• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rantai pasok jagung

VIII. PENGENDALIAN DAN PENYEIMBANGAN RISIKO RANTAI PASOK

8.1.5. Pengendalian Risiko di Tingkat Konsumen

Pada tingkat konsumen dalam rantai pasok komoditas jagung, risiko yang perlu dilakukan tindakan pengendalian adalah risiko fluktuasi harga, risiko distorsi informasi harga, risiko variasi mutu pasokan dan risiko ketidakpastian pasokan yang mempunyai tingkat risiko sedang, sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 63. Risiko fluktuasi harga pada tingkat konsumen terjadi karena komoditas jagung ketersediaanya adalah musiman, sehingga pada saat musim

panen raya cenderung harga jagung turun dan harga jagung akan naik setelah panen raya selesai. Dengan adanya fenomena ini pihak konsumen harus berupaya untuk mengendalikan risiko tersebut dengan beberapa cara yaitu 1) Memperbaiki proses peramalan permintaan, produksi dan penjadwalan, 2) Penyediaan informasi kebutuhan dan ketersediaan jagung yang mudah diakses oleh setiap pemangku kepentingan rantai pasok, dan 3) Melakukan kontrak kerjasama pengadaan bahan baku dengan standar kualitas tertentu dan kuantitas pasokan jagung. Fluktuasi harga juga dapat menyebabkan timbulnya risiko lain seperti risiko distorsi informasi harga yang terjadi karena dengan adanya perubahan harga yang sering terjadi akan menimbulkan adanya informasi yang tidak sampai ke setiap tingkatan rantai pasok, sehingga ada pihak atau pelaku dalam jaringan rantai pasok yang tidak mengetahui adanya perubahan harga tersebut akan dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan pada pihak yang lain yang telah mengetahui perubahan harga dengan cara tidak memberikan informasi perubahan harga tersebut.

Gambar 63 Pengendalian risiko di tingkat konsumen

Risiko ketidakpastian pasokan dapat terjadi karena komoditas jagung bersifat musiman, sehingga ketersediaannya bergantung pada musim yang cenderung akan terus berubah. Selain itu ketidakpastian pasokan juga dapat terjadi karena belum adanya mekanisme penggunaan jadwal tanam yang memperhatikan kondisi permintaan dan pasokan dengan menggunakan informasi pasar yang pasti, sehingga akan tercipta suatu kondisi yang dapat memberikan kuantitas pasokan

yang pasti di suatu wilayah pada masa tertentu. Untuk mengatasi risiko ketidakpastian pasokan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu melakukan kontrak kerjasama pengadaan bahan baku dengan standar kualitas dan kuantitas tertentu, menjalin kontrak kerjasama dengan pemasok yang mempunyai loyalitas tinggi dan melakukan kontrak kerjasama dengan pembagian keuntungan yang seimbang antar pelaku rantai pasok. Kemudian untuk mengatasi adanya variasi mutu pasokan dapat dilakukan dengan kerjasama antar pelaku rantai pasok dengan standar kualitas tertentu dengan konsep pembagian keuntungan yang seimbang. Dengan pendekatan ini dimungkinkan juga untuk dapat mengatasi risiko ketidakpastian pasokan dan rendahnya mutu pasokan. Adapun hasil verifikasi dan validasi sistem mitigasi risiko fluktuasi harga di tingkat konsumen dapat dilihat pada Gambar 64.

Gambar 64 Mitigasi risiko fluktuasi harga di tingkat konsumen

8.2. Penyeimbangan Risiko Rantai Pasok

Stakeholder dialog model adalah model yang digunakan untuk membuat

negosiasi harga jagung di tingkat petani dengan nilai utilitas input faktor risiko pada tiap tingkat rantai pasok berdasarkan skenario perubahan harga. Oleh karena itu, masukan dari sub model merupakan faktor risiko pada setiap tingkatan rantai pasok produk/komoditas jagung, harga jagung yang diinginkan di setiap tingkatan rantai pasok dan nilai utilitas faktor risiko dari setiap tingkatan rantai pasok.

Output dari model adalah harga jagung di tingkat petani sesuai dengan hasil kesepakatan. Harga kesepakatan diperoleh secara otomatis dengan melakukan interpolasi terhadap fungsi conjoint regresi fuzzy non-linear pada tingkat petani dengan fungsi regresi fuzzynon-linear pada tingkatan lain dalam rantai pasok.

