• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskrifsi Teoritis

1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar

Dalam pengertian Belajar ini banyak para ahli berpendapat diantaranya adalah: Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dan interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai: “ Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.6

Belajar menurut Good dan Brophy dalam buku Education Psychologi: A Realistic Approach mengemukakan arti belajar yaitu Learning is the development of new associations as a result of experience.

Dari definisi yang dikemukakannya itu selanjutnya menjelaskan bahwa belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal. Belajar tidak dapat dilihat dengan nyata; proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud denagn belajar menurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang tampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan-hubungan baru.7

Belajar menurut Muhibin Syah mengutip pendapat Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan, yaitu:

1) Rumusan pertama berbunyi: belajar adalah perolehan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.

2) Rumusan kedua berbunyi: belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.8

Disamping pendapat-pendapat tersebut, ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebgai berikut:

6Slameto, Belajar Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya , ( Jakarta: Rineka Cipta, 1995)h.2

7Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2002).

Cet. Ket-19, h.85.

8Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta: Remaja Rosda Karya, 2004), Cet ke-9, h. 90.

a. Cronbach memberikan definisi: “Learning is show by a change in behavior as a result of experience”

b. Harold spears memberikan batasan: “learning is to observe, to read, to imitate, to try something them selves, to listen, to follow direction”

c. Geoch, mengatakan: learning is a change in performance as a result of practice

Dari ketiga definisi diatas, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkai kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan dan lain sebagainya.9

Dengan belajar seseorang akan mengalami dan mendalami suatu perubahan yang akan menimbulkan respon-respon tertentu belajar akan lebih berhasil apabila merupakan pengalaman yang menyenangkan siswa dalam belajar sehingga mampu mengembangkan cara berfikirnya.

Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahawa: ”Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.10

Dalam pandangan psikologis secara umum mendefinisikan belajar merupakan proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dan interaksi dengan lingkungannya. Sejalan dengan itu Reber membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah The process of acquiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah A relative permanent change ini respons potensiality which occurs as a result of reinforced

9Sardiman AM., Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, ( Jakarta : PT Raja Grapindo: 2007)h.20

10Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan,... h.84.

practise, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.11

Belajar menurut psikologi gestalt dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insight) merupakan faktor yang penting. Dengan belajar dapat memahami/mengerti hubungan antara pengetahuan dan pengalaman.

2. Dalam belajar pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanistis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan.12

Dari pendapat tersebut, belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan-latihan yang dilakukan berulang dan pengalaman yang sifatnya relatif menetap, bukan bersifat sementara atau tiba-tiba terjadi kemudian cepat hilang kembali.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam yaitu:

1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.

2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.

3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.13

Dari beberapa pengertian belajar di atas dapat disimpulkan bahwa Belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman yang membedakan antara keadaan sebelum individu berada dalam situasi

11Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan..., h. 91.

12Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan,... h.101.

13Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan... , h. 132.

belajar dan sesudah melakukan belajar, dan perubahan itu dilakukan lewat kegiatan atau peraktek yang disengaja. Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Ada 6 ciri dari belajar yang mengandung pemahaman, yaitu:

a. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar

b. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu c. Pemahaman tergantung pada pengaturan situasi

d. Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba e. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi

f. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan bagi pamahaman situasi lain.

Manusia sebagai mahluk yang dikaruniai akal dan pikiran sudah seharusnya mampu membaca, memperhatikan, memikirkan, dan mempelajari kejadian-kejadian yang terjadi dilingkungan alam sekitarnya baik lingkungan alam yang berupa fisik maupun lingkungan alam yang bersifat sosial. Dengan mempelajari alam semesta ini manusia akan semakin yakin tentang adanya allah SWT, dan dapat mengambil pelajaran atau hikmah yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai kewajiban untuk membaca atau belajar seiring dengan firman Allah yang berbunyi:

ا

Artinya: “ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (QS.

Al-Alaq:1-2)”14

Dalam ayat Al-Qur’an di atas kata “ Iqra” yang berarti “ Bacalah “ merupakan kalimat perintah sehingga membaca atau belajar merupakan kewajiban. Dengan mempelajari proses kejadian alam dan dirinya (manusia), manusia dapat bertambah keimanan dan keyakinannya terhadap Allah SWT, dan menyadari betapa besar kekuasaan Allah yang telah menciptakan alam semesta yang begitu besar, dan kuasa menciptakan manusia dari segumpal darah.

