• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam menganalisis strategi pengembangan perikanan tangkap dilakukan dengan analisis SWOT, yaitu menyangkut analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (strength, weakness, opportunities and threats). Analisis internal dijadikan untuk memanfaatkan kekuatan yang dimiliki serta mengatasi kelemahan-kelemahan yang terjadi. Faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dijabarkan sebagai berikut:

1. Kekuatan

1) Potensi sumberdaya ikan demersal (ikan kakap merah, ikan kakap putih, ikan kerapu sunu dan ikan kuwe) yang cukup tinggi

2) Kualitas ikan demersal hasil tangkapan bubu dan pancing yang tergolong baik sehingga lebih mempermudah proses pemasaran khususnya tujuan ekspor

3) Tersedianya pinjaman lunak yang diberikan pihak tangkahan untuk nelayan bubu dan pancing

4) Banyaknya tangkahan (pelabuhan perikanan swasta) yang mampu menampung hasil tangkapan nelayan

5) Adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga yang mampu memfasilitasi kebutuhan nelayan

2. Kelemahan

1) Terbatasnya modal yang dimiliki oleh nelayan bubu dan pancing untuk mengembangkan usaha perikanan

2) Pendidikan dan pengetahuan nelayan yang relatif rendah menyebabkan sulitnya penerimaan konsep pembangunan perikanan berkelanjutan

3) Belum tersedianya laboratorium penjamin mutu hasil perikanan sebagai syarat ekspor

4) Kurangnya kesadaran masyarakat untuk bergabung dengan organisasi menyebabkan pemikiran nelayan kurang berkembang. Kerugian lain yang

dialami nelayan adalah tidak mengetahui jika ada bantuan yang sedang turun dan sulitnya mendapat bantuan karena tidak terorganisisir

5) Kurangnya akses informasi dan koordinasi terhadap lembaga pemerintahan

Tabel 10 Matriks Internal Strategic Factors Summary (IFAS) pengembangan perikanan demersal di Sibolga

No Faktor Bobot Rating Bobot*

Rating Kekuatan

1 Potensi sumberdaya ikan demersal yang

cukup tinggi 0,20 4 0,80

2 Kualitas ikan demersal hasil tangkapan bubu dan pancing yang tergolong baik sehingga lebih mempermudah proses pemasaran khususnya tujuan ekspor

0,15 3 0,45

3 Tersedianya pinjaman lunak yang diberikan pihak tangkahan untuk memenuhi kebutuhan melaut

0,05 2 0,10

4 Banyaknya tangkahan (pelabuhan perikanan swasta) yang mampu menampung hasil tangkapan nelayan

0,10 3 0,30

5 Adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga yang mampu menfasilitasi kebutuha nelayan

0,05 2 0,10

Kelemahan

1 Terbatasnya modal yang dimiliki oleh nelayan

untuk mengembangkan usaha perikanan 0,15 4 0,60 2 Pendidikan dan pengetahuan nelayan yang

relatif rendah menyebabkan sulitnya

penerimaan konsep pembangunan perikanan berkelanjutan

0,10 2 0,20

3 Belum tersedianya laboratorium penjamin

mutu hasil perikanan sebagai syarat ekspor 0,05 3 0,15 4 Kurangnya kesadaran masyarakat untuk

bergabung dengan organisasi menyebabkan pemikiran nelayan kurang berkembang. Kerugian lain yang dialami nelayan adalah tidak mengetahui jika ada bantuan yang sedang turun dan sulitnya mendapat bantuan karena tidak terorganisisir.

0,05 2 0,10

5 Kurangnya akses informasi dan koordinasi

terhadap lembaga pemerintahan 0,10 2 0,20

Berdasarkan tabel IFAS diketahui bahwa pengembangan perikanan demersal di Sibolga memiliki skor 3,00. Pada matriks ini terdapat beberapa kelemahan yang harus diatasi agar dapat meraih peluang dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki.

Analisis eksternal diperlukan untuk melihat peluang apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan perikanan demersal di Sibolga serta persiapan menghadapi atau meminimalisir ancaman yang akan terjadi. Faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) dijabarkan sebagai berikut:

1. Peluang

1) Permintaan pasar terhadap ikan demersal baik pemasaran lokal maupun ekspor

2) Peluang pekerjaan dalam bidang perikanan akan terbentuk jika kegiatan perikanan dapat berkesinambungan

3) Harga ikan ekspor yang cukup tinggi

4) Perkembangan informasi dan teknologi akan membantu mempermudah kegiatan penangkapan ikan.

