• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN   TEKNOLOGI   BERORIENTASI   PEMBANGUNAN

Dalam dokumen Index of /enm/images/dokumen (Halaman 57-61)

BERKELANJUTAN 

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang sangat penting dalam 

menopang kemajuan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan bangsa secara berkelanjutan. 

Dengan begitu inovasi akan tumbuh sehingga meningkatkan produktivitas perekonomian. 

Ada enam jenis input yang menjadi faktor pemungkin (enablers) untuk memajukan inovasi, yakni: 

(1) besarnya pengeluaran untuk riset dan pengembangan (R&D) sebagai persentase dari produk 

domestik bruto (PDB); (2) kualitas infrastruktur riset lokal; (3) tingkat pendidikan pekerja; (4) 

ketrampilan teknik pekerja; (5) kualitas teknologi informasi dan infrastuktur komunkasi; dan (5) 

penetrasi broadband (EIU, 2009).. 

Peraga  1  hingga  3  menunjukkan  betapa  lemah  posisi  kita  dalam  hal  kegiatan  riset  dan 

pengembangan serta kemampuan inovasi. Dalam hal kemampuan inovasi, kita berada pada urutan 

ke‐74 dari 82 negara. Posisi ini hanya lebih baik dari negara‐negara “lapisan bawah”, yaitu: Iran, 

Aljazair, Pakistan, Vietnam, Nigeria, Bangladesh, Angola, dan Libya. Kita jauh tetinggal dibandingkan 

negara‐negara seperti Singapura, Korea, dan Taiwan, dan Malaysia. 

Selain sangat minim, alokasi dana untuk riset dan pengembangan sangat didominasi oleh sektor 

publik (pemerintah). Padahal, salah satu kunci keberhasilan dari inovasi adalah jika dunia usaha 

berada para barisan terdepan. Peran pemerintah sepatutnya lebih ditekankan pada penyusunan 

strategi nasional dan pengembangan mekanisme insentif. 

Kebijakan fiskal merupakan salah satu unsur yang menopang lingkungan inovasi yang kondusif. 

Faktor lainnya adalah: lingkungan politik, peluang pasar, kebijakan tentang kebebasan berusaha 

dan persaingan, kebijakan penanaman modal asing  dan pengawasan perdagangan serta lalulintas 

devisa.  

Pengembangan  usaha  berbasis  teknologi  yang  mendukung  peningkatan  produktivitas 

membutuhkan fleksbilitas dalam perekonomian yang memungkinkan munculnya usaha manufaktur 

baru dan peningkatan probabilitas merger dan akuisisi yang berbasis restrukturisasi yang efisien. 

Schumpeter  mengatakan  probabilitas  terjadinya  creative  destruction  haruslah  tinggi  dalam 

perekonomian.  

Proses  produksi  usang  yang  tidak  efisien  harus  secara  endogen  dihancurkan  oleh  sistem 

perekonomian itu sendiri. Masalahnya adalah bagaimana perekonomian menciptakan teknologi 

baru  yang  memungkinkan  proses  creative  destruction  tidak  berakhir  dengan  penurunan 

produktivitas  sektor  manufaktur  itu  sendiri.  Untuk  itu  diperlukan  dukungan  fleksibilitas  sisi 

penawaran dan fleksibilitas sisi permintaan dari teknologi atau inovasi tersebut.  

Sisi penawaran teknologi umumnya bercirikan barang publik, misalnya: pendidikan, laboratorium 

publik, penelitian dan pengembangan (R&D) publik, fasilitas infrastruktur dan kesehatan yang 

berorientasi  peningkatan  kapasitas  teknologi.  Untuk  itu  peran  pemerintah  di  bidang‐bidang 

tersebut tak dapat diabaikan sehingga alokasi kebijakan fiskal untuk bidang tersebut seharusnya 

memiliki prioritas utama.  

Selain itu, permasalahan pokok yang muncul adalah tidak siapnya sisi permintaan dari teknologi 

baru tersebut karena kegiatan usaha di bidang baru tersebut memiliki social return yang tinggi 

tetapi dengan private return yang rendah.  Permasalahan yang sering muncul adalah adanya dua 

up. Yang bersifat top down umumnya dilakukan oleh perusahaan modal asing (PMA) dan yang 

berifat bottom up dilakukan oleh perusahaan lokal misalnya dalam kasus Jepang, Korea dan China.  