Menurut teori konstruktivisme, fokus utama dalam pembelajaran matematika adalah memberdayakan siswa untuk berpikir mengkonstruksi pengetahuan matematika yang pernah ditemukan oleh ahli-ahli

sebelumnya.

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama dalam Martinis dengan ide utamanya sebagai berikut:

1. Pengetahuan tidak diberikan dalam bentuk jadi (final), tetapi siswa membentuk pengerahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya, melalui proses asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah penyerapan informasi baru ke dalam pikiran.

Akomodasi adalah penyusunan kembali (modifikasi) struktur kognitif karena adanya informasi baru, sehingga informasi itu mempunyai tempat.

2. Agar pengetahuan diperoleh, siswa harus beradaptasi dengan linkungannya. Adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Andaikan dengan proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkunganya, terjadilah ketidaksetimbangan. Akibatnya

14Wahyudi, CHA Dwi Retna Damayanti, Program Pendidikan Untuk Anak Usia Dini Di Prasekolah Islam, (Jakarta: PT Grasindo, 2005), h. 50

terjadilah akomodasi dan struktur yang ada mengalami perubahan atau struktur baru timbul.

3. Andaikan dengan proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya, terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibatnya terjadilah akomodasi, dan struktur yang ada mengalami perubahan atau struktur baru timbul.

4. Pertumbuhan intelektual merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang.

Tetapi bila terjadi kembali kesetimbangan, maka individu itu berada pada tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan intelektual anak dipengeruhi oleh faktor sosial. Lingkungan sosial dan pembelajaran secara natural mempengaruhi perkembangan anak dalam meningkatkan kekomplekan dan kesistematikan kognitif.15

Menurut Wheatley dalam jurnal Hamzah, dua prinsip utama dalam pembelajaran konstruktivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.

Kedua, fungsi kognitif bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.16

Secara umum menurut Horsley (1990: 59) dalam Martinis mengutarakan bahwa pembelajaran dengan teori konstruktivisme meliputi empat tahapan:

1) Tahap apersepsi, ini berguna untuk mengungkapkan konsepsi awal siswa dan membangkitkan motivasi belajar

2) Tahap eksplorasi

3) Tahap diskusi dan penjelasan konsep

15Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2008), Cet ke-1, h. 91.

16 Hamzah, “Pembelajaran Matematika Menurut Teori Belajar Konstruktivisme”dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, No. 040, Tahun ke-8, November 2002. h. 67

4) Tahap pengembangan dan aplikasi konsep.

Konstruktivisme merupakan pembelajaran yang berfokus pada bagaimana siswa dapat memahami konsep tentang materi yang diajarkan.

Dimana siswa dapat membangun sendiri pemahamannya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata, tentunya dengan prosedur di atas.

Menurut Fensham (1994:5) penganut kontuktivisme memiliki pandangan tentang belajar bahwa orang membangun makna tentang hal-hal yang dialami atau diceritakan secara aktif oleh diri mereka sendiri.

Makna yang dibangun bergantung pada pengetahuan yang sudah ada pada diri seseorang. Oleh karena pengalaman dan hasil bacaan perorangan berbeda-beda maka hasil pemaknaan juga boleh jadi menjadi amat berbeda.17

Berpijak pada uraian di atas, maka pada dasarnya aliran kontruksivisme menghendaki bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna.

Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang pengalaman orang lain.

Prinsip-prinsip yang sering diambil dari kontruktivisme menurut suparno (1997:73), antara lain:

a. Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif, b. Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa, c. Mengajar adalah membantu siswa belajar,

d. Tekanan dalam proses belajar lebih pada bukan pada hasil akhir,

e. Kurikulum menekankan menekankan partisipasi siswa, dan f. Guru sebagai fasilitator.18

Akhir-akhir ini para ahli mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dilandasi pandangan konstruktivisme dari Piaget.

17Nuryani Y. Rustaman Dkk, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: Universitas Negri Malang, 2005), Cet.I, h. 171.