5) Potensi daerah penangkapan ikan yang belum optimal 2. Ancaman

1) Berkembang pesatnya teknologi penangkapan nelayan asing.

2) Potensi terjadinya IUU (illegal, unreported, unregulated) fishing di lepas pantai akan menyebabkan degradasi lingkungan yang mengakibatkan kerusakan ekologi yang akan berdampak terhadap sumberdaya ikan

3) Banyaknya produk subsitusi ikan

Tabel 11 Matriks EFAS pengembangan perikanan demersal di Sibolga

No Faktor Bobot Rating Bobot*

Rating Peluang

1 Permintaan pasar terhadap ikan demersal

baik pemasaran lokal maupun ekspor 0,20 4 0,80 2 Peluang pekerjaan dalam bidang

perikanan akan terbentuk jika kegiatan perikanan dapat berkesinambungan

0,05 1 0,05

3 Harga ikan ekspor yang cukup tinggi 0,15 2 0,30 4 Perkembangan informasi dan teknologi

akan membantu mempermudah kegiatan penangkapan ikan.

0,10 1 0,10

5 Potensi daerah penangkapan ikan yang

belum optimal 0,10 3 0,30

Ancaman

1 Berkembang pesatnya teknologi

penangkapan nelayan asing 0,05 2 0,10 2 Potensi terjadinya IUU (illegal,

unreported, unregulated) fishing di lepas pantai akan menyebabkan degradasi lingkungan yang

mengakibatkan kerusakan ekologi yang akan berdampak terhadap sumberdaya ikan.

0,15 3 0,45

3 Banyaknya produk subsitusi ikan 0,20 4 0,80

Total 1,00 2,90

Pemberian bobot dan rating dilakukan untuk memperoleh matriks EFAS (Tabel 8). Nilai total perkalian bobot dan rating adalah 2,90. Peluang pengelolaan perikanan demersal memiliki nilai yang lebih tinggi sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan pengembangan perikanan demersal.

Berdasarkan matriks IFAS dan EFAS dibentuk perumusan pengembangan perikanan demersal di Sibolga. Perumusan strategi ini dibentuk dengan kombinasi antara kekuatan dan peluang, kekuatan dengan ancaman, kelemahan dengan peluang serta kelemahan dengan ancaman. Tabel 9 menyajikan matriks SWOT pengembangan perikanan demersal di Sibolga.

Tabel 12 Matriks SWOT pengembangan perikanan demersal di Sibolga

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

1)Potensi sumberdaya ikan demersal yang cukup tinggi 2)Kualitas ikan demersal hasil tangkapan bubu dan pancing

yang tergolong baik sehingga lebih mempermudah proses pemasaran khususnya tujuan ekspor 3)Tersedianya pinjaman lunak yang diberikan pihak

tangkahan untuk memenuhi kebutuhan melaut 4)Banyaknya tangkahan-tangkahan swasta yang mampu

menampung hasil tangkapan nelayan

5)Adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga yang mampu memfasilitasi kebutuhan nelayan

1)Terbatasnya modal yang dimiliki oleh nelayan untuk mengembangkan usaha perikanan

2)Pendidikan dan pengetahuan nelayan yang relatif rendah menyebabkan sulitnya penerimaan konsep pembangunan perikanan berkelanjutan

3)Belum tersedianya laboratorium penjamin mutu hasil perikanan sebagai syarat ekspor

4)Kurangnya kesadaran nelayan untuk bergabung dengan organisasi menyebabkan pemikiran nelayan kurang berkembang, bantuan, sulit mendapat bantuan karena tidak terorganisisir,

5)Kurang akses informasi dan koordinasi terhadap lembaga pemerintahan

Peluang (O)

1)Permintaan pasar terhadap ikan demersal baik pemasaran lokal maupun ekspor

2)Peluang pekerjaan dalam bidang perikanan akan terbentuk jika kegiatan perikanan dapat berkesinambungan

3)Harga ikan ekspor yang cukup tinggi

4)Perkembangan informasi dan teknologi akan membantu mempermudah kegiatan penangkapan ikan.

