BAB IV. USULAN PROGRAM UNTUK FESTIVAL KESENIAN
G. Satuan Pertemuan (SP) dengan Model SCP (Shared Christian
2. Pengembangan Langkah-langkah
“Teman-teman yang terkasih, pada pertemuan pendalaman iman kali ini kita akan bersama-sama menyadari peranan kita sebagai Orang Muda Katolik. Kita akan bersama-sama melihat sudah sejauh mana peranan dan penghayatan kita sebagai Orang Muda Katolik dalam hidup rohani sebagai orang kristiani. Di zaman sekarang, kita sering menemukan banyak sekali tantangan dan godaan yang membuat kita jauh dari Tuhan dan membiarkan diri kita hanyut dalam godaan tersebut. Pertemuan pada malam hari ini akan membicarakan “Peran Roh Kudus dalam Panggilan Hidup Orang Muda Katolik”. Hal ini menjadi penting bagi kita, karena sebagai Orang Muda Katolik hendaknya kita menyadari peran Roh Kudus dalam kehidupan kita sehingga kita tidak hanyut pada arus zaman yang penuh dengan tantangan dan godaan. Bagai pengikut Yesus, Yesus menjanjikan Roh Kudus sebagai penolong bagi kita agar ketika masalah dan godaan datang kita tetap setia dan berpegang teguh dan menyerahkan segala sesuatunya pada Yesus Kristus. Dengan demikian Roh Kudus diharapkan mampu meneguhkan panggilan kita sebagai Orang Muda Katolik sehingga dalam setiap tindakan dan tingkah laku senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus (Roh Kebenaran) agar dapat menjadi terang dan garam bagi orang lain.”
3. Doa Pembukaan
“Allah yang Maha kasih, kami bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu, karena rahmat peyertaan-Mu yang senantiasa menemani dan menuntun hidup kami sampai saat ini. Engkau adalah Roh kebenaran yang selalui menyertai hidup kami. Turunkanlah Roh Kudus-Mu dalam diri kami agar kami semakin menghayati panggilan kami sebagai Orang Muda Katolik dan supaya Roh Kudus-Mu senantiasa mendampingi dan mengarahkan setiap tindakan dan tingkah laku kami dalam kehidupan sehari-hari agar kami dapat menghayati peran Roh Kudus dalam kehidupan nyata baik dilingkungan Gereja maupun masyarakat. Sebab Engkaulah Tuhan dan Penyelamat kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.”
b. Langkah I: Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta
1. Para peserta diajak untuk menonton video Festival Kesenian Tradisional sebelumnya dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut:
a. Apa kesan kalian setelah melihat video tersebut?
b. Ceritakanlah pengalaman suka duka teman-teman dalam proses mempersiapkan Festival Kesenian Tradisional tersebut!
2. Peserta diberi kesempatan untuk mensharingkan pengalaman sehubungan dengan pertanyaan yang telah diberikan.
3. Rangkuman pendamping atas sharing peserta
“Teman-teman yang terkasih, dari sharing yang telah diungkapkan teman-teman tadi, dapat kita lihat bahwa dalam kehidupan kita yang nyata, baik dalam hidup menggereja maupun hidup dalam lingkungan masyarakat, banyak hal yang membuat kita bergumul, entah karena dari dalam diri kita sendiri maupun karena situasi dari luar yang kita alami. Teman-teman juga melihat bagaimana proses dan juga pertunjukan yang sudah teman-teman laksanakan, dimana teman-teman mampu untuk setia, mampu menggunakan peluang dengan sebaik mungkin, mampu menggunakan kesempatan dengan baik, dan memberikan dirinya untuk bekerja dengan penuh totalitas dan dedikasi, meskipun pekerjaan ada banyak kesibukan dan juga pekerjaan pribadi yang harus dikerjakan namun dengan menjalani proses untuk membuat sebuah karya seni bukanlah pekerjaan yang tidak mempunyai arti, melainkan membawa berkat baginya maupun bagi orang lain. Dalam kehidupan kita sering berjumpa dengan berbagai macam orang dengan karakter dan sifat yang berbeda-beda terkadang juga sering terjadi gesekan, masalah namun karena kita semua memiliki tujuan yang sama yaitu berkarya serta mengembangkan bakat yang Tuhan berikan, kita menjadi semakin terbuka dengan orang lain, saling
memahami dan menghargai satu sama lain sekaligus membagikan cinta kasih Tuhan kepada sesama.”
c. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta
1. Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman yang telah diungkapkan dalam langkah I dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:
a. Bagaimana sikap teman-teman dalam menghadapi suka duka dalam mempersiapkan Festival Kesenian Tradisional ditengah kesibukan sehari-hari?
b. Mengapa teman-teman mengambil sikap tersebut?