18Trianto, Model Pembelajaran Terpadu,...h. 29.

pandangan ini berpendapat bahwa dalam proses belajar anak membangun pengetahuannya sendiri dan memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (Dahar, 1989:160). Oleh karena itu setiap siswa akan membawa konsepsi awal mereka yang diperoleh selam berinteraksi dengan lingkungan dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat beberapa hal yang perlu ditekankan dalam konstruktivisme, yaitu : (1) peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna; (2) pentingnya membuat kaitan antar gagasan oleh siswa mengkonstruksi pengetahuan;

(3) mengaitkan antara gagasan siswa dengan informasi baru di kelas (Tasker, 1992: 30). Konstruktivisme yang menggunakan kegiatan hands-on serta memberikan kesempatan yang luas untuk melakukan dialog dengan guru dan teman-temannya akan dapat meningkatkan pengembangan konsep dan keterampilan berpikir para siswa.

Teori pembelajaran kontruktivisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.19

Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan akan terbentuk atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasar pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya, sebagaimana dinyatakan Bodner (1986:873): “… knowledge is constructed as the learner strives to organize his or her experience in terms of preexisting mental structures”.

Dengan demikian, belajar matematika merupakan proses memperoleh pengetahuan yang diciptakan atau dilakukan oleh siswa sendiri melalui transformasi pengalaman individu siswa. Di samping itu, pentingnya

19Trianto, Model Pembelajaran Terpadu,...h. 26

kemampuan memecahkan masalah, terutama di saat para siswa sudah bekerja atau di saat mempelajari materi lain, akan menuntut adanya perubahan proses pembelajaran di kelas-kelas, termasuk di Sekolah Dasar di seluruh Indonesia.

Berdasarkan penjelasan dan contoh di atas, implikasi konstruktivisme pada pembelajaran di antaranya adalah:

1. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak mesti diikuti dengan hasil yang bagus pada siswanya. Setiap siswa SD harus mengkonstruksi (membangun) pengetahuan matematika di dalam benaknya masing-masing berdasar pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam benaknya.

2. Tugas setiap guru adalah memfasilitasi siswanya, sehingga pengetahuan matematika dibangun atau dikonstruksi para siswa sendiri dan bukan ditanamkan oleh para guru. Para siswa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru ke dalam kerangka kognitifnya. Karenanya, pembelajaran matematika akan menjadi lebih efektif bila guru membantu siswa menemukan dan memecahkan masalah dengan menerapkan pembelajaran bermakna

3. Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkan dan yang dibuat para siswa untuk mendukung model-model itu. Karenanya, para guru harus mau bertanya dan mau mengamati pekerjaan siswanya. Setiap kesalahan siswa harus menjadi umpan balik dalam proses penyempurnaan rancangan proses pembelajaran berikutnya.

4. Pada konstruktivisme, siswa perlu mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri untuk masing-masing konsep matematika sehingga peranan guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan matematika pada siswa tetapi menciptakan situasi

bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-kontruksi mental yang diperlukan. Pada akhirnya mudah-mudahan tulisan ini akan lebih menjelaskan dan dapat meyakinkan para guru, akan perlunya perubahan ini.

Esensi dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentansformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Landasan berfikir kontruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektifitas, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan kontruktivisme, strategi memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:

1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa;

2) Memberi kesempatan siswa menemukan menerapkan idenya sendiri; dan

3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.20

Setiap model, strategi atau metode pendidikan memiliki keurangan dan kelebihan masing-masing. Adakalanya cocok menggunakan metode yang satu dan tidak cocok dengan metode lainnya. Berikut ini akan dijelaskan kelebihan dari metode konstruktivisme, diantaranya:

1. Pembelajaran melekat dalam lingkungan belajar yang komplek, realistis, dan relevan.

2. Menyediakan negosiasi sosial, dan tanggungjawab bersama sebagai bagian dari pembelajaran.

3. Mendukung pandangan beragam dan menggunakan representasi yang juga beragam terhadap isi yang dipelajari.

20Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: CV Alfabet, 2006), Cet.

4, h. 88

4. Meningkatkan kesadaran diri dan pengertian bahwa pengetahuan itu dibangun.

5. Mendorong kesadaran dalam pembelajaran.

Kekurangan dari metode konstruktivisme adalah sebagai berikut:21 1) Sulit mengubah keyakinan guru yang sudah bertahun-tahun

menggunakan pendekatan tradisional.

2) Guru konstruktivis dituntut lebih kreatif dalam merencanakan pembelajaran dan memilih menggunakan media.

3) Pendekatan konstruktifis menuntut perubahan siswa evaluasi, yang mungkin belum bisa diterima oleh otoritas pendidik dalam waktu dekat.

