• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MUSEUM TANI INDONESIA

SEBAGAI WISATA EDUKASI DI KABUPATEN

KLATEN

A. Perkembangan Museum Tani Indonesia Sebagai Wisata

Edukasi di Kabupaten Klaten

Gagasan pendirian museum Tani Indonesia muncul dari ketua Museum Tani Indonesia yaitu Prof. Dr. Suratman, M.Sc, gagasan tersebut sudah ada sejak tahun 2002. Sejak tahun 2002, Prof. Dr. Suratman, M.Sc mulai mengumpulkan koleksi-koleksi tentang pertanian yang berasal dari seluruh Indonesia. Tahun 2009 ditentukan gedung untuk penempatan koleksi-koleksi Museum Tani Indonesia yaitu berada di rumah keluaga Prof. Dr. Suratman, M.Sc yang cukup luas. Tahun 2010 Museum Tani Indonesia diresmikan oleh Bupati Kabupaten Klaten yaitu Sunarno, S.E. Tahun 2011 penambahan atraksi wisata berupa mengelilingi desa Selorejo yang mempunyai pemandangan alam yang indah menggunakan bendi kemudian penambahan atraksi wisata berupa kesenian tradisional Keroncong dan Gejog Lesung dan pemutaran film bercocok tanam. Tahun 2012 belum ada penambahan atraksi maupun fasilitas di Museum Tani Indoesia.

Sejak diresmikan pada September tahun 2010, Museum Tani Indonesia sudah dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak pengelola Museum Tani Indonesia, berikut wisatawan yang tercatat yang telah mengunjungi Museum Tani Indonesia :

commit to user

1. Rombongan PLPBK kabupaten Karanganyar

2. Keluarga besar UPT Dikdes LS kecamatan Simo, Boyolali

3. Kelompok KKN UGM tahun 2011 Yogyakarta

4. Tv Borobudur Semarang

5. UPTD Pertanian kecamatan Simo Sukoharjo

Wisatawan manca yang sudah mengunjungi Museum Tani Indonesia adalah wisatawan dari Cina dan Australia. Pengelola tidak mempunyai data mengenai wisatawan yang berkunjung secara Individu dan bukan dalam bentuk rombongan karena untuk mengunjungi Museum Tani Indonesia belum dikenakan retribusi atau karcis masuk.

B. Analisis 4A Museum Tani Indonesia

Menurut Ariyanto dalam bukunya yang berjudul Ekonomi Pariwisata ada

empat aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam penawaran pariwisata. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut :

1. Attraction (daya tarik)

Daerah tujuan wisata untuk menarik wisatawan pasti memiliki daya

tarik, baik daya tarik berupa alam maupun masyarakat dan

budayanya.Wisatawan yang berkunjung ke Museum Tani Indonesia dapat menikmati berbagai koleksi mengenai pertanian, mulai dari alat- alat pertanian, jenis -jenis tanah dari berbagai daerah di Indonesia, gambar-gambar mengenai pertanian, berbagai macam jenis seranga, selain itu wisatawan yang berkunjung juga dapat menyaksikan pemutaran film mengenai bercocok tanam, mulai dari awal pengolahan tanah, penanaman hingga saat memanen. Kesenian tradisioanal keroncong dan musik Lesung

juga terdapat di Museum Tani Indonesia, namun kesenian tersebut tidak setiap hari ada. Kesenian tersebut baru dimainkan jika ada permintaan dari para wisatawan.

Wisatawan juga dapat berkeliling desa Selorejo, Krakitan Bayat menggunakan bendi atau delman sambil menikmati pemandangan alam berupa persawahan dan bukit yang masih alami.

2. Accesable (transportasi)

accesable dimaksudkan agar wisatawan domestik dan mancanegara

dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata.

Untuk menuju Museum Tani Indonesia yang terletak di dusun Selorejo, Krakitan, Bayat dapat ditempuh :

a) Dari Solo lalu melewati jalan by pass Klaten-pasar Srago kemudian menuju museum Tani Indonesia. Transportasi yang bisa digunakan : Bus pariwisata, kendaraan pribadi, taxi, jika menggunakan bus umum dapat menaiki bus jurusan Solo-Jogja lalu turun dipasar Sargo Kemudian naik ojek menuju Museum Tani Indonesia.

b) Dari Jogja lalu melewati jalan by pass Klaten – pasar Srago kemudian menuju Museum Tani Indonesia. Transportasi yang bisa digunakan : Bus pariwisata, kendaraan pribadi, taxi, jika menggunakan bus umum dapat menaiki bus Jogja- Solo lalu turun di pasar Sargo Kemudian naik ojek menuju Museum Tani Indonesia.

