SEBAGAI SUBJEK DAN SUMBER HUKUM INTERNASIONAL
A. Kajian Umum tentang Kolaborasi Antar Negara menurut Perspektif Hukum Internasional
A.1. Pengertian Dan Batasan Kolaborasi Antar Negara
Hubungan internasional melibatkan interaksi antara unsur-unsur negara yang berbentuk kerjasama atau konfllik dengan dasar pertimbangan kebijakan luar negeri masing-masing negara.
Kerjasama adalah upaya yang berupa proses pengakhiran atau pun penyelesaian dari berbagai anekaragam masalah nasional, regional atau global yang muncul dan memerlukan perhatian lebih, di mana pemerintah masing-masing pihak saling melakukan pendekatan dengan membawa usul penanggulangan suatu masalah, melakukan tawar menawar atau mendiskusikan masalah, menyimpulkan bukti-bukti teknis untuk membenarkan suatu usul atau yang lainnya dan mengakhiri perundingan dengan suatu perjanjian atau saling pengertian yang memuaskan semua pihak.123 Berdasarkan pengertian tersebut, kerjasama internasional berarti kerjasama yang dilakukan oleh beberapa aktor yang bersifat lintas negara.
Ada empat pendekatan yang digunakan untuk membangun kerjasama dalam hubungan internasional, dan sebagai upaya-upaya untuk mewujudkan dan menjaga perdamaian dan keamanan internasional di dalam sistem internasional124, yakni:
membentuk institusi yang memiliki kewenangan penuh seperti dengan adanya pemerintahan dunia; dengan bekerja sama membentuk aliansi dan koalisi dalam menghadapai masalah bersama; dengan berpartisipasi dalam keamanan bersama
123 Kalevi Jaakko Holsti, International Politics : A Framework for Analyisis, The State, War, and The State of War, Peace and war : Armed Conflicts and International order, 1648-1989, Taming the Sovereigns : Institusional Change in International Politics, The Dividing Dicipline : Hegemony and Diversity in International Theory, 1988, Jakarta : Erlangga, hlm.651
124 Paul R. Viotti and Mark V. Kauppi., “International Relation and World Politic, Security, Economy, Identity” (Third Edition), Chapter 6 dengan topik International Cooperation and International Security: International Organizations, Alliances, and Coalitions., Upper Saddle River ,2006. Hlm.192-237
multilateral dan usaha-usaha perdamaian untuk menegakkan hukum internasional,;
pembentukan konsensus dan perluasan organisasi-organisasi dan rezim internasional untuk untuk menjalankan tugasnya secara fungsional terhadap berbagai macam isu-isu pada Agenda Global abad 21.
Sistem hubungan internasional pada saat ini adalah suatu sistem dengan sistem multipolar, dimana bukan hanya satu atau dua aktor yang sangat berpengaruh melainkan terdapat banyak aktor yang juga memainkan peran penting dalam hubungan internasional. Aktor-aktor tersebut saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain membentuk kerjasama internasional. Dengan demikian, upaya yang terbaik dalam rangka mewujudkan dan menjaga perdamaian dunia adalah dengan kerjasama internasional dan keamanan internasional baik itu kerjasama seperti koalisi, aliansi, keamanan bersama dan kerjasama melalui organisasi internasional.
Kerjasama internasional menurut Holsti mempunyai ciri yakni:125 1).
Pandangan bahwa ada dua atau lebih kepentingan, nilai dan tujuan saling bertemu dan dapat menghasilkan sesuatu, dipromosikan atau dipenuhi oleh semua pihak sekaligus;.
2). Persetujuan atas masalah tertentu antara dua negara atau lebih dalam rangka memanfaatkan persamaan kepentingan atau benturan kepentingan;. 3). Pandangan atau harapan dari suatu negara bahwa kebijakan yang diputuskan oleh negara lainnya untuk membantu negara itu mencapai kepentingannya; 4). Adanya aturan resmi atau tidak resmi mengenai transaksi di masa depan yang dilakukan untuk melaksanakan persetujuan; 5). Transaksi dan interaksi antar negara yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan mereka.
Tingkatan kerjasama dapat dibagi menjadi 3 yaitu:126
125 Holsti, hlm.652-653
126Brian Hocking dan Michael Smith, World Politics: An Introduction to International Relations.1990. New Jersey : Princeton University Perss. hlm : 222
1. Konsensus, ditandai dengan adanya ketidak-hirauan kepentingan, di antara negara-negara yang terlibat tersebut.
2. Kolaborasi, pada tingkat ini ditandai dengan adanya sejumalh besar tujuan, yang di dalamnya terdapat keterlibatan aktif masing-masing negara untuk menghasilkan kerja bersama.
