Pengembangan perikanan budidaya di wilayah kecamatan dilihat berdasarkan pemusatan aktifitas dan potensi kesesuaian lahan untuk budidaya di wilayah kecamatan tersebut. Pusat aktifitas wilayah dianalisa dengan menggunakan analisis LQ (Location Quotient). Dengan menggunakan LQ dapat dianalisa peranan suatu sektor pada wilayah, sehingga dapat diketahui potensi ekonomi suatu wilayah berdasarkan aktifitas ekonomi wilayah tersebut. Analisis LQ menggunakan indikator nilai produksi menurut jenis budidaya pada tahun 2005 di wilayah kecamatan pantai Kabupaten Kutai Timur (Lampiran 3). Nilai
LQ dari sektor-sektor budidaya di wilayah kecamatan pantai di pesisir Kabupaten Kutai Timur dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Nilai LQ Kecamatan Pantai di Pesisir Kabupaten Kutai Timur
Sumber: Hasil Analisis Data Sekunder
Keterangan: LQ suatu sektor < 1, sektor tersebut merupakan sektor non-basis LQ suatu sektor ≥ 1, maka sektor tersebut merupakan sektor basis (*) Luas kesesuaian lahan budidaya diperoleh dari hasil analisis spasial terhadap peta komposit. Namun karena belum ada pembagian wilayah administratif di perairan, untuk menentukan garis batas wilayah perairan yang membagi dua kecamatan dilakukan dengan cara menarik garis yang tegak lurus dengan garis pantai. Cara ini seperti yang dilakukan untuk membagi wilayah perairan antar provinsi (informasi dari Bp. Dr. Sapta Putra Ginting). Hasil penghitungan luas kesesuaian lahan perikanan budidaya di pesisir tiap kecamatan dapat dilihat pada Tabel 23.
Tabel 23. Luas Kesesuaian Lahan Perikanan budidaya di Pesisir Kecamatan Pantai Kabupaten Kutai Timur (ha)
Sumber: Hasil Analisis Data Spasial
Sektor Kecamatan Perikanan
pesisir Perikanan Darat Tambak Kolam Karamba Kerapu Rumput Laut
Sangatta 0,47 1,67* 0,26 2,51* 2,50* 0,88 Sangkulirang 1,07* 2,90* 1,21* 0,00 0,00 2,65* Kaliorang 1,66* 0,00 1,48* 0,00 0,00 1,07* Bengalon 0,47 0,00 1,72* 0,00 0,00 0,00 Sandaran 50,26* 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Kecamatan
Sangatta Bengalon Kaliorang Sangkulirang Sandaran Kesesuaian
Lahan
Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) %
Total (Ha) S1 Karamba - 0,00 - 0,00 38,610 7,09 506,201 92,91 - 0,00 544,811 S1 Rumput Laut 265,698 8,31 56,660 1,77 524,648 16,41 1.766,032 55,23 584,297 18,27 3.197,335 S1 Tambak 828,317 32,20 386,226 15,02 72,731 2,83 1.142,400 44,41 142,546 5,54 2.572,220 S2 Karamba 6,616 1,00 8,920 1,35 22,497 3,41 177,607 26,91 444,319 67,33 659,959 S2 Rumput Laut 1.626,786 25,77 888,485 14,08 1.204,185 19,08 764,047 12,10 1.828,862 28,97 6.312,365 S2 Tambak 1.709,640 23,90 763,777 10,68 823,446 11,51 2.277,259 31,83 1.580,451 22,09 7.154,573
Kecamatan Sangatta
Analisis nilai LQ menunjukkan bahwa di Kecamatan Sangatta, yang merupakan ibukota kabupaten, sektor budidaya karamba (LQ = 2,50) merupakan sektor basis di kecamatan ini. Sedangkan sektor budidaya tambak dan rumput laut bukan sektor basis karena nilai LQ kurang dari 1. Budidaya karamba mungkin dapat dikembangkan di Kecamatan Sangatta, karena telah menjadi sektor yang diandalkan untuk saat ini, namun hasil analisis spasial menunjukkan bahwa kesesuaian lahan untuk budidaya karamba tidak ada yang masuk pada kelas sangat sesuai, sehingga mungkin keberlanjutan usaha budidaya akan terbatas karena dipengaruhi oleh faktor-faktor pembatas budidaya, antara lain karena sifat fisik hidro-oseanografi yang kurang mendukung.