Model penyeimbangan risiko rantai pasok dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kesepakatan harga di tingkat petani menggunakan asumsi bahwa utilitas nilai risiko di tingkat petani cenderung naik ketika harga jagung turun dan akan cenderung turun jika terjadi kenaikan harga jagung di tingkat petani. Namun, pada tingkatan yang lain dalam jaringan rantai pasok produk atau komoditas jagung, seperti agroindustri atau pedagang pengumpul (pengepul) akan memiliki nilai utilitas risiko yang cenderung turun ketika harga jagung di tingkat petani turun dan nilai utilitas risiko cenderung naik ketika harga jagung naik. Model penyeimbangan risiko akan digunakan untuk melakukan kesepakatan harga secara bersama antara pelaku rantai pasok dengan filosofi bahwa akan terjadi keseimbangan utilitas risiko antara pihak petani dengan pihak lain selain petani pada suatu harga tertentu pada saat terjadi kesepakatan harga. Hal ini dilakukan karena pada umumnya dalam rantai pasok komoditas jagung atau produk pertanian yang lain, petani merupakan pihak yang lemah dan cenderung mempunyai risiko yang lebih tinggi dan mendapatkan keuntungan yang lebih rendah dari pada pihak lain dalam jaringan rantai pasok. Oleh karena itu perlu adanya suatu mekanisme yang dapat mengurangi tingkat risiko di pihak petani dengan mekanisme penyeimbangan risiko rantai pasok sehingga petani akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.

Metode yang digunakan dalam menyeimbangkan risiko rantai pasok adalah stakeholder dialog antara pihak-pihak terkait dalam manajemen risiko rantai pasok untuk mendapatkan nilai kesepakatan (consensus) penyeimbangan risiko terhadap adanya konflik kepentingan dalam penentuan harga di tingkat petani. Konsensus dilakukan dengan memberikan input nilai utilitas risiko untuk setiap tingkatan rantai pasok terhadap perubahan harga jagung di tingkat petani. Proses ini akan dimodelkan dengan menggunakan fungsi regresi fuzzynon-linear

terhadap utilitas risiko dari setiap tingkatan rantai pasok dengan harga jagung di tingkat petani sebagai variabel independennya.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 H AC Membership value VH N VL L ML M MH

Fungsi regresi fuzzy digunakan dalam pemodelan ini, karena nilai utilitas risiko sebagai variabel dependen dan nilai harga sebagai variabel independen adalah merupakan bilangan fuzzy. Nilai utilitas setiap faktor risiko dinilai dengan tingkat kemungkinan risiko dan dampak risiko dalam bentuk bilangan fuzzy. Fungsi keanggotaan dari bilangan fuzzy untuk setiap faktor risiko direpresentasikan menggunakan bilangan fuzzy segitiga (TFN). Representasi fungsi keanggotaan fuzzy terhadap tingkat kemungkinan risiko adalah Tidak ada (N) dengan rentang nilai [1, 1, 2], Sangat Rendah (VL) dengan rentang nilai [1, 2, 3], Rendah (L) dengan rentang nilai [2, 3, 4], Sedang Rendah (ML) dengan rentang nilai [3 4,25, 5,5], Sedang (M) dengan rentang nilai [4 5,5, 7], Sedang Tinggi ( MH) dengan rentang nilai [5,5 6,75, 8], Tinggi (H) dengan rentang nilai [7, 8, 9], Sangat Tinggi (VH) dengan berbagai nilai [8 9, 10], dan Hampir pasti (AC) dengan rentang nilai [9 10, 10]. Representasi fungsi keanggotaan TFN

(Triangular Fuzzy Number) dari tingkat kemungkinan risiko dan dampak risiko

dapat diperlihatkan pada Gambar 65.