5)Potensi daerah penangkapan ikan yang belum optimal

Strategi SO

1)Perbaikan sistem pendistribusian hasil tangkapan untuk tujuan ekspor (S1, S2, S5, 01,03)

2)Pengembangan fasilitas ekspor (S1, S2,O3)

Strategi WO

1)Pembentukan koperasi simpan pinjam bagi nelayan (W1, O2, O3)

2)Perlunya mendirikan laboratorium penjaminan mutu hasil tangkapan dan dukungan sarana transportasi pemasaran (W3, O1, O3)

3)Meningkatkan kegiatan penyuluhan bagi nelayan (W2, W4, O4, O5)

4)Pembentukan kelompok usaha bersama yang difasilitasi oleh pemerintah (W4, W5, O2,O4)

Ancaman (T)

1)Berkembang pesatnya teknologi penangkapan nelayan asing

2) Terjadinya IUU (illegal, unreported, unregulated) fishing di lepas pantai akan menyebabkan degradasi lingkungan yang mengakibatkan kerusakan ekologi yang akan berdampak terhadap sumberdaya ikan.

3)Banyaknya produk substitusi ikan

Strategi ST

1)Peningkatan pengawasan daerah penangkapan ikan (S1, S5, T1, T3)

2)Kerjasama PPN dan tangkahan swasta khusunya dalam pengembangan perikanan demersal (S4, S5, T1, T3) 3)Peningkatan kualitas perikanan demersal (S1, S2, T2) 4)Penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya omega

3,6,9 yang terdapat pada ikan (S1, S2, T3)

Strategi WT

1)Membentuk kemitraan dengan pihak pemerintah (W1, W5, T3)

2)Peningkatan kapasitas nelayan Sibolga (W2, W4, T1, T3)

Internal  Eksternal

SWOT merupakan analisis yang mengkombinasikan dua strategi pengembangan. Strategi SO untuk menghasilkan industri perikanan demersal yang bekerjasama dengan pihak pemerintah dalam meningkatkan nilai jual ikan. Pengembangan perikanan demersal akan semakin mudah karena didukung oleh keberadaan PPN Sibolga dan banyaknya tangkahan swasta sebagai pihak investor. Perbaikan pendistribusian dapat dimulai dari penanganan hasil tangkapan pada saat di palkah kemudian dilanjutkan dengan proses packing yang memenuhi standarisasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) agar dapat diterima oleh negara tujuan.

Strategi SO menghasilkan sasaran strategi perbaikan sistem pendistribusian hasil tangkapan untuk tujuan ekspor serta mengadakan pengembangan terhadap fasilitas-fasilitas untuk kebutuhan pemasaran ikan. Hasil tangkapan nelayan dikumpulkan oleh pihak tangkahan yang dalam hal ini harga ikan ditentukan oleh pihak tangkahan sehingga nelayan tidak memiliki kepastian standard yang dipergunakan pihak tangkahan dalam penentuan grade ikan. Peranan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengatasi monopoli yang dilakukan pihak tangkahan kepada para nelayan misalnya dengan mendirikan koperasi.

Sesuai dengan Cann dan Mounsey (1990) menyatakan bahwa profitabilitas

usaha penangkapan ikan harus menjadi dasar pengembangan usaha perikanan demersal yang berkelanjutan. Kualitas hasil tangkapan ikan demersal di Sibolga tentunya akan sangat mempengaruhi harga atau nilai jual ikan di pasar. Kendala monopoli pengklasifikasian kualitas ikan oleh pemilik tangkahan telah menyebabkan kerugian finansial pada nelayan. Saat ini keberadaan Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga harus didorong oleh pemerintah pusat untuk melaksanakan tugas dan fungsi khususnya dalam kegiatan pelelangan ikan. Fasilitas coldstorage dan sarana pendukung lain yang telah ada di Pelabuhan Perikanan Nusantara belum dioptimalkan secara baik. Strategi pengembangan perikanan demersal di pantai Barat Sumatera harus dimulai dari peran serta pemerintah dalam mengoptimalkan pelayanan publik dan sarana yang tersedia di pelabuhan tersebut.

Strategi ST menghasilkan sasaran strategi perlunya meningkatkan pengawasan daerah penangkapan ikan untuk meminimalisasi terjadinya IUU

fishing. Strategi lain yang dihasilkan adalah meningkatkan kerjasama dengan pihak pemerintah dan tangkahan dalam pengembangan perikanan demersal serta peningkatan kualitas ikan hasil tangkapan.