Untuk itu program pengembangan sisi penawaran teknologi publik maka pemerintah Indonesia 

harus menempatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai badan strategis 

yang berorientasi pada strategi pengembangan teknologi yang bersifat bottom up khususnya dalam 

sektor manufaktur. Strategi top down dari pengembangan teknologi merupakan lahan dari foreign 

direct investment karena itu perekonomian Indonesia juga harus bersifat terbuka dan ramah bagi 

berkembangnya FDI di tanah air. Dalam sektor‐sektor manufaktur yang memiliki komponen FDI 

cukup besar maka peran BPPT bukannya tidak ada tetapi lebih sebagai pendamping dan bukan 

sebagai pemain utama. Dalam kasus yang terakhir ini BPPT harus mampu berimproviasasi untuk 

memiliki hubungan yang baik dengan FDI sektor manufaktur tersebut agar dapat melihat teknologi 

yang  mereka  terapkan  dalam  rangka  melakukan  aplikasi  yang  lebih  tepat  bagi  kondisi 

perekonomian lokal.  

Berikut adalah langkah‐langkah lainnya yang seyogyanya diperhatikan dalam proses pengembangan 

teknologi baru disektor manufaktur yaitu: 

1) Pemerintah  harus  berani  memberikan  subsidi  ataupun  pembebasan  pajak  bagi  biaya 

pengembangan teknologi baru di sektor manufaktur. Perlu dicatat bahwa pemerintah tidak 

perlu  melakukan  seluruh  investasi  tetapi  invetasi  tetap  dilakukan  oleh  sektor  swasta. 

Kriterianya adalah aktivitas ini harus merupakan aktivitas baru (teknologi baru), memiliki 

potensi spill over bagi aktivitas perekonomian lainnya dan adanya sektor swasta yang bersedia 

diawasi dan dilakukan audit kinerjanya. Langkah ini diperlukan karena adanya ketidakpastikan 

akibat penerapan teknologi baru yang memerlukan investasi yang tidak sedikit dan hambatan 

dari kondisi local.   Taiwan dan China misalnya memberikan kemudahan perpajakan bagi 

sektor‐sektor industri manufaktur yang    dipromosikan sebagai lokomotif pengembangan 

teknologi berbasis penciptaan nilai tambah.   Begitu keunggulan teknologi terbentuk maka 

perlindungan bagi keunggulan teknologi  tersebut juga harus terus dilakukan. Dalam hal 

industri chips, Taiwan membolehkan industrinya menanamkan investasinya di China sepanjang 

teknologi yang digunakan adalah teknologi tua. 

2) Mengembangkan  mekanisme  publik  bagi  pembiayaan  yang  beresiko  tinggi,  misalnya 

pemerintah Singapore membentuk bank pembangunan, dan lembaga pendanaan khusus bagi 

pengembangan teknologi serta dana khsus bagi pengembangan sektor manufaktur. Hal ini 

diperlukan karena dapat dipastikan bahwa mekanisme privat tidak akan mampu membiayai 

program ini seperti bank komersial dan pasar modal. Karena itu pemerintah Indonesia harus 

mampu mengembangkan bank pembangunan bagi sektor   manufaktur, dana ventura yang 

dibiayai publik, garansi publik bagi pinjaman bank komersial jangka panjang atau instrument 

lain yang mampu memakai dana pensiun publik bagi aktivitas pembiayaan sektor‐sektor 

manufaktur yang menerapkan teknologi baru. 

3) Tugas yang jelas bagi public R&D   dengan strategi pengembangan teknologi yang bersifat 

bottom up. BPPT harus mampu bekerjasama dengan sektor swasta dalam mengindentifikasi, 

mengadaptasi dan melakukan alih teknologi dari luar negeri. Taiwan telah melakukan hal ini 

dalam pengembangan industri teknologi informasinya.   Selain itu tugas BPPT lainnya adalah 

melakukan penyebaran teknologi secara sistematis. Strategi bottom up sebagai strategi utama 

agar alih teknologi internasional tidak seluruhnya terkendala oleh perjanjian TRIPS (Trade 

Related Intelectual Property Rights) yang merupakan mekanisme untuk meningkatkan market 

power dari technology developers yang memungkinkan mereka bertindak monopolistik. Selain 

strategi top down sudah dilakukan oleh FDI.   

4) Melakukan subsidi bagi pelatihan teknis yang bersifat umum. Namun hal ini harus dilakukan 

dengan melakukan kerjasama dengan sektor swasta agar terjadi koneksi yang tepat sehingga 

swasta dapat ikut melakukan pembiayaan parsial dalam program pelatihan vocational, teknis 

dan bahasa inggris ini. 