2. Pendamping memberikan rangkuman singkat atas jawaban-jawaban refleksi yang diungkapkan oleh peserta.
“Teman-teman yang terkasih, setelah kita merefleksikan pengalaman sebagai peserta Festival Kesenian Tradisional, baik hidup menggereja maupun hidup di tengah lingkungan masyarakat, dapat kita lihat bahwa banyak sikap yang kita ambil dalam menghadapi realitas hidup. Dalam menghadapi realitas hidup baik hidup menggereja maupun hidup di tengah masyarakat, cukup banyak dari kita yang kurang terlibat aktif dalam kegiatan menggereja dan kurangnya ambil bagian Orang Muda Katolik dalam tugas-tugas Gereja.
Karena kesibukan rutinitas orang muda. Festival Kesenian Tradisional merupakan wadah bagi kaum muda untuk berkarya, mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Ditenggah-tengah kesibukan dan rutinitas kita sehari hari, kita perlu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama dan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan gerejani salah satunya Festival Kesenian Tradisional yang digagas oleh anak-anak muda Katolik Rayon Kulon Progo sebagai sarana bagi kita anak-anak muda bersosialisai dan mengembangkan diri.
Dalam menjalani sebuah proses kita sering menjadi putus asa dan kecewa, kita sebagai pribadi tidak bisa hidup tanpa adanya suatu sikap yang kita tanamkan dalam diri kita, suatu dasar yang kita bangun dalam hidup kita. Saat kita berada dalam situasi sulit, berat dan menantang, kita terkadang mempertanyakan dimana kehadiran Tuhan itu? Seakan kita berjuang sendiri. Kendati demikian, namun Tuhan selalu hadir dan ikut serta dalam setiap pergumulan hidup kita, melalui Festival Kesenian Tradisional kita sebagai anak muda diajak untuk semakin mengembangkan diri, bersosialisasi sekaligus mengembangkan kesenian tradisional yang merupakan budaya indonesia yang patut dijaga, lestarikan dan dikembangkan. Dengan adanya Festival Kesenian Tradisional anak muda diharapkan dapat mengembangkan budaya, iman maupun pribadi secara utuh. Dengan begitu kehadiran Tuhan dapat kita rasakan melalui orang lain disekitar kita.”
d. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani
1. Salah seorang peserta dimohon untuk membacakan teks Kitab Suci yang diambil dari Kitab Kejadian 36-50.
2. Peserta diajak dan diberi waktu untuk merenungkan secara pribadi dan menanggapi isi Kitab Suci dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut:
a. Ayat-ayat mana yang mengesan bagi teman-teman terkait dengan tema pertemuan kita pada malam hari ini?
b. Dari Kitab Kejadian 36-50 yang kita baca, manakah pesan inti yang diajarkan Yesus bagi kita sebagai Orang Muda Katolik, baik dalam hidup menggereja, maupun hidup di tengah masyarakat?
3. Peserta diajak untuk mengungkapkan hasil permenungan pribadi sehubungan dengan dua pertanyaan di atas.
4. Pendamping menyampaikan interpretasi atau tafsir dari bacaan Kitab Kejadian 36-50.
“Kitab Kejadian 36-50, mengisahkan perjalanan hidup Yusuf, orang yang mengalami banyak warna kehidupan dalam menjawab panggilan Tuhan. Panggilan Tuhan membuatnya semakin jelas memahami suka dan duka yang dialaminya sebagai suatu proses. Dia adalah putra yang dikasihi ayahnya Yakub, namun ia dibenci oleh saudaranya sampai akhirnya ia disingkirkan
dan dijual ke Mesir menjadi budak. Budak merupakan salah satu “barang kepemilikan” majikannya dan boleh diperjualbelikan. Dengan keadaan seperti itu Yusuf harus mengalami perubahan status dari anak kesayangan menjadi budak. Penderitaan tersebut tidak sampai di situ saja. Dia harus berjuang terhadap godaan jahat yang berujung pada fitnahan dari Potifar seorang pegawai istana Firaun. Ia harus mendekam di penjara oleh karena memperjuangkan kebenaran terhadap fitnahan tersebut.