8.2.1. Stakeholder Dialog Manajemen Risiko Rantai Pasok

Gambar 65 Representasi fuzzy nilai posibilitas dan dampak risiko

Penyeimbangan risiko rantai pasok dilakukan dengan membuat fungsi utilitas risiko tiap tingkatan rantai pasok dengan menggunakan skenario perubahan harga secara fuzzy. Fungsi keanggotaan perubahan harga jagung dapat direpresentasikan dengan nilai Penurunan Sangat Tinggi (VHD) dengan rentang nilai [50%, 50%, 60]%, Penurunan Tinggi (HD) dengan rentang nilai [50%, 60%, 70% ], Penurunan sedang (MD) dengan rentang nilai [60%, 70%, 80]%, Penurunan Rendah (LD) dengan rentang nilai [70%, 80%, 90]%, Penurunan Sangat Rendah (VLD) dengan rentang nilai [80%, 90%, 100]%, Normal (N) dengan rentang nilai [90%, 100%, 110]%, Kenaikan Sangat Rendah (VLI) dengan rentang nilai [100% , 110%, 120%], Kenaikan Rendah (LI) dengan rentang nilai

[110%, 120%, 130]%, Kenaikan Sedang (MI) dengan rentang nilai [120%, 130%,] 140%, Kenaikan Tinggi (HI) dengan rentang nilai [120%, 130%, 140%], dan Kenaikan Sangat Tinggi (VHI) dengan rentang nilai [130%, 140%, 150]%. Fungsi keanggotaan skenario perubahan harga jagung di tingkat petani dapat direpresentasikan dengan menggunakan TFN (Triangular Fuzzy Number) seperti dapat dilihat pada Gambar 66.

50 1 N VHI Membership value 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 MI VLI LI LD VLD MD VHD HD HI (%)

Gambar 66 Representasi fungsi keanggotaan fuzzy perubahan harga jagung

= − = n k k k p x QU x U x H 1 ) ( ) ( ) (

Proses negosiasi harga dilakukan dengan menciptakan fungsi conjoint

berdasarkan fungsi utilitas risiko dari setiap stakeholder untuk mendapatkan persamaan berikut:

(43)

Dimana H(x) adalah fungsi conjoint utilitas risiko fuzzy untuk negosiasi harga pada rantai pasok jagung, Up(x) adalah fungsi utilitas risiko di tingkat petani, Uk(x) adalah fungsi utilitas risiko pada tingkat k dalam rantai pasok dan Qk

= − = n k x k k x p

e

p

e

k Q x H 1 ) ( ) ( ) ( α β α β

adalah bobot dari tingkatan ke k pada rantai pasok, yang diperoleh dari analisis dengan fuzzy AHP. Nilai x pada persamaan (43) tersebut dapat ditentukan dengan mencari nilai minimum fungsi H(x) berdasarkan nilai α dan dari persamaan regresi linier fuzzy. Persamaan (43) tersebut dapat diselesaikan dengan menggunakan interpolasi linier untuk meminimalkan H(x) sebagai berikut:

(44) dengan kendala:

= = n k k Q 1 1 X0 <x <X1.

Dimana X0 adalah harga penawaran terendah dan X1 adalah harga tawaran tertinggi dalam negosiasi harga dengan menggunakan stakeholder dialog dalam rantai pasok.

Langkah pertama dari Stakeholder dialog adalah memasukkan aktor yang terlibat dalam negosiasi harga dengan menggunakan stakeholder dialog. Kemudian, dari masing-masing stakeholder masukan faktor risiko yang telah diidentifikasi sebelumnya dengan menggunakan empat faktor risiko dominan bersama dengan variabelnya. Kemudian ditentukan fungsi keanggotaan fuzzy dari variabel risiko dan faktor risiko untuk setiap tingkatan rantai pasok, dan fungsi keanggotaan fuzzy perubahan harga jagung di tingkat petani. Untuk setiap skenario perubahan harga, inputkan nilai variabel risiko dengan memberikan nilai dampak risiko dan kemungkinan risiko dalam bilangan fuzzy. Nilai Utility variabel risiko diperoleh dengan mengalikan nilai dampak dan nilai kemungkinan. Kemudian dengan menggunakan harga jagung saat ini dan harga jagung yang diinginkan di setiap tingkatan rantai pasok dan menggunakan persamaan (44) serta menggunakan interpolasi linier akan diperoleh nilai kesepakatan harga di tingkat petani. Tampilan sistem untuk melakukan penyeimbangan risiko rantai pasok dalam penentuan harga jagung di tingkat petani secara bersama dengan

stakeholder dialog dapat dilihat pada Gambar 67.

Gambar 67 Tampilan input nilai risiko pada model penyeimbangan risiko rantai pasok