5) Mengajak orang Indonesia kembali ke Indonesia. Mengingat kaum ekspatriat Indonesia yang 

memiliki keahlian teknologi manufaktur masih banyak berada di luar negeri dibandingkan 

dengan yang memiliki keahlian ekonomi dan bisnis, mereka harus dapat direktrut kembali ke 

tanah air. Hal ini pernah dilakukan oleh Taiwan dalam upayanya mendukung industri computer 

mereka. Insentif perpajakan umumnya dapat dilakukan seperti yang dilakukan oleh Taiwan.  

6) Melakukan kerjasama dengan lembaga penelitian swasta di luar dan dalam negeri yang 

terbukti sukses melakukan alih teknologi. Tugas pemerintah adalah memfasilitasi sektor 

manufaktur dengan lembaga‐lembaga ini. Akan lebih efektif jika pemerintah memberikan 

fasilitas fiscal bagi mereka untuk melakukan investasi di Indonesia.  

7) Mengembangkan kawasan ekonomi khusus industri manufaktur berbasis teknologi. Pada 

kawasan inilah BPPT harus dapat memiliki kerjasama dengan FDI yang memiliki program 

teknologi berbasis top down. Begitu pula dengan lembaga pendidikan berorientasi teknologi 

manufaktur harus mampu melakukan kerja sama dengan FDI pada kawasan ini. Untuk itu, 

koordinasi dan pembiayaan kawasan ini sebaikan dilakukan oleh pihak swasta agar kebijakan 

yang diterapkan tidak bias pada kepentingan non bisnis. Peraturan perburuhan pada kawasan 

ini haruslah dibuat lebih fleksibel dimana outsourcing sebaiknya juga diperbolehkan. Dengan 

demikian kawasan ekonomi khusus membawa Misi sebagai sarana alih teknologi. 

8) Melakukan survei capital stock nasional khususnya sektor manufaktur dan membakukan 

pengukuran produktivitas dengan metode Total faktor productivity (TFP). Survei stok modal 

(capital stock) nasional perlu dilakukan agar pengukuran keberhasilan pembangunan dari 

kemajuan teknologi, kontribusi tenaga kerja, energi, material  dan permodalan dapat dihitung 

secara  lebih  cermat.  Dengan  demikan  setiap  sektor  dalam  industri  manufaktur  dapat 

diperbandingkan kemajuan teknologi diantara mereka dan juga dibandingkan dengan sektor 

manufaktur di negara lain. Acuan ini akan sangat menentukan pada sektor mana saja program 

kebijakan industri termasuk program pengembangan teknologi perlu mendapatkan prioritas 

utama. 

9) Lembaga kepresidenan sebagai lembaga koordinasi dari faktor  eksternal atau dibentuk badan 

seperti BKKBN namun dengan presiden sebagai otoritas tertinggi. Kesemua faktor di atas harus 

dibawah  koordinasi badan  ini  selain itu  badan ini juga bertanggungjawab  menciptakan 

harmonisasi  dengan  pihak‐pihak  seperti  Kadin,  asosiasi  petani,  perjanjian  perdagangan 

internasional dan asosiasi perburuhan.   Tugas lain lembaga ini adalah membuat Undang‐

undang Promosi Alih Teknologi dengan tujuan untuk mewajibkan universitas dan lembaga 

penelitian publik memiliki Kantor Alih Teknologi, undang‐undang promosi inovasi dengan 

tujuan  memberikan  insentif  bagi  aktivitas  penelitian,  dan  undang‐undang  promosi 

pengembangan teknologi dengan tujuan memberikan insentif bagi pengambangan teknologi.   

10) Lebih meningkatkan alokasi pengeluaran untuk riset dan pengembangan bagi dunia usaha.  

11) Untuk mendorong pengembangan teknologi yang berorientasi pembangunan melalui langkah‐

langkah  tersebut  di  atas  diperlukan  adanya  tokoh  yang  berprestasi  tinggi  dalam  ilmu 

pengetahuan dan  teknologi, terkenal baik  di  dalam  maupun di luar  negeri,  dan  dapat 

memberikan harapan dan cita‐cita kepada generasi muda bangsa ini, sebagai pembantu 

Presiden dalam pemerintahan yang mendatang.   

       

 

 

 

 

 

 

Dalam dokumen Index of /enm/images/dokumen (Halaman 57-61)