Papan petunjuk menuju Museum Tani Indonesia masih sangat kurang namun kondisi jalan menuju obyek sudah bagus.

commit to user

amenities memang menjadi salah satu syarat daerah tujuan wisata agar wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di daerah tujuan wisata. Fasilitas yang ada di Museum Tani Indonesia :

1) Terdapat area parkir

2) Penerangan / listrik sudah ada 3) Toilet

4) Tempat Ibadah

5) Air bersih tersedia

6) Puskesmas yang letaknya 1km dari obyek wisata ini

7) Angkutan umum yang terdapat di sekitar obyek ini hanya Ojek.

4. Ancillary (kelembagaan)

lembaga pariwisata suatu daerah tujuan wisata membuat wisatawan dapat merasakan keamanan (protection of tourism) dan terlindungi.

Museum Tani Indonesia dikelola secara swasta, pembangunannya dibiayai dengan dana pribadi, berikut Struktur organisasi Museum Tani Indonesia

Ketua : Prof. Dr. Suratman, Msc

Sekretaris : Suharto

Bendahara : Srimulyani

C. Strategi Pengembangan Museum Tani Indonesia untuk

Menjadi Wisata Edukasi di Kabupaten Klaten

Pembangunan Museum Tani Indonesia sebagai salah satu wujud program “Klaten Menuju Kabupaten Agropolitan” (Wawancara dengan Suharno, pada

tanggal 27 April 2012), yang menjadi latar belakang program Klaten Menuju Kabupaten Agropolitan adalah Kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan kabupaten Klaten pada umumnya masih tertinggal dibandingkan masyarakat perkotaan. Hal ini sebagai konsekuensi adanya perubahan ekonomi dan proses Industrialisasi. Interaksi desa-kota selama ini dalam posisi saling memperlemah. Wilayah pedesaan dengan kegiatan utama sektor pertanian mengalami produktifitas yang menurun, sebagai akibat negatif dari adopsi teknologi modern di bidang pertanian, yang menyebabkan terjadinya degradasi lahan dan penurunan kualitas produk pangan (mengandung residu pestisida ditambah harga produk pertanian turun waktu panen, sedang harga pupuk mahal) sehingga petani semakin lemah kondisi ekonominya. Disisi lain wilayah perkotaan sebagai tujuan pasar dan

pusat pertumbuhan menerima beban lebih, sehingga menimbulkan

ketidaknyamanan akibat masalah sosial dan lingkungan (pencemaran dan buruknya sanitasi). Berkembangnya kota sebagai pusat pertumbuhan ternyata tidak mampu memberikan efek penetasan ke bawah (pedesaan), tetapi justru menimbulkan efek pengawasan sumberdaya dari sekitarnya.

Program pengembangan kota sebagai pusat pertumbuhan tidak menguntungkan tetapi merugikan pertumbuhan kawasan pedesaan, oleh karenanya perlu diciptakan suatu konsep pengembangan desa-kota yang lebih terintegrasi. Desa-kota sebagai sebuah fenomena yang bertautan dan masyarakat di dalamnya secara bersama memecahkan masalah kemiskinan. Perkembangan ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan, yang dikenal dengan istilah Kawasan Agropolitan. Perkembangan kawasan agropolitan merupakan salah satu upaya untuk mempercepat pertumbuhan kawasan pedesaan, sehingga masyarakat

commit to user

pedesaan khususnya petani, lebih mudah dan dekat untuk mendapatkan pelayanan, baik pelayanan yang berhubungan dengan produksi, maupun kebutuhan sosial budaya dan kehidupan sehari-hari.

Visi :

terwujudnya kesejahteraan masyarakat dan kelestarian fungsi lingkungan serta sumber daya alam yang berkelanjutan berbasis pembangunan Agropolitan.

