• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Ketentuan Salat Sunah Rawatib

1. Pengertian Salat Sunah Rawatib

Salat sunah rawatib yaitu salat sunah yang waktu pelaksana-annya beriringan dengan salat fardu (Sulaiman Rasyid. 1996: halaman 144). Ketentuan pelaksanaan salat sunah rawatib disabdakan oleh Rasulullah saw. melalui hadis dari Ibnu Umar yang artinya, ”Saya memperoleh pelajaran salat dari Nabi Muhammad saw. sebanyak sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut tidak hanya menjelaskan tentang perincian salat sunah rawatib, tetapi merupakan dasar pensyariatan salat tersebut. Nabi Muhammad menganjurkan kepada umat Islam agar menjalankan ibadah sunah ini.

2. Ketentuan Salat Sunah Rawatib

Hukum salat rawatib adalah sunah. Dengan demikian, jika kita mengerjakan ibadah ini mendapatkan pahala, tetapi jika kita tinggalkan tidak berdosa. Salat sunah rawatib dimaksudkan sebagai pelengkap atau penyempurna salat fardu. Oleh karena hanya sebagai pelengkap, kita tidak diharuskan melaksanakan. Jika kamu sedang melaksanakan salat sunah rawatib di masjid dan pada saat yang sama iqamah salat fardu dikumandangkan, kamu sebaiknya menghentikan salat sunah itu dan mengikuti salat fardu. Kita harus mendahulukan salat fardu dibandingkan salat sunah.

Mempraktikkan salat sunah rawatib. Salat sunah rawatib.

Pengertian dan ketentuan salat sunah rawatib.

Ketentuan salat sunah rawatib. Pengertian salat sunah rawatib. Keutamaan salat sunah rawatib.

Salat sunah rawatib dapat kita lihat dari berbagai segi, antara lain:

a. Waktu Pelaksanaannya

Dari segi waktu pelaksanaannya, salat sunah rawatib dapat kita bagi menjadi dua, yaitu qabliyah dan ba‘diyah. Salat sunah rawatib qabliyah dilaksanakan sebelum salat fardu, sedangkan salat sunah rawatib ba‘diyah dilaksana-kan setelah salat fardu.

b. Cara Mengerjakannya

Cara kita mengerjakan salat sunah rawatib sebagai berikut.

1) Ketentuan rakaat salat sunah rawatib dua rakaat-dua rakaat.

2) Kita kerjakan secara munfarid atau sendirian (salat rawatib termasuk salat sunah yang tidak disunahkan untuk kita laksanakan secara berjamaah).

3) Salat sunah rawatib qabliyah dikerjakan sesudah azan sebelum iqamah, sedangkan salat sunah rawatib ba‘diyah dikerjakan sesudah salat fardu.

4) Sebaiknya bergeser dari tempat salat fardu.

c. Hukum Melaksanakannya

Salat sunah rawatib jika dilihat dari segi hukum melaksanakannya, dapat kita bagi menjadi dua sebagai berikut.

alat nah awatib a ad

Muakkad artinya dikuatkan. Salat sunah rawatib muakkad yaitu sunah rawatib yang sangat dikuatkan atau dianjurkan untuk kita laksanakan karena Rasulullah pun selalu melaksanakannya. Perhatikan sabda Rasulullah berikut ini.

Artinya: Dari Abdullah bin Umar berkata, ’Saya hafal Rasulullah saw. (selalu mengerjakan) dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudah Zuhur, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh’. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sumber: Dokumen Penerbit

▲▲

▲Gambar 5.1

Salat sunah rawatib dikerjakan secara munfarid.

Berdasarkan hadis tersebut dapat kita ketahui bahwa salat sunah rawatib muakkad meliputi sebagai berikut. a) Dua rakaat sebelum salat Subuh.

b) Dua rakaat sebelum salat Zuhur. c) Dua rakaat sesudah salat Zuhur. d) Dua rakaat sesudah salat Magrib. e) Dua rakaat sesudah salat Isya.

(Sumber: Sulaiman Rasyid. 1996: halaman 144)

Jumlah salat sunah rawatib sebanyak enam belas rakaat sebagaimana disampaikan oleh hadis Ibnu Umar. Jumlah dan perincian ini yang banyak dipegang ulama fikih. Sementara itu, hadis Ummu Habibah menjelaskan bahwa sunah rawatib (muakkad) berjumlah dua belas rakaat. Berbeda halnya dengan jumhur ulama, antara lain Mazhab Syafi‘i dan Mazhab Hambali, berpendapat bahwa rawatib muakkad itu berjumlah sepuluh rakaat, dengan menghitung hanya dua rakaat sebelum Zuhur.

alat nah awatib air a ad

Gairu muakkad artinya kurang dikuatkan. Salat sunah rawatib gairu muakkad berarti salat sunah rawatib yang tidak selalu dikerjakan oleh Rasulullah. Rasulullah menganjurkan untuk melaksanakan salat sunah ini, tetapi anjurannya tidak sekuat salat sunah rawatib muakkad.

Salat sunah rawatib gairu muakkad meliputi sebagai berikut.

a) Dua rakaat sebelum dan sesudah salat Zuhur, selain yang telah disebutkan dalam salat sunah rawatib muakkad.

b) Empat rakaat sebelum salat Asar. c) Dua rakaat sebelum salat Magrib. d) Dua rakaat sebelum salat Isya.