Pada musim selatan tahun 2006 (sekitar bulan Agustus) ada beberapa unit karamba tancap yang hancur diterjang ombak di pesisir Tanjung Bara. Oleh sebab itu akan lebih baik bila yang dikembangkan di Kecamatan Sangatta adalah budidaya rumput laut, karena budidaya rumput laut tidak memerlukan bangunan kayu yang permanen dan mahal seperti karamba, sehingga bila tiba musim selatan pembudidaya hanya cukup mengangkat tali biang/tali ris dan tidak menanam rumput laut untuk menghindarkan kerugian. Sementara untuk budidaya karamba, karamba yang telah ditancapkan tidak dapat dengan mudah dicabut dan diangkat ke daratan.
Menurut hasil analisis spasial, perikanan budidaya yang mungkin dikembangkan di pesisir Kecamatan Sangatta adalah budidaya tambak dan budidaya rumput laut.
Kecamatan Bengalon
Kecamatan Bengalon, sektor yang menjadi sektor basis hanya budidaya tambak. Saat ini perairan pesisir di Kecamatan Bengalon belum dimanfaatkan sama sekali untuk perikanan budidaya pesisir, sehingga nilai LQ sektor lain masih nol. Namun sektor budidaya tambak merupakan andalan, bahkan di tingkat kabupaten nilai basisnya paling besar, sehingga ke depannya Kecamatan Bengalon dapat dijadikan sentra budidaya tambak di Kabupaten Kutai Timur. Hal ini didukung dengan luas potensial kesesuaian lahan untuk budidaya tambak yang
cukup luas. Luas potensial kesesuaian lahan untuk tiap-tiap sektor budidaya di tiap kecamatan disajikan pada Tabel 23.
Lahan yang sangat sesuai untuk budidaya rumput laut juga ada di Kecamatan Bengalon, namun potensinya kecil sehingga untuk pengembangannya kurang menguntungkan, karena tidak sesuai antara biaya untuk pembangunan sarana dan infrastruktur dibandingkan perolehan keuntungan dari budidaya. Selain itu, bila Bengalon dijadikan sebagai sentra budidaya tambak, maka kualitas perairan di pesisir akan cenderung menurun karena limbah dari tambak dan mungkin menjadi tidak sesuai lagi untuk budidaya rumput laut dan karamba.
Kecamatan Sangkulirang
Kecamatan Sangkulirang mempunyai sektor basis pada budidaya tambak (LQ=1,21) dan rumput laut (LQ=2,65). Budidaya rumput laut mempunyai nilai basis yang paling besar di tingkat kabupaten, sehingga Kecamatan Sangkulirang dapat dijadikan sebagai sentra produksi rumput laut, karena berdasarkan hasil analisis spasial, kesesuaian lahan potensial untuk budidaya rumput laut di Teluk Sangkulirang cukup luas.
Selain budidaya rumput laut Kecamatan Sangkulirang juga potensial untuk budidaya karamba, karena mempunyai perairan yang sangat sesuai untuk pengembangan budidaya karamba cukup luas. Secara umum Kecamatan Sangkulirang merupakan kecamatan di Kabupaten Kutai Timur yang memiliki kesesuaian lahan potensial yang paling luas untuk semua jenis peruntukan budidaya, baik budidaya tambak, karamba, maupun rumput laut (Tabel 23). Sehingga Kecamatan Sangkulirang dapat dijadikan wilayah pusat (nodal) dalam pengembangan perikanan budidaya pesisir di Kabupaten Kutai Timur. Hal ini didukung dengan adanya Desa Maloy yang dijadikan sebagai pusat Kawasan Agropolitan. Selain itu di kawasan Maloy juga direncanakan akan dibangun pelabuhan umum.
Adanya pusat kawasan Agropolitan ini karena Pemerintah daerah Kabupaten Kutai Timur menyandarkan bidang ekonomi dengan sektor pertanian sebagai tumpuan di masa depan, dengan melakukan program yang disebut GERDABANGAGRI (Gerakan Daerah Pembangunan Agribisnis). Tujuan dari
program ini adalah mendorong strategi pembangunan wilayah dengan menciptakan titik-titik pertumbuhan (Growth Point) dalam rangka menyebarkan efek Pemerataan Pembangunan (Equity Development) (Bappeda Kutai Timur, 2004).