4) Fleksibilitas kurikulum mungkin masih sulit diterima oleh guru yang terbiasa dengan kurikulm terkontrol.

5) Siswa dan orang tua mungkin memerlukan waktu beradaptasi dengan proses belajar dan mengajar yang baru.

Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan

psikomotorik. Hasil belajar merupakan tolak ukur berhasil atau tidaknya seorang subyek didik dalam menyelesaikan program belajar yang dibebankan kepada siswa, sehingga terlihat adanya perubahan tingkah laku secara keseluruhan.

Dalam hal ini penentu baik atau tidaknya hasil belajar siswa adalah siswa itu sendiri, karena siswalah yang bertanggung jawab terhadap komitmen dirinya menjalani proses belajar dari gurunya, hasil belajar dapat diukur melalui tes dalam bentuk nilai atau diamati dengan jalan membandingkan sebelum dan sesudah belajar.

21Guru, Pembelajaran Konstruktivistik,

http://www.whandi.net/?pilih=new&aksi=lihat&id=66, hal 4, 13 April 2007.

Ada empat unsur utama dalam proses pembelajaran, yaitu tujuan, bahan, metode, dan alat serta penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses pembelajaran pada hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya. Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam proses pembelajaran agar sampai pada tujuan yang ditetapkan. Metode dan alat adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sedangkan penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak.

Untuk mengatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan yang berbeda sejalan dengan filsafatnya. Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khususnya dapat tercapai.22Hasil belajar adalah tingkah laku yang dimiliki individu sebagai akibat dari belajar yang ditempuh.

Menurut Benyamin Bloom seperti yang dikutip Nana sudjana obyek penilaian hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah, yaitu:

a. Ranah Kognitif b. Ranah Afektif

c. Ranah Psikomotorik.23

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi. Ranah kognitif ini yang banyak dipakai guru di sekolah untuk menilai kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pelajaran. Sedangkan ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian

22Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Cet Ke-2, h. 105.

23Nana Sujana, Penilaian Hasil Proses…,h.22-23

organisasi, dan intelegensi. Dan ranah psikomotorik berekanaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak, ada enam aspek ranah psikomotorik yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan atau ketetapan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Proses pengajaran di sekolah, diarahkan untuk memperoleh tiga aspek tersebut, namun demikian penilaian lebih tampak pada ranah kognitif, hal ini dikarnakan kegiatan yang berkaitan dengan ranah kognitif lebih mudah diukur. Untuk memulai hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar maka perlu dilakukan suatu kegiatan evaluasi.

Kegiatan ini dapat dilihat dan diukur melalui alat evaluasi berupa tes.

Hasil belajar adalah nilai hasil pengajaran yang telah diberikan oleh guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu.

Menurut Syaiful Djamarah ketercapaian hasil belajar dapat dikategorikan menjadi beberapa kriteria, yaitu:

1) Istimewa/maksimal, apabila seluruh (100%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.

2) Baik sekali/optimal, apabila sebagian besar (76%-99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.

3) Baik/minimal, apabila hanya 60%-75% bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.24

Hasil belajar merupakan tingkah laku yang dimiliki individu sebagai akibat dari proses belajar yang ditempuh. Hasil belajar yang dimaksud perkembangan sikap dan kepribadian siswa yang sekaligus menjadi tuntunan pengajaran yang ingin dicapai pada pokok bahasan bidang studi tertentu yang sering dikaitkan dengan aspek kognitif, afektif, dan aspek psikomotorik.

Hasil belajar matematika di tingkat sekolah dasar dan menengah umumnya dinyatakan dengan nilai (angka), sehingga siswa yang belajar matematika akan mempunyai kemampuan baru tentang

24Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar...,h.107.

matematika sebagai tambahan dari kemampuan yang telah ada. Hasil belajar matematika adalah tolak ukur keberhasilan yang dicapai siswa dalam belajar matematika dengan tujuan kognitif, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Sebelum seorang guru menilai hasil belajar siswa dalam penguasaan terhadap mata pelajaran yang ditekuninya, guru tersebut sebaiknya mengukur hasil belajar siswa dalam penguasaan pelajaran tersebut. Kegiatan pengukuran hasil belajar siswa dapat dilakukan antara lain melalui ulangan, ujian, tugas, dan sebagainya.

Dokumen terkait