• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kurikulum Pesantren

Dalam dokumen TURNITIN BUKU MANAJEMEN KURIKULUM (Halaman 164-171)

BAB VIII PENGEMBANGAN KURIKULUM

B. Pengembangan Kurikulum Pesantren

kandungan kurikulum. Memperhatikan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta memperhatikan lingkungan sosialnya. Memperhatikan perbedaan individu yang meliputi bakat, minat, kemampuan serta memperhatikan perbedaan kelainan antar individu. Mempertikan prinsip perkembangan dan perubahan Islam yang menjadi sumber, falsafah, prinsip dan dasar kurikulum. Keterkaitan antara mata pelajaran, pengalaman, dengan muatan yang ada dalam kurikulum.

Dengan melihat fenomena tersebut di atas maka dalam pengembangan kurikulum diperlukan landasan serta anatomi yang kuat guna melakukan pengembangan kurikulum satuan pendidikan baik di Pondok Pesantren, Sekolah maupun Madrasah.

pesantren mengimplementasikan manajemen pengembangan kurikulum.

Dari segi praktik pendidikan, di pesantren tidak hanya sekadar belajar ilmu dan teori namun juga dilangsungkan dengan praktik. Praktik pendidikan ala pesantren seperti ini sangat khas dan berbeda. Itulah kelebihan sistem pendidikan pesantren. Teori dan praktik diintegrasikan dengan sangat baik dan berlangsung 24 jam dengan iklim yang kondusif.

Posisi penting disertai keunikan inilah yang saat ini banyak dimanfaatkan kalangan pesantren untuk berbenah guna menjadi lembaga yang ideal dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam proses berbenah itu secara intens pesantren membangun pola komunikasi melalui jalan pendidikan, dakwah dan pemberdayaan kepada masyarakat baik di kalangan internal maupun eksternal. Hal ini semata-mata demi mendukung tercapainya misi dan visi pesantren.

Dalam undang-undang Pesantren disebutkan bahwa dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia, pesantren yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dengan kekhasannya telah berkontribusi penting dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin dengan melahirkan insan beriman dan berkarakter, cinta tanah air dan berkemajuan serta terbukti memiliki peran nyata baik dalam pergerakan dan perjuangan meraih kemerdekaan maupun pembangunan nasional dalam negara kesatuan republic Indonesia.

Keunikan pendidikan pesantren dalam Undang-Undang Pesantren Tahun 2019 tidak hanya berasal dari asal-usulnya saja. Namun, lebih dari itu pendidikan khas Indonesia ini memiliki sistem pembelajaran yang sangat

berkarakter(Mastuhu, 1994).

Pesantren yang akrab disebut Dayah (Marhamah, 2018), Surau, Meusanah dan lainnya merupakan lembaga berbasis masyarakat dan didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam, dan atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT memegang teguh ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat dan nilai luhur bangsa Indonesia melalui pendidikan, dakwah dan keteladanan serta pemberdayaan masyarakat. pendidikan sebagaimana dikembangkan pesantren mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan pesantren dengan berbasis kitab kuning atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan muallimin.

Didalam sistem pendidikan pesantren ditemukan beberapa lembaga yakni Dirasah Islamiah dengan Pola Pendidikan Muallimin yang merupakan kumpulan kajian tentang ilmu agama Islam yang terstruktur, sistematis, dan terorganisasi (Helmiyah, 2022). Pendidikan Muadalah adalah Pendidikan Pesantren Yang diselenggarakan Pada jalur pendidikan Formal dengan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan Pesantren dengan berbasis Kitab Kuning atau Dirasah Islamiah dengan Pola Pendidikan muallimin secara berjenjang dan terstruktur (Nursyamsiyah, 2019). Pendidikan Diniyah Formal adalah Pendidikan Pesantren Yang diselenggarakan Pada jalur pendidikan formal sesuai dengan kekhasan Pesantren yang berbasis Kitab Kuning Secara berjenjang dan terstruktur (Mastur, 2022).

Ma'had Aly adalah Pendidikan Pesantren jenjang Pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pesantren dan berada di Lingkungan Pesantren Dengan mengembangkan kajian keislaman sesuai dengan kekhasan Pesantren yang berbasis Kitab Kuning secara berjenjang dan terstruktur (Permana, 2019).

44

Seorang pengembang kurikulum pesantren diharapkan mampu memetakan beberapa hal terkait kebutuhan santrinya seperti bagaimana akan dibentuk, apa saja yang menjadi isi kurikulum serta bagaimana proses untuk menyampaikan isi kurikulum kepada seluruh santri.

Bila dilihat dari ruang lingkupnya maka pesantren saat ini berfungsi sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan Dalam bentuk pengkajian Kitab Kuning disebut pesantren salaf; Pesantren Yang menyelenggarakan Pendidikan dalam Bentuk Dirasah Islamiah Dengan Pola Pendidikan Muallimin disebut pesantren modern dan Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk lainnya yang terintegrasi dengan pendidikan umum disebut pesantren terintegrasi.

Adapun lima unsur yang setidaknya terdapat dalam batang tubuh pesantren yakni kiai, santri yang bermukim, pondok atau asrama, masjid atau musalla dan kajian kitab kuning atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan muallimin(Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, 2003).