Misi :

1. Mewujudkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan untuk mencapai

optimalisasi produktifitas lahan.

2. Mengembangkan kegiatan agroproduksi, agroindutri, agrobisnis,

agroteknologi, dan agrowisata secara terpadu.

3. Menguatkan kapasitas sumber daya manusia, kelambagaan, jejaring dan

infrastruktur sumber, untuk meningkatkan kualitas sosial ekonomi masyarakat.

4. Mengembangkan potensi ekonomi makro & mikro berbasis agropolitan

Tujuan :

Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, melalui percepatan pengembangan wilayah dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan usaha agrobisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, secara bersama untuk memecahkan kemiskinan dan pengangguran. Melalui pengembangan ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan di kawasan agropolitan

Sasaran :

Mengembangkan kawasan pertanian yang berpotensi menjadi kawasan agropolitan, melalui :

1) Pemberdayaan masyarakat.

2) Penguatan kelembagaan ekonomi.

3) Pengembangan kelembagaan agroproduksi, agroindustri, agrobisnis,

agroteknologi dan agrowisata.

4) Peningkatan sarana dan prasarana.

5) Pengembangan iklim yang kondusif bagi investor.

6) Peningkatan kesejahteraan sosial.

Sesuai dengan program “Klaten Menuju Kabupaten Agropolitan”, maka untuk menunjang keberadaan museum Tani Indonesia agar menjadi sebuah wisata edukasi yang menarik untuk dikunjungi maka pengelola museum Tani Indonesia berencana mengembangkan kawasan desa Selorejo tersebut menjadi sebuah kawasan wisata edukasi yang diberi nama “Kampung Wisata Tani”, dalam kampung wisata tani ada berbagai macam aktifitas wisata yang dapat dilakukan wisatawan di dalam obyek tersebut, antara lain:

a) Koleksi tani daerah/adat dan luar negeri b) Pertunjukan film dan theatre tani

c) Pameran/gallery tani

d) Praktek bertani

e) Praktek memasak

f) Outbond alam desa

g) Workshop kerajinan

h) Village tour (bendi, sepeda ontel)

i) Pemancingan

commit to user

k) Kesenian tradisonal dan tari-tari l) Perpustakaan tani

m) Pusat informasi pertanian

n) Kebun buah/petik buah

o) Souvenir budaya tani

p) Resto alam tani/nature dan tradisional food

q) Homesay ala desa

r) Photo action ala tani s) Mini laboratorium tani t) Pelatihan/sekolah alam u) Festival tani

v) Kebun bibit

w) Kongres burung

x) Upacara tradisi tani

Wisatawan yang mengunjungi Museum Tani Indonesia sudah memenuhi 3 kategori, pengunjung yang mendatangi museum memiliki 3 kategori (wawancara dengan Sri Mulyani, pada tanggal 28 April 2012) :

a) Pendidikan

Kunjungan ke museum dengan tujuan pendidikan atau edukasi yang diharapkan dengan adanya kunjungan ke Museum Tani Indonesia dapat menambah ilmu pengetahuan bagi wisatawan namun juga tidak meninggalkan unsur kesenangan atau rekreasi.

Museum Tani Indonesia menghadirkan koleksi-koleksi tentang pertanian yang diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pertanian

Indonesia yang menghasilkan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia sehingga pengunjung yang datang mengetahui berbagai hal tentang pertanian, pemutaran film pertanian juga menjadi suatu sumber ilmu pengetahuan tentang pertanian.

b) Rekreasi

Museum Tani Indonesia merupakan obyek wisata edukasi yang juga memberikan unsur rekreasi antara lain penampilan musik tradisional keroncong serta musik lesung selain itu juga terdapat wisata Delman yang membawa wisatawan mengelilingi desa Selorejo yang masih alami menggunakan delman.

c) Penelitian

Museum Tani Indonesia dapat dijadikan sarana penelitian khususnya dalam bidang pertanian. Susunan tanah desa Selorejo Krakitan Bayat yang sangat cocok untuk area persawahan dapat menjadi sebuah obyek penelitian tentang ilmu geografi.