Ketentuan salat sunah rawatib gairu muakkad dari berbagai mazhab, sebagaimana dikemukakan Wahbah az-Zuhaili (ahli fikih kontemporer dari Suriah) sebagai berikut.

1. Menurut ulama Mazhab Hanafi, sebanyak enam

belas rakaat, yaitu dua rakaat sesudah Zuhur, empat rakaat sebelum Asar dengan satu salam, empat rakaat sebelum Isya dengan satu salam, dan enam rakaat sesudah Magrib dengan satu, dua, atau tiga salam.

2. Menurut ulama Mazhab Syafi’i, sebanyak dua

belas rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudahnya, empat rakaat sebelum Asar, dua rakaat sesudah Magrib, dan dua rakaat sebelum Isya.

3. Menurut ulama Mazhab Hambali, sebanyak dua

puluh rakaat, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, empat rakaat sesudah Zuhur, empat rakaat sebelum Asar, empat rakaat sesudah Magrib, dan empat rakaat sesudah Isya.

4. Menurut ulama Mazhab Maliki, seluruh salat

sunah rawatib bersifat muakkad, yaitu dua rakaat sebelum Subuh, dua rakaat sebelum dan sesudah Zuhur, dua rakaat sebelum Asar, dua rakaat sesudah Magrib, sedangkan sesudah Isya tidak terbatas jumlahnya, tetapi minimal dua rakaat. Yang paling baik menurut mereka, setiap selesai mengerjakan salat fardu kecuali setelah salat Magrib dan Subuh (setelah salat Subuh tidak ada salat sunah) adalah empat rakaat.

3. Keutamaan Salat Sunah Rawatib

Kita dianjurkan untuk melaksanakan salat rawatib karena dalam ibadah ini terdapat beberapa keutamaan. Salah satu keutamaan mengerjakan salat rawatib ini yaitu dapat melengkapi kekurangan dari salat fardu kita. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis sebagai berikut. Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya amal seorang hamba yang paling pertama dihisab adalah salatnya. Jika bagus, ia telah beruntung dan sukses. Jika rusak, ia telah rugi dan menyesal. Jika kurang sedikit dari salat wajibnya, Rabb ‘Azza wa Jalla berfirman, ”Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki salat tat.awwu’ (salat-salat sunah)?” Selanjutnya, salat wajib yang kurang tersebut disempurnakan dengannya kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian” [H.R. at-Tirmiz.i]

Berdasarkan penjelasan pada hadis di atas, jika kita banyak mengerjakan salat sunah berarti semakin memiliki banyak cadangan amal yang akan menyempurnakan kekurangan salat wajib kita. Di antara salat sunah yang dimaksud dalam hadis ini adalah salat sunah rawatib.

Hikmah lain dari salat sunah rawatib sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Ummu Habibah. Seseorang yang membiasakan diri untuk mengerjakan salat rawatib setiap harinya dua belas rakaat, Allah akan membangunkan sebuah rumah untuk orang tersebut. Lebih lanjut perhatikan hadis berikut ini. Ummu Habibah berkata, ”Rasulullah saw. bersabda, ”Barang siapa yang mengerjakan salat dua belas rakaat maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Magrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum salat Subuh.” (H.R. at-Tirmiz.i dan an-Nasa-i)

Selain keutamaan yang disebutkan di atas, jika kita mengerja-kan salat sunah rawatib mengandung berbagai manfaat sebagai berikut.

a. Menunjukkan Kita Mencintai Rasulullah

Cinta kita kepada Rasulullah saw. dapat ditunjukkan dengan mengikuti sunah-sunahnya. Rasulullah selalu mengerjakan salat sunah rawatib muakkad. Dengan demikian, kita juga dianjurkan untuk meneladani Rasulullah dengan mengerjakan salat sunah rawatib ini.

b. Terhindar dari Amalan yang Sia-Sia

Dengan mengerjakan salat sunah rawatib kita mengu-rangi kegiatan yang berpotensi sia-sia, misalnya mengobrol hal-hal yang tidak berguna. Sesudah azan berkumandang, sebelum iqamah salat, merupakan salah satu waktu yang mustajab. Oleh karena itu, kita hendaknya memanfaatkannya dengan amaliah salat sunah, seperti salat rawatib.

c. Sebagai Pembukaan Sebelum Mengerjakan Salat Fardu

Khusus untuk salat rawatib qabliyah, bisa menjadi persiapan agar nanti salat fardu kita lebih sempurna, khusyuk, dan tumakninah. Selain itu, kita juga terlatih

Ketentuan salat sunah rawatib telah kamu ketahui. Untuk mendukung pengetahuanmu, lakukan beberapa hal berikut ini.

1. Buatlah rangkuman tentang ketentuan salat

sunah rawatib dalam buku tugasmu.

2. Lakukan pengamatan tentang pelaksanaan salat

sunah rawatib di lingkungan masjid di sekitar tempat tinggalmu.

3. Tunjukkan waktu salat yang paling sering para

jamaah kerjakan.

4. Gabungkan rangkumanmu dengan hasil

pengamatanmu.

5. Presentasikan hasil pengamatanmu tersebut di

depan kelas.

Mempraktikkan Salat Sunah Rawatib