Isi kurikulum pada zaman kenabian sebagaimana dicontohkan oleh baginda Rosul Muhammad SAW di masa setidaknya dapat diklasifikasikan dalam beberapa hal dan hal tersebut dapat menjadi ruang orientasi dalam mengisi kurikulum pendidikan Islam masa kini, antaranya: pasca Nabi Muhammad SAW hijrah ke Kota Madina maka nabi membangun masjid yang menjadi pusat dakwah Islamiyah. Pada masa itu isi dan materi utama yang dilakukan baginda Nabi adalah pendidikan persatuan dan mengikis perbedaan suku dan memberantas pertikaian antara Muhajirin dan Anshar. Pengokohan ekonomi seperti berdagang dan bertani diperkuat. Salat, puasa, hasi dan zakat dielaborasi kepada masyarakat dengan contoh dan

2

tauladan serta etika adab yang baik. selain itu nabi juga menganjurkan dengan seksama tentang pengolahan kekuatan jiwa raga seperti pembelajaran memanah, menunggang kuda, berenang, membaca alQuran, keimanan dalam rukun iman, Ibadah (rukun Islam), akhlak mulia, dasar perekonomian, dasar perpolitikan, kesehatan dan olahraga, membaca dan menulis.

Berkiblat dari pemahaman unsur diatas maka pengembang kurikulum pesantren setidaknya memahami dengan bagitu baik akan hal yang mendasari dalam penetapan sebuah isi serta model kurikulum yang akan digunakan. Interpretasi terhadap konsepsi kurikulum tersebut dapat mempengaruhi pemikiran dari pengembang kurikulum yang kemudian berimplikasi pada muatan serta isi dan struktur dari kurikulum yang dikembangkan.

Dalam beberapa literasi, konsepsi seperti ini dibedakan ke dalam beberapa hal di antaranya landasan ideologis, landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan psikologis, landasan teknologis.

Salah satu tokoh yang mengupas tentang landasan kurikulum ini antaranya Murray Print yang membagi tiga landasan utama dalam pengembangan kurikulum pesantren yang selanjutnya dapat diadopsi dan diealaborasi dalam sistem pendidikan pesantren. Ketiga landasan yang dimaksud adalah philosophical sources, sosiological sources, psychological sources (Murray, 1993).

Pertama, landasan filosofis landasan filosofis; yaitu asumsi–

asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Kajian-kajian filosofis kurikulum menjawab permasalah-permasalahan berkisar: (1) Bagiamana seharusnya tujuan pendidikan itu dirumuskan, (2) isi atau materi

pendidikan yang bagaimana seharusnya diajarkan kepada siswa, (3) metode pendidikan apa yang seharusnya dilakukan pendidik dan peserta didik.

Kedua, landasan teologis (agama); landasan agama merupakan pijakan utama dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam. Karena tujuan dari pengembangan kurikulum PAI adalah penanaman nialai-nilai yang terdapat pada Alquran dan Assunah yang merupakan nilai yang kebenarannya mutlak dan universal. Prinsip dalam pendidikan agama Islam tentang penyusunan kurikulum menghendaki keterkaitannya dengan sumber pokok agama yaitu Alquran dan Hadis.

Ketiga, landasan psikologis; adalah asumsi–asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembaangkan kurikulum. dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan (Karakteristik perilaku/pola-pola perkembangan untuk menyesuaikan apa yang dididik dan bagaimana cara mendidik), dan (2) psikologi belajar (Perkembangan belajar melalui proses peniruan, pengingatan, latihan, pembiasaan, pemahaman, penerapan, pemecahan masalah). Teori-teori dalam psikologi belajar antara lain: Behaviorisme, Psikologi Daya, Perkembangan Kognitif, Teori Lapangan (Gestalt) dan Teori Kepribadian.

Berikutnya landasan sosiologis; adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antropologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Tugas para pengembang kurikulum adalah: (1) mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti dirumuskan dalam undang-undang, peraturan, keputusan pemerintah dan sebagainya; (2) menganalisis masyarakat tempat sekolah berada; (3) menganalisis syarat dan tuntutan terhadap tenaga kerja; (4)

2

menginterpretasi kebutuhan individu dalam rangka kepentingan masyarakat.

Dalam konteks pesantren, paling tidak terdapat lima hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya pengermbangan kurikulum dengan elaborasi landasan psikologis ini antaranya Tujuan pendidikan. Memahami psikologi pendidikan yang akan membantu pengembang kurikulum dalam menemukan dan mengungkap tujuan yang jelas dan sesuai dengan karakteristik santri. Selain itu, melalui pemahaman tersebut, para pengembang kurikulum dapat menentukan tujuan yang pantas sesuai dengan tingkat perkembangan santri. Karakteristik peserta didik atau santri di pesantren. Memahami sifat dan karakteristik alami peserta didik/ santri, perbedaan individual dan personality akan sangat membantu pengembang kurikulum untuk menentukan pilihan yang sesuai dalam mengambil keputusan kurikulum Proses pembelajaran. Pemahaman tentang bagaimana manusia belajar juga merupakan salah satu kajian psikologi yang pada akhirnya sangat berperan bagi pengembang kurikulum. Metode pengajaran. Psikologi membuat konstribusi yang sangat besar dalam menyeleksi pengalaman belajar dan metode pengajarannya di kelas. Dalam proses seleksi metode, pengembang kurikulum memperhitungkan teori-teori belajar.

Prosedur penilaian. Psikologi juga membantu pengembang kurikulum dalam memahami secara langsung bagaimana mengevaluasi santri dan ustadz.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa pengembangan kurikulum pesantren merupakan dokumen

2

kurikulum yang disusun dan dikembangkan oleh pesantren dengan mengacu pada nilai-nilai atau values Islam dengan memperhatikan standar pendidikan nasional yang meliputi pengembangan tujuan, isi dan bahan ajar, proses dan penilaian sebagai pedoman penyelenggara pesantren dengan mencapai tujuan pendidikan.

C. Manajemen Prosedur Pengembangan

Dalam dokumen TURNITIN BUKU MANAJEMEN KURIKULUM (Halaman 164-171)