Untuk memenuhi kebutuhan 3 kategori pengunjung tersebut, maka pengelola museum Tani Indonesia mengupayakan penyajian pameran di museum menggunakan 5 pendekatan:

a) Pendekatan Evokatif

Pendekatan evokatif ialah penyajian pameran yang memberikan gambaran tentang fungsi benda dalam konteksnya dengan masa lalu.

Penyajian koleksi-koleksi di Museum Tani Indonesia sudah terdapat penjelasan tentang nama-nama benda yang dipamerkan, agar pengunjung lebih jelas dalam menikmati benda-benda yang ada di museum maka penataan

commit to user

koleksi di museum Tani kedepannya dibuat lebih rapi dan lebih terperinci mengenai fungsi benda-benda yang dipamerkan agar wisatawan yang datang dapat mengerti mengenai fungsi benda-benda yang dipamerkan di dalam Museum.

b) Pendekatan Estetika

Pendekatan estetika ialah penyajian pameran yang memperlihatkan unsur keindahan. Penataan display di dalam museum Tani Indonesia masih kurang menarik dan kurang rapi, pihak pengelola akan menata ulang benda-benda koleksi di museum dengan rapi dan berurutan dari benda-benda-benda-benda pertanian yang berasal dari sabang hingga merauke, sehingga wisatawan yang berkunjung akan lebih mudah dalam mengingat dan mempelajarinya kemudian pihak pengelola juga akan membuat penataan cahaya dan penambahan ornament pertanian yang akan menambah unsur keindahan di dalam Museum Tani Indoesia.

c) Pendekatan Afektif

Pendekatan afektif ialah penyajian pameran yang dapat membangun minat khusus pengunjung.

Museum Tani Indonesia memamerkan berbagai alat pertanian yang berasal dari berbagai daerah di Indonesa hal tersebut mendorong rasa keingintahuan wisatawan yang berkunjung untuk menggunakan alat-alat pertanian tersebut secara langsung.

d) Pendekatan Intelektual

Pendekatan Intelektual dalah penyajian materi hasil kajian intelektual. Museum Tani Indonesia selain memamerkam segala peralatan pertanian juga

memamerkan jenis-jenis lapisan tanah yang ditampilkan dalam bentuk gambar yang merupakan hasil penelitian Serta hasil pengukuran tingkat kesuburan tanah yang telah dilakukan.

e) Pendekatan Simbolik

Pendekatan Simbolik adalah penyajian pameran untuk mencapai tingkat emosi tertentu dari pengunjung.

Letak museum Tani Indonesia yang didepannya terdapat areal persawahan membuat pengunjung merasa benar-benar merasakan nuansa pertanian dan pedesaan

Perancangan ruangan museum Tani Indonesia akan dibuat dengan nuansa hijiau yang melambangkan kealamian kemudian di dalam museum juga akan ada sound tentang tembang jawa maupun lagu daerah dari provinsi lain agar pengunjung yang datang seakan-akan merasakan suasana pedesaan yang sebenarnya.

Pengelola museum Tani Indonesia memasarkan museum Tani

Indonesia melalui strategi marketing mix yang melibatkan beberapa

komponen :

a) Product

Meliputi pengemasan, pelayanan, branding, image dan reputasi. Museum Tani Indonesia menawarkan wisata edukasi didalam museum dan wisata rekreasi berupa berkeliling desa Selorejo menggunakan Bendi, menyaksikan kesenian tradisional Keroncong dan Gejog Lengsung.

commit to user

Mengunjungi museum Tani Indonesia sejak diresmikan hingga sekarang belum dikenai retribusi, hanya bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kesenian tradisional Keroncong, Gejog Lesung dan berkeliling menggunakan bendi dikenakan retribusi yang besarnya tergantung dari banyaknya wisatawan yang ingin menyaksikan, rata-rata besarnya retribusi untuk setiap wisatawan adalah Rp. 15.000,- untuk setiap atraksi wisata yang dipilih( kesenian tradisional Keroncong/gejog Lesung / berkeliling menggunakan Bendi).

c) Promotion

Pengelola museum Tani Indonesia sejak diresmikan menggunakan sarana promosi melalui Koran dan internet namun museum Tani Indonesia belum mempunyai web sendiri, yang lebih memudahkan para wisatwan untuk mengetahui keberadaan museum Tani Indonesia. Untuk memasarkan museum Tani Indonesia agar lebih dikenal oleh masyarakat luas maka pengelola Museum Tani Indonesia berencana menambah sarana promosi agar Museum Tani Indonesia lebih dikenal oleh wisatawan, sarana promosi tersebut melalui:

