• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PERCERAIAN

A. Pengertian Anak dan Hak Pemeliharaan Anak

Anak merupakan persoalan yang selalu menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat, bagaimana kedudukan dan hak-haknya dalam keluarga dan bagaimana seharusnya ia diperlakukan oleh kedua orang tuanya, bahkan juga dalam kehidupan masyarakat dan negara melalui kebijakan-kebijakannya dalam mengayomi anak.69

Majelis Umum PBB pada tanggal 20 November 1990 bertempat di New York menyelenggarakan Convention on the Rights of the Childs (CRC), di antara hasil-hasilnya menyatakan bahwa Anak adalah setiap orang di bawah usia

18 tahun, kecuali berdasarkan hukum yang berlaku terhadap anak kedewasaan telah diperoleh sebelumnya (Pasal 1 CRC).70

Pengertian anak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keturunan, anak juga mengandung pengertian sebagai manusia yang masih kecil. Selain itu, anak pada hakekatnya seorang yang berada pada satu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi

69

Aris Bintania, Hak Dan Kedudukan Anak Dalam Keluarga Dan Setelah Terjadinya Perceraian, http://www.pdf-search-engine.com/.html, Diakses April 2010.

70

Laporan UNICEF tahun 1995 dalam 1999, Aspek Hukum Perlindungan Anak, dalam Perspektif Konvensi Hak Anak, Bandung, PT Citra Aditya Bakti, hal 1.

dewasa.71 Sudarsono, mengemukakan bahwa yang dikatakan anak adalah apabila telah mencapai usia 7 (tujuh) tahun sampai 17 (tujuh belas) tahun.72

Anak menurut Hassan adalah muda-mudi/remaja yang masih dianggap anak-anak, yang masih memerlukan bimbingan dari orang tua/keluarga

serta masih harus belajar banyak baik melalui pendidikan orang tua maupun menimba pengalaman-pengalaman dalam kehidupan bermasyarakat.73

Pengertian anak-anak/remaja berdasarkan pendapat masyarakat secara umum adalah mereka yang masih berusia antara 13 (tiga belas) sampai dengan 15 (lima belas) tahun dan belum kawin, umumnya masih tinggal bersama orang tua.74

Ada berbagai cara pandang dalam menyikapi dan memperlakukan anak yang terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin dihargainya hak-hak anak, termasuk oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Menurut ajaran Islam, anak adalah amanah Allah dan tidak bisa dianggap sebagai harta benda yang bisa diperlakukan sekehendak hati oleh orang tua. Sebagai amanah anak harus dijaga sebaik mungkin oleh yang memegangnya, yaitu orang tua. Anak adalah manusia yang memiliki nilai kemanusiaan yang tidak dapat dihilangkan

71

Anton M. Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1988, hal. 30.

72

Sudarsono, Kenakalan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta, 1990, hal 13.

73

Hassan, Kumpulan Soal Tanya Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama. Diponegoro, Bandung, 1983, hal 518.

74

Ruslan,. Warta Perundang-Undangan No. 2333. Jakarta. Kamis 19 Februari 2004, hal 23-54.

dengan alasan apa pun. Adanya tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan anak, menunjukkan bahwa anak sebagai sosok manusia dengan kelengkapan-kelengkapan dasar dalam dirinya baru mulai mencapai kematangan hidup melalui beberapa proses seiring dengan pertambahan usianya. Oleh karena itu, anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang tua.

Dengan demikian, jelas bahwa anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal.

Menurut Fitria A. yang mengutip pendapat John Locke “anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan”.75 Sedangkan Sumadi Suryabrata mengutip pendapat Augustinus yang dipandang sebagai peletak dasar permulaan psikologi anak, mengatakan bahwa “Anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih mudah

75

Fitria A. Pengertian Anak Tinjauan secara Kronologis dan Psikologis, http://duniapsikologi.dagdigdug.com/, Desember 2009

belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan yang bersifat memaksa.76

Fitria A yang mengutip pendapat Sobur mengartikan “anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan”.77 Sedangkan Sumadi Suryabrata yang mengutip Haditono, berpendapat bahwa “Anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu, anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.78

Selanjutnya dapat pula dikemukakan beberapa pengertian anak yang belum dewasa menurut beberapa ketentuan perundang-undang antara lain :

1. Pasal 330 KUH Perdata, menerangkan bahwa yang dikategorikan belum dewasa adalah bagi mereka yang belum genap berusia 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.

2. Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Undang-Undang Pokok Perkawinan makna dewasa tersirat dalam pasal 7 yakni “ perkawinan hanya

76

Sumadi Suryabrata, Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Andi, Yogyakarta, 2000. hal 3.

77

Fitria A. Op.Cit., , http://duniapsikologi.dagdigdug.com/, Desember 2009

78

diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan wanita mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

3. Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam pasal 1 angka (1) dijelaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 ( delapan belas ) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

4. Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Dalam pasal 1 angka (1) merumuskan bahwa anak dalam perkara anak nakal adalah orang yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 ( delapan belas ) tahun dan belum pernah kawin.

“Dari segi lain seperti agama maupun segi adat pada umumnya yang disebutkan sudah dewasa adalah mereka yang jika wanita sudah pernah haid dan jika laki-laki sudah pernah mengeluarkan sperma dalam keadaan tidak sadar”.79 Sedemikian banyaknya pendapat-pendapat yang saling berbeda-beda satu sama lain, adalah suatu bukti bahwa betapa pentingnya untuk memahami pengertian tentang anak-anak/remaja.

Dari uraian tersebut diatas jelaslah bahwa anak adalah seorang yang belum mencapai umur delapan belas tahun dan belum pernah kawin jadi walaupun anak belum mencapai usia delapan belas tahun tetapi sudah menikah maka sudah dapat

79

Hassan, Kumpulan Soal Tanya Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama. Diponegoro, Bandung, 1983, hal. 519.

dikategorikan dewasa. Anak dalam pengertian sehari-hari adalah seseorang yang dilahirkan dalam suatu perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita.

Di dalam al-Qur’an, “anak sering disebutkan dengan kata walad-awlâd yang

berarti anak yang dilahirkan orang tuanya, laki-laki maupun perempuan, besar atau kecil, tunggal maupun banyak. Karenanya jika anak belum lahir belum dapat disebut al-walad

atau al-mawlûd, tetapi disebut al-jan n yang berarti al-mastûr (tertutup) dan al-khafy

(tersembunyi) di dalam rahim ibu”. 80

Kata al-walad dipakai untuk menggambarkan adanya hubungan keturunan,

sehingga kata al-wâlid dan al-wâlidah diartikan sebagai ayah dan ibu kandung. Berbeda

dengan kata ibn yang tidak mesti menunjukkan hubungan keturunan dan kata ab tidak

mesti berarti ayah kandung.81

Dalam Pasal 42 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, disebutkan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat dari perkawinan yang sah. Kemudian dalam Pasal 250 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dijelaskan bahwa anak sah adalah anak yang dilahirkan selama perkawinan. Jadi, “anak yang dilahirkan dalam suatu ikatan perkawinan yang sah mempunyai status sebagai anak kandung dengan hak-hak keperdataan melekat

80

Aris Bintania, Op.Cit., http://www.pdf-search-engine.com/.html, Diakses April 2010.

81

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah:Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jilid XV, Jakarta, Lentera Hati, 2004, hal. 614.

padanya serta berhak untuk memakai nama di belakang namanya untuk menunjukkan keturunan dan asal usulnya”.82

Menurut Abdul Manan yang mengatakan bahwa :

Dalam Islam anak adalah anak yang dilahirkan. Anak tercipta melalui ciptaan Allah dengan perkawinan seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan kelahirannya. Seorang anak yang sah ialah anak yang dianggap lahir dari perkawinan yang sah antara ayah dan ibunya. Dan sahnya seorang anak di dalam Islam adalah menentukan apakah ada atau tidak hubungan kebapakan (nasab) dengan seorang laki-laki.83

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa anak adalah tunas pemangku tongkat estafet masa depan negara, bangsa, maupun agama, oleh sebab itu perhatian yang besar terhadap anak berarti perhatian yang besar pula terhadap negara, bangsa maupun agama. Oleh karena itu, terhadap anak diperlukan pula suatu bentuk perlindungan hukum yang dapat menjamin masa depan dan kehidupannya kelak.