3. Integrasi, yaitu kerjasama yang ditandai adanya tingkat kedekatan dan keharmonisan di antara negara-negara yang turut serta di dalamnya. Pada tingkat ini kemungkinan benturan kepentingan di antara negara-negara terlibat sangat rendah.
Secara harfiah, kolaborasi berarti bentuk penataan kerjasama yang kooperatif beberapa pihak atau aktor (baik individual, komunal, organisasi) yang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Biasanya kolaborasi mempunyai suatu visi bersama untuk mencapai manfaat dan hasil positif bagi khalayak yang mereka layani, serta membangun suatu sistem yang saling terkait untuk mengatasi masalah dan memanfaatkan peluang.127
Pada dasarnya kolaborasi merupakan inti dari organisasi, karena proses kerjasama dalam sistem kerja organisasi adalah kolaboratif, di mana setiap anggota harus bersedia untuk berbagi visi, misi, kekuatan, sumber daya dan tujuan bersama.
Bedanya adalah jika organisasi merupakan suatu perhimpunan negara-negara yang terikat dalam suatu perjanjian internasional yang dilengkapi dengan suatu anggaran dasar dan organ-organ bersama yang mempunyai personalitas yuridik berbeda dari yang dimiliki oleh negara-negara anggota,128 maka kolaborasi hanyalah merupakan keterikatan kerjasama tanpa harus memiliki wadah resmi dan permanen seperti organisasi internasional. Kolaborasi bisa dilakukan oleh organisasi internasional boleh
127 Microsoft and Sogti, “collaboration in the Cloud - How Cross-Boundary Collaboration, Is Transforming Business’, Line up boek en media bv, Groningen, the Netherlands, 2009
128 Boer Mauna, hlm.463
juga tidak. Dengan kata lain, jika organisasi adalah badan konkritnya, maka kolaborasi adalah sifat dan prosesnya.
Tujuan kolaborasi dalam institusi atau organisasi internasional berguna sebagai konduktor dalam bertukar pikiran dan tujuan, yakni tujuan yang menyangkut masalah kesejahteraan universal, pembangunan, industrialisasi, dan membahas mengenai pengaruh dalam proses pengambilan keputusan.129
Kebutuhan akan kerjasama lahir karena pengakuan bahwa biaya demi mencapai kepentingan nasional seringkali berlebihan.130 Dengan adanya kepentingan nasional, sebuah negara akan mengerahkan segala kemampuannya guna mencapai kepentingan tersebut. Hasil dari interaksi dalam pengambilan keputusan secara independen merupakan fungsi dari kepentingan dan ketertarikan suatu negara sehingga berangkat dari kepentingan yang ada, lahirlah sebuah rezim sebagai konsekuensi logis dari adanya interaksi antarnegara dalam mencapai kepentingan nasional.
Akibat adanya kompleksitas yang terjadi di dalam dunia internasional, tidak tertutup kemungkinan adanya kolaborasi serta koordinasi yang beragam antar subjek internasional. Namun, kolaborasi hanya bisa terjadi saat aktor atau negara mempunyai pandangan atau tujuan yang sama dan setiap negara memiliki kesadaran akan terbatasnya kemampuan dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi sehingga masih membutuhkan bantuan dari negara lain atau masih adanya perasaan national self-reliance atau kurangnya kepemilikan kemandirian.131
Beranjak dari uraian di atas, maka dapat ditentukan batasan kolaborasi dalam hubungan internasional sebagai berikut:
129 Haas, E.B. Why Collaborate? Issue Linkage and International Regimes, World Politics.
1980. hlm.357
130 Ibid,.
131 Ibid,.
1. Terdiri dari dua atau lebih subjek atau aktor baik itu negara, lembaga, institusi atau kelompok;
2. Bersifat lintas batas;
3. Mempunyai kepentingan dan kesadaran yang sama;
4. Mempunyai visi dan misi yang sama, menghimpun kekuatan dan sumber daya yang dipunya secara bersama-sama;
5. Mempunyai keputusan dan komitmen yang disepakati bersama untuk kemudian dilaksanakan secara bersama-sama.