1. Pembuatan Website museum Tani Indonesia

2. Publikasi melalui leaflet, brochure

3. Mengundang wakil-wakil perusahaan biro perjalanan wisata untuk

mengunjungi museum Tani Indonesia. 4. Publikasi melalui media cetak.

d) Place

Meliputi jaringan distribusi dan lokasi yang strategis dan terjangkau. Lokasi museum Tani Indonesa dan Kampung Wisata Tani Indonesia yang terletak di desa Selorejo, Krakitan, Bayat masih sangat alami. Pemandangan

alam dan struktur tanah yang sangat cocok untuk lahan pertanian menjadi daya dukung yang besar bagi keberadaan museum Tani Indonesia dan kampung wisata Tani. Wistawan akan lebih tertaik dengan suasana alam pedesaan yang masih alami.

Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi museum Tani Indonesia dalam pengembangannya sebagai wisata edukasi dapat di analisis melalui Analisis SWOT :

1) Strength (kekuatan)

Museum Tani Indonesia terletak di desa Seloejo, Krakitan, Bayat yang bernuansakan alam pedesaan, jadi sesuai dengan tema yang dipakai museum tersebut yaitu museum Tani Indonesia, di depan museum tersebut adalah areal persawahan yang membentang luas, jadi pengunjung yang datang ke museum tersebut dapat merasakan nuansa persawahan dan mendapat pengetahuan mengenai segala hal tentang pertanian. Selain itu letak museum Tani Indonesia cukup strategis karena terletak dekat dengan obyek wisata yang sebelumnya sudah berdiri yaitu rowo Jombor, hal ini dapat bermanfaat bagi perkembangan museum Tani Indonesia karena dapat dibuat suatu jalur paket wisata yang searah dengan rowo Jombor. Museum Tani Indonesia merupakan salah satu museum yang yang ada di Kabupaten Klaten yang bertemakan Pertanian.

2) Weaknesses (kelemahan)

Museum Tani Indonesia terletak di desa Selorejo Krakitan Bayat yang akses menuju obyek tersebut belum terjangkau oleh kendaraan umum seperti bus ataupun angkutan desa. Penataan display yang masih kurang rapi serta kurangnya perawatan dikarenakan kurangnya petugas yang mengelola. Kurang tersedianya

commit to user

dana dan perhatian pemerintah menjadikan perkembangan museum Tani Indonesia terhambat, Kurangnya kegiatan promosi untuk memperkenalkan Museum Tani Indonesia kepada wisatawan. Kesadaran masyarakat sekitar mengenai sadar wisata masih kurang sehingga perlu dilakukan penyuluhan agar masyarakat sekitar dapat mengerti dan dapat mendukung aktivitas wisatwan di dalam museum Tani Indonesia dan Kampung Wista Tani.

3) Opportunities (Peluang)

Museum Tani Indonesia merupakan salah satu museum yang terletak di kabupaten Klaten dengan tema pertanian. Hal ini menjadi suatu daya tarik bagi wisatawan yang akan berkunjung. Letak museum Tani Indonesia yang berada di tengah pemukiman penduduk serta di depan areal persawahan menjadi daya tarik tersendiri karena menambah suasana alam yang sangat identik dengan pertanian. Keberadaan Museum yang bertemakan pertanian belum terlalu banyak khususnya di Jawa Tengah

4) Threats (Ancaman)

Ancaman untuk museum Tani Indonesia antara lain adalah banyaknya obyek wisata lain yang mempunyai daya tarik yang lebih sehingga membuat Museum Tani Indonesia kurang diminati oleh para wisatawan.

