BAB II KAJIAN TEORI
A. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
4. Pengertian Agama Islam
a. Secara bahasa
Agama Islam terdiri dari dua kata yaitu Agama dan Islam. Dijelaskan dalam buku dengan judul Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya oleh Harun Nasution bahwa agama dalam bahasa Arab dikenal dengan kata din yang mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan dan kebiasaan. Dijelaskan pula bahwa agama memang membawa peraturan-peraturan yang berupa hukuman, yang harus dipatuhi. 22
Selanjutnya agama memang menguasai diri seseorang untuk tunduk dan patuh kepada Tuhannya dengan menjalankan ajaran agama. Agama juga membawa kewajiban pada seseorang yang bila tidak dijalankan kewajiban tersebut akan menjadi hutang, dan harus ditunaikan. Bila seseorang sudah terbiasa dalam keadaan patuh, taat, tunduk, dan rela menjalankan kewajibannya, maka dia akan mendapat balasan yang baik dari Tuhan.23
Sementara itu Khurshid Ahmad dalam bukunya Islam: Its Meaning and Message mengatakan bahwa kata Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu kata salima yang berarti selamat, sentosa dan damai. Dari asal kata itu dibentuk kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat.24 Dikatakan oleh Maulana Muhammad Ali, bahwa kata salima yang selanjutnya dirubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. 25
Dari uraian di atas, ada persamaan pengertian dari Agama dan Islam yaitu, patuh, tunduk, dan taat. Maka dapat disimpulkan bahwa agama adalah Islam, Islam adalah agama itu sendiri. Islam adalah cerminan kemurnian dari makna
22
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilik I, (Jakarta: UI-Press, 2008), Ed. II, h. 1-2
23
Ibid.
24
Khurshid Ahmad dalam Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), Cet. I, h. 91.
25
agama yang mewujudkan manusia untuk memiliki kebiasaan dan perilaku baik yang selalu patuh dan taat kepada Allah SWT semata, agar hidupnya selamat dunia dan akhirat.
b. Secara istilah
Harun Nasution dalam bukunya Islam Ditinjau Dalam Berbagai Aspeknya mengatakan bahwa agama adalah:
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dan kekuatan gaib yang harus dipatuhi
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia
3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia
4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu
5. Suatu sistem tingkah-laku (code of conduct) yang berasal dari suatu kekuatan gaib
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia. 26
Sementara itu Muhammad Alim dalam bukuknya Pendidikan Agama Islam , mengatakan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-rasulNya untuk diajarkan kepada manusia. Dibawa secara berantai dari satu generasi ke generasi selanjutnya dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Islam adalah rahmat, hidayah, dan petunjuk bagi manusia dan merupakan manisfestasi dari sifat rahman dan rahim Allah SWT.27
26
Ibid, h. 2-3
27
Muhammad Alim, Pendididkan Agama Islam, (Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), cet. I, h. 93
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Agama Islam adalah suatu ajaran Allah SWT yang ditaati dan diakui yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia yang sesuai dengan syariat agama Islam.
5. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Makna dari peranan guru dijelaskan oleh Wrightman dalam Moh. Uzer Usman yang mengatakan bahwa,:
“Peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.” 28
Peran guru memiliki keragaman yang menuntut keahlian khusus dalam mewujudkan tujuannya untuk mendewasakan anak, guru mempunyai banyak peran. Untuk mengetahui apa saja peran guru, maka dibawah ini penulis mengutip beberapa pendapat tentang peran guru, yaitu:
a. E Mulyasa mengindentifikasikan sedikitnya ada 19 peran guru yakni, guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa ceritera, aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan kulminator. 29
b. Adams & Decey dalam Usman, mengemukakan antara lain ada 10 peran guru, yaitu: pengajar, pemipin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator, dan konselor. 30 Dari uraian di atas penulis menyimpulkan betapa universalnya peran yang harus dijalankan oleh seorang guru. Tampak begitu beragam dan kompleksnya, hal ini tentu membutuhkan keahlian dan harus bisa memetakan kapan peran-peran tersebut dilakukan. Untuk itu penulis sepakat dengan apa yang ditulis oleh Moh.
