengan perpustakaan lain.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa penyiangan koleksi yaitu kegiatan mengidentifikasi, memilih koleksi serta mengeluarkannya dari rak sesuai

dengan peraturan tertulis kegiatan penyiangan sebagai pedoman melaksanakan kegiatan penyiangan.

2.3 Evaluasi Koleksi

Evaluasi Koleksi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan koleksi di suatu perpustakaan. Evaluasi koleksi dilakukan untuk mengetahui sejauhmana koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan para penggunanya.

2.3.1 Pengertian Evaluasi Koleksi

Menurut Wisnu dalam Syukrinur (2017, 95) menyatakan bahwa:

“Evaluasi koleksi merupakan salah satu dari kegiatan pembinaan koleksi yang bertujuan untuk mengetahui secara lebih jelas siapa yang dilayani oleh perpustakaan dan koleksi apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk perencanaan bahan literatur lebih lanjut serta menilai koleksi agar relevansinya dapat dipertahankan”.

Menurut Credaro dalam Maryam (2015, 32) menyebutkan tiga cara mengevaluasi koleksi perpustakaan yaitu:

1. Survey opini pengguna yang berpusat pada user (pemustaka) melalui kuesioner atau interview.

2. Pendekatan conspectus yang melibatkan penggunaan deskripstor subjek.

3. Pendekatan cumulative, yang mengkombinasikan beberapa dari metode pertama dan kedua metode pengukuran koleksi.

Menurut Almah (2012, 20) “Evaluasi koleksi adalah kegiatan menilai koleksi perpustakaan baik dari segi ketersediaan koleksi itu bagi para pemakai maupun pemanfaatan koleksi itu oleh pemakai”.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa evaluasi koleksi adalah kegiatan menilai koleksi perpustakaan untuk mengetahui siapa yang dilayani oleh perpustakaan serta menilai koleksi agar relevansinya dapat dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan informasi para penggunanya.

2.3.2 Tujuan Evaluasi Koleksi

Evaluasi koleksi bertujuan untuk menyesuaikan koleksi yang ada di perpustakaan yang telah ditetapkan oleh masing-masing perpustakaan seperti kebutuhan pengguna dan latar belakang pengguna.

Menurut Syukrinur (2017, 95) menyatakan tujuan evaluasi koleksi perpustakaan adalah untuk:

1. Mencari pemahaman lebih akurat tentang wilayah (scope), kedalaman dan kegunaan dari koleksi.

2. Mempersiapkan pedoman dasar, membantu persiapan dan mengukur efektifitas kebijakan untuk pengembangan koleksi.

3. Menetapkan kecukupan dan kualitas dari koleksi.

4. Menetapkan adanya kekuatan khusus atau kelemahan dalam koleksi.

Menurut Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Zuraidah (2013, 30) tujuan dari evaluasi koleksi pada perpustakaan yaitu:

1. Mengetahui mutu, lingkup, dan kedalaman koleksi.

2. Menyesuaikan koleksi dengan tujuan dan program perguruan tinggi.

3. Mengikuti perubahan, perkembangan sosial budaya, ilmu dan teknologi.

4. Meningkatkan nilai informasi.

5. Mengetahui kekuatan dan kelemahan koleksi.

6. Menyesuaikan kebijakan penyiangan koleksi.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa tujuan evaluasi koleksi adalah untuk mengetahui mutu dan juga kedalaman serta kegunaan dari koleksi untuk meningkatkan nilai informasi pada koleksi perpustakaan.

2.3.3 Proses Evaluasi Koleksi

Proses evaluasi koleksi merupakan salah satu proses yang sangat penting dilakukan guna mengetahui sejauh mana keberhasilan pengembangan koleksi karena proses ini sangat menentukan kualitas dari koleksi yang dimiliki perputakaan. Dalam melakukan proses evaluasi koleksi terdapat metode-metode

evaluasi koleksi tercetak, tetapi ada unsur-unsur yang dapat digunakan dalam evaluasi sumber elektronik.

Menurut Zuraidah (2013, 31) metode evaluasi koleksi ada dua yaitu:

1. Metode terpusat pada koleksi

Metode ini terdapat beberapa cara untuk melakukan evaluasi koleksi, yaitu:

1) Pencocokan terhadap daftar tertentu, bibliografi atau katalog 2) Penilaian dari pakar

3) Perbandingan pada berbagai standar koleksi 2. Metode terpusat pada penggunaan

Metode ini terdapat beberapa cara melakukan evaluasi koleksi yaitu:

1) Melakukan kajian sirkulasi 2) Meminta pendapat pengguna

3) Menganalisis statistik pinjam antar perpustakaan

3) Menganalisis statistik pinjam antar perpustakaan