Hubungan anak dan orang tua menyangkut hak dan kewajiban masing-masing pihak. Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 233, tentang kewajiban orang tua, disebutkan :

“Dan para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena

82

Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Kencana Predana Media Group, Jakarta, 2006, hal. 78.

83

Fitrian Noor Hata, Status Hukum Dan Hak Anak Hasil Dari Perkawinan Wanita Hamil (Studi Komparatif antara Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia). PA Banjarmasin, 2006, hal 2.

anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Menurut ayat tersebut di atas, maka orang tua berkewajiban terhadap anaknya sesuai dengan kadar kemampuannya yaitu, memelihara, mengasuh, mendidik, menjaga dan melindunginya.

Menurut Abdur Rozak anak mempunyai hak-hak : 1. Hak anak sebelum dan sesudah dilahirkan. 2. Hak anak dalam kesucian keturunannya.

3. Hak anak dalam menerima pemberian nama yang baik. 4. Hak anak dalam menerima susuan.

5. Hak anak dalam mendapatkan asuhan, perawatan dan pemeliharaan. 6. Hak anak dalam kepemilikan harta benda atau hak warisan demi

kelangsungan hidupnya.

7. Hak anak dalam bidang pendidikan dan pengajaran.84

“Dalam ajaran Islam, anak adalah amanat Allah kepada kedua orang tuanya, masyarakat, bangsa dan negara sebagai waris dari ajaran Islam, anak menerima setiap ukiran dan mengikuti semua pengarahan yang diberikan kepadanya”.85 Oleh karena itu anak perlu dididik dan diajari dengan kebaikan. Menurut Abdul Rozak Husein yang mengutip pendapat Abdullah Bin Abdul Muhsin At Tuna mengatakan bahwa “Masa kanak-kanak merupakan sebuah periode penaburan benih, pendirian tiang pancang, pembuatan pondasi yang dapat disebut dengan periode pembentukan.

84

Abdur Rozak Husein, Hak Anak Dalam Islam, Fikahati Aneska, Jakarta 1992, hal. 21.

85

Safuddin Mujtaba dalam Iman Jauhari (I), Hak-Hak Anak dalam Hukum Islam,Pustaka BangsaPress, Jakarta, hal. 84.

Kepribadian dan karakter dari seorang manusia agar mereka kelak memiliki kemampuan dan kekuatan serta mampu berdiri tegar dalam meniti kehidupan”.86

“Dalam pandangan dunia internasional, hak-hak anak menjadi aktual sejak dibicarakan pada tahun 1942 yang dinyatakan dalam Deklarasi Jenewa yang menggelompokkan hak-hak manusia dan memuat pula hak asasi anak selain itu hak anak dituangkan dalam Declaration On The Rights Of The Child yang dikenal dengan deklarasi hak asasi anak pada tanggal 20 November 1989”.87

Deklarasi hak asasi anak yang dicetuskan oleh PBB tersebut belum dapat dipandang sebagai suatu ketentuan hukum positif dalam terisolasinya pergaulan masyarakat dengan anak Oleh karena itu pemerintah Indonesia telah merativikasi dan mengeluarkan keputusan Presiden RI (Keppres) No.36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on The Right of The Child.

”Langkah yang bijaksana pemerintah Indonesia, dilakukan pada tahun 1979 dengan mengundangkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, Akan tetapi pada operasionalnya undang-undang tersebut belum begitu mencerminkan suatu proses penegakan hak asasi anak yang lebih transparan”.88

Perlindungan anak adalah suatu usaha melindungi anak agar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya, Hukum perlindungan anak adalah hukum

86

Abdur Rozak Husein, Op.Cit., hal. 21. 87

Thaha Abdullah Al Afifi, Hak Orang Tua Pada Anak dan Hak Anak Pada Orang Tua, diterjemahkan oleh Zaid Husein Al Hamid, Dar El Fikr Indonesia, Jakarta, 1987.

88

Iman Jauhari (II) Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Keluarga Poligami, USU Press, Medan 2001 hal. 98-100.

(tertulis dan tidak tertulis) yang menjamin anak benar-benar dapat memperoleh hak dan kewajibannya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas jelslah bahwa anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kepribadian bangsa untuk menjadi warga negara yang baik anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. “Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan yang wajar”.89