Sesuai dengan Dirjen Perikanan Tangkap (2006) tingkat pencurian ikan dapat dikurangi dengan melakukan pengawasan yang lebih baik dan rutin. Perairan pantai Barat Sumatera sering menjadi sasaran pencurian ikan oleh nelayan Thailand. Kerjasama pihak P2SDKP bersama Angkatan Laut dan Polairut dapat menjadi solusi dalam meningkatkan upaya pemberantasan IUU fishing di Sibolga.

Strategi WO menghasilkan sasaran strategi berupa perlunya mendirikan laboratorium penjamin mutu hasil tangkapan dan dukungan sarana transportasi pemasaran. Strategi lain yang dihasilkan yaitu pembentukan unit koperasi nelayan yang memfasilitasi sistem simpan pinjam bagi pelaku usaha perikanan. Strategi ini perlu didukung dengan peningkatan kegiatan penyuluhan kepada pihak nelayan dengan harapan tercapainya akses informasi yang sinergis antara pemerintah dengan nelayan. Pengembangan strategi ini dapat diwujudkan dalam pembentukan kelompok usaha bersama, sehingga pemerintah lebih mudah mengelola program bantuan atau pemberdayaan masyarakat.

Strategi WT menghasilkan sasaran strategi melalui peningkatan kegiatan kemitraan antara pemerintah dengan pelaku usaha perikanan. Kegiatan peningkatan kemitraan didukung dengan berbagai kegiatan penyuluhan khususnya dalam upaya peningkatan kapasitas masyarakat nelayan. Dengan adanya kegiatan penyuluhan upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemanfaatan ikan demersal secara efektif dan efisien akan lebih mudah tercapai.

Ancaman lain yang mendominasi terhambatnya pengembangan perikanan demersal di pantai Barat Sumatera adalah perkembangan alat tangkap nelayan asing yang tidak mampu diimbangi oleh nelayan Sibolga. Penggunaan mesin kapal, alat akustik dan sarana pendukung penangkapan lain sampai saat ini masih sangat minim dan cenderung bersifat turun temurun. Pemerintah pusat sering memberikan bantuan kepada nelayan Sibolga dalam bentuk barang, namun

bantuan ini sering sekali tidak tepat sasaran dan cenderung tidak dapat digunakan nelayan. Proses sosialisasi dan praktek penggunaan alat dapat dijadikan sebagai langkah awal sebelum memberikan bantuan kepada nelayan.

Saat ini keterlibatan masyarakat dapat menjadi alat utama pengurangan IUU

fishing di perairan pantai Barat Sumatera jika pemerintah lebih mengaktifkan pola kemitraan yang telah dibangun. Keberadaan POKMASWAS yang belum berjalan secara baik dapat direstrukturisasi dengan melakukan evaluasi dan peremajaan anggota. Perbaikan sistem komunikasi antara pemerintah dan masyarakat nelayan pengawas sumberdaya dapat diperbaiki dengan melakukan pertemuan secara berkala. Penyediaan sarana komunikasi yang belum tercipta di beberapa daerah dapat menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan kegiatan POKMASWAS di pantai Barat Sumatera.

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan demersal secara optimal sesuai dengan nilai MSY adalah: 1494,41 ton/tahun ikan kakap merah, 1260,89 ton/tahun ikan kakap putih, 1408,37 ton/tahun ikan kerapu dan 1750,98 ton/tahun ikan kuwe.

2) Persentase hasil tangkapan bubu dan pancing yang layak tangkap berdasarkan nilai length at first maturity adalah sebesar 10,5% ikan kakap merah, 85% ikan kakap putih, 99,5% ikan kerapu sunu dan 2% ikan kuwe.

3) Pola pertumbuhan ikan kakap merah, kakap putih, kerapu sunu dan kuwe hasil tangkapan bubu dan pancing bersifat alometrik negatif dengan nilai b<3 yang artinya pertambahan berat lebih lambat dari pertambahan panjangnya.

4) Strategi pengembangan perikanan dilakukan antara lain: melakukan perbaikan sistem pendistribusian hasil tangkapan untuk tujuan ekspor, meningkatkan pengawasan daerah penangkapan ikan untuk meminimalisasi terjadinya IUU

fishing, mendirikan laboratorium penjamin mutu hasil tangkapan dan peningkatan kegiatan kemitraan antara pemerintah dengan pelaku usaha perikanan.

Dokumen terkait