Kecamatan Kaliorang
Kecamatan Kaliorang mempunyai sektor basis pada budidaya tambak (LQ=1,48) dan rumput laut (LQ=1,07). Namun bila didasarkan pada hasil analisis spasial, Kecamatan Kaliorang mempunyai potensi untuk pengembangan budidaya karamba, karena di perairan Teluk Golok terdapat lokasi yang sangat sesuai untuk budidaya karamba.
Dalam RTRW Kabupaten Kutai Timur Tahun 2004, Kecamatan Kaliorang termasuk dalam Kawasan II sebagai sentra produksi dalam pengembangan kawasan pedesaan, bersama-sama dengan Kecamatan Sangkulirang, Bengalon dan Sandaran. Orientasi aliran produksi dari kawasan ini adalah keluar dari Kabupaten Kutai Timur melalui pelabuhan Maloy yang terdapat di Kecamatan Sangkulirang.
Kecamatan Sandaran
Bila dilihat dari nilai LQ, Kecamatan Sandaran tidak memiliki sektor yang menjadi basis pengembangan perikanan budidaya. Saat ini yang menjadi sektor basis di Kecamatan Sandaran hanyalah sektor perikanan pesisir tangkap (LQ=50,26). Hal ini terjadi karena saat ini akses jalan ke Kecamatan Sandaran belum terbuka, sarana transportasi dari kota kabupaten hanya melalui laut, sehingga perkembangan wilayah juga masih sangat terbatas. Namun demikian bila dilihat dari hasil analisis kesesuaian lahan Kecamatan Sandaran mempunyai potensi sangat sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut, dan sangat sesuai untuk budidaya tambak.
Pengembangan budidaya rumput laut mempunyai potensi yang sangat besar di Kecamatan Sandaran, karena potensinya sangat luas. Selain itu hasil pascapanen berupa produk rumput laut kering masih memungkinkan disimpan selama beberapa saat sebelum dijual. Hal ini mengingat kondisi transportasi ke kecamatan Sandaran masih sangat terbatas, sehingga pemasaran rumput laut tidak
dapat dilakukan setiap saat.
Sedangkan pengembangan budidaya tambak masih agak sulit dilakukan, sebelum akses jalan ke kecamatan ini dibuka. Produk tambak menghendaki dijual dalam keadaan segar/beku. Kondisi transportasi yang terbatas akan menghambat suplai sarana produksi dan proses pemasaran produk di kecamatan Sandaran.
Matriks arahan pengembangan perikanan budidaya pesisir di tiap kecamatan berdasarkan nilai LQ budidaya dan potensi luas kesesuaian lahannya dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Matrik Arahan Pengembangan Perikanan budidaya Pesisir di Kecamatan Pantai Kabupaten Kutai Timur
Kecamatan Pantai LQ Budidaya/ Sektor Basis Potensi Kesesuaian Lahan Arahan Pengembangan Kawasan Budidaya Sangatta Karamba Kerapu (LQ= 2,50) ♦ S1 Tambak (828,317 ha) ♦ S1 Rumput Laut (265,698 ha)
¾ Budidaya Tambak ¾ Budidaya Rumput Laut Sangkulirang Tambak
(LQ=1,21) Rumput Laut (LQ=2,65)
♦ S1 Tambak (1.142,400 ha) ♦ S1 Rumput Laut (1.766,032 ha) ♦ S1 Karamba (506,201 ha)
¾ Budidaya Tambak ¾ Budidaya Rumput Laut ¾ Budidaya Karamba Kaliorang Tambak (LQ=1,48) Rumput laut (LQ=1,07) ♦ S1 Tambak (72,731 ha) ♦ S1 Rumput Laut (524,648 ha) ♦ S1 Karamba (38,610 ha)
¾ Budidaya Tambak ¾ Budidaya Rumput Laut ¾ Budidaya Karamba Bengalon Tambak
(LQ=1,72)
♦ S1 Tambak (386,226 ha) ♦ S1 Rumput Laut (56,660 ha)
¾ Budidaya Tambak Sandaran Tidak ada
sektor Basis
♦ S1 Rumput Laut (584,297 ha) ♦ S1 Tambak (142,546 ha)
¾ Budidaya Rumput Laut