Cerita Yusuf tidak berakhir dalam kisah penderitaannya. Dia seorang yang jujur dan gigih dalam bekerja. Hal yang lebih penting lagi, ia menyadari bahwa Tuhanlah yang merencanakan semuanya (Kej. 45:7). Penyertaan Tuhan membuatnya selalu hidup taat di hadapan Tuhan sehingga dia disayang oleh majikannya karena. Kuasa Tuhan atas dirinya untuk menafsirkan mimpi membuat dia diperhitungkan dalam kerajaan Firaun. Hal tersebut berawal ketika Yusuf menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti dari istana Firaun. Kemudian tafsiran yang dilakukannya terhadap mimpi Firaun membuka peluang untuk memperoleh jabatan yang tinggi bagi Yusuf. Akhirnya, Yusuf menjadi penguasa atas seluruh negeri Mesir dan dia dikenal oleh seluruh pengisi negeri itu. Negeri Mesir menjadi kaya dan terkenal di bawah pimpinannya. Melalui semua peristiwa yang dialaminya, Yusuf mau memperkenalkan tujuan yang tersembunyi dari Allah yang telah mengirimnya.
e. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkrit
1. Pendamping menempatkan peserta dalam konteks dan situasi pertemuan serta menerapkan pesan inti Kitab Suci dalam pengalaman, kebutuhan dan situasi hidup konkrit peserta.
“Dalam pertemuan kita pada pagi hari ini, kita diingatkan dan disadarkan kembali bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai Orang Muda Katolik baik di Gereja maupun hidup di tengah masyarakat tempat kita tinggal. Yesus mau menyadarkan kita bahwa barang siapa mengasihi Dia, ia akan menuruti perintah-Nya. Dia mengajarkan dan mendorong kita, dimana kita dalam kehidupan sehari-hari sebagai kaum muda yang hidup dalam lingkungan masyarakat, kita sungguh mampu untuk mengasihi Dia dan menuruti perintah-Nya, dan bagaimana kita sebagai pengikut-Nya, mampu untuk menyadari Roh Kebenaran yang telah dijanjikan kepada kita, dapat kita rasakan, dapat kita lihat lewat tindakan dan perbuatan kita, dalam segala pergumulan dan tantangan hidup, seberat apapun hidup yang kita lalui, sesulit apapun jalan yang kita lewati.
“Kalau dalam awal pertemuan kita telah mengungkapkan pengalaman kita sebagai Orang Muda Katolik terkait dengan proses dalam kegiatan Festival Kesenian Tradisional dan kita juga telah mengungkapkan suka duka, ada yang kecewa, ada putus asa juga pengalaman kegembiraan dalam
melaksanakan kegiatan Festival Kesenian Tradisional sebagai peserta yang terlibat di dalamnya, maka sekarang kita akan mencoba untuk melihat pengalaman hidup kita dalam terang Kristus sendiri. Untuk itu marilah kita menjadikan pertemuan kita pada malam hari ini menjadi pertemuan yang sungguh berahmat, dimana kita dimampukan untuk menyadari dan memahami secara lebih mendalam dan bermakna akan keikutsertaan Kristus dan Roh Kudus yang telah dijanjikan bagi kita.
2. Sebagai bahan refleksi untuk semakin menghayati peran Roh Kudus dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai Orang Muda Katolik baik hidup menyangkut hidup menggereja maupun hidup di tengah masyarakat, untuk itu marilah kita terlebih dahulu secara pribadi merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a. Apa arti peran Roh Kudus bagi diri dan hidup teman-teman sebagai Orang Muda Katolik, baik menyangkut soal hidup menggereja, maupun hidup di tengah masyarakat?
b. Dalam hal manakah teman-teman, disadarkan, dikuatkan, dan diteguhkan sehubungan dengan peran Roh Kudus dalam kehidupan kita sebagai Orang Muda Katolik, baik hidup menggereja maupun hdup di tengah masyarakat?
3. Peserta diberikan kesempatan untuk mengungkapkan hasil