28
Wrightman dalam Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), cet. XVII, h. 4
29
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), cet. V, h. 37
30
Uzer Usman dalam bukunya „Menjadi Guru Profesional’yang membagi peran guru menjadi empat bagian peran guru, sehingga guru dengan mudah menempatkan perannya pada tempat yang tepat. Empat bagian peran guru yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar: Guru sebagai demonstrator, pengelola kelas, mediator, fasilitator, dan evaluator. Artinya bahwa seorang guru Pendidikan Agama Islam harus mampu menguasai bahan ajar (materi) agar mudah mendemontsrasikannya dengan baik, senantiasa mengembangkan kemampuannya untuk mengelola kelas, menguasai media pendidikan yang merupakan alat komunikasi yang efektif dan efisiensi dalam proses belajar-mengajar, mengembangkan kemampuan diri untuk berinterasi dan mampu menciptakan komunikasi aktif dengan siswa untuk memunculkan minat dan kegiatan aktif dari siswa di kelas, terakhir guru harus mampu mengevaluasi pencapaian tujuan apakah perannya dalam proses belajar mengajar efektif memberikan pengaruh pada hasil belajar siswa.
b. Peran Guru dalam Pengadministrasian: Guru sebagai pengambilan inisiatif, pengarah, dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan, sebagai wakil masyarakat, sebagai orang yang ahli dalam mata pelajaran, sebagai penegak disiplin, sebagai pelaksana administrasi pendidikan, sebagai pemimpin generasi muda, dan sebagai penerjemah kepada masyarakat. Artinya bahwa seorang guru Pendidikan Agama Islam sebagai pemenuh harapan masyarakat dan panutan harus memiliki wawasan yang luas untuk turut serta dalam merancang kegiatan pendidikan, bertanggung untuk mewariskan kebudayaan pada siswa berupa pengetahuan, mampu berdisplin dalam segala hal, disamping merancang kegiatan juga harus mampu melakukan kegiatan-kegiatan administrasi, mampu menjadi pemimpin dalam membina dan mempersiapkan generasi muda menjadi pribadi yang dewasa, dan mampu memberikan informasi terutama tentang perkembangan masalah pendidikan yang ada di sekitarnya.
c. Peran Guru Secara Pribadi: Guru sebagai petugas sosial, pelajar dan ilmuwan, orang tua, pencari teladan, dan pencari keamanan. Artinya bahwa seorang guru Pendidikan Agama Islam harus mampu memiliki sifat yang dapat dipercaya, pandai dan selalu mengikuti perkembangan, menjadi wakil orang tua yang baik bagi siswa, menjadi teladan yang berakhlak mulia, dan menjadi tempat berlindung yang nyaman serta selalu memberikan rasa aman bagi siswa.
d. Peran Guru Secara Psikologis: Guru sebagai ahli psikologi pendidikan, seniman dalam hubungan antar manusia, pembentuk kelompok, catalytic agent, petugas kesehatan mental.Artinya bahwa seorang guru Pendidikan Agama Islam harus mampu menguasai ilmu psikologi yang memahami prinsip-prinsip psikologi, menguasai teknik bagaimana membuat hubungan antar manusia, dan bertanggung pada pembinaan kesehatan mental siswa.31
Dari uraian tentang peran guru di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seorang guru memiliki peran yang sangat kompleks dan butuh keahlian khusus, karena tugas dan peran guru termasuk guru Pendidikan Agama Islam, sangat tidak mudah untuk dilaksanakan begitu saja. Seorang guru Pendidikan Agama Islam juga harus memahami tujuan pendidikan yang sedang dilaksanakannya.
Al-Abrashyi dalam Hasan Langgulung menyimpulkan lima tujuan umum bagi pendidikan Islam:
a. Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia b. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
c. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfa’at
d. Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keingintahuan, lalu mengkaji ilmu pengetahuan
e. Menyiapkan pelajar dari segi profesional.32
Selanjutnya Hasan Langgulung menyimpulan tujuan akhir atau tujuan khusus dari dari pendidikan dalam Islam adalah, membentuk watak manusia
31
Usman, Ibid., h. 9-13
32
Al-Abrashyi dalam Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta: Radar Jaya Offset, 1989), cet. II, h. 60-61
sebagai khalifah di bumi ini, atau dengan kata lain, pembentukan pribadi khalifah pada anak didik yang memiliki fitrah, roh disamping badan, kemauan yang bebas, dan akal.33
Dengan demikian peran Guru Pendidikan Agama Islam dapat penulis simpulkan dengan: “Seperangkat tingkah laku seorang guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki kompetensi dan keahlian sesuai bidangnya, utnuk mendidik, membina, dan mengembangkan potensi siswa, sesuai dengan kaidah-kaidah agama Islam yang berlaku”. Diharapkan guru Pendidikan Agama Islamdalam melaksanakan perannya hingga memenuhi harapan masyarkat serta memberikan pengaruh positif pada siswa, terutama terhadappembentukan akhlak siswa yang kelak menjadi khalifah di muka bumi.
B. Pembentukan Akhlak Siswa