Adanya kemajuan zaman serta moderenisasi menjadikan lahan pertanian semakin sempit serta teknologi yang semakin maju menjadikan tradisi pertanian yang menjadi ciri khas pedesaan mulai ditinggalkan

commit to user

E. Upaya yang Bisa Dilakukan Pengelola Bagi Pengembangan

Museum Tani Indonesia Sebagai Wisata Edukasi

Museum Tani Indonesia untuk menjadi wisata edukasi yang menarik wisatawan yang berkunjung, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan pengelola bagi pengembangan museum Tani Indonesia sebagai wisata edukasi:

1. Atraksi

Pengelola Museum Tani Indonesia agar dapat menjadi sebuah wisata edukasi yang diminati oleh wisatawan maka perlu adanya penambahan atraksi wisata seperti:

a. Praktek bertani, hal ini dapat menambah minat wisatawan yang

berkunjung karena dapat mempraktekan secara langsung alat-alat pertanian yang dipamerkan dalam museum Tani Indonesia

b. Penambahan arena outbond

c. Pelatihan pembutan souvenir, seperti :batik

d. Pelatihan kesenian daerah, seperti : tari tradisional, seni Karawitan

e. Pelatihan membuat makanan tradisional.

2. Fasilitas

a. Penambahan warung makan agar wisatawan akan merasa nyaman selama

berada di dalam obyek. b. Disediakan jasa Guide

c. Disediakan pos keamanan dan pusat informasi bagi wisatawan

d. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah desa

commit to user

3. Transportasi

a. Penambahan papan petunjuk jalan menuju obyek, agar wisatawan dapat mudah menemukam letak Museum Tni Indonesia.

b. Akses menuju obyek disediakan shutle agar wisatawan lebih mudah untuk

menuju obyek.

4. Kelembagaan

a. Mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan museum Tani

Indonesia, masyarakat lokal terutama penduduk asli yang bermukim di kawasan selorejo menjadi salah satu pemain kunci dalam pengembangan sebuah obyek, karena sesungguhnya merekalah yang akan menyediakan sebagian besar atraksi sekaligus menetukan kualitas produk wisata. Peran msayarakat lokal tampak dalam bentuk penyediaan akomodasi, warung makanan, souvenir dan jasa guiding dan penyediaan tenaga kerja, selain itu masyarakat lokal biasanya juga mempunyai tradisi dan kearifan lokal dalam pemeliharaan sumber daya pariwisata.

b. Mengonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk

menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata.

commit to user

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Museum Tani Indonesia yang terletak di desa Selorejo, Krakitan, Bayat menawarkan berbagai koleksi tentang pertanian yang berasal dari seluruh Indonesia yang dapat menambah ilmu pengetahuan bagi wisatawan yang berkunjung, selain dapat menikmati koleksi pertanian yang berada di museum Tani Indonesia, wisatawan juga dapat menikmati kesenian tradisional Keroncong, Gejog Lesung dan berkeliling desa Selorejo menggunakan Bendi.

Museum Tani Indonesia sudah mengalami perkembangan namun untuk

menjadi sebuah museum yang bertaraf Internasional masih sangat diperlukan penambahan fasilitas, penambahan atraksi wisata serta penambahan koleksi yang dimiliki. Wisata edukasi yang ditawarkan museum Tani Indonesia adalah koleks-koleksi yang ada di museum dan pemutaran film pertanian.

Kendala yang dihadapi museum Tani Indonesia dalam pengembangannya sebagai wisata edukasi antara lain Kendala mengenai pendanaan, serta promosi yang dilakukan pengelola Museum Tani Indonesia saat ini hanya melalui koran dan internet, untuk menuju ke obyek hanya bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi sedangkan bagi yang ingin menggunakan kendaraan umum hanya tersedia jasa ojek, untuk dapat bersaing dengan daerah tujuan wisata lainnya yang berada di kabupaten Klaten, museum Tani Indonesia masih sangat memerlukan pengembangan yang optimal.

commit to user

B. Saran

Menjadikan museum Tani Indonesia menjadi suatu daerah tujuan wisata yang menarik maka pengelolaan obyek harus lebih optimal, perlu adanya penataan ulang display pameran dan penambahan koleksi benda-benda yang dipamerkan.

Penambahan fasilitas-fasilitas yang menunjang demi kenyamanan wisatawan saat mengunjungi museum Tani Indonesia. Rencana pengembangan museum Tani Indonesia hendaknya segera dibangun agar dapat menarik wisatawan dan membangun perekonomian masyarakat desa Selorejo, Krakian, Bayat.

Dokumen terkait